Online loans: Easy and practical, but can be too costly


Online loans: Easy and practical, but can be too costly

Online loans 29Jan2018

Boy Hazuki Rizal



Online borrowing is gaining popularity in Indonesia, as it is now easy for people to use the internet to access funds.

There are 28 financial technology (fintech) startups that are already registered with the Financial Services Authority (OJK). These fintech startups offer financing and money lending through their websites or apps, which can be downloaded freely.

The online borrowing is done through peer to peer lending (P2PL), in which borrowers are matched with lenders. People who want to borrow money can go through this channel after submitting a request. Some fintech startups even ask you to connect to their social media accounts.

Then, the fintech company will assess your credit rating, like a bank does, and will inform you whether or not you are eligible for credit. They will also assess the risk level of your borrowing. The higher the risk, the more interest you have to pay, while those whose risk is deemed to be lower will pay less interest. Another mechanism apart from P2PL is direct lending, where the fintech startup itself is the lender. So in this case, people use the website or application for borrowing only. Most fintech startups require no collateral or guarantee from their borrowers.

Besides individuals, these new platforms also cater to businesses, mostly for micro, small and medium enterprises (MSME). Companies need to have been operating for at least a year, to ensure that they can run the business well. However, a number of aspects should be considered. They are five things that both individuals and business owners need to know before applying for online loans.

First are the fees. There are many kinds of fees, such as the platform fee, service fee, administration fee for the fintech, which range between 3 percent and 5 percent of the loan amount. There are also other fees, such as the insurance fee, late charges and the collecting fee. Fintech companies use these fees to cover operational costs and maintain their platform.

Second is the interest rate. Fintech companies generally apply an annual or monthly interest rate. You can ask them what effective interest rate they charge for borrowing money using their platform. For example, there is one platform that provides individual loans with a daily interest rate of 1 percent, with loans ranging from Rp 1 million to Rp 3 million. This loan will have to be paid back plus interest within 10 to 30 days. The interest will accumulate depending on the length of the loan. For example, if the consumer borrows money for 30 days, then the compounding interest rate will reach 34.8 percent. So if a consumer borrows Rp 1 million for 30 days, they would need to repay Rp 1.34 million.

If we compare this to non-online loan services, such as Cash Advance loans from a credit card, for which the interest rate is 26.95 percent per annum or 2.95 percent per month, we can see that the interest rate charged by fintech companies is way beyond normal. Fintech firms claim that the higher interest reflects the higher risk they bear. Also as a comparison, we can look at other non-online loan products, such as non-collateral loans (KTA) which carry interest rates ranging between 24 and 28 percent per annum.

Third is the process itself. How long does it take for a new loan to be processed? Some fintech startups claim they can process loans in just six hours, some need days or even weeks to process them. The larger the loan requested, the longer it might need. Or if your loan request is assessed to be in the high risk category, then more time might be needed to convince the financer to invest in you. Each fintech company has their own mechanism.

Fourth is the loan limit. This is the maximum amount a consumer can borrow. Currently, limits vary from Rp 100,000 to Rp 2 billion. The larger amounts usually go to MSME owners. One thing that consumers must pay attention to is the nature of the fintech company, some only serve businesses, some serve only individuals and some serve both. They have their own limit to match their own segment. Some fintech companies, which focus on individuals, limit loan amounts to just Rp 3 million, while others, which focus on MSMEs, set the limit at Rp 2 billion.

The fifth thing to consider is loan tenor – for how long do you need to borrow money? Some fintech companies can provide loans for between one day and two years. The longer the loan tenor, the higher the interest you must pay. P2P lending for syariah is also available in some fintech start-ups, it depends on the consumer’s preference.

The emergence of the online borrowing mechanism does not only give customers easier access to loans, but also frees them from complicated procedures imposed by banks. However, consumers must be aware that the high interest rates charged by fintech companies can make online loans too costly for them.


The writer is an independent financial partner of the Rizal Planner & Rekan. The views are his own


Tulisan ini merupakan sisi lain dari tulisan saya sebelumnya mengenai pinjaman online (Tabloid Kontan, 15-21 Januari 2018). Sisi lain dari pinjaman online dalam Peer to Peer Lending (P2PL) adalah pendanaan online. Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place dimana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online, dan P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternatif channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

Dalam pendanaan online yang di fasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana. Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan.  Dalam penilaian perusahaan tekfin, ada grade yang diberikan atas proposal pinjaman, semakin tinggi risiko peminjam, maka semakin tinggi pula imbal hasil yang diberikan kepada pemberi dana.

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang memberikan imbal hasil berkisar antara 15%-20% per tahun.

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan. Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang dilsematkan dalam proposal tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi. Anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisa yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan.

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memungut. Namanya bisa service fee, biaya layanan, biaya administrasi, biaya platform dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan prosentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1%-3%. Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima (imbal hasil) ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besar nya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp. 100 juta. Ada juga yang minimum Rp. 10 juta,tapi  ada yang hanya Rp. 100 ribu. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

Yang ke empat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbeda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp. 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan investasi masing-masing @Rp. 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp. 10 juta. Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 9 Desember 2017, sudah ada 28 perusahaan tekfin yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional  dan lebih sexy dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional.

Sebagai investor, Anda juga di tuntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.





Jaman now, salah satu channel  yang simpel dan kekinian untuk pinjam uang tunai adalah melalui perusahaan financial technology alias Fintech yang dikuasai oleh perusahaan start-up. Sampai 22 Desember 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengumumkan daftar terkini 27 perusahaan Fintech yang terdaftar dan di awasi oleh OJK. Umumnya start- up Fintech menyediakan wadah atau marketplace yang mempertemukan pihak yang ingin meminjamkan uang (lender) dan yang ingin pinjam uang (borrower) atau dikenal sebagai peer to peer (P2P) lending. Ada juga Fintech yang memberikan pinjaman tunai online secara langsung, artinya yang masuk ke portal atau aplikasi Fintech ini hanya yang ingin pinjam uang semata (borrower) dan perusahaan Fintech sebagai pihak pemberi pinjaman (lender). Pengajuan pinjaman bisa dilakukan lewat portal atau aplikasi Fintech di smartphone.

Peer to peer lending saat ini dapat dikelompokkan untuk individu dan untuk bisnis (terutama Mikro dan UKM) yang memerlukan pinjaman. Sementara pendanaan dilakukan oleh individu yang ingin mengembangkan dananya melalui alternatif investasi seperti pendanaan di Fintech ini. Pengajuan pinjaman dan pendanaan serta dokumen yang diperlukan semuanya dilakukan secara online, dan untuk pinjaman dari pihak Fintech melakukan credit scoring layaknya bank, untuk menilai apakah Anda layak diberi pinjaman atau tidak.

Sebelum Anda melakukan pinjaman (borrowing) online pada jasa yang ditawarkan Fintech, ada 5 (lima) hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama adalah biaya, namanya bisa macam-macam, bisa biaya platform, biaya layanan, biaya administrasi dan lainnya, tapi semuanya mengacu pada jasa layanan yang dikenakan, selain itu ada juga biaya keterlambatan, biaya asuransi, biaya penagihan dan sebagainya. Anda sebagai konsumen harus jelas dan mengerti apa saja biaya yang dibebankan tersebut, karena akan mengurangi dana yang dipinjam. Jadi pastikan Anda menghitung biaya ini dalam komponen nilai pinjaman Anda.

Yang kedua adalah bunga. Bunga yang disampaikan perusahaan Fintech umumnya bunga per tahun atau per bulan. Tanyakan berapa bunga efektif per tahun yang dikenakan kepada konsumen dan bagaimana perhitungannya cicilannya? Kalau bunga pinjaman online sudah anda ketahui, Anda bisa bandingkan dengan produk non online, seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA), Cash Advance dari Kartu Kredit atau pinjaman lainnya. Sebagai contoh, salah satu Fintech yang memberikan layanan pinjaman dana tunai online tanpa agunan, memberikan bunga 1% perhari dengan minimum pinjaman Rp 1 juta dan maksimum Rp. 3 juta, lamanya waktu pinjaman minimum 10 hari dan maksimum 30 hari. Bunga 1% ini adalah bunga berbunga mengikuti jumlah hari peminjaman. Bila Anda pinjam selama 30 hari, bunga berbunga 1% untuk 30 hari mencapai 34.8%. Bunga ini jauh lebih dahsyat dibandingkan produk non online seperti bunga kartu kredit yang ‘hanya’ sebesar 26.95% per tahun atau 2,25% per bulan.

Yang ketiga adalah lama proses. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk dapat meminjam di layanan Fintech? Ada yang mengklaim bisa memberikan persetujuan dalam hitungan jam, ada juga yang sampai dalam hitungan hari, atau minggu. Ini bisa terjadi karena menunggu penggalangan dana dipenuhi oleh para pemberi pinjaman online. Semakin besar dana yang dibutuhkan, dan semakin berisiko proposal pinjamannya, bisa jadi semakin lama pemenuhan dananya. Ini juga berdampak ke bunga pinjaman, semakin tinggi risiko, semakin tinggi bunga yang harus dibayarkan. Hal ini perlu dipahami secara jelas dan transparan oleh konsumen.

Yang ke empat adalah limit pinjaman. Nilai pinjaman bervariasi, saat ini mulai dari Rp. 100.000 sampai Rp. 2 Miliar Rupiah. Yang perlu jadi perhatian, apakah perusahaan Fintech yang anda pilih sesuai dengan kriteria dan kebutuhan Anda? Karena ada Fintech yang hanya melayani pinjaman bisnis (Mikro dan UKM), ada yang hanya individu, dan ada juga keduanya.  Umumnya limit untuk bisnis akan lebih besar daripada untuk individu. Sesuaikan kriteria Anda dengan Fintech yang memberikan jasa pinjaman.

Yang kelima adalah lama pinjaman, mulai dari 1 hari hingga 2 tahun. Ini tentu berdampak pada bunga yang diberikan. Pinjaman online tanpa agunan ini relatif jangka waktunya lebih pendek daripada non online. Semakin lama Anda menjalin ‘hubungan bisnis’, semakin besar biaya bunga yang harus dibayarkan. Semakin disiplin anda membayar angsuran tanpa pernah terlambat, semakin senang perusahaan Fintech menjalin ‘hubungan bisnis’ dengan Anda.

Dari lima hal di atas, dapat dilihat bahwa, untuk meminjam secara online akan menjadi salah satu channel bagi pihak-pihak yang unbankable untuk mendapat akses bantuan dana baru dan menjalankan usaha mikro atau UKM nya. Bagi konsumen individu, pinjaman online, memberikan kemudahan baru untuk akses keuangan melalui jasa non perbankan atau institusi keuangan lainnya. Secara paralel, saat ini juga sudah ada platform yang menyediakan P2P lending syariah. Tergantung preferensi dari Anda sebagai konsumen.

Dengan makin banyaknya kemudahan lewat Fintech ini, selain mengerti proses peminjaman di Fintech, Anda juga semakin bijak dalam menyikapi tawaran layanan start-up Fintech ini.


Resolusi Rp. 1 Miliar


Boy Hazuki Rizal_Tabloid Kontan 1Jan18

Tahun baru, resolusi baru.

Saya dan Anda mungkin punya resolusi tahun baru yang berbeda, tapi bisa jadi akhirnya adalah kesejahteraan diri dan keluarga. Sebagai manusia, tentu kita mengharapkan tahun baru lebih baik dari tahun sebelumnya,lebih dapat mengatur cash flow dan lebih sejahtera dalam hal finansial. Dan kita semua sangat prihatin dengan kejadian korupsi di negeri kita tercinta ini. Berapapun nilai korupsinya, sangat tidak sebandingkan dengan integrity dan harga diri. Memperkaya diri sendiri dengan tujuan mensejahterakan diri dan keluarga dengan korupsi jelas merupakan jalan yang salah.

Anda sebagai pribadi maupun kepala keluarga, tentu juga berpikir dan berharap bagaimana caranya supaya dapat mensejahterakan diri dan keluarga dengan jalan yang bersih dan halal, tanpa perlu berurusan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) maupun pihak berwajib lainnya.

Bisa! Harus bisa dan pasti bisa! Caranya dengan berinvestasi. Salah satunya melalui investasi di pasar modal. Anda semua tahu bahwa setiap pilihan investasi pasti ada risiko yang mesti di tanggung. Semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan, semaking tinggi risiko yang mesti ditanggung. Namun risiko tersebut dapat kita ukur dan mitigasi. Dengan membeli instrumen investasi melalui manager investasi yang sudah resmi terdaftar di OJK, melindungi diri kita dari investasi bodong.

Untuk resolusi tahun baru, mari jadikan dana Rp. 1 Milyar sebagai resolusi kesejahteraan diri dan keluarga. Bagaimana cara mewujudkannya? Dengan investasi di reksadana saham. Saat ini imbal hasil rata-rata reksadana saham sekitar 17%.

Kalau kita hitung dengan skenario imbal hasil 17% per tahun, maka Anda ‘cukup’ berinvestasi Rp. 3,22 juta sebulan selama 10 tahun, maka pada tahun ke-10 uang Rp. 1 Milyar akan terakumulasi jadi milik Anda. Kalau merasa jumlah per bulannya masih terlalu besar, jangka waktunya bisa di perpanjang menjadi 15 tahun, dengan investasi bulanan yang lebih kecil lagi menjadi Rp. 1,23 juta, dan kalau Anda merasa bulanannya masih terlalu besar dan punya waktu lebih panjang, waktu investasinya bisa di extend lagi menjadi 20 tahun, dengan investasi per bulan ‘hanya’ Rp. 502 ribu. Nah semua ini selama Anda lakukan dengan disiplin dan konsisten, maka yakinlah uang Rp. 1 Milyar tersebut akan jadi resolusi baru Anda.

Imbal hasil reksadana saham mencapai 17% per tahun, sangat amat jauh bila dibandingkan dengan deposito yang berkisar 5% per tahun atau bahkan dengan tabungan biasa yang hanya berkisar 1% per tahun.

Ada 3 tahap yang perlu anda lakukan untuk mewujudkan resolusi Rp. 1 Milyar pertama Anda.

Tahap pertama, tetapkan jangka waktunya. Semakin pendek, semakin besar dana yang harus disediakan dan sebaliknya. Jangka waktu berhubungan dengan tingkat risiko, imbal hasil serta nilai investasi yang harus di investasikan setiap bulan. Semakin lama jangka waktu, investasi per bulan nya juga rendah.

Tahap kedua, pilih instrumen investasi yang tepat yang memberikan imbal hasil yang optimal. Akses atas informasi instrumen investasi reksadana jaman now bisa di akses secara online melalui smartphone Anda lewat portal maupun aplikasi yang menyediakan jual-beli dan kinerja reksadana. Informasi atas kinerja reksadana dapat Anda filter dan banding-bandingkan antara satu dengan lainnya.

Tahap ketiga, disiplin dan konsisten, dengan menggunakan metode dollar cost averaging, lakukan secara konsisten dalam berinvestasi setiap bulan pada instrumen yang sudah di pilih pada tahap pertama. Anda membeli instrumen investasi tersebut secara disiplin setiap bulan, tidak peduli berapa harganya. Kalau kebetulan harga sedang rendah, Anda mendapat barang lebih banyak, sebaliknya, kalau harga sedang tinggi, barang lebih sedikit.

Jika itu sudah dilakukan, maka Anda tinggal memonitor saja secara online kinerja dari instrumen pilihan Anda.

Yuk, mari kita jadikan resolusi tahun baru ini untuk hidup yang lebih sejahtera untuk diri dan keluarga.

Selamat tahun baru!

Memilih Reksadana Yang Cocok


Boy Hazuki Rizal @Tabloid Kontan18Dec17

Reksadana adalah instrumen investasi yang bisa di bilang juga keranjang investasi yang dikelola secara profesional oleh manajer investasi.  Seperti hal nya kalau kita beli pesan motor/mobil online seperti uber, gojek atau grab, semua alat transportasi tersebut sudah ada supirnya. Begitu juga dengan reksadana, supir nya adalah fund manager alias manajer investasi tersebut yang mengemudikan, dan Anda sebagai penumpang cukup duduk manis saja. Sebagai catatan, setiap manajer investasi harus mempunyai lisence dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

Untuk bisa memiliki reksadana ini, sama halnya dengan memiliki produk perbankan, Anda harus buka rekening terlebih dahulu. Buka rekening bisa di manajer investasi atau bisa juga melalui bank sebagai agen penjual, atau era digital sekarang cukup lewat smartphone, melalui portal atau apps yang menyediakan jual-beli reksadana sekaligus informasi mengenai kinerja reksadana.

Sebelum kita memilih reksadana yang mana yang akan Anda beli, kenali dulu 4 (empat) jenis reksadana secara umum yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran dan reksadana saham. Ada yang konvensional dan ada yang syariah. Tinggal Anda pilih sesuai preferensi.

Sebelum membeli pastikan Anda membaca terlebih dahulu prospektusnya, dalam prospektus tersebut berisi apa saja isi keranjang investasi tersebut, berapa minimum investasi, biaya pembelian, biaya penjualan, biaya switching dan lain-lain. Selanjutnya, Anda  tinggal transfer sejumlah uang sesuai preferensi Anda  ke rekening atas nama reksadana tersebut di Bank Kustodian. Jika tidak ada prospektusnya, maka tidak disarankan untuk membeli reksadana tersebut.

Pertanyaan intinya bagaimana memilih yang terbaik untuk Anda ?

Tahap pertama yang perlu dipahami adalah bahwa Anda masing-masing mempunyai tujuan dan kebutuhan yang berbeda akan masa yang akan datang. Belum tentu pilihan investasi seseorang sama dengan Anda. Ada yang butuh dana kuliah anak untuk jangka panjang, ada yang butuh untuk renovasi rumah tahun depan, maka yang perlu ditetapkan terlebih dahulu adalah tujuan Anda untuk membeli reksadana tersebut. Jika tujuan Anda untuk jangka pendek (1 tahun) maka pilihlah reksadana pasar uang, untuk jangka pendek menengah (1-3 tahun) pilihlah reksadana pendapatan tetap, untuk jangka menengah – panjang (3-5 tahun) pilihlah reksadana campuran, dan terakhir untuk jangka panjang (> 5 tahun), pilihlah reksadana saham.

Kesalahan Investor Pemula

Hal yang lain yang perlu jadi perhatian, bagi investor pemula seringkali menganggap karena masih pemula, takut akan risiko, maka mengambil reksadana pasar uang dengan risiko paling rendah, padahal tujuannya untuk jangka waktu di atas 5 tahun, ini jelas salah. Sebaliknya karena ingin imbal hasil yang tinggi, sedangkan time horisonnya hanya 1 tahun, maka ia mengambil reksadana saham, ini juga tidak benar. Oleh karena itu, penting untuk tahu terlebih dahulu tujuan investasinya.

Contohnya, untuk keperluan dana kuliah anak, kalau anak Anda  masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD), maka masih ada waktu setidaknya 12 tahun untuk menyiapkan dananya, maka instrumen reksadana saham menjadi pilihan yang paling tepat, risiko tinggi, imbal hasil juga tinggi. Sebaliknya, jika tujuan Anda adalah melakukan renovasi rumah dalam waktu 1 tahun, maka instrumen yang bisa dipakai adalah reksadana pasar uang, karena risikonya rendah linier dengan imbal hasilnya.

Tahap kedua, review kinerja reksadana selama 3 -5 tahun terakhir (past performance). Apakah ia naik terus atau turun terus. Untuk melihat kinerja dari reksadana jaman now bisa dilihat lewat portal atau apps yang menyediakan jual beli dan kinerja reksadana, mulai dari pasar uang sampai pasar saham. Informasi kinerja reksadana bisa terlihat mulai dari 1 hari, 1 bulan, 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun sampai 10 tahun. Kinerja dari reksadana selama beberapa periode tersebut ditunjukkan dalam prosentase. Prosentase naik/turun nilai NAB dari waktu ke waktu. Idealnya, kinerja selama 5 tahun lebih tinggi dari pada kinerja 3 tahun, misalnya kinerja  3 tahun vs 5 tahun 14.19% vs 25.41%, ada juga yang kinerjanya                     1.4% vs -10.5%. Tentu kita akan pilih reksadana yang prosentasenya naik dan positif terus sampai tahun ke-5.

No Nama Reksadana Jenis NAB 1 Hari (%) 1 Bulan (%) 1 Thn (%) 3 Thn (%) 5 Thn (%) 10 Thn (%)
1 ABC Saham 1000

Tabel 1: Contoh Tabel Kinerja investasi Reksadana

Terakhir, monitor dan ukur perkiraan hasil investasi Anda .

Selamat berinvestasi reksadana!