MENIMBANG TABUNGAN BERJANGKA BERHADIAH

Nabung iPhone

MAU HANDPHONE TERBARU?

CUKUP NABUNG Rp.300 RIBU/bulan

Dapat iPhone 7 Plus .

Iklan di atas mungkin sering Anda lihat di media-media cetak maupun online. Tapi di balik penawaran tersebut Anda harus tahu berapa nilai uang yang Anda dapatkan pada akhirnya untuk mendapatkan handphone tersebut.

Kadang kebutuhan gaya hidup lebih dominan dibandingkan logika kita. Sehingga melihat ‘kesempatan’ seperti ini, nabung dapat handphone terbaru, diasumsikan duit nya gak hilang, hitung-hitung nabung. Padahal paradigma seperti ini lah yang diincar oleh bank kepada  konsumen-konsumen yang mementingkan gaya hidup tersebut. Sehingga bisa pamer kepada kolega, teman, merasa lebih dahulu update daripada yang lain, sehingga terlihat keren.  Untuk itu mari kita lihat, benarkah Anda untung menabung dengan cara tersebut?

Ini bukan produk tabungan berhadiah karena mendapat undian, tapi penawaran tabungan berhadiah berjangka dimana kita sebagai nasabah harus menyetor uang secara rutin setiap bulannya (biasanya di debit secara otomatis) dengan perjanjian tidak boleh lalai menyetor dan tidak boleh di break selama periode perjanjian tersebut. Produk tabungan berhadiah berjangka dengan iming-iming hadiah di depan, seperti handphone, kamera, TV, jam tangan yang tersambung ke kamera, sampai voucher belanja.

Jika di baca terms and conditions nya, nasabah akan mendapat hadiah yang diinginkan, seperti  iPhone 7, dengan menabung secara rutin sebesar Rp. 300 ribu setiap bulannya selama 10 tahun, plus setoran awal sebesar Rp. 44,5 juta. Jika kita cek ke toko resmi, harga baru iPhone 7 Plus 256 GB hanya Rp. 17,6 juta. Program bundling ini juga menjual  item dengan brand yang lain, yang juga mempunyai skema yang kurang lebih sama.

Kalau sudah setor, maka Anda berhak mendapatkan handphone tersebut di awal. Tapi jika dikemudian hari Anda sebagai nasabah lalai menyetor rutin atau berhenti di tengah jalan, maka dana yang sudah ada akan dipotong sebagai penalti atas kelalaian Anda atau tabungan berjangka Anda tutup di tengah jalan.

Kalau dihitung, nilai uang Anda menurun karena seiring waktu nilai uang Anda akan tergerus termakan inflasi dalam 10 tahun.

Ilustrasinya sebagai berikut:

Misalnya Anda sebagai nasabah membuka tabungan berhadiah berjangka dan setuju untuk menabung selama 10 tahun dengan setoran tiap bulan Rp. 300.000 (tiga ribu Rupiah) dan setoran awal  yang Anda harus setor terlebih dahulu Rp. 44,500.000 (Empat puluh empat juta lima ratus ribu Rupiah), otomatis Anda akan mendapatkan gadget mutakhir yang Anda inginkan. Diperkirakan nasabah akan mendapatkan Rp. 85.050.000 pada saat jatuh tempo yaitu akhir tahun ke 10.

Dari ilustrasi di atas, asumsi bunga tabungan berhadiah berjangka tersebut 1% per tahun, inflasi harga-harga riil kalau kita cek di pasar bisa naik rata-rata sekitar 10% per tahun. Artinya nilai tabungan Anda minus 9% per tahun. Kalau uang yang diterima Rp. 85 juta di tahun ke-10 dihitung dengan nilai sekarang, maka nilainya sama dengan Rp. 34,6 juta. Artinya dalam 10 tahun nilai uang anda tergerus, hanya bisa mendapatkan barang seharga Rp. 34,6 juta (nilai saat ini).

Melihat hitungan di atas dapat di simpulkan, pertama, jika tujuan Anda ingin beli handphone, kamera, TV atau gadget keluaran terbaru, nabunglah selama 6-12 bulan (jauh lebih cepat dari menabung berjangka 10 tahun) kemudian langsung dibelikan barang yang Anda inginkan. Sehingga tidak timbul ‘kewajiban’ atau ‘hutang’ tabungan dalam waktu yang panjang. Keuntungan lain, gadget dengan keluaran lebih mutakhir juga anda dapatkan dalam waktu 6-12 bulan mendatang.

Yang kedua, jika tujuan Anda untuk menabung 10 tahun, akan lebih tepat jika menggunakan instrumen investasi, seperti saham atau reksadana saham, jika diasumsikan imbal hasil 15% per tahun, maka dengan installment Rp. 300 ribu per bulan dan setoranRp. 44,5 juta di awal, pada akhir tahun ke 10, dana anda akan menjadi Rp. 263 juta, 300% dari nilai yang di janjikan tabungan berjangka tersebut .

Kesimpulannya, dengan pengelolaan uang yang tepat, selain anda dapatkan gadget impian dan hasil investasi yang optimal, inflasi pun dapat anda kalahkan.

Catch me:@rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

FIRST TRAVEL DAN SKEMA PONZI

Ponzi scheme

Charles Ponzi adalah orang yang pertama kali membangun skema Ponzi (1919), pada jaman tersebut, dengan jasa pos, dia membangun sistem yang membolehkan orang membeli terlebih dahulu kupon perangko, untuk kemudian di kirim ke orang yang dalam korespondensi. Penerima perangko ini kemudian membawa kupon tersebut ke kantor pos dan menukarnya dengan perangko yang lebih mahal untuk mengirimkan balasan.

Karena perbedaan harga perangko antar negara, adalah hal yang wajar bila perangko di suatu negara lebih mahal dari negara lain. Untuk mengakali hal tersebut, Ponzi kemudian mengajak suatu perusahaan untuk membeli perangko yang lebih murah yang berlaku secara internasional, kemudian perangko tersebut di kirimkan kepada koresponden nya. Sebagai gantinya, Ponzi mendapatkan perangko yang lebih mahal. Perangko tersebut kemudian di jual sebagai keuntungan.

Karena skema ini berhasil, Ponzi menjadi serakah, dan kemudian dia menjanjikan imbal hasil 50% dalam 6 bulan atau 100% dalam 1 tahun. Tapi uang yang dia dapat tidak diinvestasikan, malah kemudian ia distribusikan ulang dan mengatakan pada investor kalau mereka sudah dapat untung. Akhirnya pada tahun 1920, skema Ponzi berakhir, setelah otoritas berwenang di Amerika melakukan investigasi.

Adalah sepasang suami istri Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang menjadi pimpinan perusahaan First Travel (FT). Mereka tidak jual perangko, tapi mereka menjual paket umroh murah. Mereka mengiming-imingi program umroh murah kepada calon jemaah, yang dijanjikan akan berangkat 2-3 tahun kemudian setelah dana disetor. Seiring dengan semakin banyaknya jamaah yang mendaftar, uang tersebut bukan di buatkan program umroh sebagaimana mestinya, tapi mereka mengalihkan dana jamaah tersebut untuk kepentingan pribadi mereka. Disinyalir penggunaan uang calon jamaah untuk membeli barang luxury sampai properti mulai dari air soft gun, tas-tas mewah, mobil mewah, pelesiran ke luar negeri, beli restoran di Inggris, fashion show di New York, butik hingga rumah mewah di Sentul.

Sungguh ini lebih dari sekedar penipuan, karena FT menjual agama, menjual  mimpi orang-orang untuk bisa menginjakkan kakinya ke Tanah Suci Mekkah, untuk kepentingan pribadi. Sungguh keterlaluan.

Skema Ponzi

Kasus FT ini bisa dikatakan menggunakan skema Ponzi.  Ponzi menjanjikan keuntungan yang luar biasa kepada investor dengan risiko yang sangat kecil. Mereka mendapatkan keuntungan bagi investor yang telah lebih dahulu masuk dengan merekrut investor baru. Dan seterusnya, tapi begitu uang yang terkumpul tidak cukup, mereka jatuh. FT menjual produk jasa berupa paket umroh murah, menggiring korban untuk melihat bagaimana suksesnya program umroh yang telah berhasil di jalankan di awal periode. Karena di awal-awal sudah berhasil, FT mendapatkan kepercayaan luar biasa dari calon jemaah. Setelah itu FT menarik lagi jamaah lain untuk ikut program umroh murahnya. Sampai akhirnya jamaah banyak yang terlantar karena tidak berangkat,  sehingga dana masuk mulai berkurang, dan berujung pada jatuhnya FT.

 

Karakter Ponzi

Bagaimana mengenali bahwa suatu penawaran investasi atau produk itu Ponzi atau bukan?

Yang pertama, keuntungan atau imbal hasil yang ditawarkan sangat besar. Misalnya promo umroh Rp. 14,5 juta, tapi bisa dapat setara paket Rp. 23 juta. Atau investasi hanya Rp. 10 juta, bisa dapat bunga Rp.1 juta atau 10% sebulan. Yang kedua, produk investasi ditawarkan dengan jaminan. Ingat, bahwa Pemerintah mempunyai lembaga khusus yang hanya menjamin dana simpanan di Bank dan itupun maksimalnya Rp. 2M.Yang ketiga menggunakan endorser, tokoh masyarakat, orang terkenal untuk memberikan testimoni atas produk atau jasanya seperti kasus Raihan Jewelry yang mendapat endoser dari Tokoh Agama tertentu. Yang ke empat, memakai nama perusahaan besar secara tidak legal untuk meyakinkan investor.

Ciri-ciri apa yang mesti kita ketahui

Yang pertama, tidak ada produk yang di jual, bilapun ada di jual, hanya sebagai kedok bisnis saja, dan harganya pun tidak masuk akal. Misalnya dulu kasus QSAR dengan kedok perkebunan, ADD Farm dengan kedok bisnis bebek, Raihan Jewelry menjual emas 30% lebih mahal dari harga pasar. Semuanya menjual dengan harga yang fantastis dengan janji  keuntungan fantastis juga. Yang kedua, bonus hanya diberikan jika merekrut anggota baru, jika tidak merekrut tapi hanya investasi saja, maka sifatnya bonus pasif. Yang ketiga, imbal hasil yang tidak masuk akal, contohnya Koperasi Pandawa Mandiri  yang bisa memberikan imbal hasil 10% perbulan, artinya 120% per tahun. Sementara bunga deposito rata-rata hanya 6% per tahun.

Apa yang mesti kita lakukan?

Yang pertama adalah cek legalitas dari usaha tersebut? Kalau memang legal, adakah perijinannya dari Otoritas berwenang? Bisa dari Otoritas Jasa Keuangan, Kementrian Perdagangan, Kementrian Koperasi & UKM, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementrian Komunikasi dan Informasi.  Dalam hal ini untuk kasus FT, ijin nya sudah ada ijin dari Kementrian Agama. Namun meskipun ijin sudah ada, dalam operasional nya FT tidak melakukan penyalahgunaan atas dana tersebut, sampai kemudian FT jatuh.

Yang kedua, cek produk yang di tawarkan logis tidak? Kalau tidak logis jangan diikuti. Makin besar keuntungan yang diimingi, makin besar kemungkinan risikonya. Contohnya harga paket umroh Rp. 14.5 juta, padahal jika kita cek Kementrian Agama (Kemenag) minimum harga Umroh US$ 1700 atau sekitar Rp. 23 juta (kurs Rp. 13500/US$). Bagaimana FT menutupi kekurangan yang 9 juta tersebut? Padahal US$ 1700 saja keuntungan bagi perusahaan Travel sudah minim.

Yang ketiga, kita tanyakan kepada promotor (orang yang mengajak atau yang di puncak piramida skema), apakah jika tidak ada lagi anggota yang di rekrut, bisnis atau jasa ini akan tetap berjalan? Jika si promotor menjawab tidak, maka bisa dipastikan itu adalah skema ponzi. Artinya tidak ada uang masuk lagi, maka tidak ada bonus yang di bayar atau jasa yang dijalankan. Dalam kasus First Travel ini, karena sudah banyak yang telantar, dan makin berkurang calon jemaah yang mendaftar, maka tidak ada lagi pemasukan uang ke FT. Tidak ada lagi dana baru untuk membayar orang yang mengajaknya atau di atasnya.

Yang terakhir, cek di website resmi OJK, apakah perusahaan tersebut masuk dalam kategori investasi yang patut di waspadai atau tidak? Atau bisa juga ke Layanan Konsumen OJK atau email ke Satgas Waspada Investasi OJK.

Dari data resmi OJK, kerugian karena kasus investasi bodong dan sejenisnya sudah mencapai Rp. 45 Triliun dana 2272 laporan pengaduan masyarakat terkait investasi bodong/mencurigakan ini.

Marilah kita bijak melihat penawaran produk atau jasa. Jangan mudah tergiur oleh iming-iming harga murah atau imbal hasil yang sangat besar, karena bisa jadi mau untung malah jadi buntung.

 

Catch me: @rizalplanner

email: rizal.plannerindo@gmail.com