Virus Melanda, Bagaimana penyelesaian Utang KTA/Kartu Kredit?

Sejak virus Corona (Covid-19) ini melanda dunia, termasuk Indonesia, kondisi perekonomian dan bisnis turun drastis, luar biasa dampaknya, semua terhenti, diam di rumah, demi mengurangi penyebaran virus, meratakan kurva istilahnya. Apalagi pemerintah tadi malam 13 April 2020, sudah menyatakan bahwa Virus Corona ini sebagai bencana nasional.

Kondisi tidak normal ini menyebabkan banyak perusahaan dan badan usaha yang berupaya untuk bertahan, seperti dengan potong gaji karyawan sekian persen, potong tunjangan, mengurangi hari kerja dengan konsekuensi mengurangi gaji juga, unpaid leave, sampai dengan pengurangan karyawan alias PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Buat yang punya Kredit Tanpa Agunan atau KTA dan utang Kartu Kredit (KK), bisa jadi kesulitan untuk bayar karena kondisi seperti ini. Utang KTA dan Kartu Kredit ini sifatnya konsumtif untuk individu. Ini berbeda dengan yang pemerintah tetapkan. Pemerintah hanya menetapkan kebijakan penundaan cicilan dan penurunan bunga kredit bagi usaha mikro, usaha kecil, tukang ojek, supir taksi dan nelayan.

Kalau yang punya utang KTA dan Kartu Kredit, dan karena kondisi tidak normal seperti ini jadi kesulitan membayar, hubungi bank tsb. Katakan kondisi anda sebenarnya, bahwa anda mau memenuhi kewajiban anda alias mau membayar, hanya saja mau bernegosiasi, waktu dan/atau bunga cicilan. Jangan jadikan kondisi seperti ini membuat anda tidak mau membayar. Beda lho, antara tidak mampu membayar dan tidak mau membayar. Bagaimanapun juga, namanya utang harus dibayarkan.

Yang namanya jasa keuangan, sekarang sudah di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jadi kalau anda punya utang dari Lembaga keuangan yang terdaftar di OJK, otomatis, nama anda sebagai peminjam akan tercatat. Ini bisa di lihat di SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan). Dulu disebut BI Checking, di bawah Bank Indonesia. Jadi anda punya utang dimana, berapa besarnya, kapan pembayaran terakhir, semuanya ada. Kalau anda ganti nama, bisa di cari dari nama ibu kandung, kalau ganti alamat, bisa di cari dari tanggal lahir. Kalau anda punya catatan yang jelek, dampaknya kredibilitas anda ikut jelek, kalau  anda mengajukan KPR, kartu kredit atau kredit apapun dari manapun akan di tolak. Gak enak kan. So, jangan berpikiran untuk ngemplang.

Apa yang mesti dilakukan? Tahap pertama, hubungi bank. Bila anda kesulitan membayar utang KTA atau Kartu Kredit, segera hubungi bank yang memberikan fasilitas KTA atau bank penerbit KK tersebut. Buat laporan secara tertulis kepada bank tersebut dan mintakan bukti lapornya. Dalam laporan tertulis tersebut, dapat sekaligus mengajukan proposal kapan anda bisa menyelesaikan pembayaran, anda bisa minta kebijakan bank dengan meminta perpanjangan waktu penyelesaian, pemberhentian bunga, penghapusan denda, hingga hanya pembayaran pokoknya saja. Ada bank yang bisa menerima proposal anda tersebut, tapi tidak jarang, bank yang membiarkan dulu, alias tidak mau langsung menerima, membiarkan sampai 3 (tiga) bulan, alias sampai macet.

Tahap kedua, nego. Kalau bulan-bulan pertama, hanya akan berupa SMS peringatan saja, atau customer service manis yang mengingatkan anda untuk segera membayar utang. Tapi kalau udah lewat dari 3 (tiga) bulan, maka debt collector akan mulai menelpon anda. Suara yang keras dan seram, akan meneror anda terus menerus. Kalau anda terus mendapat telpon cinta dari debt collector, hadapi. Jangan menghindar. Sampaikan pada debt collector, bahwa anda sudah punya tanda terima laporan dan anda berniat untuk menyelesaikannya. Karena dengan menunjukkan mampu berkomunikasi dengan pihak debt collector, ini menunjukkan bahwa anda memang berniat untuk menyelesaikan utang anda. Nego, kuat-kuatan saja, tinggal dilihat apakah bank yang menyetujui usulan anda atau anda menyetujui usulan bank.

Kalau sudah lewat dari 6 (enam) bulan, maka debt collector akan datang ke rumah anda. Sekali lagi, jangan menghindar, hadapi saja. Kalau dia melakukan tindakan yang tidak sesuai aturan seperti mengancam, bahkan mengambil barang pribadi anda dengan paksa, laporkan ke polisi karena pengambilan barang secara paksa itu bisa berarti tindakan pidana dan lapor pula ke OJK. Biarkan OJK tahu, bank apa dan siapa yang datang. Tinggal kuat-kuatan saja, tapi sampai kapan? Sampai terjadi kesepakatan antara anda dan bank. Apakah itu berupa penghapusan denda, penghentian bunga, perpanjangan waktu penyelesaian atau solusi lainnya.

Kalau diintip dari hukum online, berikut beberapa etika yang harus dimiliki oleh debt collector yang melakukan penagihan:

  1. Debt collector memiliki identitas dari Penerbit Kartu Kredit yang dilengkapi dengan foto diri yang bersangkutan;
  2. Penagihan tidak dilakukan dengan menggunakan cara ancaman, kekerasan dan/atau tindakan yang bersifat mempermalukan Pemegang Kartu Kredit;
  3. Penagihan tidak dilakukan dengan menggunakan tekanan secara fisik maupun verbal;
  4. Penagihan dilarang dilakukan kepada pihak selain Pemegang Kartu Kredit;
  5. Penagihan menggunakan sarana komunikasi dilarang dilakukan secara terus menerus yang bersifat mengganggu;
  6. Penagihan hanya dapat dilakukan di tempat alamat penagihan atau domisili Pemegang Kartu Kredit;
  7. Penagihan hanya dapat dilakukan pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 20.00 wilayah waktu alamat Pemegang Kartu Kredit;
  8. Penagihan di luar tempat dan/atau waktu tersebut di atas, hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan dan/atau perjanjian dengan Pemegang Kartu Kredit terlebih dahulu;
  9. Penagihan Kartu Kredit menggunakan tenaga penagihan dari perusahaan penyedia jasa penagihan (debt collector) hanya dapat dilakukan jika kualitas tagihan Kartu Kredit dimaksud telah termasuk dalam kualitas macet berdasarkan kriteria kolektibilitas sesuai ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai kualitas kredit.

 

Mengingat kondisi seperti ini, jika memang anda kesulitan membayar utang KTA dan atau Kartu Kredit, lakukan dulu tahap pertama. Jika tahap pertama bisa dibicarakan dan dinegosiasikan dengan baik, maka tidak perlu ada debt collector dikemudian hari. Ingat, bahwa anda tidak mampu membayar bukan tidak mau membayar. Karena utang adalah kewajiban, jangan jadikan utang sebagai warisan anda.

Lain halnya, kalau utang anda ada agunannya, seperti utang rumah (KPR), atau utang kendaraan, maka worst case, bank akan menyita rumah atau kendaraan anda. Dan penyitaan itu sah secara hukum.

Terakhir, kalau kita mau berhutang, hendaklah kita mengukur kemampuan kita, maksimum 30% dari pendapatan bulanan yang bisa dialokasikan sebagai cicilan atas total utang kita.

Penulis,

Boy Hazuki Rizal

Catch me: @rizalplanner (twitter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s