Tips Memilih Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Disclaimer:

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi dan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pihak manapun juga.

Dari beberapa kasus mafia tanah yang muncul di media sosial belakangan ini, kita semua bisa membaca bahwa ada peran Notaris dan PPAT disitu untuk menerbitkan sertifikat baru. Penulis sendiri juga sudah sering kali berhubungan dengan pihak Notaris dan PPAT. Untuk itu ada beberapa tips yang ingin penulis share terkait dengan legalitas Notaris dan PPAT, dan juga output dari notaris. Yang perlu di ketahui secara dasar adalah bahwa Notaris diangkat oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sementara PPAT diangkat oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Perlu diketahui, bahwa bisa saja seorang Notaris rangkap jabatan menjadi PPAT. Tapi belum tentu seorang PPAT juga seorang Notaris. Atau seorang notaris juga belum tentu juga seorang PPAT.

Untuk mengecek legal atau tidaknya seorang Notaris dan PPAT, bisa melalui cara-cara berikut:

Yang pertama, cek dulu di website ATR BPN (Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional) https://www.atrbpn.go.id/?menu=daftarPPAT. Di web tersebut semua PPAT yang diangkat oleh ATR / BPN terdaftar di halaman tersebut sesuai wilayah kerjanya. Kalau tidak ada di halaman tersebut, maka patut dipertanyakan legalitasnya. Lebih baik di cek di awal daripada bermasalah kemudian.

Yang kedua, salah satu cara untuk mengecek apakah seorang Notaris sudah diangkat oleh Kemenkumham adalah via website Administrasi Hukum Umum (AHU) https://ahu.go.id/. Disini pihak notaris harus mendaftarkan dirinya supaya bisa dilihat secara online oleh publik. Jika tidak terdaftar, bisa jadi memang seseorang bukan Notaris, atau mungkin belum mendaftar.

Yang ketiga, untuk notaris yang bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan, bisa di cek melalui website OJK. https://www.ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/Daftar%20Perusahaan/Notaris/202010_Oktober/20201022_Statistik%20Notaris.pdf atau file excel nya juga bisa di download. Kalau di sini, bahwa selain notaris tersebut sudah terdaftar di AHU, notaris tersebut juga mempunyai sertifikat di bidang pasar modal sebagai profesi penunjang di pasar modal.

Yang ke empat, kalau mau bertransaksi Kredit Pemilikan Rumah (KPR atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), maka biasanya pihak bank yang memberikan rekomendasi daftar notaris /PPAT yang sudah menjadi rekanan bank (bank biasanya menyebut sebagai approved notary). Kalau sudah di cek bank, artinya bank sudah melakukan Pekerjaan Rumah (PR) nya untuk mengecek legalitas dari Notaris /PPAT tersebut. Umumnya bank sudah menunjuk Notaris/PPAT mana yang akan bekerja sama untuk pembuatan akte otentik seperti Akte Pengikatan Hak atas Tanggungan (APHT) buat yang KPR. Tapi kalau pun nasabah mau agak repot sedikit, nasabah bisa meminta daftar notaris yang bekerjasama dengan bank, kemudian di cek mana yang menurutnya paling favorable , mudah berkomunikasi, harga bisa di nego dan/atau hal-hal lainnya.

Selain legalitas dari notaris/ PPAT, ada hal lain terkait output notaris yang juga perlu diperhatikan pada saat menggunakan jasa notaris / PPAT.

Pertama, untuk kesalahan yang terjadi karena typo Notaris / PPAT dan kesalahan tersebut terjadi pada saat sudah menjadi sertifikat, pastikan bahwa notaris/ PPAT tersebut mau bertanggung jawab dan membantu memperbaiki atas kesalahannya. Ini terjadi pada penulis, ada kesalahan tanggal lahir di Sertifikat Hak Milik (SHM), misalnya tertulis tanggal lahir 27-6-1991, seharusnya 26-7-1991.  Maka mintalah bantuan notaris /PPAT yang menangani sertifikat tersebut untuk memperbaiki. Penulis melihat sendiri, bahwa hasil revisinya cepat dan tidak ada bekasnya, rapi jali kalau kata orang. Kebenaran data seperti tanggal lahir tersebut harus akurat, karena jika salah, maka apabila ada tindakan hukum terkait dengan sertifikat tersebut, akan repot jadinya. Misalnya jual beli atas tanah dan bangunan tersebut atau sertifikat tersebut diagunkan, maka perlu surat keterangan dari kelurahan, bahwa data yang benar adalah data sesuai KTP. Atau misalnya kesalahan ejaan nama pemilik, contoh Toni vs Tony, maka perlu juga surat keterangan dari kelurahan untuk klarifikasinya, namanya Surat PM1 Kelurahan. Jadi pastikan ejaan nama, tanggal lahir dan semua keterangan di akta otentik sudah benar dan akurat.

Yang kedua, mengenai biaya dan jasa notaris/ PPAT. Umumnya bagi notaris/ PPAT, ada asisten yang membantu untuk mengerjakan detail dari dokumen sampai biaya. Jika terjadi suatu transaksi jual beli, maka pembayaran pajak biasanya di transfer melalui notaris untuk membantu mengecek dan membayarkannya. Notaris akan memberikan rincian biaya apa saja yang harus dibayarkan baik kepada pembeli maupun penjual, termasuk pajaknya. Dibawah ada total biaya yang harus dibayarkan oleh para pihak. Nah disini, kita harus jeli, ini penulis alami sendiri. ada notaris/PPAT yang entah sengaja ataupun tidak atau asistennya typo, menuliskan total biaya dan pajaknya dilebihkan. Misalnya total biaya dan pajak tertulis Rp. 483.525.000 padahal seharusnya Rp. 438.525.000. Ini adalah selisih Rp. 45.000.000 (baca: 45 juta.red). Kalau penulis tidak menghitung ulang rinciannya dan hanya melihat totalnya saja, maka kerugian bagi pihak yang ditagih notaris/ PPAT tersebut. Setelah di counter, sang notaris/ PPAT dan asistennya hanya bilang bahwa itu typo dan dapat dibetulkan. Oleh karena itu, sebaiknya, cek dan re-cek output yang dilakukan Notaris/ PPAT agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang menggunakan jasanya.

Terakhir, memang sudah sepatutnya, kita sebagai customer atau pengguna jasa notaris/ PPAT hendaknya mengecek legalitas dan hasil kerja notaris/ PPAT, supaya kita tidak dirugikan.

Singkat kata teliti sebelum dan setelah membeli.

Catch me:

IG: @rizal.plannerindo

Rizalplanner.com

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

CARA KLAIM ASURANSI ASABRI dan PPAL – Part 2

Part 2 – PPAL

Sebagai pensiunan, ayahanda penulis tergabung juga dalam Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Laut (PPAL). Dari kedinasan ada semacam klaim yang perlu dilakukan juga, namanya Watzah (Perawatan Jenazah) dan Sanduk (Santunan Duka).

Untuk melakukan klaim ini, penulis pergi ke Mako Lantamal III (seperti Markas Komando Pangkalan Utama Angkatan Laut III) yang berlokasi di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara.

Dokumen yang diperlukan untuk Watzah, copy dokumen dari Akte Kematian, SKEP Pensiun, Kartu Keluarga, KTP Ahli Waris, Surat Keterangan Waris (SKW).  Nah untuk yang terakhir, bisa juga digunakan Surat Keterangan Kuasa Ahli Waris dari ASABRI (lihat tulisan Part 1). Disitu ada tanda tangan lurah setempat. Dokumen Surat Keterangan Kuasa Ahli Waris dari ASABRI ini perlu dicetak berwarna sebanyak 2x. Tapi akan lebih baik, kalau sudah ada Surat Keterangan Waris, pastikan ada 2 copy yang di legalisir oleh lurah, seperti yang disiapkan dari awal.

Sedangkan untuk Sanduk, selain copy dokumen di atas, siapkan juga materai secukupnya.

Disini, meskipun dokumen asli sudah di bawa, tidak seketat ASABRI, tidak perlu ditunjukkan.

Untuk nominal masing-masing, tergantung kebijakan, tapi untuk waktu pembayaran “klaim” ini sangat lama. Khusus Watzah, bisa sampai 12 bulan ke depan, di karenakan antri penyelesaian pembayaran dari tahun sebelumnya yang harus di selesaikan lebih dahulu. Sedangkan untuk Sanduk, maksimal 6 bulan.

Penulis sempat bertanya kepada beberapa teman alm ayahanda terkait ini, dan alhamdulillah, sangat membantu sekali dan tidak berbeda tata cara dan kelengkapannya.

Sampai sini, klaim PPAL dan kedinasan sudah dilakukan, lebih sederhana dari klaim ke ASABRI, hanya saja pembayarannya yang cukup makan waktu lama. Semoga ke depan lebih baik lagi.

Catch me:

IG: @rizal.plannerindo

FB:@rizalplanner

Web: rizalplanner.com

CARA KLAIM ASURANSI ASABRI dan PPAL -Part 1

Part 1 – ASABRI

Buat keluarga tentara dan polisi, maka nama PT ASABRI Persero (Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) sudah tidak asing lagi. ASABRI tidak seperti halnya perusahaan asuransi komersil umumnya, karena ia lebih kepada memberikan perlindungan sosial bagi para nasabahnya, dalam hal ini diperuntukkan khusus tentara dan polisi saja. Jadi jangan membayangkan nilai klaimnya bisa sebesar klaim ke perusahaan asuransi komersil.

Penulis untuk pertama kali dan terakhir kalinya mengklaim ke sini karena ayahanda yang seorang pensiunan Angkatan Laut meninggal dunia pada 4 Februari 2021 pada usia 82 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. We love you Papa..

Seperti klaim asuransi pada umumnya, yang harus ada adalah akte kematian. Akte kematian ini harus di urus lewat kelurahan. Dokumen yang diminta kelurahan untuk akte kematian: KTP dan KK Asli Almarhum, FC KTP Pelapor berKTP DKI (karena kebetulan domisili di Jakarta), KTP 2 orang saksi berKTP DKI, FC Akte Kelahiran Almarhum, FC Buku Nikah Almarhum, Surat Keterangan Kematian dari RS/Puskesmas Asli, Surat Keterangan dari Pemakaman, FC KTP KK dan Akta Kelahiran/ Ijazah semua anak-anak Almarhum dan Surat Kuasa jika diperlukan.

Jika sudah lengkap, maka kita masukkan ke Kelurahan, singkat cerita perlu waktu 2 (dua) minggu bolak balik sampai akhirnya akte kematian itu selesai. Akte Kematian sekarang tidak perlu dilegalisir, sudah ada barcode dan keputusan dari Kementrian Dalam Negeri kalau akte tidak perlu legalisir kelurahan lagi. Ini bagus mengurangi potensi untuk korupsi di level kelurahan.

Bersamaan dengan pengurusan akte kematian, ada Formulir Pengajuan dari ASABRI (https://www.asabri.co.id/asset/images/media/large/Form%20Pengajuan%20PP%2054.pdf ) yang harus di isi. Selain form Pengajuan, ada Surat Keterangan Kuasa Ahli Waris (https://www.asabri.co.id/asset/images/media/large/SKET%20KUASA%20AHLI%20WARIS.pdf)  yang harus di isi ahli waris dan di ketahui/ ditandatangani oleh lurah setempat. Semua form tersebut bisa di download dari website ASABRI (https://www.asabri.co.id/). 

Selain kedua hal tersebut, yang ketiga yang perlu dibuatkan di kelurahan adalah Surat Keterangan Waris (SKW). SKW dimintakan persetujuan kelurahan. Dan juga tanda tangan dari Kecamatan. Jadi ada tiga dokumen yang harus disiapkan di awal.

Untuk klaim ASABRI, yg diperlukan Akte Kematian (yang ini sekarang sudah tidak perlu di legalisir kelurahan lagi sesuai peraturan Kemendagri), Form Pengajuan, Surat Keterangan Kuasa Ahli Waris, FC/ Asli Skep Pensiun/Salinan, FC/Asli Kartu ASABRI, FC KTP Ahli Waris, FC KK Almarhum, FC KTP Almarhum.

Dokumen yang asli perlu dibawa untuk ditunjukkan saja, copynya disiapkan minimal 2 lembar, berikut foto ahli waris.

Kalau sudah siap, untuk ambil nomer antrian di ASABRI, pastikan berangkat pagi, karena kuota harian hanya maksimal 75 orang, dan waktu pelayanan dibatasi. Parkirnya harus di tanah belakang, karena parkiran Gedung sudah penuh. Saat itu penulis datang pukul 8.10, dapat nomer antrian 59. Yang nomer 1 dateng jam berapa?

Sebelum jam buka, orang sudah antri disini. Ada satpam yang mengatur pemberian tiket antrian sekaligus kita bisa tanya-tanya dan mengecek dokumen yang diperlukan.

Perlu waktu 3 (tiga) jam untuk dipanggil nomer antrian. Begitu dipanggil tidak serta merta langsung duduk di loket layanan, tapi harus tunggu antrian lagi di dalam ruangan. Karena protokol kesehatan, di dalam ruangan dibatasi tempat duduk dan kapasitas orang yang bisa masuk. Tunggu kira-kira 30 menit untuk di panggil.

Pada saat menyerahkan dokumen, pastikan dokumen kartu asli ASABRI ready. Waktu itu kartu asli tidak ada, entah kemana, jadi penulis harus mengurus ke kantor polisi terdekat untuk meminta surat keterangan kehilangan, agar bisa disertakan dalam dokumen klaim.

Hari itu juga terbit surat Pembayaran Pensiun Punah. Iya namanya Punah. Berikutnya ada dua surat yang diberikan, Surat Pengajuan (SP) Pembayaran Manfaat Program Tabungan Hari Tua (THT) isinya Uang Pemakaman Peserta Pensiun dan Uang Duka Wafat (UDW) Pensiun.

Pembayaran dilakukan via bank yang ditunjuk, jadi cepat-cepatan mengejar waktu sebelum Bank tutup hari tersebut.

Ternyata sampai bank pembayaran, ada masalah di system yang tidak sync, jadi harus ditunda satu hari. Secara keseluruhan pelayanan ASABRI lumayan bagus, one day service.

Jadi kalau mau klaim ASABRI, pastikan semua dokumen lengkap, dating sepagi mungkin untuk ambil antrian, dan cepat ke bank pembayar.

Catch me:

IG: @rizal.plannerindo

FB:@rizalplanner

Web: rizalplanner.com

Jual Beli Properti, Apa Saja Yang Perlu Diketahui?

pic source : dekorumadotcom

Yang namanya properti, bisa berupa tanah, rumah, ruko, gedung, gudang atau bentuk lainnya. Beli properti, yang pasti dilihat pertama kali adalah lokasi. Kalau orang bilang ada rumus 3L yang harus diperhatikan waktu beli properti: lokasi, lokasi dan lokasi. Beli properti jodoh-jodohan.., kalau memang jodohnya, pasti dapat properti itu.

Kalau sudah ketemu jodohnya, misalnya rumah yang cocok, maka transaksi jual beli bisa berlangsung. Ada 3 (tiga) faktor untuk dapat terjadinya jual beli properti, yaitu penjual, pembeli, objek jual beli dalam hal ini properti tersebut.

Hal pertama yang perlu diperhatikan, dari sisi penjual. Penjual atau pemilik, adalah pihak yang namanya tercantum dalam sertifikat. Jika bukan nama penjual, bisa ditanyakan, apakah rumah tersebut dimiliki karena turun waris dan belum dibaliknamakan kepada ahli warisnya. Atau yang kedua, apakah penjual sudah memiliki terlebih dahulu tapi belum dibaliknamakan kepada namanya. Ini bisa terjadi bila sudah dibuatkan Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) tapi belum dilanjutkan dengan Akta Jual Beli (AJB).

Bila karena turun waris, maka salah satu caranya adalah dibuatkan Surat Keterangan Waris. Surat Keterangan Waris (SKW) adalah surat yang dibuat di bawah tangan, diketahui oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat. Sedangkan untuk keturunan Chinese dan Eropa, perlu dibuatkan SKW di Notaris, yang didahului dengan pengecekan ke Pusat Daftar Wasiat (PDW) di Kemenkumham. Sedangkan untuk keturunan Timur Asing bukan Chinese seperti Arab dan India, SKW dibuatkan di Balai Harta Peninggalan (BHP). Lebih lengkap mengenai dokumen waris, bisa baca tulisan disini. Semua ahli waris harus tanda tangan di hadapan Notaris, yang artinya menyetujui atas transaksi jual rumah warisan tersebut. Tidak boleh ada satupun ahli waris yang tidak tanda tangan. Bila ada ahli waris yang tinggal di luar kota, maka bentuk persetujuannya dibuatkan akta kuasa jual kepada salah satu keluarganya dari notaris setempat. Akta kuasa jual beli ini kemudian disampaikan kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang akan membuat Akta Jual Beli atas transaksi tersebut.

Hal berikut yang perlu diperhatikan dari penjual adalah status menikah atau belum menikah. Bila menikah, maka pihak penjual harus mendapatkan persetujuan dari pasangannya. Pasangannya harus hadir bersama penjual dan tanda tangan akta jual beli tersebut di hadapan notaris. Kalau belum menikah atau cerai, maka cukup ia sendiri yang tanda tangan.

Hal berikutnya yang perlu diperhatikan, adalah kapan properti tersebut diperoleh? Apakah sebelum nikah atau sesudah nikah? Apabila seseorang memperoleh properti tersebut setelah menikah, maka properti tersebut menjadi harta bersama. Tetapi bila seseorang memperoleh properti tersebut sebelum menikah, maka properti tersebut menjadi harta bawaan. Misalnya, seseorang menikah tahun 2019, dan tahun 2020 ia membeli sebuah rumah, maka rumah tersebut menjadi harta bersama. Tapi jika ia membeli tahun 2017, maka rumah tersebut menjadi harta bawaan. Oleh karena itu, bila seseorang menjual harta bawaannya, maka tidak perlu mendapatkan persetujuan pasangannya. Tapi prakteknya, notaris dan PPAT meminta pasangan, untuk tanda tangan menyetujui atas transaksi ini.

Hal berikut yang harus ada adalah, identitas dari penjual berikut pasangannya. Jika properti yang di jual adalah waris, maka seluruh identitas ahli waris dan pasangannya harus ada dan disampaikan ke Notaris/ PPAT dan wajib untuk tanda tangan di akta jual beli.

Faktor kedua adalah dari sisi pembeli. Yang utama, pastinya uang untuk membayar properti tersebut, apakah tunai atau lewat Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Bagaimana memilih bank untuk KPR bisa di baca disini. Jika sudah cocok dengan rumah yang mau dibeli, dapat ditanyakan juga ke penjual, apakah berkenan jika pembeli menggunakan KPR? Karena ada yang berkenan ada yang tidak, salah satu alasannya adalah lamanya proses KPR. Padahal bisa jadi lebih lama mendapatkan pembeli daripada proses KPR itu sendiri.

Untuk dokumen, sama dengan penjual, siapkan identitas dan NPWP. Jika pembeli sudah menikah, maka pasangannya harus hadir dan tanda tangan di akta. Tapi jika belum atau sudah cerai, maka cukup ia sendiri saja.

Faktor ketiga, objek jual beli, yaitu properti itu sendiri. Untuk objek yang diperjualbelikan harus ada alas hak nya, apakah Sertifikat Hak Milik (SHM), Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), Hak Pakai, Girik atau lainnya.

Bila properti tersebut ada bangunannya, misalnya rumah, maka harus ada Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), kalau tidak ada IMB, maka akan sulit bagi pembeli yang menggunakan KPR untuk mendapatkan persetujuan. Mengapa? Karena bank mewajibkan hal itu. Bila belum ada, maka lebih baik di urus dulu oleh penjual.

Yang tak kalah penting adalah SPPT PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan). PBB ini harus sudah ada sampai tahun terakhir beserta bukti bayarnya. Disertai pula bukti bayar tahun-tahun sebelumnya. Jika belum dilakukan pembayaran, maka seyogyanya menjadi tanggung jawab penjual untuk melunasinya. Kalau ada tunggakan, maka PBB tersebut harus dibayar berikut dendanya. Kalau sudah lunas, baru dapat dilakukan transaksi jual beli.

Untuk pajak jual beli properti, pihak penjual dikenakan 2,5% dan pihak pembeli 5% dari nilai transaksi. Pihak Notaris / PPAT biasanya sekaligus menghitung biaya-biaya dan pajak yang timbul.

Dalam hal terjadi pembayaran lunas, maka dapat langsung dibuatkan Akta Jual Beli (AJB). Tapi bila pembayaran parsial, tidak langsung lunas, maka dibuatkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). PPJB ini berisi tanggal pembayaran uang muka sampai tanggal pelunasan, serta dicantumkan target untuk AJB. Karena PPJB harus dilanjutkan dengan AJB.

Untuk biaya-biaya yang timbul, biasanya dikenakan sesuai porsinya dan bisa di negosiasikan. Untuk AJB nilainya maksimum 1%, biasanya dibagi dua antara penjual dan pembeli. Biaya ini bisa dinegosiasikan dengan pihak notaris/ PPAT. Biaya lain adalah Bea Balik Nama, ini dibebankan ke pembeli, dan biaya ini bisa dinegokan juga.

Untuk Sertifikat Hak Milik (SHM), hanya berlaku pada rumah tinggal saja dan hanya berlaku untuk Warga Negara Indonesia. SHM harus atas nama individu, tidak diperkenankan atas nama Badan Hukum.

Terakhir, teliti sebelum membeli. apalagi properti yang nilainya BESAR.

Catch me:

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

IG: Rizal.plannerindo

Twitter: @rizalplanner

FB: @rizalplanner

INVESTASI di MASA PENSIUN

Salah seorang kenalan saya, sebut saja Mr X, cerita pada saya bahwa dana pensiunnya yang sudah dia kumpulkan selama ini hilang, lenyap tanpa bekas. Kok bisa tanya saya? Ia bilang karena ia berinvestasi pada salah satu perusahaan yang melakukan usaha peternakan bebek di Cirebon. Awalnya selama 6 (enam) bulan pertama ia rutin menerima kiriman uang dari perusahaan ternak bebek tersebut, tapi begitu bulan ketujuh, bebeknya ‘ngambek’ sehingga tidak mau bertelur lagi. Bahkan ia sempat menengok langsung peternakan bebek tersebut di Cirebon. Memang benar ada kandang bebek berikut bebeknya, lengkap dengan papan nama investor di depan kendang tersebut. Tapi, tetap ada tapinya, tidak semua nama investor ada di depan kendang yang ada.

Hal ini tentu saja membuat Mr X ketar ketir, karena seluruh uang pensiunnya habis di investasikan di peternakan peternakan bebek tersebut. Perusahaan tersebut berjanji memberikan hasil investasi 15% per bulan, jauh di atas deposito. Karena Mr X tergiur dengan janji tersebut, disinilah berawalnya petaka. Karena ingin cepat kaya dan mau cepet untung, maka habislah dana pensiun tersebut. Singkat cerita, akhirnya pemimpin perusahaan peternakan bebek tersebut dilaporkan ke polisi atas dakwaan penipuan.

Di atas adalah salah satu contoh nyata, dimana para pensiunan, karena merasa sudah tidak bekerja lagi, dan uang pensiun satu-satunya harapan penghidupan, ingin bisa dilipatgandakan sedemikian rupa, tanpa melihat risiko yang ada. Ini juga berlaku tidak hanya para pensiunan, tapi juga masyarakat pada umumnya yang karena faktor ingin cepet kaya dan cepet untung serta mudah percaya atas hal-hal begini, akhirnya mau untung jadi buntung.

Penulis ingin memberikan sharing kepada para pensiun terutama, agar dalam menginvestasikan uang pensiun mereka, bisa dilakukan melalui investasi yang sifatnya low risk. Meskipun low risk berarti low return, tapi faktor keamanan dari dana pensiun juga tinggi. Ada beberapa contoh instrumen investasi yang low risk misalnya deposito bank, bisa pilih konvensional atau syariah, tergantung preferensi. Untuk dana di bank, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin simpanan per nasabah per bank sebesar maksimum Rp. 2 Milyar. Jadi kalau kita punya dana lebih dari Rp. 2M, bisa di distribusikan ke dalam beberapa bank. Sisi lainnya, ada pajak final sebesar 20% atas bunga deposito yang dikenakan. Sedangkan jangka waktu investasi bisa dipilih 1,3,6,12 bulan.

Instrumen lain yang bisa dipilih oleh pensiunan adalah Obligasi Retail Indonesia (ORI) atau Obligasi Negara Ritel, ORI ini merupakan Surat Utang Negara (SUN) yang dijual kepada individu Warga Negara Indonesia melalui agen penjual dengan volume minimum yang telah ditentukan. Obligasi syariah juga ada, namanya SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau Sukuk. Kenapa ada ORI? Pemerintah RI butuh uang untuk membangun negeri, daripada utang ke luar negeri, lebih baik berhutang kepada masyarakat Indonesia sendiri.

Ada beberapa manfaat ORI, yang pertama kupon atau imbalan yang dibayarkan oleh Pemerintah, sehingga risikonya sangat kecil tidak dibayarkan. Artinya risiko gagal bayar tidak ada, karena negara menjamin kupon dan pokok sampai jatuh tempo yang dananya disediakan dalam APBN setiap tahunnya. Yang menarik dari ORI adalah kupon (imbal hasil yang dibayarkan dari obligasi) yang cukup tinggi, dan pajak atas kupon hanya 15%, lebih rendah 5% daripada deposito. Kupon ORI lebih tinggi daripada inflasi, ingat tujuan investasi sendiri adalah mengalahkan inflasi. Manfaat yang kedua adalah Capital gain. Capital gain ini di dapat kalau kita menjual ORI tersebut lebih tinggi daripada harga beli di awal, maka selisihnya disebut sebagai keuntungan atau capital gain. Misalnya saat beli di agen penjual 100%, kemudian di tengah jalan di jual di bursa efek, dan harganya lagi naik sebesar 105%, maka keuntungannya adalah sebesar 5%. Jangka waktu jatuh tempo ORI bisa 2, 3, 5 tahun. Tapi jika tidak mau diperdagangkan selama jangka waktu tersebut, maka tidak akan ada capital gain (atau capital loss) dari ORI tersebut.

Instrumen ketiga yang bisa menjadi pilihan setelah deposito dan ORI adalah reksadana, pilihannya reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Bedanya dengan dua instrumen investasi di atas (Deposito dan ORI), pajak reksadana 0 (nol) %. Pembelian reksadana sendiri dihitung berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB). Kalau beli di awal NAB 1000 dan pada saat dijual NAB setahun kemudian menjadi 1060, artinya ada keuntungan sebesar 6%. Jadi kalau dalam setahun dapat imbal hasil 6%, maka tidak ada potongan pajak untuk instrumen ini.

Dari 3 (tiga) pilihan instrumen investasi di atas, cara membelinya jaman now, sudah semakin mudah, dengan aplikasi digital yang ada seperti e-banking, marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, aplikasi penjual reksadana seperti Bibit, Tanamduit, serta peer to peer lending, semuanya sudah tersedia, tinggal tetapkan tujuan dan pilihan investasi kita. Masing-masing aplikasi punya kelebihan dan kekurangannya. Silakan baca review penulis, salah satunya Bibit.

Penulis juga mengingatkan diri sendiri dan juga yang mau pensiun atau yang sudah pensiun, untuk tidak coba-coba investasi yang tidak jelas legalitasnya dan yang mengiming-imingi bunga yang tinggi, seperti cerita peternakan bebek di atas. Jangan serakah, jangan juga hanya ikut-ikutan. Era jaman now, investasi bodong semakin canggih dalam bentuk aplikasi.

So, please take good care of your investment.

Catch me:

Email: rizal.planner@gmail.com

Twitter: @rizal.planner

IG: @rizal.plannerindo

Review Investasi Reksadana via Apps Tanamduit

Tanamduit front

Aplikasi ini menawarkan tidak hanya investasi reksadana tapi juga penjualan asuransi dan investasi obligasi berupa Surat Berharga Negara (SBN). Tulisan ini hanya fokus untuk investasi reksadananya saja.

Pendaftaran

Untuk pendaftaran, isi nama sesuai KTP, upload scan KTP, isi nomer rekening dan tanda tangan secara digital. konfirmasinya gak bisa instan, masih butuh 2 (dua) hari kerja. Lumayan lama ya untuk verifikasi.

Pembelian Reksadana

Investasi bisa dilakukan mulai Rp. 10.000 (sepuluh ribu Rupiah).  Untuk pemula yang ingin berinvestasi, anda harus baca lebih dahulu penjelasan dari menu di apps ini, jadi buat yang belum paham reksadana dan bagaimana memilihnya, mungkin apps ini kurang favorable. Apps ini mirip seperti Bareksa, kita sendiri yang harus memilih reksadana mana untuk investasi.

Untuk memilih produk mana yang untuk investasi, diserahkan pada anda sendiri dengan membaca penjelasan yang ada disitu. Harapannya, setelah membaca penjelasan dan menonton youtube di awal, anda akan mengerti. Well, mudah-mudahan ya.

Sebelum beli, ada fitur bandingkan. Anda bisa membandingkan antar reksadana yang ingin dibeli. Bisa bandingkan return dari masing-masing reksadana. Perbandingan maksimum 3 (tiga) reksadana, reksadana mana saja, sembarang pilih.

Selanjutnya jika sudah yakin beli atas pilihan reksadana yang ada, isi nominal yang akan anda investasikan. Pembayaran bisa dilakukan dengan transfer bank, untuk transfer bank, tentu saja dilakukan secara terpisah melalui mobile banking, ATM, internet banking masing-masing bank, kalau sudah transfer, masih perlu meng upload bukti transfer. Masih ribet dan ada biaya transfer (kalau bank berbeda antara bank custodian dan bank anda sebagai investor). Ada tambahan pilihan pembayaran pembelian reksadana, via Gopay, DANA dan LinkAja. Ini bagus untuk investor pemula karena dapat menghemat biaya transfer, supaya cuan gak habis di makan biaya transfer seperti ini.

Penjualan Reksadana

Untuk mencairkan reksadana anda, ada OTP yang dikirim via email demi keamanan dan verrifikasi. Baru kemudian bisa lanjut. Kalau kita mau menambah/mengubah rekening bank, bisa dilakukan dengan mengirimkan email terlebih dahulu ke help desk/support nya. Ribet ajaa.

Untuk help desk, mereka tidak menyediakan live chat support, tapi bantuan berupa FAQ, jadi anda harus ketik apa yang mau ditanyakan, kemudian akan muncul pilihan-pilihan pertanyaan yang sering di tanyakan dan solusinya. Sering kali apa yang anda tanyakan, tidak ada di FAQ tersebut. Kalau tidak ada jawabannya disitu, maka selanjutnya anda mengirimkan notifikasi, cantumkan email dan lampiran (kalau ada) dan kirim. Much work to do here.

Kesimpulan

Apps ini bagus sebagai alternative channel pembelian reksadana, hanya saja banyak yang perlu di improve, so investor doesn’t have much to do and be more convenient.

Review Investasi Reksadana via Apps Ajaib

ajaib 2

 

Satu lagi apps yang bisa digunakan untuk berinvestasi, Ajaib. Apps ini merupakan salah satu apps investasi online yang memadukan Modern Portfolio Theory dengan Perencanaan Keuangan. Aplikasi ini membuat algorithma yang memudahkan anda untuk memilih reksadana yang tepat sesuai dengan profil risiko. Jadi anda tidak perlu lagi melakukan analisa saat membeli reksadana. Aplikasi ini juga menyediakan live chat support dengan konsultan keuangan, untuk pertanyaan seputar investasi.

Pendaftaran

Isi data pribadi seperti no HP, email, juga ada data isian OJK yang wajib di isi, upload foto KTP dan tanda tangan di HP. Ajaib mengklaim 5 menit untuk memverifikasi data yang disampaikan. Next, isi profil anda, apakah sudah menikah atau belum, karena ini untuk menentukan profil risiko anda seperti apa, yang ujungnya menentukan pilihan portfolio yang akan direkomendasikan oleh Ajaib.

Paket Investasi

Seperti yang dicanangkan, apps Ajaib ini membuat paket-paket investasi yang menggunakan segmen perencanaan keuangan untuk investasi seperti Dana Pensiun, Dana Darurat, Investasi Impian. Jadi anda tinggal pilih tujuan keuangan anda apa, maka Ajaib akan menghitung dan memilihkan reksadananya untuk anda. Perlu diperhatikan bahwa paket investasi ini hanya bisa dilakukan via mobile, tidak bisa lewat web. Yang bisa lewat web hanya investasi umum, artinya yang non paket tersebut di atas.

Beli Reksadana

Ajaib akan merekomendasikan pilihan reksadana yang cocok dengan profil risiko anda. Misalnya kalau profil risiko moderat, maka pilihan investasi adalah pendapatan tetap dan saham dengan komposisi investasi masing-masing. Misal pendapatan tetap 70%, saham 30%. Di Ajaib, ada pilihan investasi reksadana seperti terpopuler, investasi bertema, risiko terendah, Syariah, saham, obligasi, dan campuran. Misalnya reksadana terpopuler, disebutkan reksadana mana yang masuk kategori ini, dilengkapi dengan min investasi dan return satu tahun. Kita klik lagi, maka akan terlihat berapa NAB terakhir dan apa saja undelying asset nya.

Jika kita mengajak orang lain untuk menggunakan apps Ajaib, ada program referral yang berhadiah, min 10 ribu perak dan maksimum 1 juta. Tentu saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Untuk pembayaran, masih menggunakan transfer manual antar bank. Harus transfer dulu ke rekening bank kustodian reksadana tsb dan upload ke system ajaib. Menurut penulis, ini jadi salah satu kelemahan dalam era e-commerce seperti sekarang ini. Selain itu, sudah ada juga transfer manual via OVO. Namun perlu diperhatikan rating apps OVO ini dan penilaian customers’ atas apps ini. Silakan lihat sendiri ya di google play atau app store.

Jual Reksadana

Untuk menjual, tinggal pilih reksadana yang mau di jual, kemudian klik Tarik. Dana akan ditransfer ke rekening anda, maksimal 7 hari kerja. Tapi kenyataannya bisa lebih cepat. Akan ada biaya transfer bank yang langsung dipotong dari hasil penjualan reksadana tersebut. Jadi kalau keuntungan reksadana kecil, maka gak berasa cuan nya.

Over all, systemnya sudah bagus, hanya saja ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian ke depan nya, seperti transfer dan verifikasi yang otomatis dan pastinya lebih aman dalam kerjasama dengan aplikasi lain untuk transfer transaksi. Pilihan produk yang lebih banyak dan juga ada fitur nabung rutin.

 

Selamat berinvestasi.

Catch me: @rizalplanner (twitter)

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Review Investasi Reksadana via Apps Bibit

bibit

Satu lagi apps untuk yang ingin berinvestasi reksadana adalah Bibit. Bisa di download di ios ataupun google play atau jika ingin menggunakan laptop, bisa masuk ke web nya: https://app.bibit.id/.

Apps ini cocok untuk pemula atau orang awam yang baru belajar bagaimana mulai berinvestasi, karena melalui apps ini anda tidak perlu lagi mikir mau milih reksadana yang mana dan bagaimana cara investasinya, cukup klik-klik di gadget anda, maka anda bisa langsung berinvestasi. Tagline nya berinvestasi reksadana secara otomatis.

Pendaftaran

Cara daftarnya juga gampang, cukup scan KTP, tidak perlu manual isi data KTP karena sistem sudah mampu membacanya, isi no HP, nama bank dan no rekening dan ikuti petunjuk selanjutnya. Isian yang ada sekaligus mengukur risk profile anda. Seberapa besar risiko yang anda bisa tanggung bila sesuatu terjadi pada investasi anda, contohnya, bila harga suatu reksadana saham turun 15%, apakah anda panik atau malah beli lagi? Kalau beli lagi, berarti anda tipe investor agresif, kalau panik, anda termasuk yang konservatif, pilih yang aman-aman aja.

Kalau sudah isi semua, tidak perlu nunggu seharian, anda sudah bisa langsung investasi.

Robo Advisor

Untuk mengukur risk profile dan pilihan investasi yang ada, Bibit menggunakan yang namanya robo advisor.  Robo advisor ini fungsinya akan memilihkan reksadana mana saja yang sesuai dengan risk profile anda. Rekomendasi robo advisor bisa sekaligus 3 (tiga) reksadana dengan komposisinya masing-masing. Contohnya, untuk profil risiko agresif, nilainya 9.0, maka rekomendasi reksadana pasar uang 10%, obligasi 24%, dan saham 66%. Masing-masing sudah dipilihkan oleh robo advisor dari reksadana yang ada, mana yang paling cocok. Gak perlu pusing lagi memilih.

Cara kerja robo advisor adalah auto risk profiling, auto financial plan dan auto rebalancing. Dari algoritma jawaban-jawaban atas isian pendaftaran, robo advisor bisa mengetahui risk profile anda, lalu mendesain bagaimana perencanaan keuangan yang terbaik untuk anda, yang diterjemahkan dengan komposisi portfolio reksadana yang dipilih, dan terakhir menyesuaikan komposisi berdasarkan profil risiko, usia dan risiko pasar.

Kalau sudah familiar dengan reksadana, anda bisa pilih sendiri dari list reksadana yang ada, dan ada juga fitur bandingkan antara 3 (tiga) reksadana sekaligus untuk kategori yang sama, misalnya untuk kategori reksadana Obligasi, pilih 3 (tiga) reksadana obligasi, ada pula fitur filter, membandingkan dari total Asset Under Management, Return, Expense Ratio, Max Drawdown dan Minimum Pembelian.

Cara Pembayaran

Cara pembayaran nya mirip kalau belanja di market place seperti Tokopedia, Bukalapak. Tidak perlu kirim bukti transfer, verifikasi juga sudah otomatis. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, OVO, DANA, Virtual Account. Selain ke- 4 cara di atas, masih disediakan cara pembayaran via transfer manual, bukti transfer masih tetap perlu dikirim untuk verifikasi.

Untuk fitur pembayaran lewat Gopay, gratis biaya transfer, ini lumayan banget untuk pemula yang nilainya masih kecil, menghemat biaya transfer. Gak perlu online banking untuk transfer. Apalagi kalau profitnya gak gede-gede banget, jadi profit gak dimakan biaya transfer.

Ada juga pembayaran via virtual account, ada 4 (empat) bank yang saat ini ada no rekening virtualnya tercatat di Bibit. Ini juga lumayan untuk menghemat biaya transfer, hanya perlu memastikan bank anda sama dengan bank tujuan virtual account tersebut. Saat ini ada Bank BRI, BNI, Permata, CIMB Niaga dan bill payment via Mandiri.

Cara pembayaran ke virtual account tersebut bisa juga via apps OVO dan DANA, hanya saja ada biaya transfernya, tertera sebelum anda menyetujui pembayaran via metode ini.

Ada pembayaran via LinkAja, verifikasinya juga otomatis dan gratis biaya transfer. Lumayan untuk menghemat biaya transfer.

Inovasi seperti ini, penting bagi investor, karena membantu menghemat dari biaya-biaya yang tidak perlu.

Nabung Rutin

Fasilitas nabung rutin disediakan oleh apps ini. Nabungnya sebulan sekali. Caranya, tinggal klik saja nabung rutin di menu home yang ada, pilih tanggal berapa mau nabungnya, voila, maka setiap bulan uang anda akan dipotong. Nabung rutin ini adalah metode sederhana untuk untuk investasi rutin setiap bulan tanpa peduli harganya naik atau turun. Karena dengan nabung rutin atau istilahnya dollar cost averaging, anda tidak perlu mikir kapan saat yang tepat untuk berinvestasi. Yang penting anda konsisten dan disiplin dalam menabung,

Jual Reksadana

Untuk menjual reksadana, caranya juga mudah sekali, tinggal klik menu portfolio, maka akan muncul apa saja pilihan reksadana yang sudah dibeli, bisa dilihat performancenya, untung atau tidak. Kalau mau dicairkan, tinggal klik jual. Selanjutnya, di screen, akan muncul informasi bank kustodian dari reksadana tersebut, kalau bank kustodiannya berbeda dengan bank tujuan anda, maka akan ada biaya transfer, tapi kalau anda menyamakan bank anda dengan bank kustodian, maka gratis biaya transfer. Kalau di awal anda punya rekening bank yang berbeda dengan bank kustodian, dan anda ingin mengganti dengan bank yang sama dengan bank kustodian, maka tambahkan di menu profile no rekening bank yang sama tersebut. Penambahan rekening bank bisa dilakukan lebih dari satu.

Kesimpulan

Design apps, user interface (UI) nya bagus, dibuat semudah mungkin, jadi gak pake ribet buat pemula. Untuk yang mau Syariah, ada pilihan preferensi Syariah di menu profile. Sehingga otomatis, pilihan reksadana anda juga langsung yang Syariah. Untuk pilihan produknya secara keseluruhan menurut penulis belum terlalu banyak.

Selamat berinvestasi

Catch me @rizalplanner (twitter)

Email: rizal.plannerindo@gmail.com