Berhemat Dengan Take Over KPR

takeover

rizalplanner @TabKontan 6Nov17

Kalau anda punya hutang properti di bank dan suatu saat anda menjerit melihat tagihan rutin KPR (Kredit Pemilikan Rumah) anda naik, maka bisa dipastikan bunga KPR anda naik! Dan bunga ini bisa naik setiap 6 bulanan, sementara turunnya susah banget. Tapi tentu anda sudah paham sebelum mengambil KPR dengan fixed rate, bahwa setelah masa promo fixed rate habis, maka harus ada tambahan dana yang harus disiapkan bila tetap di bank tersebut. Tapi ada pilihan lain untuk menghemat waktu dan dana cicilan KPR, yaitu dengan take over KPR (ambil alih KPR) ke bank lain.

Kalau anda punya tagihan KPR yang bunga tetap (fixed rate) selama kisaran 12 – 36 bulan pertama, tentu selama 12 – 36 bulan tersebut besarnya cicilan per bulan akan tetap, misalnya bunga tetap KPR berkisar 7% – 8,9% per tahun, tapi begitu masa fixed rate habis, otomatis bank tersebut akan menerapkan floating rate (bunga mengambang) KPR yang baru, yang pasti lebih tinggi dari bunga tetap selama masa tersebut, berkisar 12% – 13.50% per tahun.

Bank mengenakan floating rate, artinya suku bunga bank mengikuti pasar. Dan kalau bunga acuan naik, maka yang paling cepat naik adalah bunga kredit, sementara bunga tabungan & deposito paling lambat mengikuti kenaikan, dan sebaliknya kalau bunga acuan turun. Kenapa? Karena bunga kredit adalah sumber pendapatan bank, sementara bunga tabungan dan deposito adalah kewajiban bank terhadap nasabah. Sebagai catatan, sampai September tahun 2017 ini bunga Acuan Bank Indonesia (BI) sudah di pangkas 0.5% oleh Bank Indonesia menjadi 4.25%, mengikuti hal tersebut, bunga deposito juga sudah langsung di gunting oleh perbankan, tapi suku bunga kredit tidak langsung turun, butuh waktu bulanan untuk bisa turun.

Kalau ada penawaran take over KPR dengan bunga tetap misalnya 3 tahun dari suatu bank, sementara tenor atau jangka waktu cicilan anda masih di atas 5 tahun, maka ini bisa jadi salah satu solusi penghematan dana dan waktu untuk anda dengan cara mengalihkannya (take over). Ilustrasinya sebagai berikut, kalau misalnya saat ini anda mempunyai KPR bank dengan asumsi floating rate 13,50% per tahun dan ada bank lain yang menawarkan fixed rate 8.50% selama 3 tahun,  maka dengan take over KPR, penghematan bunga cicilan anda sebesar 5% per tahun selama 3 tahun pertama, luar biasa kan? Ternyata penurunan rate 5% ini, jika dihitung dengan nilai pinjaman yang sama, cicilan lebih rendah 6%, maka anda dapat berhemat 2 tahun waktu cicilan.

Tentu saja ada biaya-biaya KPR untuk take over KPR, namun biaya ini hanya sekitar 7% dari total nilai pinjaman KPR, sementara penghematan total pokok dan bunga selama 2 tahun kurang lebih 37% dari nilai pinjaman. Jika di nett off, artinya anda berhemat 30% kan. Biaya take over disini meliputi  biaya denda pelunasan dipercepat dari bank asal dan bunga berjalan, di tambah biaya provisi, biaya notaris dan administrasi pada bank tujuan.

Ilustrasi tabel di bawah bisa menggambarkan penjelasan di atas:

 

Sebelum

Take Over

Sesudah

Take Over

    Delta
Tingkat Bunga KPR per tahun 13.50% 8.50% 5.00%
Cicilan per bulan (Rp.)           6,100,000                 5,760,000                       340.000
Jangka Waktu (tahun)                             10 8 2
Nilai Pinjaman (Outstanding) (Rp.)          400,000,000                  400,000,000 0
Bunga+Pokok selama 2 tahun pertama (Rp.)          149.000.000
Biaya take over (Rp.)                     30,000,000

*) angka dibulatkan

 

Dari tabel di atas, terlihat bahwa selisih bunga 5% sebelum dan sesudah take over, dengan nominal cicilan sebelum dan sesudah KPR take over mempunyai selisih sebesar  Rp. 340 ribu, jangka waktu cicilan lebih hemat 2 tahun, dari 10 tahun menjadi 8 tahun. Semua ini diasumsikan nilai pinjaman yang dipindahkan, nilainya  tetap, sebesar Rp. 400.000.000.

Selama 2 tahun tersebut, jika masih menggunakan bank yang lama, sebelum take over maka Anda harus membayar bunga dan pokok  sebesar Rp. 149 juta, tapi jika menggunakan fasilitas take over KPR, nilai penghematan bunga dan pokok ini setara dengan 37% dari nilai pinjaman. Sedangkan biaya take over sebesar Rp. 30.000.000 setara dengan 7% dari nilai pinjaman.  Jika di net off, anda berhemat 30%.

Dengan berhemat pembayaran bunga 5% selama 3 tahun, anda bisa mempercepat masa pembayaran menjadi lebih pendek, ditambah penghematan dana cicilan yang mesti di bayarkan. Ini tentu membantu dalam pengaturan arus kas (cash flow) anda.

Kalau masa pinjaman (tenor) tidak dikurangi, tetapi tetap 10 tahun, maka cicilan per bulan pasti lebih kecil. Ini juga bisa jadi pilihan jika anda perlu mengatur ulang cash flow anda atau anda perlukan untuk memperbesar ruang untuk pinjaman yang lain, supaya rasio hutang anda tetap 30%.

Memang ada syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk take over, tapi jika anda sudah pernah disetujui untuk KPR, maka untuk take over kurang lebih syarat yang sama yang diperlukan.

Selanjutnya, jika sudah 3 tahun, dimana masa fixed rate sudah selesai, maka bunga akan kembali mengikuti pasar.

PROSES KLAIM ASURANSI.

claims,

rizalplanner @Tab Kontan 23Okt17

Kasus salah satu perusahaan Asuransi besar (baca: Allianz) yang heboh baru-baru ini di akhir September 2017 mengakibatkan selain kerugian material juga kerugian immaterial seperti lunturnya kepercayaan nasabah maupun calon nasabah terhadap asuransi secara umum. Kasus ini kemudian menjadi viral, karena perihal klaim merupakan perihal yang ‘sensitif’ bagi nasabah dan perusahaan asuransi. Bagi Anda yang punya asuransi baik yang beli melalui agen atau online pastikan Anda mempelajari dan memahami dengan baik polis Anda. Premi yang selama ini Anda bayarkan tentunya akan menjadi sia-sia jika klaim atas Uang Pertanggungan (UP) tidak dapat dicairkan. Dalam case Asuransi Jiwa, seandainya terjadi musibah (baca: kematian) atas diri Anda selaku pemegang polis dan karena satu dan lain hal terjadi kesalahan atau ketidakjujuran dalam pengisian Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ) atau Surat Permohonan Penutupan Asuransi Jiwa (SPPAJ), maka ahli waris Anda tidak mendapat pencairan UP tersebut. Bayangkan betapa kesedihan yang mendalam bagi ahli waris, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah kehilangan Anda sebagai pencari nafkah, hutang tidak dapat di lunasi karena UP asuransi tidak dapat dicairkan oleh ahli waris.

Untuk menghindari kejadian yang tidak mengenakkan di kemudian hari, dan agar klaim ahli waris Anda dibayar oleh pihak asuransi, maka ada 8 hal yang perlu di perhatikan.

Pertama, isilah dengan jujur dan benar. Pada saat Anda membeli asuransi jiwa, Anda akan diberikan formulir SPAJ atau SPPAJ, isilah dengan jujur dan benar, karena apabila dikemudian hari ditemukan ketidakcocokan atau kebohongan data, maka klaim tidak bisa di bayarkan. Contohnya, misalnya Anda sudah mempunyai penyakit tertentu sebelum Anda mengajukan SPAJ tapi  Anda tidak men-declare hal tersebut dalam SPAJ, maka dikemudian hari, bila ditemukan penyebab kematian karena penyakit tersebut, maka klaim Anda bisa ditolak.

Yang kedua, pastikan polis tidak lapse atau tidak aktif, karena artinya premi sudah jatuh tempo, namun belum terbayarkan. Umumnya pihak asuransi memberikan waktu 30-45 hari sebagai masa tenggang. Bila ada kejadian setelah batas waktu tenggang 30-45 hari, maka pihak asuransi tidak bertanggung jawab. Untuk itu pastikan Anda membayar premi tepat waktu, agar orang-orang yang Anda kasihi mendapat menfaatnya. Namun bila Anda membeli asuransi jiwa karena kredit yang Anda ajukan, maka hanya cukup di awal saja pembayaran preminya. Hal lain yang penting, buat pemegang asuransi unit link adalah nilai tunai yang cukup, bila nilai tunai kurang untuk menutupi biaya asuransi maka polis dianggap tidak berlaku.

Yang ketiga, pasal pengecualian dalam polis. Pengecualian yang mengakibatkan ahli waris Anda tidak berhak untuk mendapatkan pembayaran klaim. Dalam pasal ini, contoh yang paling umum adalah bila Anda terlibat dalam kriminal atau kejahatan baik secara langsung maupun tidak langsung.  Dan ini juga berlaku bagi penerima manfaat asuransi alias ahli waris. Apalagi kalau ada kongkalikong antara pemegang polis dan ahli waris dalam kriminal, maka UP tidak akan diterima.

Yang keempat adalah, klaim melebihi batas waktu. Umumnya perusahaan asuransi memberikan batas waktu 30-60 hari kalender terhitung sejak pemegang polis atau tertanggung meninggal dunia. Bila sang ahli waris telat mengajukan klaim, melebihi batas waktu yang telah di tetapkan, maka klaim tidak terima. Oleh karena itu pengajuan klaim Anda harus dalam batas waktu tersebut agar dapat di terima pihak asuransi.

Yang kelima, dokumen klaim harus lengkap. Pastikan Anda memenuhi semua persyaratan pengajuan klaim seperti yang tertulis dalam polis. Komunikasikan kepada ahli waris Anda dimana polis asli, dan/atau bukti pembayaran premi terakhir. Bila Anda penerima fasilitas kredit dari bank, mintalah polis aslinya, bisa lewat bank atau ke pihak asuransinya. Hal lain, misalnya terjadi musibah pada saat di luar negeri, maka surat keterangan kematian dari pihak yang berwenang seperti Konsulat Jenderal RI setempat diperlukan untuk kelengkapan dokumen klaim.

Yang ke enam, masa tunggu. Bila ahli waris mengajukan klaim dalam masa tunggu, maka pihak asuransi berhak untuk tidak membayar. Masa tunggu umumnya 30-365 hari untuk penyakit kritis. Jika Anda mengajukan klaim karena penyakit kritis sebelum masa tunggu berakhir, maka pihak asuransi berhak untuk menolak. Untuk itu perlu diperhatikan dengan baik masa tunggu dari tanggal polis tersebut.

Yang ketujuh, bila klaim tidak termasuk dalam polis. Misalnya terjadi kecelakaan yang mengakibatkan pemegang polis cacat kaki, sehingga harus di potong dari lutut ke bawah. Ternyata  setelah dibaca seksama, klausula menyebutkan hanya di cover bila terjadi kecacatan dari pangkal paha ke bawah, maka atas klaim Anda tidak dapat ditindaklanjuti.

Yang terakhir, setelah mempelajari dan memahami dengan cermat polis Anda, selalu komunikasikan dengan pasangan atau ahli waris Anda perihal asuransi yang dimiliki dan kewajiban yang mesti anda lunasi. Tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemput, persiapkan yang terbaik untuk ahli waris Anda.

 

BI Checking

 

BI checking

Bagi yang ingin mengajukan kredit ke bank dan sebelumnya perlu mengetahui status riwayat kreditnya, bisa dilakukan lewat formulir BI Checking atau Informasi Debitur Individual (IDI) yang ada di halaman resmi Bank Indonesia:

http://www.bi.go.id/…/permin…/formulir/Contents/Default.aspx

Tinggal isi formulir online (http://www.bi.go.id/…/permintaan-idi…/formulir/Formulir.aspx), Tunggu respon dari BI, kalau sudah, siapkan copy KTP dan KTP asli, untuk ambil hasil checking di kantor BI setempat

NAIK HAJI LEBIH CEPAT

kabah

rizalplanner_Tabloid Kontan 4Oct17

Jemaah haji baru saja pulang untuk musim haji tahun 2017 ini. Yang sudah mampu mengerjakan rukun Islam ke-5, naik haji, senangnya luar biasa, merupakan impian yang tak terkira. Ingin rasanya kembali lagi dan lagi. Siapa umat muslim yang tidak kepengen naik haji, mulai dari tukang ojek sampai pemimpin negara yang muslim pasti punya keinginan untuk naik haji, karena itu seperti ‘mimpi’ umat muslim untuk bisa bertamu ke rumah Tuhan Yang Maha Kuasa. Naik haji (bagi yang mampu) juga merupakan tujuan untuk melengkapi rukun Islam.

Memang tidak murah naik haji, untuk biaya haji reguler sesuai ketetapan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 sekitar Rp. 35 juta atau setara USD 2.585 dengan asumsi nilai tukar Rp. 13.400/USD dan daftar tunggu (waiting list) sampai 24 tahun – berdasarkan data dari Kementrian Agama. Kalau Anda daftar dan dapat nomor porsi haji umur 40 tahun, maka baru bisa berangkat umur 60 tahun, itu juga dengan catatan kalau umur Anda sampai. Untuk mendapatkan nomer porsi haji yang 10 digit Anda harus menabung dahulu sampai terkumpul dana Rp. 25 juta. Bisa dibayangkan bila ternyata 20 tahun kemudian ongkos haji naik menjadi Rp. 236 juta, maka sisanya harus kita lunasi untuk bisa pergi haji, sementara uang yang Rp. 25 juta itu mengendap di tabungan tanpa imbal hasil yang memadai.

Alternatif lain selain haji reguler yang 40 hari, adalah haji khusus (dulu Ongkos Naik Haji – ONH – plus) dan Haji Khusus Non-Kuota. Kalau ONH Plus, mendapatkan nomer porsi haji seperti halnya haji reguler, namun layanan lebih mewah, jumlah hari lebih sedikit, tapi tetap harus antri beberapa tahun meskipun relatif lebih cepat dari haji reguler. Sedangkan Haji Khusus Non-Kuota, atau ada yang menyebut ‘haji sendal jepit’ tidak mendapatkan nomer porsi haji, visanya di luar kuota nasional resmi. Visa ini tetap dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Arab Saudi untuk tamu raja atau tamu pangeran. Dan harganya juga relatif lebih mahal dibandingkan reguler, mirip harga ONH Plus. Namun kelebihan Haji Khusus Non-Kuota, tidak perlu antri, bila Anda bayar tahun ini, maka tahun depan insya allah Anda sudah bisa berangkat haji.

Haji Khusus Non-Kuota, di tawarkan oleh beberapa travel agent, harganya sekitar USD 12.000 per orang, kurang lebih Rp. 160 juta per orang dengan kurs Rp. 13.400/USD atau 4,6 kali dari ONH regular. Haji Khusus Non-Kuota jadi pilihan paling efisien dari sisi waktu, meskipun lebih mahal, tapi dari sisi umur calon haji pada saat melaksanakan ibadah haji dan rentang waktu tidak terlalu jauh.

Perhitungannya sebagai berikut, seperti tersebut di atas, biaya Haji Khusus Non-Kuota Rp. 160 juta per orang, kita gunakan asumsi waktu keberangkatan 2x lebih cepat dari waktu tunggu rata-rata haji reguler, artinya Anda bisa berangkat ‘hanya’ dalam waktu 10 tahun dan asumsi kenaikan biaya haji dan kurs dollar per tahun 10%, maka biaya Haji Khusus Non-Kuota dalam waktu 10 tahun mendatang naik menjadi Rp. 415 juta.

Untuk kegiatan haji ini agar lebih pas, kita gunakan instrumen berbasis syariah. Bila kita menggunakan tabungan syariah Rupiah, dengan bagi hasil setara 2%, maka akan butuh dana yang besar untuk mengakumulasikan dana naik haji, tapi bila kita gunakan instrumen reksadana syariah saham, maka waktu dan dana dapat lebih cepat dan lebih efisien.

Ilustrasinya, lihat tabel di bawah ini:

Item:

Haji Khusus Non-Kuota

Rp. 415 juta

Tabungan syariah Reksadana syariah saham
Imbal hasil 1% per tahun 15% per tahun
Waktu 10 tahun 10 tahun
Cicilan per bulan Rp. 3,3 juta Rp. 1,5 juta

Asumsi kurs: Rp. 13.400/USD

Bila kita gunakan tabungan syariah, dengan asumsi bagi hasil setara 1% per tahun, maka dana yang harus kita cicil tiap bulan sebesar Rp. 3,3 juta, tapi bila kita menggunakan instrumen reksadana syariah saham yang bersifat agresif untuk 10 tahun, maka cicilan nya ‘hanya’ Rp. 1,5 juta setiap bulan selama 10 tahun. Ini berarti efisiensi dana sebesar 64%. Apabila kita kombinasikan dengan setoran awal yang Rp. 25 juta – seperti halnya Anda daftar haji reguler – bila dikembangkan dalam instrumen reksadana syariah saham yang punya imbal hasil setara 15%, maka dalam waktu 10 tahun akan menjadi Rp. 101 juta. Artinya sisa sebesar Rp. 314 juta dapat menggunakan instrumen syariah juga, dan cicilan lebih kecil lagi tiap bulan nya selama 10 tahun, yaitu hanya Rp. 1,1 juta. Kalau Anda berangkat berdua bersama pasangan, maka tinggal kalikan dua saja. Selain waktu yang bisa Anda persingkat 50%, fisik Anda juga masih relatif lebih kuat untuk musim haji 10 tahun lagi, dibandingkan 20 tahun kemudian.

Dari perhitungan di atas, jika waktu 10 tahun dirasakan lama, maka waktu keberangkatan bisa di percepat, misalnya, menjadi 5 tahun, maka otomatis ‘cicilan’ per bulan nya juga lebih besar, menjadi Rp. 3 juta per bulan, sebaliknya jika dirasakan masih cukup sabar menunggu keberangkatan 20 tahun lagi, maka ‘cicilan’ nya pun menjadi lebih kecil, yaitu sebesar Rp. 720 ribu.

Tinggal di pilih mana waktu dan dana yang paling pas, selanjutnya luruskan niat untuk bisa berangkat haji!

 

Catch  me: @rizalplanner

Email : rizal.plannerindo@gmail.com

MENIMBANG TABUNGAN BERJANGKA BERHADIAH

Nabung iPhone

rizalplanner_Tab Kontan 11Sep17

MAU HANDPHONE TERBARU?

CUKUP NABUNG Rp.300 RIBU/bulan

Dapat iPhone 7 Plus .

Iklan di atas mungkin sering Anda lihat di media-media cetak maupun online. Tapi di balik penawaran tersebut Anda harus tahu berapa nilai uang yang Anda dapatkan pada akhirnya untuk mendapatkan handphone tersebut.

Kadang kebutuhan gaya hidup lebih dominan dibandingkan logika kita. Sehingga melihat ‘kesempatan’ seperti ini, nabung dapat handphone terbaru, diasumsikan duit nya gak hilang, hitung-hitung nabung. Padahal paradigma seperti ini lah yang diincar oleh bank kepada  konsumen-konsumen yang mementingkan gaya hidup tersebut. Sehingga bisa pamer kepada kolega, teman, merasa lebih dahulu update daripada yang lain, sehingga terlihat keren.  Untuk itu mari kita lihat, benarkah Anda untung menabung dengan cara tersebut?

Ini bukan produk tabungan berhadiah karena mendapat undian, tapi penawaran tabungan berhadiah berjangka dimana kita sebagai nasabah harus menyetor uang secara rutin setiap bulannya (biasanya di debit secara otomatis) dengan perjanjian tidak boleh lalai menyetor dan tidak boleh di break selama periode perjanjian tersebut. Produk tabungan berhadiah berjangka dengan iming-iming hadiah di depan, seperti handphone, kamera, TV, jam tangan yang tersambung ke kamera, sampai voucher belanja.

Jika di baca terms and conditions nya, nasabah akan mendapat hadiah yang diinginkan, seperti  iPhone 7, dengan menabung secara rutin sebesar Rp. 300 ribu setiap bulannya selama 10 tahun, plus setoran awal sebesar Rp. 44,5 juta. Jika kita cek ke toko resmi, harga baru iPhone 7 Plus 256 GB hanya Rp. 17,6 juta. Program bundling ini juga menjual  item dengan brand yang lain, yang juga mempunyai skema yang kurang lebih sama.

Kalau sudah setor, maka Anda berhak mendapatkan handphone tersebut di awal. Tapi jika dikemudian hari Anda sebagai nasabah lalai menyetor rutin atau berhenti di tengah jalan, maka dana yang sudah ada akan dipotong sebagai penalti atas kelalaian Anda atau tabungan berjangka Anda tutup di tengah jalan.

Kalau dihitung, nilai uang Anda menurun karena seiring waktu nilai uang Anda akan tergerus termakan inflasi dalam 10 tahun.

Ilustrasinya sebagai berikut:

Misalnya Anda sebagai nasabah membuka tabungan berhadiah berjangka dan setuju untuk menabung selama 10 tahun dengan setoran tiap bulan Rp. 300.000 (tiga ribu Rupiah) dan setoran awal  yang Anda harus setor terlebih dahulu Rp. 44,500.000 (Empat puluh empat juta lima ratus ribu Rupiah), otomatis Anda akan mendapatkan gadget mutakhir yang Anda inginkan. Diperkirakan nasabah akan mendapatkan Rp. 85.050.000 pada saat jatuh tempo yaitu akhir tahun ke 10.

Dari ilustrasi di atas, asumsi bunga tabungan berhadiah berjangka tersebut 1% per tahun, inflasi harga-harga riil kalau kita cek di pasar bisa naik rata-rata sekitar 10% per tahun. Artinya nilai tabungan Anda minus 9% per tahun. Kalau uang yang diterima Rp. 85 juta di tahun ke-10 dihitung dengan nilai sekarang, maka nilainya sama dengan Rp. 34,6 juta. Artinya dalam 10 tahun nilai uang anda tergerus, hanya bisa mendapatkan barang seharga Rp. 34,6 juta (nilai saat ini).

Melihat hitungan di atas dapat di simpulkan, pertama, jika tujuan Anda ingin beli handphone, kamera, TV atau gadget keluaran terbaru, nabunglah selama 6-12 bulan (jauh lebih cepat dari menabung berjangka 10 tahun) kemudian langsung dibelikan barang yang Anda inginkan. Sehingga tidak timbul ‘kewajiban’ atau ‘hutang’ tabungan dalam waktu yang panjang. Keuntungan lain, gadget dengan keluaran lebih mutakhir juga anda dapatkan dalam waktu 6-12 bulan mendatang.

Yang kedua, jika tujuan Anda untuk menabung 10 tahun, akan lebih tepat jika menggunakan instrumen investasi, seperti saham atau reksadana saham, jika diasumsikan imbal hasil 15% per tahun, maka dengan installment Rp. 300 ribu per bulan dan setoranRp. 44,5 juta di awal, pada akhir tahun ke 10, dana anda akan menjadi Rp. 263 juta, 300% dari nilai yang di janjikan tabungan berjangka tersebut .

Kesimpulannya, dengan pengelolaan uang yang tepat, selain anda dapatkan gadget impian dan hasil investasi yang optimal, inflasi pun dapat anda kalahkan.

Catch me:@rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

MENYIAPKAN DP RUMAH.

down-payment KPR 27Aug17

rizalplanner _Tab Kontan 28Aug17

Pameran properti baru-baru ini yang di selenggarakan di pusat kota Jakarta, menyiratkan makin berjamurnya proyek properti yang ada dan salah satu kendala yang sering di hadapi oleh calon pembeli rumah adalah down payment (DP) atau uang muka. Rumah sudah di depan mata, KPR sudah siap untuk di ajukan, tapi terbentur down payment. Saat ini sesuai peraturan Bank Indonesia terbaru, uang muka untuk rumah pertama 15%.

Dalam siklus hidup manusia, umumnya setelah selesai sekolah, lanjut kuliah, masuk dunia kerja kemudian menikah. Bagi pasangan muda, kebutuhan akan tempat tinggal menjadi kebutuhan primer, apalagi kemudian punya anak, maka kebutuhan rumah tidak bisa di tunda-tunda lagi.

Memang disadari bahwa membeli properti membutuhkan uang besar, dan untuk mendapatkan uang besar itu kita bisa menggunakan fasilitas pinjaman dari bank. Dari peraturan Bank Sentral yang terakhir yang memperlonggar pembiayaan fasilitas KPR, anda dapat meminjam 85% dari nilai rumah yang anda inginkan. Artinya anda perlu merencanaan untuk menyiapkan 15% dana tunai sebagai down payment. Bagaimana caranya membentuk dana 15% tersebut untuk down payment? Ada yang mengumpulkan sebagian dari bonus, atau sebagian dari THR atau dana lain yang sifat nya kejutan seperti durian runtuh. Namun hal tersebut belum tentu berjalan mulus, jika tahun depan misalnya tidak ada bonus dari perusahaan atau tidak ada dana kejutan, atau yang paling mungkin, dana bonus habis karena keperluan mendadak, maka terjadilah gap dalam pengumpulan dana DP tersebut.  Sementara kenaikan harga properti terus berjalan.

Untuk itu anda perlu melakukan perencanaan sebelum membeli properti, misalkan target setelah menikah, akan membeli rumah dalam 5 (lima) tahun.

Yang pertama, hitung berapa maksimum cicilan yang bisa di alokasikan dari pendapatan anda dan istri per bulan, bahwa maksimum hanya 30% dari gaji yang hanya berhak untuk dihitung sebagai cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Karena selebihnya dana sisa 70%, di asumsikan untuk biaya makan, transport, biaya hidup dan keperluan lain-lain. Jika total gaji anda dan istri Rp. 20 juta sebulan, maka maksimum cicilan per bulan Rp. 6 juta yang bisa di alokasikan untuk angsuran.

Yang kedua, hitung berapa maksimum pinjaman. Jika suku bunga KPR rata-rata 11%, dan lama pinjaman 10 – 15 tahun, serta asumsi cicilan per bulan Rp. 6 juta, maka nilai pinjaman yang bisa di berikan bank kepada anda, maksimum berkisar antara Rp. 436 juta – Rp. 528 juta. Karena sesuai peraturan bank sentral nilai pinjaman atau LTV hanya 85% untuk rumah pertama, maka nilai properti atau rumah yang bisa anda beli berkisar Rp. 512 juta – Rp. 622 juta.

Sebagai catatan, semakin rendah nilai suku bunga KPR, maka semakin tinggi nilai pinjaman yang bisa anda dapatkan, seperti iklan promo suku bunga KPR bank –bank tertentu untuk jangka waktu tertentu.  Begitu juga dengan tenor alias jangka waktu pinjaman, semakin lama waktu pinjaman, semakin besar nilai pinjaman.

Yang ketiga, tentukan properti yang anda inginkan, anda perlu tahu dimana lokasi properti yang ingin anda beli. Misalkan perumahan kawasan di pinggiran Jakarta, dimana harga rumah di kawasan tersebut saat ini berkisar Rp. 600 juta. Jika kenaikan per tahun harga properti di Indonesia berkisar antara 10%-20%, ambil asumsi rata-rata kenaikan harga properti 15% per tahun, maka harga rumah di kawasan tersebut dalam 5 tahun mendatang menjadi kira-kira 1,2 Miliar.

Yang keempat, hitung DP properti tersebut 5 tahun mendatang. Dengan mengacu pada hitungan poin ketiga di atas, harga 5 tahun mendatang properti area perumahan kawasan pinggiran Jakarta tersebut menjadi Rp. 1,2 miliar, maka sesuai peraturan bank sentral untuk nilai maksimum pinjaman atau LTV (loan to value) sebesar 85%, maka DP nya sebesar 15% harus dipersiapkan secara tunai, dalam contoh ini 15% dari Rp. 1,2 miliar, sebesar Rp. 180 juta.

Yang kelima, bila anda menggunakan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), ada biaya KPR yang harus anda tanggung untuk perolehan kredit tersebut, nilainya kurang lebih 10% dari nilai perkiraan pinjaman properti tersebut. Dalam contoh ini 10% dari Rp. 1,02 M, atau Rp. 102 juta. Angka Rp. 1,02 M merupakan 85% dari Rp. 1,2 Miliar harga properti tersebut.

Total dari dana down payment plus biaya kredit yang harus di persiapkan sebesar Rp. 180 juta plus Rp. 102 juta adalah Rp. 282 juta. Karena bila anda sudah menyiapkan dana DP tapi tidak ada biaya kredit, maka tidak bisa juga mendapat fasilitas bank. Biaya kredit ini sifatnya harus tunai mencakup pembayaran pajak, provisi, BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), jasa notaris, asuransi dan lain-lain untuk mendapatkan perolehan kredit tersebut.

Yang ke enam adalah mencari ‘kendaraan’ yang cocok untuk mendapatkan total dana Rp. 282 juta tersebut dalam 5 tahun. Salah satunya dengan membeli reksadana. Untuk jangka waktu 5 tahun, pilihan reksadana saham bisa menjadi pilihan, rata-rata memberikan imbal hasil 15%. Kalau dihitung, maka installment per bulan sebesar kurang lebih Rp. 3,2 juta selama 5 tahun mendatang.

Bila di hitung, investasi untuk DP kredit properti, dari contoh di atas sebesar 16% dari total gaji anda dan istri. Nilai ini seolah-olah masih jauh dari prosentasi maksimum cicilan anda yang 30% yang di perbolehkan oleh bank. Jika anda ingin mempercepat waktu pengumpulan DP atau ingin menaikkan daya beli atas harga rumah yang lebih tinggi nilainya yang bisa di beli atau ingin memperpendek waktu pinjaman ke bank, maka penambahan 14% lagi sebagai dana investasi, dapat dijadikan sebagai skenario dalam tambahan investasi persiapan membentuk DP rumah sekaligus ajang latihan mencicil.

Selamat berburu properti hunian yang Anda dan keluarga idam-idamkan ya.

 

 

KREDIT PROPERTI

icon property

rizalplanner_Tabloid Kontan 3Juli2017

Sedari kecil kita semua di ajarkan bahwa salah satu kebutuhan primer adalah kebutuhan papan. Tidak hanya perlu makan minum dan pakaian, tapi juga tempat tinggal. Saat sekarang ini, kebutuhan papan tersedia dalam berbagai macam tipe, mulai dari rumah tapak, rumah susun (apartemen, flat, kondotel), ruko dan lain-lain. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia perlu tempat tinggal. Kita semua sadar bahwa beli properti itu melibatkan uang yang besar, sehingga kalau mengumpulkan uang sendiri sampai nilainya terpenuhi kemudian baru beli, sepertinya sangat jarang dan sulit untuk mengejar kenaikan harga properti tersebut. Bahkan untuk kalangan tertentu, gaji tidak akan pernah mampu untuk mengejar kenaikan harga properti. Untuk itu, biasanya pembeli menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya untuk me-leverage kemampuan beli properti tersebut.

Jika anda ingin membeli properti, misalnya dari secondary market atau rumah bekas, sebelum menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya, buatlah planning nya terlebih dahulu.

Pertama hitunglah terlebih dahulu penghasilan anda per bulan. Jika penghasilan anda perbulan misalkan Rp. 20 juta, maka tentu tidak semua gaji anda bisa jadikan cicilan untuk membeli properti. Mau hidup dengan apa jika semuanya dihabiskan untuk cicilan? Hanya 30% dari penghasilan tersebut yang bisa dijadikan angsuran, artinya Rp. 6 juta sebagai cicilan. Saat ini jika anda masuk ke dalam situs jual beli properti tertentu, sudah ada simulasi online yang menghitung secara langsung berapa angsuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) per bulannya. Dari situ bisa di hitung berapa nilai pinjaman properti yang menjadi target anda.

Yang kedua, jika anda sudah tahu kemampuan cicil anda perbulan, carilah properti seperti apa dan dimana yang bisa anda beli dengan kemampuan cicilan seperti itu dan yang mau di biayai oleh bank. Pertimbangkan bahwa semakin tinggi atau semakin premium kelas propertinya, semakin besar pula biaya bulanannya, seperti biaya pengelolaan lingkungan, dan maintenance fee lainnya. Bank tentu akan menilai berapa besar nilai properti tersebut yang akan di agunkan. Saat ini sesuai peraturan Bank Indonesia (BI) per Agustus tahun 2016 lalu, bahwa untuk DP rumah pertama turun menjadi 15% dimana sebelumnya 20%. Ini artinya Bank membiayai 85% dari nilai properti tersebut. Nilai 85% itulah yang disebut LTV (loan to value) atau penilaian pinjaman dan nilai inilah yang menjadi patokan total pinjaman anda. Kalau nilai appraisal properti yang ingin di beli Rp. 600 juta, maka besar KPR yang bisa anda pinjam hanya 85% nya yaitu sebesar Rp. 510 juta. Sebelumnya aturan BI untuk rumah pertama, kedua dan ketiga 20%, 30% dan 40%, sekarang menjadi 15%, 20% dan 25%.

Yang ketiga, berapa lama anda mampu membayar cicilan tersebut? Normalnya orang mengambil jangka waktu 10 sampai 15 tahun. Namun saat ini sudah ada yang sampai 25 tahun. Ini tentu berdampak pada perhitungan angsuran per bulan. Kalau misalnya ada tawaran bunga fix selama 3 tahun, dan cap selama 2 tahun berikut, maka jika terjadi perubahan (baca: naik) suku bunga Bank Indonesia, angsuran akan tetap selama periode tersebut mengikuti suku bunga yang sudah di sepakati. Karena itu jika suku bunga patokan turun, akan sangat sangat ‘susah’ suku bunga pinjaman juga turun. Jika lebih dari 5 tahun, maka suku bunga mengambang (floating rate) yang akan berlaku, mengikuti suku bunga pasar. Contohnya fix 6,99% per 3 tahun dan cap 8,99% per 3 tahun, maka jika masuk tahun ke-6 suku bunga naik menjadi 12,00%, maka cicilannya tentu akan naik juga. Asumsi pinjaman sampai 15 tahun, nah ruang kenaikan ini selama masa sisa cicilan 9 tahun alias sampai lunas tahun ke -15 harus sudah siap di antisipasi. Jangan sampai pada saat tahun ke-6 dan seterusnya, anda tidak mampu membayar cicilan tersebut.

Yang ke empat, siapkan juga dana untuk uang muka (DP – down payment) nya. Down payment rumah pertama sebesar 15%. Jika dari contoh di atas, maka uang sebesar Rp. 90 juta harus anda siapkan untuk down payment nya. Sangat tidak disarankan untuk mengambil pinjaman tanpa agunan seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk membayar DP ini. Karena itu berarti anda mempunyai beban cicilan lebih dari 30% dan kewajiban bayarnya lebih pendek dari cicilan KPR anda.

Yang ke lima, jika menggunakan fasilitas kredit dari bank atau insititusi keuangan lainnya, maka ada biayanya, biaya untuk memperoleh KPR tersebut berkisar 8%-10%, termasuk pembayaran pajak, provisi, BPHTB (Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan), jasa notaris, asuransi dan lainnya. Untuk itu dana sebesar 8%-10% dari nilai pinjaman perlu dipersiapkan. Dari contoh di atas kira-kira sebesar Rp. 41 juta s/d Rp. 51 juta yang sudah harus disiapkan.

Sehingga total dana cash yang mesti anda siapkan adalah gabungan dari DP dan biaya KPR, dalam contoh ini kurang lebih nilainya Rp. 131 juta – 141 juta.

Sebelum hal tersebut di atas dilakukan, periksalah terlebih dahulu bahwa tidak ada tunggakan tagihan dari pinjaman atau kredit lain, misalnya dari kartu kredit atau KTA atau fasilitas lainnya. Jika masih ada tagihan, di’bersih’kan dahulu supaya pada saat perhitungan parameter kredit, tidak ada masalah. Jika ada tunggakan, lunasi dan selesaikan terlebih dahulu, mintalah surat keterangan lunas jika diperlukan dari bank penerbit kartu kredit atau pemberi fasilitas kredit lainnya. Karena pada saat mengajukan KPR, bank pasti akan melakukan riwayat pinjam meminjam anda melalui BI checking, bagaimana historis kredit dan pembayaran anda sebelumnya.  Apabila anda pernah terlambat dalam membayar kewajiban anda, atau pernah tidak lancar dalam memenuhi kewajiban anda, akan terlihat jelas. Sehingga bila semua sudah clear, kapabilitas anda sebagai orang yang ‘bankable’ meyakinkan.

Meskipun harga properti terus naik, namun saat sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli properti? Mengapa ? karena saat sekarang adalah saatnya buyer’s market, dimana lebih banyak supply daripada demand, lebih banyak supply propertinya daripada permintaannya. Banyak orang dan developer properti  yang ingin menjual rumah atau apartemen nya, namun jumlah pembeli nya tidak sebanding. Keadaan seperti inilah yang membuat buyer lebih punya banyak pilihan untuk memilih properti.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com