PENTINGNYA BERWASIAT DENGAN CARA YANG BENAR

 

wasiatdictio

pic source: dictiotid

Tidak hanya saat virus Corona melanda seperti saat ini, tapi kapanpun saatnya, selama manusia hidup dan mempunyai harta yang ditinggalkan, maka hendaklah bersiap dengan berwasiat. Bisa jadi saat ini yang perlu membuat wasiat adalah para dokter, suster dan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan virus di Rumah Sakit. Dalam kondisi virus Corona melanda dunia dan negeri Indonesia tercinta, anda bisa melihat laporan dan beritanya di media sosial, berapa banyak orang yang meninggal. Bisa terbayangkan betapa berat keluarga yang ditinggalkan. Untuk itu sebagai kepala keluarga, seandainya skenario risiko terburuk terjadi, persiapkan dan rencanakanlah dengan baik demi keluarga tercinta.

Dalam perencanaan keuangan, ada yang namanya perencanaan distribusi kekayaan atau istilahnya estate planning. Salah satu cara untuk distribusi kekayaan adalah dengan wasiat.

Wasiat adalah dokumen pribadi berupa akta. Akta berisi pernyataan seseorang terhadap apa yang dikehendakinya terjadi setelah ia meninggal, akta ini dapat dicabut kembali. Akta artinya adanya dokumen secara tertulis. Tidak bisa dibuat melalui video atau vlog, karena ini bukanlah akta. Akta dapat dibuat sendiri atau bisa dengan bantuan notaris. Bila dibuat di hadapan Notaris, maka akan dicatat pada Direktorat Harta Peninggalan dan Pusat Daftar Wasiat.

Tujuan berwasiat sendiri adalah memberikan kepastian orang yang anda inginkan memperoleh harta anda, ketika anda meninggal dunia. Selain itu, tentu anda menginginkan keharmonisan keluarga tetap terjadi, tidak terjadi keributan keluarga karena perebutan harta.

Ada 3 (tiga) hal yang perlu di highlights bagaimana berwasiat dengan cara yang benar:

Pertama, harta tercatat dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak. Pastikan bahwa setiap anda melaporkan SPT, harta anda tercatat dengan lengkap dan benar. Bahwa harta inilah yang kemudian akan dibagikan kepada orang-orang yang tertulis dalam wasiat. Karena jika tidak, maka orang-orang yang menerima harta tersebut, akan dianggap menerima tambahan pendapatan. Yang menerima tambahan pendapatan akan terkena pajak, dimana tarif progresif pajak bisa mencapai 25%. Contohnya, kalau anda punya 3 rumah tinggal, 1 ruko, 2 apartemen pastikan semuanya tercatat di laporan SPT anda.

Kedua, perwalian atas anak. Umumnya orang tua akan memberikan hartanya pada anak-anaknya. Kalau anda memberikan harta anda pada anak anda, maka bila anak-anak anda belum mencapai umur 21 tahun, maka anak anda belum cakap hukum. Konsekuensinya anak anda perlu wali. Maka dalam wasiat tersebut ditunjuk juga siapa walinya. Ada beberapa persyaratan untuk menjadi wali, hal yang perlu di highlights, bahwa wali adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Indonesia, serta beragama sama dengan agama yang dianut oleh anak. Jadi kalau ada WNI tapi tidak berdomisili di Indonesia, maka tidak terpenuhi syaratnya menjadi wali, atau bila agama wali ternyata berbeda dengan agama anak, maka tidak bisa pula. Khusus untuk asuransi, tanyakan pada perusahaan asuransi, sampai batas umur berapa seorang anak masih perlu wali? Dan bila perlu cantumkan pula dalam polisnya, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.

Yang ketiga, kemudahan akses terhadap surat wasiat. Kalau terjadi apa-apa dengan anda, maka pastikan bahwa surat wasiat anda dapat di akses dengan mudah, sehingga tidak menghambat dan merugikan proses yang dibutuhkan dalam mengurus wasiat. Misalnya, Salinan surat wasiat dapat disimpan di Notaris yang membuat wasiat. Sehingga jika terjadi apa-apa dapat dengan mudah di akses. Bayangkan bila surat wasiat tersimpan di Safe Deposit Box (SDB) di bank. Untuk mengaksesnya saja perlu prosedur dan persyaratan yang banyak dan bisa memakan waktu, dan berakibat menghambat pelaksanaan dari isi wasiat tersebut.

Bila anda membuat surat wasiat, pastikan hukum mana yang dipilih. Di Indonesia, ada 3 (tiga) hukum yang berlaku, hukum nasional, hukum islam dan hukum adat, pastikan bahwa anda menggunaksan salah satu dari hukum tersebut. Secara kedudukan, ketiga hukum tersebut sama. Jika menggunakan hukum nasional pastikan legitieme portie anak tidak terlanggar. Legitieme portie maksudnya bagian mutlak para ahli waris yang sama sekali tidak dapat dilanggar dengan suatu penetapan yang dimuat dalam wasiat. Ini harus diberikan kepada ahli waris yang berada dalam garis lurus menurut undang-undang. Hal ini dimaksudkan agar ahli waris terlindungi dan tidak dirugikan apabila si pewaris hendak bertindak sewenang-wenang.

Sebagai penutup, pastikan pula bahwa dalam isi wasiat tersebut, ada orang yang ditunjuk untuk melaksanakan wasiat tersebut jika yang membuat wasiat sudah tiada. Penunjukkan orang yang melaksanakan wasiat menjadi hal yang tak kalah penting, karena orang yang ditunjuk tersebut haruslah orang yang netral dan tidak mempunyai kepentingan terhadap wasiat tersebut. Orang yang ditunjuk ini akan menguasai dan membagikan isi wasiat tersebut.

 

Penulis

Boy Hazuki Rizal

Catch me: @rizalplanner (twitter)

 

 

 

 

 

 

 

Properti: Hibah, Hibah Wasiat dan Waris.

RizalPlanner Boy Hazuki RizalGrant house

souce pic: rumahpanturacom

published in Investor Daily 14 Dec 2019: https://investor.id/opinion/properti-hibah-hibah-wasiat-dan-waris

Dalam perencanaan keuangan, distribusi aset atau pembagian harta dikenal sebagai estate planning. Salah satu aset yang paling sering beralih hak kepemilikan adalah properti berupa tanah. Ada 3 (tiga) cara yang dikenal secara umum: hibah, hibah wasiat dan waris.

Ada peraturan yang mengatur mengenai hal peralihan hak kepemilikan tanah, mulai dari Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional, sampai Surat Edaran Kepala BPN. Jika disimpulkan dari semua peraturan tersebut, ada 2 (dua) hal kunci dalam peralihan hak, yaitu subjek dan objek dari peralihan hak tersebut. Subjek dibuktikan dengan adanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) jika pemegang haknya orang pribadi, dan Akte Perseroan jika pemegang haknya berbentuk badan hukum. Objek, adalah tanah tersebut.

Yang pertama: hibah. Hibah adalah suatu persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali. Ini merupakan pengalihan hak atas sesuatu barang kepada siapapun tanpa mengharapkan imbalan. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Yang utama adalah bahwa hibah itu dilakukan semasa pemberi hibah masih hidup. Karena Undang-undang hanya mengakui penghibahan antara orang-orang yang masih hidup1). Hibah bisa diberikan kepada siapa saja, misalnya ke anak, orang tua, keponakan, sahabat, badan keagamaan, badan pendidikan dan badan sosial. Kalau hibah diberikan kepada anak, maka harus menjunjung tinggi azas keadilan. Karena jika orang tua tidak adil, maka anak yang mendapat bagian lebih kecil, bisa timbul dendam, dan dapat mengganggu hubungan kekeluargaan di antara mereka di kemudian hari.

Untuk hibah yang dilakukan dalam keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dikecualikan dari objek pajak penghasilan2), misalnya orang tua kepada anak kandung. Untuk orang tua sebagai pemberi hibah dalam garis keturunan lurus satu derajat, tidak ada pajak yang dikenakan, sementara yang menerima hibah wajib membayar pajak atau disebut Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang besarnya 5% dari Nilai Jual Objek Pajak setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak atau 5% (NJOP – NPOPTKP). Untuk hibah, besarnya NPOPTKP untuk area DKI Jakarta sebesar Rp. 80 juta, sedangkan untuk Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi sebesar Rp. 60 juta. Sebagai ilustrasi, seorang ayah menghibahkan sebidang tanah di Jakarta dengan nilai NJOP sebesar Rp. 1,5 Milyar kepada putrinya, maka sebagai pemberi hibah, sang ayah tidak perlu membayar apapun, sementara putrinya sebagai penerima hibah, harus membayar BPHTB sebesar 5% x ( Rp. 1,5 M – Rp. 80 juta) = Rp. 71 juta. Prosedur pendaftaran hak tanah karena hibah harus dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang berwenang dihadapan para pihak yang memberi dan menerima hibah, disaksikan minimal 2 (dua) orang saksi. Untuk kemudian didaftarkan ke Kantor Pertanahan setempat oleh PPAT.

Yang kedua: hibah wasiat. Jika pemberian dilakukan pada saat seseorang masih hidup namun baru berlaku jika pemberi hibah sudah meninggal dunia. Hibah wasiat ini berlaku untuk pihak manapun yang ditunjuk dalam wasiat. Namun dalam harta pemberi hibah, terdapat hak bagian mutlak (legitieme portie) anak sebagai ahli waris dan ini dilindungi undang-undang. Dalam hukum kewarisan Islam, maksimal pemberian hibah wasiat untuk orang lain di batasi hanya sepertiga dari harta. Membuat hibah wasiat dapat dilakukan melalui Notaris. Prosedur pendaftaran hak tanah atas hibah wasiat harus dilaksanakan dihadapan PPAT. Untuk hibah wasiat berupa tanah, karena pemberi hibah sudah meninggal dunia, maka tidak ada pajak yang dikenakan, sementara penerima hibah wasiat, karena menerima peralihan hak tanah meskipun secara cuma-cuma, tetap harus membayar pajak atau BPHTB. Ada keringanan 50% untuk BPHTB, yaitu besarnya: 50% x [5% (NJOP – NPOPTKP)].  Sedangkan NPOPTKP Hibah Wasiat pun lebih besar dari NPOPTKP Hibah. Untuk area Jakarta, NPOPTKP Hibah Wasiat senilai Rp. 350 juta, sementara untuk daerah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi sebesar Rp. 300 juta. Mengambil ilustrasi di atas, misalkan sang ayah sudah meninggal dan meninggalkan wasiat, maka sang putri penerima hibah wasiat berupa tanah di Jakarta, harus membayar BPHTB sebesar: 50% x [5% ( Rp. 1,5M – Rp. 350 juta)] = Rp. 28,75 juta. Cukup signifikan bedanya BPHTB yang dibayarkan dengan hibah.

Yang ketiga, warisan. Waris adalah perpindahan hak dan kewajiban dari orang yang meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup. Ahli waris hanya untuk keluarga yang mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris. Ahli waris dibuktikan secara tertulis melalui Surat Keterangan Waris (SKW). SKW untuk WNI asli dibuat dibawah tangan disahkan oleh lurah dan dikuatkan camat, sementara untuk keturunan Chinese dan Eropa dibuat oleh Notaris, dan untuk keturunan Timur asing seperti India dan Arab, dibuat oleh Balai Harta Peninggalan. Jika terjadi perkawinan campur, misal WNI Asli dengan Chinese, maka dilihat pihak mana yang meninggal. Jika yang meninggal adalah WNI Asli, cukup dibuatkan SKW di bawah tangan saja, sementara jika yang meninggal Chinese perlu dibuatkan akta notaris dengan pengecekan wasiat sebelumnya. Jika SKW sudah ada, maka perpindahan hak kepemilikan khususnya untuk properti, bisa dilakukan. Ahli waris tetap perlu membayar pajak BPHTB. Perhitungannya sama dengan hibah wasiat, yaitu 50% x [5% x (NJOP – NPOPTKP)]. Nilai NPOPTKP nya pun sama dengan hibah wasiat. Ilustrasinya, bila mengacu contoh hibah wasiat di atas, BPHTB yang dibayarkan sebesar Rp. 28,75 juta.

Untuk ketiga peralihan hak di atas, khusus untuk wilayah DKI Jakarta, BPHTB bisa menjadi 0% alias gratis4), dengan syarat dan ketentuan yang harus di penuhi yaitu wajib pajak pribadi yang mempunyai KTP DKI Jakarta minimum 2 (dua) tahun berturut-turut, harus merupakan perolehan hak untuk pertama kalinya karena pemindahan hak (jual beli, hibah, hibah wasiat dan waris), serta Nilai Perolehan Objek Pajak maksimum Rp. 2 Milyar. Dalam peraturan ini, berita baiknya, pemindahan hak tanah karena jual beli tanah di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria di atas, berlaku juga BPHTB 0% alias gratis. Caranya bagaimana? Ajukan permohonan dan penuhi dokumen umum dan khusus yang dipersyaratkan.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

 

Catatan kaki:

1)  KUHP Pasal 1666

2) PMK No. 245/PMK.03/2008

3)  PerGub DKI Jakarta No. 112 Tahun 2011

4) PerGub DKI Jakarta No. 126 Tahun 2017

 

Rumah Warisan, Dokumen dan Pajak Terkait.

Boy Hazuki Rizal Investor Daily 28Sep19

Di publikasikan di Koran Investor Daily, 28 September 2019: https://investor.id/opinion/rumah-warisan-dokumen-dan-pajak-terkait

Rumah

Setelah berlalunya kesedihan atas kematian dari orang tua, salah satu peninggalan orang tua pada umumnya adalah harta berupa rumah warisan. Apalagi kalau ahli warisnya banyak, maka orang-orang yang ditinggalkan mungkin saja timbul perselisihan, karena salah satu ahli waris ingin menguasai harta peninggalan. Rumah warisan merupakan contoh harta peninggalan yang paling banyak kasusnya.

Kalau ada anggota keluarga yang tidak sepakat dengan pembagian harta waris, maka bisa mengajukan permohonan penetapan fatwa waris ke Pengadilan Agama (bagi yang muslim) dan Pengadilan Negeri (bagi non muslim). Fatwa waris juga diperlukan bila ahli waris dan pewaris secara hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus sudah terlalu jauh, sehingga putusan pengadilan diperlukan untuk menetapkan siapa saja ahli waris yang berhak.

Untuk menjual rumah warisan kepada pihak ketiga, harus ada Surat Keterangan Waris (SKW), jika SKW sudah cukup, maka tidak diperlukan lagi penetapan ahli waris dari pengadilan. SKW dibuat di bawah tangan, diketahui oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat. Sedangkan untuk keturunan Chinese dan Eropa, maka perlu dibuatkan SKW di Notaris, yang didahului dengan pengecekan ke Pusat Daftar Wasiat di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, sedangkan untuk keturunan Timur Asing bukan Tionghoa seperti Arab dan India, SKW dibuatkan di Balai Harta Peninggalan (BHP). BHP merupakan unit pelaksana teknis instansi pemerintah yang berada di bawah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Bila para ahli waris sudah sepakat untuk menjual rumah, dan rumah tersebut atas nama orang tua yang sudah meninggal, maka nama yang terdaftar di sertifikat perlu dibaliknamakan terlebih dahulu ke nama para ahli waris. Misalnya sertifikat rumah atas nama bapak yang sudah meninggal, maka sertifikat dibaliknamakan dahulu ke istri dan anak-anaknya. Pada saat membaliknamakan ini, timbul konsekuensi pajak pembeli. Meskipun bukan transaksi beli, tapi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB) akan dikenakan. Pada saat membayar kewajiban ini, ahli waris mendapatkan keringanan berupa potongan 50% dari tarif pajak pembeli dan nilai pengurang NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) yang berlaku khusus untuk waris atau hibah wasiat. Besarnya: 50% x 5% (NJOP – NJOPTKP). NJOPTKP adalah Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Untuk area Jakarta, sesuai ketentuan Perda Provinsi DKI Jakarta no 18 tahun 2010, untuk waris dan hibah wasiat, besarnya NJOPTKP sebesar Rp. 350 juta.

Jika sudah selesai balik nama ke para ahli waris, maka transaksi jual beli dengan pihak ketiga dapat dilakukan layaknya transaksi jual beli rumah biasa. Bila transaksi terjadi, maka pajak yang timbul adalah 2,5% bagi penjual (dalam hal ini para ahli waris pemilik rumah) dan 5% bagi pembeli (pihak ketiga). Bagi penjual, pajak penghasilan (PPh) yang harus dibayarkan sebesar 2,5% x Nilai Transaksi atau NJOP (mana yang lebih besar). Sedangkan bagi pembeli, pajak yang harus dibayarkan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan, sebesar 5% x (NJOP – NJOPTKP). Nilai NJOPTKP selain waris dan hibah wasiat, nilainya Rp. 80 juta, untuk wilayah Jakarta. Untuk wilayah lain ada ketentuannya masing-masing, bisa cek kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah setempat.

Dalam hal ini penjual terkena 2 (dua) kali pajak, yang pertama pajak pembeli, karena menerima rumah warisan tersebut, dan yang kedua adalah pajak penghasilan, sebagai penjual rumah warisan tersebut. Pajak pembeli atas rumah waris, berhak atas potongan 50% dari ketentuan tarif pajak yang berlaku. Sedangkan pajak penghasilan sebagai penjual, tidak ada potongan.

Di lain sisi, kalau ternyata, para ahli waris sepakat untuk memberikan rumah warisan tersebut kepada salah salah satu ahli waris, maka sertifikat tersebut dibaliknamakan terlebih dahulu ke seluruh ahli waris, kemudian dibuatkan Akta Pembagian Hak Bersama (APHB). Atas hal ini, konsekuensi pajak yang muncul adalah penerima hak tersebut harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sekaligus, hanya saja secara proporsional. Misalnya, ada 5 (lima) ahli waris, dan semuanya sepakat untuk memberikan ke salah satu ahli waris. Maka ahli waris penerima ini harus membayar 4/5 (empat per lima) dari PPh dan BPHTB karena 1/5 (seperlima) sudah menjadi miliknya.

Sebagai penutup, dalam transaksi jual beli rumah warisan, yang membedakan adalah dokumen dan pajak. Dokumen yang harus ada, adalah dokumen yang menunjukkan kepemilikan dari rumah tersebut, karena pada saat transaksi jual beli, yang harus hadir di hadapan notaris adalah pewaris dari rumah tersebut. Bila salah satu ahli waris karena alasan lokasi yang berjauhan, tidak dapat hadir, maka perlu dibuatkan Surat Kuasa di hadapan notaris setempat ke salah satu ahli waris yang isinya menyetujui penjualan rumah warisan tersebut. Surat kuasa ini kemudian dilampirkan di Akta Jual Beli.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

HIBAH WASIAT/ WARIS = HEMAT PAJAK

hibahdanwasiat

rizalplanner_Tab Kontan 14Aug17

Pernahkah anda mendengar satu keluarga ribut karena memperebutkan harta warisan? Kakak adik saling bertengkar mempermasalahkan siapa yang paling berhak untuk mendapatkan warisan orang tuanya.

Bisakah anda bayangkan kejadian serupa bisa menimpa anda? Setelah anda tidak ada, anak-anak anda saling memperebutkan warisan anda. Mereka bertengkat memperebutkan rumah, tanah, villa, apartemen anda. Bisa-bisa anda tidak tenang di alam kubur sana.

Salah satu caranya agar menghindari masalah yang mungkin timbul kelak adalah dengan hibah wasiat. Jika hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain semasa hidup dan pelaksanaan pembagiannya dilakukan saat pemberi hibah masih hidup, maka hibah wasiat hanya berlaku pada saat pemberi wasiat tersebut sudah meninggal. Hibah wasiat artinya pemberian barang oleh Pewaris (orang yang memiliki harta) kepada orang tertentu yang telah disebutkan atau ditetapkan oleh Pewaris dalam surat wasiat yang dibuatnya. Pemberi wasiat mempunyai hubungan langsung kepada penerima wasiat, hubungan satu derajat ke bawah contohnya anak, ataupun satu derajat ke atas, contohnya orang tua, termasuk dalam hal ini suami/istri.

Hibah wasiat bagi penerima wasiat selain mendapatkan hak juga punya kewajiban yang harus di penuhi. Begitu juga dengan ahli waris, selain mendapatkan hak, ahli waris juga punya kewajiban yang juga harus dipenuhi. Dalam case ini berupa pajak kepemilikan rumah, sehingga apabila terjadi perpindahan kepemilikan dari almarhum orang tua kepada anak, maka anak yang memperoleh rumah tersebut punya kewajiban untuk membayar pajak. Seperti halnya transaksi jual beli rumah, maka di analogikan yang beli rumah adalah penerima hibah wasiat atau penerima waris tersebut. Bagi penerima hibah wasiat atau waris tersebut berlaku tarif seperti halnya pembeli rumah, dengan dasar pengenaan pajak khusus sebagaimana di atur dalam Peraturan Pemerintah dan Provinsi.

Jika seseorang meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa rumah kepada anaknya, dan sebelum meninggal dunia ia menulis surat wasiat, maka si anak entitle untuk mendapatkan rumah tersebut. Namun, jika tidak atau belum sempat menulis wasiat atau tidak ada surat waris, maka anak yang notabene berhak mendapatkan warisan harus mendapatkan surat keterangan waris dari kelurahan dan kecamatan, hibah wasiat ini akan jauh lebih taktis dan hemat, jika pewaris sudah menuliskan surat wasiat.

Apa bedanya waris dan hibah wasiat?

Dalan Peraturan Pemerintah No. 111 tahun 2000 yang di tandatangani oleh Presiden Gusdur yang dimaksud dengan perolehan hak karena waris, adalah perolehan hak atas tanah dan bangunan oleh ahli waris dari pewaris, yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia. Sementara, yang di maksud dengan perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.

Apa manfaat waris dan hibah wasiat?

Pertama, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan diskon 50% dari 5% Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang seharusnya terutang, nilai ini harus di bayarkan dan disetorkan ke kas daerah dan dibayarkan saat ahli waris atau penerima hibah mendaftarkan peralihan hak nya atau sejak akte di tandatangani.  Yang kedua, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) yang besarnya di tentukan oleh Pemerintah Provinsi.

Rumus Perhitungan

Rumus BPHTB Waris atau Hibah Wasiat: 50% x 5% (NJOP PBB – NPOPTKP).

NJOP adalah Nilai Jual Objek Pajak, NPOPTKP adalah Nilai Perolehan Obek Pajak Tidak Kena Pajak. NPOPTKP adalah pengurang dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Di Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan daerah Provinsi DKI Jakarta No.18 tahun 2010. NPOPTKP untuk waris dan hibah wasiat nilainya sebesar Rp. 350 juta. Jika selain hibah wasiat atau waris, maka nilainya sebesar Rp. 80 juta. Angka NPOPTKP tersebut di atur dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 18 tahun 2010. Untuk wilayah di luar DKI Jakarta, di atur oleh daerahnya masing-masing.

Untuk lebih jelas, ilustrasinya sebagai berikut, jika asumsi ahli waris atau penerima hibah wasiat mendapatkan rumah dengan NJOP di DKI Jakarta Rp. 1 Miliar dan NPOPTKP karena Hibah Wasiat atau Waris Rp. 350 juta, maka bila mengikuti rumus di atas, secara perhitungan, sang ahli waris atau penerima hibah wasiat akan hemat pajak sebesar Rp.29.750.000 (lihat tabel 1 di bawah).

Tabel 1:

Dengan Hibah Wasiat / Waris  Selain Hibah Wasiat / Waris
 NJOP*     1.000,000,000    
 NPOPTKP**    (Rp. 350.000.000)  (Rp. 80.000.000)
 BPHTB yang dibayarkan                              16,250,000                       46,000,000
 Hemat pajak                            29,750,000  
Ket:

*) Nilai Jual Objek Pajak

**)  Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak; di Provinsi DKI Jakarta.

Untuk waris dan hibah wasiat diperuntukkan bagi orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas dan satu derajat ke bawah dengan pemberi waris dan hibah wasiat, termasuk suami/ istri.

Cara membuat hibah wasiat?

Bagaimana caranya membuat hibah wasiat? Bisa dilakukan melalui Notaris. Hibah wasiat dibuat oleh pembuat wasiat sekaligus pemilik properti sewaktu masih hidup dan berlaku kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sedangkan surat keterangan waris, dibuat di kelurahan dan kecamatan oleh ahli waris sesudah pemilik properti meninggal dunia.

Baik hibah wasiat maupun surat keterangan waris, keduanya membutuhkan surat keterangan kematian. Baik penerima hibah maupun ahli waris perlu membuktikan kepada Notaris maupun pihak kelurahan dan kecamatan bahwa pemilik properti sudah meninggal dunia.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri ataupun orang tua kita supaya bagi-bagi waris sekarang. Tetapi dengan membuat surat hibah wasiat artinya menghemat bayar pajak bagi penerima hibah wasiat/ ahli waris, kita berpikir lebih efektif dan penuh persiapan untuk keluarga kita.

 

Catch me: @rizalplanner
Rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

WARIS MENURUT ISLAM

souce: baltyra.com

source: baltyra.com

Ini merupakan pembahasan yang sensitif, karena menyangkut harta dan keluarga. Mengapa kita perlu belajar waris? Salah satu alasan utamanya adalah menghindari perpecahan keluarga..! Betul, sudah banyak cerita keluarga pecah karena harta warisan. Kakak beradik berantem karena menginginkan harta yang sama. Saling gontok-gontokan, berkelahi sampai ke pengadilan.

Dalam tulisan ini kita hanya membahas waris menurut Islam, banyak yang bilang ribet, tapi pada prinsipnya jika anda seorang muslim, maka posisi anda baik sebagai istri atau ibu, sebagai seorang suami atau ayah, atau sebagai seorang anak, maka anda perlu tahu dan mengerti bagaimana hukum waris menurut Islam agar tidak ribut dikemudian hari. Karena ketentuan ini sudah tertulis dalam Al-Quran.

Kalau dilihat dari kelompok ahli waris, maka ada dua kelompok ahli waris, yaitu:

  1. Berdasarkan hubungan darah:
    1. Golongan laki-laki, terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
    2. Golongan perempuan, terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.
  2. Berdasarkan hubungan perkawinan:
    1. Duda
    2. Janda

Ada juga yang bisa menjadi penghalang, kalau misalnya si ahli waris membunuh atau mencoba melakukan pembunuhan terhadap pemberi waris atau menganiaya berat, yang semuanya terbukti berdasarkan keputusan pengadilan, maka terhalanglah ahli waris tersebut untuk menerima warisan. Misalnya si anak membunuh ayahnya untuk menguasai seluruh harta warisan, singkat cerita ketangkep polisi, kemudian di adili (ini bukan cerita mafia seperti di film), maka jika terbukti di pengadilan, maka si anak tidak berhak mendapatkan hak warisnya.

Berapa besar bagian dari ahli waris, bisa kita lihat dari summary di tabel di bawah ini.

TABEL AHLI WARIS DAN BAGIAN WARIS HUKUM WARIS ISLAM MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)

Oleh: Nasichun Amin, M. Ag (Penghulu Muda di KUA, Kec. Gresik)

sumber: http://www.bimoprasetio.com/dokumen/web-bimo-tabel-ahli-waris-dan-bagian-waris-khi.pdf

source: source: http://www.bimoprasetio.com/dokumen/web-bimo-tabel-ahli-waris-dan-bagian-waris-khi.pdf

Sebagai ilustrasi, misalnya seorang suami/ ayah wafat meninggalkan seorang istri dan 2 anak, maka istri yang ditinggalkan berhak mendapatkan 1/8 dari total hartanya, jika ada 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Misalnya sang suami/ayah meninggalkan warisan uang Rp. 8 Milyar, maka sang istri berhak mendapatkan 1/8 dari Rp. 8 Milyar, yaitu Rp. 1 Milyar. Sisanya Rp. 7 Milyar dibagi untuk kedua anaknya. Anak-anaknya dihitung 3 (karena bagian anak laki-laki dihitung 2 dibanding 1 anak perempuan), sehingga anak laki-lakinya mendapat 2/3 x Rp. 7 Milyar yaitu Rp. 4,67 M, sedangkan anak perempuan nya mendapat 1/3 x Rp. 7 Milyar yaitu Rp. 2,33 Milyar. Nah gak ribet kan ternyata….

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

MENGAPA ANDA PERLU MEMBUAT SURAT WASIAT?

pic source: attwoodmarshall.com.au

pic source: attwoodmarshall.com.au

Tanggal 3 Maret 2014, tepat setahun berpulangnya neneknda tercinta. Neneknda yang sangat dekat di hati kami para cucunya, termasuk saya. Rasanya waktu cepat sekali berlalu, kejadiannya seperti kemarin sore saja. Masih ingat dalam ingatan, betapa sedihnya saya menurunkan jasad beliau ke liang lahat, meng-adzankan, sampai mengurug kembali tanahnya.

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah mengirimkan doa Al fatihah. Selain itu mengunjungi makam almarhumah. Mengunjungi makam seperti mengingatkan diri kita sendiri, just like self-reminder, bahwa suatu saat kita akan menuju ke sana.

Tulisan ini mengingatkan saya sebagai manusia bahwa kejadian kematian di sekitar kita sangat dekat dan bisa terjadi kapan saja. Untuk itu kepada anda semua para orang tua, hendaklah buat surat warisan sekarang. Tidak usah nunggu sampai anda menjadi sangat tua, sekarat dan sedang di ruang ICU. Mumpung lagi sehat masih bisa baca tulisan ini. Ini bukan untuk nakut-nakutin atau lebay, tapi sebagai tindakan preventif dalam hal keperluan perencanaan keuangan yang matang bagi anda dan keluarga, agar kelak jika anda para orang tua dipanggil menghadapNya, tidak akan terjadi keributan atau konflik di dalam keluarga anda, anak-anak saling gontok-gontokan karena memperebutkan harta warisan anda. Sebagai informasi, saat ini risiko terkena stroke dua kali lebih besar terjadi pada umur 55, sekalipun demikian stroke bisa menyerang pada umur berapapun dan seperempatnya terjadi pada usia di bawah 55 (sumber: data statistik US Centers for Disease Control and Prevention).

Mengapa kita perlu membuat wasiat?

Pertama, wasiat menurut Islam adalah tindakan seseorang memberikan hak kepada orang lain untuk memiliki sesuatu baik berupa benda atau manfaat secara sukarela (tabarru’) yang pelaksanaannya ditangguhkan setelah peristiwa kematian orang yang memberi wasiat.

Kedua, bahwa pembagian harta warisan dalam Islam harus dibagikan secara adil dan berdasarkan syariat Islam, yang dalam hal ini telah tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) maupun Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP), hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perpecahan dan pertumpahan darah di lingkungan keluarga.

Ketiga, bahwa wasiat atau surat wasiat itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pembagian harta warisan menurut Islam, karena untuk menjaga kemaslahatan umat dan menjaga agar harta warisan itu tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, seperti judi, mabuk, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara membuatnya? Tidak cukup hanya lisan saja, wasiat itu sendiri dalam bentuk akte atau surat yang di tandatangani pewaris, oleh karena itu perlu bantuan notaris dalam hal ini. Kalau untuk perhitungan pembagiannya bisa juga ditanyakan ke financial planner.

So.., sudahkah anda buat surat wasiat anda?

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

APA SAJA YANG PERLU ANDA KETAHUI UNTUK HIBAH?

pic source: okezone,com

pic source: okezone.com

Dalam perencanaan keuangan, satu hal penting yang perlu diperhatikan bila anda sudah punya aset dan ingin mendistribusikan kekayaan anda kepada anak-anak atau orang-orang yang anda cintai adalah dengan cara hibah. Distribusi kekayaan selalu terkait dengan hukum yang berlaku, dalam hal ini ada tiga hukum yang berlaku di Indonesia: yang pertama Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang kedua Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP) dan yang ketiga Hukum Adat.

Menurut KUHP, ada 3 syarat hibah:

  1. Yang menerima dan yang memberi hibah masih hidup.
  2. Barang yang dihibahkan harus sudah ada, kalau baru akan ada kemudian, maka hibahnya batal.
  3. Harus dengan akte notaris, kecuali untuk barang yang bergerak, dapat langsung dialihkan secara fisik.

Setelah tahu syarat-syarat di atas, yang pertama yang perlu anda lakukan adalah mengklasifikasikan jenis kekayaan anda, apakah termasuk barang bergerak atau barang tidak bergerak. Barang bergerak terdiri dari 2 jenis, berwujud dan tidak berwujud. Yang berwujud seperti mobil, emas,berlian, permata, uang, dan yang tidak berwujud: seperti saham, obligasi dan piutang. Sedangkan barang tidak bergerak seperti tanah, dan segala benda yang secara permanen melekat di atasnya.

Jika sudah tahu klasifikasi apa, maka selanjutnya adalah cara pengalihannya. Untuk emas, berlian, permata, uang, mobil dan barang berwujud lainnya dialihkan dengan pengalihan fisik, sedangkan untuk saham, obligasi, piutang, dialihkan dengan cara cessie yaitu menandatangani akta pengalihan, sedangkan untuk benda tidak bergerak seperti properti, rumah, tanah, sawah, ladang, dialihkan dengan cara menandatangani akte pengalihan yang dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah).

Sebagai contoh, misalkan anda mempunyai 3 rumah di Jakarta ingin anda hibahkan kepada 2 anak dan istri anda, maka rumah pertama untuk anak pertama, rumah kedua untuk anak kedua sedangkan rumah ketiga yang ingin anda hibahkan ke istri tidak bisa. Mengapa? Karena hibah antara suami istri selama perkawinan dilarang menurut KUHP.

Selain itu yang menjadi perhatian adalah dampak finansialnya, untuk pengalihan tersebut tentu akan timbul biaya dan pajak, misalnya dari contoh di atas, untuk dari pengalihan 2 properti tersebut, maka anak pertama dan kedua, masing-masing harus membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPTHB) senilai 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP).

Lain halnya jika yang dilakukan adalah hibah wasiat, artinya hibah yang merupakan warisan, setelah si pemberi hibah meninggal dunia, maka sesuai peraturan, ada diskon 50% dari 5% atas BPHTB, selain itu anak-anak anda sebagai penerima hibah juga mendapat pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebesar Rp. 350 juta.

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

Cerita Co-Founder Google & CEO Facebook

 

pic source: telegraph.co.uk

pic source: telegraph.co.uk

pic source: nydailynews.com

pic source: nydailynews.com

 

Kalau mau cari tahu sesuatu, Google aja, atau kalau mau cari teman-teman lama, coba cek di Facebook. Sepertinya Google dan Facebook sudah jadi makanan sehari-hari. Siapa yang tidak tahu Google atau Facebook? Tapi tahukah anda siapa pemiliknya? Orang-orang muda yang kaya, dengan nilai aset milyaran dollar.

Minggu ini, akhir Agustus 2013, dunia dikejutkan berita dari Sergey Brin, Co-Founder Google, dimana dikabarkan rumah tangganya dengan Anne Wojcicki retak karena adanya orang ketiga – seorang pekerja wanita di Google, Amanda Rosenberg, karyawati Google yang mengerjakan proyek Google Glass. Rumah tangga Sergey dengan Anne telah berjalan 6 tahun dan mereka telah dikarunia 2 anak.

Menurut Forbes, Sergey diperkirakan memiliki kekayaan senilai US$ 22,8 milyar. Posisi no. 21 sebagai orang terkaya di dunia. Dan diketahui bahwa sebelum menikah, mereka telah membuat pre nuptial agreement (‘pre nup’ – perjanjian pra nikah). dan dengan adanya pre nup tidak akan membuat dampak yang berarti jika Sergey dan Anne memutuskan untuk berpisah. Karena, jika tidak ada pre nup maka Sergey harus mengikuti hukum negara bagian yang berlaku dan dapat berakibat membagi dua asetnya, termasuk voting shares nya di Google.

Sementara itu, CEO Facebook, Mark Zukenberg, sehari setelah IPO (Initial Public Offering – Penawaran Saham Perdana) Facebook melangsungkan pernikahannya dengan pacarnya, Priscilla Chan pada tanggal 20 Mei 2012. Mereka bertemu pada saat kuliah tahun 2004 di Harvard University. Menurut Forbes estimasi kekayaan Mark US$ 20 milyar, menempati posisi no. 25 orang terkaya di dunia. Dan sebelum pernikahan dilangsungkan, Mark dan Priscilla sudah menandatangani pre nup. Sehingga jelas mengenai pendapatan, aset dan kewajiban.

Bahwa pada umumnya pasangan muda menikah hanya mempunyai beberapa aset saja, tapi dalam kehidupan modern, pasangan yang menikah membawa isu finansial dalam perkawinan.  Saat ini semakin banyak orang yang menunda pernikahan, atau menikah yang kedua kalinya bahkan yang ketiga kalinya. Sebagai hasilnya, semakin banyak penghasilan, aset dan kewajiban yang dibawa oleh sang calon mempelai. Oleh karena itulah kenapa pre nup itu menjadi topik diskusi yang hangat bagi pasangan yang akan menikah.

Orang yang mengajukan pre nup ini mungkin akan terkesan ragu, tidak percaya akan calon pasangannya sendiri maupun perkawinannya yang akan datang. Pre nup ini seperti halnya surat wasiat, suatu saat nanti anda akan meninggal, tidak tahu kapan, toh anda perlu meninggalkan wasiat bagi keluarga anda jika anda meninggal kelak. Karena kalau tidak, maka pembagian aset warisan yang tidak jelas akan berdampak besar, nanti ada yang serakah, mau menang sendiri dsb. Nah begitu juga halnya dengan pre nup, anda tidak tahu apa yang akan terjadi dalam rumah tangga anda kelak.

Oleh karena itu jika anda kaya tajir melintir atau penghasilan di atas rata-rata meskipun belum seperti Sergey maupun Mark, atau anda punya talenta khusus seperti penyanyi, punya hak paten seperti pemegang brand atau merk produk tertentu, atau sudah mempunyai anak dari pernikahan sebelumnya, maka anda disarankan berdiskusi secara sehat mengenai keuangan dengan calon pasangan anda.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

Marriage with pre nuptial agreement, apa konsekuensinya?

pic source: novylaw.com

pic source: novylaw.com

Di antara orang-orang yang anda kenal mungkin ada yang menikah dengan perjanjian pisah harta (pre nuptial agreement). Perjanjian ini harus di buat sebelum pernikahan dilangsungkan. Kalau dibuatnya setelah pernikahan maka  gak berlaku.

Apa sih pre nuptial agreement  (pre nup) itu? Pre nup adalah Perjanjian pranikah yang mengikat di antara calon suami dan istri yang isinya terkait dengan harta, yang berlaku selama pernikahan hingga jika terjadi perceraian.

Untuk memudahan menjelaskan konsekuensinya, saya berikan ilustrasi berikut.

Masih ingat kasus tahun 2005 yang lalu, di mana salah satu selebriti wanita Indonesia asal Bali, yang bertubuh besar (ga perlu disebut nama yaa) yang menikah, dan setelah 4 tahun kemudian cerai dengan suaminya? Pengadilan mengabulkan perceraian tersebut dengan menetapkan pembagian harta gono gini 50:50. Atas hasil putusan pengadilan tersebut si wanita mengajukan banding, karena si wanita merasa bahwa harta-harta yang diperoleh selama pernikahan tersebut adalah miliknya, karena dia yang bekerja mendapatkannya semua itu. Tapi pengadilan memutuskan bahwa harta gono gini tersebut harus dibagi dua, karena meskipun si wanita merasa dia yang bekerja keras mendapatkan harta tersebut, tapi harta tersebut di dapatkan selama pernikahan berlangsung, maka hakim pengadilan memutuskan untuk membagi dua.

Nah dari cerita tersebut, dapat disimpulkan bahwa pernikahan tersebut dilakukan tanpa perjanjian pisah harta (pre nuptial agreement), maka si lelaki berhak untuk mendapatkan harta gono gini tersebut.

Lain ceritanya bila sebelum menikah mereka membuat pre nuptial agreement, maka:

  1. Harta si wanita akan terlindungi.
  2. Harta si pria juga terlindungi, kalau misalnya, seumpamanya, ternyata dikemudian hari ketahuan bahwa si wanita mempunyai hutang segunung, maka si pria tidak harus menanggung hutang segunung tersebut. Karena si pria juga sudah terlindungi dengan adanya pre nuptial agreement tersebut.

Pre nuptial agreement merupakan tools bagi saya sebagai financial planner untuk perencanaan distribusi kekayaan.

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

WARIS

warisan

Hari Minggu lalu, 3 Maret 2013 merupakan hari yang kelam buat saya sekeluarga, karena kehilangan neneknda tercinta untuk selama-lamanya. Almarhumah sangat dekat dan care sekali pada semua orang, apalagi sama cucu-cucunya, salah satunya saya. Hubungan batin yang sangat kuat, membuat saya sulit menghadapi kenyataan ini, sampai kering rasanya air mata ini. Tapi kematian adalah hal yang pasti dan merupakan rahasia Tuhan, kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita.

Sebagaimana layaknya orang yang meninggal, bisa jadi mewariskan harta maupun hutang. Di Indonesia terdapat 3 hukum pewarisan yang berlaku yaitu Hukum Waris Islam (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama Islam), Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam) dan Hukum Adat (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam). Sebagai financial planner alias perencana keuangan, sharing tulisan kali ini saya batasi pada ahli waris dan cara mewaris berdasarkan Hukum Islam karena hubungan perkawinan dan hubungan darah.

Berikut adalah perincian besarnya bagian-bagian ahli waris berdasarkan Kompilasi Hukum Islam:

  1. Anak perempuan, ½ bagian bila seorang, 2/3 bila 2 orang atau lebih anak perempuan dan apabila bersama anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Dalam case nenek saya, anak-anaknya yang masih hidup adalah 2 perempuan dan 1 anak laki-laki, maka pembagiannya 2: 1 untuk laki-laki dan perempuan.
  2. Ayah, bila mempunyai anak, maka entitle mendapat seperenam bagian. Dalam case ini, karena ayah dari nenek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  3. Ibu, bila ada anak atau dua saudara atau lebih, maka entitle seperenam bagian, dalam case ini, karena ibunda dari nenek juga sudah almarhumah, maka tidak ada yang dibagi.
  4. Duda, dalam hal ini suami dari nenek saya, kakek saya entitle mendapat ¼ bagian karena ada anak, tapi dalam case ini karena kakek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  5. Saudara seibu, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seibu mendapakan 1/6 bagian, tapi bila saudara seibu dua atau lebih, maka saudara-saudara itu bersama-sama mendapat 2/3 bagian. Dalam case ini, saudara seibu dari nenek saya tidak ada.
  6. Saudara seayah, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seayah bila lebih dari 2 orang, maka saudara laki-laki entitle 2 berbanding 1 dibanding saudara perempuan. Dalam case ini, saudara seayah sudah tidak ada lagi yang hidup.
  7. Anak angkat dan orang tua angkat, dapat saling mewaris maksimum 1/3, dalam case ini karena nenek saya tidak punya anak angkat dan orang tua angkat, maka tidak ada yang diwariskan.
  8. Cucu, menggantikan kedudukan orangtuanya yang berhak mewaris, dalam case ini karena anak-anak dari nenek saya masih ada, maka saya sebagai cucunya tidak berhak mewaris.

Dalam case ini, misalnya harta warisan nenek saya Rp. 1 Milyar, biaya pengurusan jenazah Rp. 30 juta, biaya rumah sakit Rp. 60 juta, hutang Rp. 10 juta maka sisa harga warisannya adalah Rp. 900 juta. Ahli warisnya 2 orang anak perempuan dan 1 laki-laki.

Ahli waris Bagian Perhitungan Total
2 anak perempuan 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta
1 anak laki-laki 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta

 

 

1 anak laki-laki + 2 anak perempuan = 4 anak perempuan

= 900 juta / 4 = Rp. 225 juta

1 anak laki-laki mendapat 450 juta, dua anak perempuan masing-masing entitle Rp. 225 juta.

So guys, buatlah family tree anda masing-masing, biar tahu siapa saja lingkaran dalam keluarga kita.

In memoriam to my beloved Grandma Sapiah binti Muhammad Ridwan.

Catch me: @ rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com