Layanan Peer to Peer (P2P) Lending

fintech ci

Inovasi dan kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah dalam melakukan transaksi keuangan, kapanpun dan dimanapun dengan smartphone di tangan. Cukup klik klik, voila.., transaksi Anda selesai. Memang generasi sekarang benar-benar dimanjakan dengan adanya teknologi digital ini. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai bulan Oktober 2018, sudah terdaftar lebih dari 70 start up Financial Technology (fintech) Lending. Fintech Lending sendiri sebenarnya hanya satu dari beberapa jenis start up jasa keuangan yang sedang marak saat ini. Di Indonesia sendiri jenis start up jasa keuangan ada bermacam-macam, yaitu: crowdfunding, P2P Lending (Peer to Peer Lending), Microfinancing, investasi retail, remitansi, riset keuangan dan perencana keuangan. Total transaksi fintech di Indonesia konon kabarnya mencapai Rp. 202.77 Triliun di tahun 2017.

Start up yang paling banyak menarik perhatian adalah P2P Lending. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Ada yang ingin berinvestasi dengan imbal hasil yang tinggi, dan ada yang ingin mendapatkan pinjaman dengan mudah dan cepat. P2P Lending merupakan wadah yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman dalam satu tempat. Dimana penerima pinjaman bertanggung jawab penuh kepada yang memberi pinjaman. Tidak seperti halnya nasabah bank, yang meminjam uang ke bank, peminjam hanya bertanggung jawab ke bank tersebut, dimana bank berfungsi sebagai intermediari. Yang mendepositokan uangnya tidak tahu uangnya dipinjamkan ke siapa. Jika terjadi macet atau gagal bayar dalam pembayaran pinjaman, maka nasabah hanya berurusan ke bank.

Macet dalam pembayaran pinjaman atau dalam istilah perbankan dikenal sebagai Non Performing Loan (NPL) merupakan masalah serius di bank karena apabila NPL meningkat, maka bisa menggerus laba melalui peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai.

Sebagai pengguna P2P lending baik sebagai pemberi pinjaman maupun penerima pinjaman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah legalitas dari perusahaan P2P lending tersebut. Hal ini dapat di cek melalui website OJK, terdaftar atau tidak. Sehingga calon pengguna jasa mempunyai rasa aman terlebih dahulu, karena sudah ada OJK yang memvalidasi dan mengawasi perusahaan fintech tersebut. Bila tidak terdaftar di OJK, maka lebih baik hindari.

Yang kedua, adalah syarat dan ketentuan pengguna jasa. Misalnya, apakah perusahaan P2P Lending dalam perjanjian diperbolehkan untuk mengakses nomor telepon kontak pengguna? Karena apabila ya, dan ternyata penerima pinjaman gagal bayar, maka perusahaan mempunyai akses atas contact list. Meskipun dalam perjanjian hanya satu, tapi kenyataannya semua. Sudah banyak kasus yang menimpa penerima pinjaman yang gagal bayar sebagai pengguna jasa. Seperti yang pernah disiarkan oleh salah satu TV swasta, mulai dari ancaman pembunuhan, percobaan bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban bunga tinggi, dipecat dari tempat bekerja karena perusahaan fintech menagih ke atasan maupun kolega tempat bekerja, diceraikan pasangan karena perusahaan fintech menagih ke mertua, dan kasus lainnya. Oleh karena itu tanyakan terlebih dahulu apa saja terms and condition dalam perjanjian, sehingga jelas hak dan kewajiban dari konsumen.

Yang ketiga, biaya. Pengguna jasa P2P Lending harus cermat dalam menghitung biaya yang muncul. Jika anda memang harus menggunakan jasa P2P lending ini, hitung terlebih dahulu berapa yang anda bayarkan, sehingga yang anda terima sesuai kebutuhan anda. Karena ada biaya yang dipotong dari total nominal pinjaman. Bagi peminjam, ada biaya administrasi, kurang lebih berkisar 10% dari total pinjaman, dan jika ada tambahan biaya lain maka harus dimasukkan pula dalam perhitungan. Sehingga nominal yang peminjam terima hanya berkisar 90%. Jadi, kalau Anda butuh pinjaman Rp. 1,8 juta, maka nilai yang Anda harus ajukan sebesar Rp. 2 juta.

Yang ke empat, bunga. Bagi pemberi pinjaman tentu akan senang bila dapat imbal hasil yang tinggi. Sejalan dengan itu, semakin besar imbal hasil yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman, otomatis akan berdampak pada bunga yang harus dibayarkan oleh penerima pinjaman. Semakin besar tentu saja semakin mencekik. Bila dihitung dari kasus-kasus yang ada, ada perusahaan P2P Lending yang mengenakan bunga pinjaman selama 2 minggu sebesar 16.8%, artinya bunga 1% lebih per hari nya. Bahkan ada yang mengenakan biaya 30% selama 2 minggu, artinya bunga kurang lebih 2% per hari. Bandingkan dengan bunga kartu kredit sebesar 26.95% per tahun atau 2,25% per bulan. Kalau bunga kartu kredit saja sudah tinggi, bisa dibayangkan bagaimana penerima pinjaman mampu membayar dengan bunga yang lebih tinggi dari itu?

Yang ke lima, Minimalkan risiko melalui diversifikasi. Bagi pemberi pinjaman, demi menghindari kemungkinan gagal bayar dari penerima pinjaman, maka investasikan uang Anda pada beberapa perusahaan P2P Lending. Sehingga apabila ada satu yang gagal bayar, maka masih ada yang lainnya. Kalau ada uang Rp. 100 juta untuk investasi, maka letakkan pada 10 perusahaan P2P Lending, masing-masing sebesar Rp. 10 juta. Risiko investasi akan jauh lebih kecil bila disebar pada 10 perusahaan P2P Lending dibandingkan hanya diletakkan pada satu perusahaan P2P Lending saja. Hal ini seperti resep investasi yang sudah kita kenal: Don’t put all your eggs in one basket. Akan sangat bijak untuk mendiversifikasikan investasi Anda pada beberapa instrumen yang berbeda demi meminimalkan risiko.

Sebagai penutup, baik pemberi maupun penerima pinjaman mempunyai ekspektasi dan risikonya masing-masing. Semakin tinggi ekspektasi imbal hasil, semakin tinggi pula risikonya. Ukur kesanggupan diri masing-masing dalam menerima ekspektasi dan risiko bila memakai jasa P2P Lending ini.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan.

as published in Investor Daily 16 Des 2018: https://id.beritasatu.com/opini/layanan-peer-to-peer-p2p-lending/183640

Boy Hazuki Rizal_ID_16Dec18.JPG

Investasi untuk Millenial

NZDM9807

Investime di CNBC Indonesia, 4 Dec 2018.

https://www.cnbcindonesia.com/investment/20181204171152-23-44953/ini-dia-investasi-cocok-untuk-milenial.

Jakarta, CNBC Indonesia- Generasi milenial kini mulai akrab dengan investasi, budaya serba cepat membuat milenial cocok untuk mulai investasi di reksa dana online dan peer to peer lending. Namun investor pemula juga harus jeli dan memastikan legalitas investasi tersebut. Hal ini disampaikan oleh Financial Planner, Boy Hazuki Rizal dalam program Investime CNBC Indonesia.

Terbebas dari Belitan Utang

Boy Hazuki Rizal ID 5Sept18

Merdeka dari utang

Anda suka berhutang? Sering ditawari supaya berhutang? Kalau anda diberikan fasilitas berupa utang artinya anda dipercaya oleh bank atau institusi keuangan. Kalau sampai bank tidak mau memberikan fasilitas kredit kepada anda, bisa jadi salah satu kriteria pemberian kredit tidak terpenuhi atau penilaian terhadap diri anda kurang bagus. Dalam dunia kredit perbankan, untuk menilai individu atau bisnis layak mendapat kredit atau tidak, dikenal adanya 5C: capacity, capital, collateral, conditions dan character.

Karakter dalam penilaian kredit bisa tercermin dari histori kredit anda, reputasi atau rekam jejak anda dalam membayar utang seperti apakah pernah menunggak bayar kredit atau pernah telat bayar tagihan baik di bank atau perusahaan pembiayaan (multifinance) maupun pegadaian. Semuanya akan terlihat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang mulai awal tahun 2018 ini di kelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelumnya dikenal dengan sebagai BI Checking oleh nasabah dan pelaku industri keuangan.

Keinginan dan gaya hidup, terkadang ‘menghilangkan’ nalar sehat anda untuk menghitung kemampuan anda dalam membayar utang tersebut. Setiap hari anda dibombardir dengan iklan dan tawaran fasilitas berutang, telemarketing yang dengan rayuan manis menelpon anda setiap hari untuk mengambil tunai sisa limit kartu kredit yang belum terpakai, maupun tawaran online dan offline cash advance dari kartu kredit.

Kalau sudah tergiur dan terlanjur untuk mengambil fasilitas kredit tersebut, dan pada waktu mendekati tanggal jatuh tempo, anda bingung darimana uangnya untuk membayar tagihan-tagihan tersebut? Mungkin anda akan berpikir untuk mengambil jalan pintas yaitu ambil utang lagi untuk menutup utang sebelumnya, alias gali lubang tutup lubang. Apalagi jaman now, dengan banyaknya toko online, pemilik kartu kredit bisa melakukan gestun (gesek tunai) di toko online dengan pemotongan sejumlah komisi tertentu. Karena ini berlangsung terus menerus, akhirnya anda menggali begitu banyak lubang dan bingung bagaimana menutup semua lubangnya.

Saat ini, jasa fintech (financial technology) membuat anda mendapatkan fasilitas pinjaman semakin mudah. Dengan hanya sentuhan jari, tanpa harus bertele-tele  memikirkan persyaratan agunan, anda dapat dengan mudah mendapatkan pinjaman. Namun mudahnya pinjaman tanpa agunan ini di kompensasi dengan tingginya bunga pinjaman. Karena risiko tinggi yang harus ditanggung pemberi pinjaman membuat bunga pinjaman yang diberikan juga tinggi. Misalnya, sebagai perbandingan untuk bunga kartu kredit 26.95% per tahun, sementara ada fintech yang memberikan bunga 1% per hari, artinya 30 hari sudah 30%. Jauh lebih dahsyat dari bunga setahun kartu kredit!

Dan sebagai konsekuensinya, jika anda tidak mampu membayar utang, maka pihak kreditur, baik bank maupun institusi keuangan lainnya akan mengejar-ngejar anda. Kalau macet bayar, risikonya nama baik anda akan tercoreng. Bank atau perusahaan pembiayaan akan segan memberikan fasilitas kredit kepada anda. Kalau sudah begini kondisinya, ada beberapa langkah yang dapat anda lakukan agar keluar dari belitan utang:

Pertama, buatlah cash flow yang menggambarkan berapa besar pendapatan dan pengeluaran anda termasuk rincian utang. Hal ini untuk mengetahui berapa besar gaji, komisi dan lainnya serta biaya hidup, utang dan kewajiban lain anda setiap bulannya. Jika ternyata pengeluaran anda lebih besar dari pendapatan, artinya lebih besar pasak dari tiang, atau cash flow anda negatif.

Kedua, jika sudah tahu bahwa cash flow anda negatif, bicara dan jelaskan kondisi keuangan anda pada pihak bank atau institusi keuangan tempat anda mendapat fasilitas, hal ini menunjukkan itikad dan integritas yang baik bahwa anda akan menyelesaikan kewajiban anda. Lakukan permohonan restrukturisasi utang. Apakah nanti restrukturisasi utang berupa pemotongan denda, penurunan bunga, perpanjangan jangka waktu atau tenor cicilan pembayaran. Semua hal tersebut dapat menjadi solusi dari penyelesaian kewajiban anda. Pengajuan permohonan restrukturisasi utang ini tergantung pada kebijakan bank.

Ketiga, refinancing. Sebelum melakukan refinancing, lakukan terlebih dahulu konsolidasi utang yang ada. Jika ingin mengambil utang baru untuk refinancing, pastikan bahwa bunga jauh lebih rendah dari semua utang yang ada atau bila mungkin tanpa bunga, untuk melunasi konsolidasi utang tersebut. Kalau semua utang yang dikonsolidasikan tersebut telah selesai dibayarkan, maka fokus bayar utang anda hanya pada satu utang yaitu utang untuk refinancing tersebut. Refinancing tersebut misalnya pinjaman dari koperasi atau kantor.

Pada waktu mengambil pinjaman refinancing, yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengambil pinjaman dengan mengagunkan aset, seperti properti (rumah tinggal). Karena jika satu dan lainnya, anda tidak mampu membayar cicilannya, maka properti anda akan disita. Sehingga kalau kejadian anda macet dalam bayar utang, properti anda hilang, lantas anda mau tinggal dimana?

Keempat, jual asset. Kalau anda punya emas batangan atau perhiasan, dapat dijual dulu untuk menutup utang-utang tersebut. Begitu juga dengan aset bergerak seperti kendaraan, dapat di jual juga agar sisa dari penjualan aset tersebut dapat menutup utang lainnya. Saat ini untuk menjual barang/aset sudah semakin mudah di toko online, tinggal klik dari gadget anda, tampilkan foto dan spesifikasinya, maka barang yang anda mau jual akan muncul di marketplace.

Kelima, cari tambahan penghasilan. Hal ini sebagai alternatif untuk menutup sisa cash flow negatif. Cari tambahan untuk menambah pendapatan dan menutup kewajiban bulanan yang timbul. Anda dapat membuka toko online yang menjual barang atau jasa yang dibutuhkan.

Terakhir, sebagai penutup, untuk mengantisipasi semua kemungkinan, jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai debitur bank/ nasabah institusi keuangan/ fintech, siapkan asuransi jiwa yang nilai Uang Pertanggungan (UP) nya cukup untuk menutup seluruh utang anda. Ini bukan untuk menakut-nakuti tapi sebagai antisipasi skenario terburuk. Bisa dibayangkan bila tidak ada asuransi untuk ahli waris anda, maka baik itu suami/istri maupun anak-anak anda harus menderita menanggung semua utang anda kalau anda sudah tidak ada.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

Bisa di baca juga di Investor Daily online: http://id.beritasatu.com/home/terbebas-dari-belitan-utang/180127

SEKSINYA INVESTASI DI PEER TO PEER LENDING

invdaily_Boy Hazuki Rizal

http://id.beritasatu.com/opini/seksinya-investasi-di-peer-to-peer-lending/172694

 

P2P sebagai alternatif investasi

Kemajuan teknologi digital zaman now, membawa banyak perubahan, salah satunya dari sisi finansial. Kalau dulu kita perlu datang ke bank atau institusi keuangan lainnya untuk investasi, sekarang cukup dengan smartphone Anda. Tinggal klik, anda sudah bisa memilih investasi seperti apa yang Anda mau.  Saat ini salah satu pilihan untuk investasi adalah melalui Peer to Peer Lending (P2PL). Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place dimana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online. Saat ini P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternatif channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

Dalam pendanaan online yang di fasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana yang dibuka oleh perusahaan tekfin dalam platform mereka. Siapa saja boleh berpartisipasi dengan mengikuti syarat dan ketentuan dari masing-masing platform tekfin. Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan.  Sepertinya halnya perbankan, credit scoring juga dilakukan oleh tekfin untuk menilai karakter dan kapasitas dari si peminjam.

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi konvensional seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang ‘hanya’ memberikan imbal hasil berkisar antara 15%-20% per tahun.

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan. Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang disematkan dalam proposal pinjaman online tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Sebagai contoh, misalnya X mengajukan proposal pinjaman dan setelah dilakukan penilaian, mendapatkan grade A+, maka bunga yang dikenakan 12%, artinya kemampuan dan kapasitas bayar X sangat meyakinkan, sementara  Y mendapatkan grade C-, bunga yang dikenakan oleh tekfin 22%, artinya risiko Y kemungkinan gagal bayar atau default, di kompensasi dengan suku bunga yang tinggi. Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Seperti umumnya orang berbisnis, pasti ujungnya adalah untung, kalau bisnis tapi tidak untung kan buat apa. Untuk melihat untung atau tidaknya, bisa di lihat melalui laporan keuangan. Laporan keuangan ini menampilkan kinerja dari bisnis tersebut. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi. Dalam hal ini, anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisa yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan di platform.

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memotong. Namanya bisa service fee, biaya platform, biaya layanan, biaya administrasi, dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan prosentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1%-3%. Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima sebagai imbal hasil ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besarnya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

Sesuaikan kemampuan dan tujuan investasi

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp. 100 juta, ada yang minimummya Rp. 10 juta, dan ada juga yang hanya Rp. 100 ribu. Ada platform yang mengharuskan pendanaan atau investasi harus kelipatan Rp. 1 juta untuk pendanaan individu atau Rp. 5 juta untuk bisnis. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

Yang ke empat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbeda-beda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp. 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan pendanaan masing-masing @Rp. 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda-beda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp. 10 juta. Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 25 Januari 2018, sudah ada 32 perusahaan tekfin yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional  dan lebih seksi dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional.

Sebagai investor, Anda juga di tuntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.

Boy Hazuki Rizal ID_2Mar2018

Online loans: Easy and practical, but can be too costly

 

Online loans: Easy and practical, but can be too costly

Online loans 29Jan2018

Boy Hazuki Rizal

Jakarta

 

Online borrowing is gaining popularity in Indonesia, as it is now easy for people to use the internet to access funds.

There are 28 financial technology (fintech) startups that are already registered with the Financial Services Authority (OJK). These fintech startups offer financing and money lending through their websites or apps, which can be downloaded freely.

The online borrowing is done through peer to peer lending (P2PL), in which borrowers are matched with lenders. People who want to borrow money can go through this channel after submitting a request. Some fintech startups even ask you to connect to their social media accounts.

Then, the fintech company will assess your credit rating, like a bank does, and will inform you whether or not you are eligible for credit. They will also assess the risk level of your borrowing. The higher the risk, the more interest you have to pay, while those whose risk is deemed to be lower will pay less interest. Another mechanism apart from P2PL is direct lending, where the fintech startup itself is the lender. So in this case, people use the website or application for borrowing only. Most fintech startups require no collateral or guarantee from their borrowers.

Besides individuals, these new platforms also cater to businesses, mostly for micro, small and medium enterprises (MSME). Companies need to have been operating for at least a year, to ensure that they can run the business well. However, a number of aspects should be considered. They are five things that both individuals and business owners need to know before applying for online loans.

First are the fees. There are many kinds of fees, such as the platform fee, service fee, administration fee for the fintech, which range between 3 percent and 5 percent of the loan amount. There are also other fees, such as the insurance fee, late charges and the collecting fee. Fintech companies use these fees to cover operational costs and maintain their platform.

Second is the interest rate. Fintech companies generally apply an annual or monthly interest rate. You can ask them what effective interest rate they charge for borrowing money using their platform. For example, there is one platform that provides individual loans with a daily interest rate of 1 percent, with loans ranging from Rp 1 million to Rp 3 million. This loan will have to be paid back plus interest within 10 to 30 days. The interest will accumulate depending on the length of the loan. For example, if the consumer borrows money for 30 days, then the compounding interest rate will reach 34.8 percent. So if a consumer borrows Rp 1 million for 30 days, they would need to repay Rp 1.34 million.

If we compare this to non-online loan services, such as Cash Advance loans from a credit card, for which the interest rate is 26.95 percent per annum or 2.95 percent per month, we can see that the interest rate charged by fintech companies is way beyond normal. Fintech firms claim that the higher interest reflects the higher risk they bear. Also as a comparison, we can look at other non-online loan products, such as non-collateral loans (KTA) which carry interest rates ranging between 24 and 28 percent per annum.

Third is the process itself. How long does it take for a new loan to be processed? Some fintech startups claim they can process loans in just six hours, some need days or even weeks to process them. The larger the loan requested, the longer it might need. Or if your loan request is assessed to be in the high risk category, then more time might be needed to convince the financer to invest in you. Each fintech company has their own mechanism.

Fourth is the loan limit. This is the maximum amount a consumer can borrow. Currently, limits vary from Rp 100,000 to Rp 2 billion. The larger amounts usually go to MSME owners. One thing that consumers must pay attention to is the nature of the fintech company, some only serve businesses, some serve only individuals and some serve both. They have their own limit to match their own segment. Some fintech companies, which focus on individuals, limit loan amounts to just Rp 3 million, while others, which focus on MSMEs, set the limit at Rp 2 billion.

The fifth thing to consider is loan tenor – for how long do you need to borrow money? Some fintech companies can provide loans for between one day and two years. The longer the loan tenor, the higher the interest you must pay. P2P lending for syariah is also available in some fintech start-ups, it depends on the consumer’s preference.

The emergence of the online borrowing mechanism does not only give customers easier access to loans, but also frees them from complicated procedures imposed by banks. However, consumers must be aware that the high interest rates charged by fintech companies can make online loans too costly for them.

 

The writer is an independent financial partner of the Rizal Planner & Rekan. The views are his own

PENDANAAN ONLINE

Tulisan ini merupakan sisi lain dari tulisan saya sebelumnya mengenai pinjaman online (Tabloid Kontan, 15-21 Januari 2018). Sisi lain dari pinjaman online dalam Peer to Peer Lending (P2PL) adalah pendanaan online. Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place dimana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online, dan P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternatif channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

Dalam pendanaan online yang di fasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana. Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan.  Dalam penilaian perusahaan tekfin, ada grade yang diberikan atas proposal pinjaman, semakin tinggi risiko peminjam, maka semakin tinggi pula imbal hasil yang diberikan kepada pemberi dana.

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang memberikan imbal hasil berkisar antara 15%-20% per tahun.

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan. Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang dilsematkan dalam proposal tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi. Anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisa yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan.

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memungut. Namanya bisa service fee, biaya layanan, biaya administrasi, biaya platform dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan prosentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1%-3%. Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima (imbal hasil) ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besar nya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp. 100 juta. Ada juga yang minimum Rp. 10 juta,tapi  ada yang hanya Rp. 100 ribu. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

Yang ke empat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbeda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp. 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan investasi masing-masing @Rp. 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp. 10 juta. Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 9 Desember 2017, sudah ada 28 perusahaan tekfin yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional  dan lebih sexy dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional.

Sebagai investor, Anda juga di tuntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.