Pilih Rumah Atau Apartemen?

Boy Hazuki Rizal ID 5Aug18 Print

Sekarang ini penawaran rumah maupun apartemen alias rumah susun banyak sekali. Meskipun banyak, sering kita mendengar bahwa kebutuhan rumah lebih tinggi dari pasokan rumah. Istilahnya ada backlog antara pasokan rumah dan kebutuhan rumah. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, kebutuhan tempat tinggal menjadi salah satu yang issue yang terus menerus muncul. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia membutuhkan tempat tinggal. Mau pilih rumah atau apartemen, tergantung kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Zaman now, salah satu pilihan untuk hunian adalah rumah susun atau apartemen. Banyak orang memilih apartemen dengan alasan kepraktisan. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan bahwa lokasi tempat bekerja atau beraktivitas tidaklah jauh dari apartemen. Mobilisasi penghuni sangat berpengaruh. Karena, kalau pilih apartemen tapi lokasinya jauh dari tempat bekerja, maka selain biaya transportasi yang lumayan, juga waktu perjalanan yang terbuang. Biaya transportasi dan waktu yang hilang tersebut di trade off dengan harga hunian yang lebih dekat dengan tempat bekerja atau beraktivitas, terutama untuk lokasi yang berada di tengah kota.

Sebagai pilihan investasi, tentu apartemen yang masih di jual dalam bentuk gambar, harganya akan jauh lebih murah, sehingga pada saat apartemennya sudah jadi, maka bisa di jual lagi dan mendapatkan capital gain dari investasi tersebut.

Jika disewakan, rental yield atau hasil sewa per tahun dari apartemen secara rata-rata sekitar 8%-10% dari nilai jual. Sementara untuk hasil sewa rumah hanya berkisar 4%-5% per tahun. Artinya, hasil sewa dari apartemen dua kali lipat daripada hasil sewa rumah. Investasi apartemen cocok untuk di kota-kota besar yang aktivitas penghuninya banyak berpusat di tengah kota. Apartemen yang dibeli untuk investasi ini dapat disewakan kemudian. Untuk melihat apakah investasi apartemen tersebut memang menguntungkan atau tidak, salah satu indikatornya bisa dilihat seberapa besar orang membutuhkan tempat tinggal sementara di area tersebut, seperti untuk pekerja asing dan turis. Semakin banyak yang butuh tempat tinggal sementara, investasi apartemen untuk disewakan cocok untuk di area tersebut.

Untuk keluarga muda atau yang masih single, dengan keuangan ‘terbatas’, apartemen bisa jadi pilihan awal untuk hunian. Dan pada saat keluarga bertumbuh dengan adanya anak-anak dan kondisi keuangan juga semakin baik, setelah 3 sampai 5 tahun, harga apartemen akan naik, selanjutnya apartemen bisa di jual dan hasil penjualan bisa menjadi down payment untuk beli rumah. Keterbatasan ruang di tengah kota menjadikan apartemen sebagai pilihan hunian karena untuk beli rumah di tengah kota, harganya sudah sangat mahal dan mungkin tidak masuk akal lagi.

Sedangkan pilihan untuk membeli rumah, salah satu alasannya karena kebutuhan ruang yang lebih luas bagi anggota keluarga. Dengan adanya tambahan anggota keluarga, apartemen dirasa kurang memadai.

Bila kita ingin membeli rumah sebagai hunian maupun investasi, maka yang perlu kita perhatikan adalah, lokasi, lokasi, lokasi. Pakar properti pasti menyarankan lokasi yang strategis, yang akses nya bagus, ada berbagai fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, pasar, akses jalan tol, tempat rekreasi, sarana olahraga dan fasilitas lainnya. Karena fasilitas seperti itu yang menarik orang untuk tinggal dan beraktivitas di area situ. Semakin lengkap fasilitas, semakin banyak orang yang ingin tinggal disitu, hal ini otomatis akan mendongkrak harga properti di area tersebut.

 

Pembiayaan Rumah atau Apartemen

Jika sudah punya rumah pertama dan ingin membeli apartemen atau rumah kedua untuk investasi, dengan menggunakan fasilitas pinjaman dari bank (KPA – Kredit Pemilikan Apartemen / KPR – Kredit Pemilikan Rumah), tidak di sarankan untuk mengagunkan rumah hunian pertama yang ditempati saat ini untuk dijadikan down payment. Karena itu berarti bebannya akan ada 2 (dua), pertama, cicilan untuk membayar kredit multiguna dari rumah pertama yang dipakai untuk down payment, dan yang kedua, cicilan KPR dari rumah kedua itu sendiri. Jika ada kesulitan cash flow dalam pembayaran cicilan tersebut, maka rumah pertama bisa hilang karena disita bank, apalagi rumah kedua, ujung-ujungnya kedua-duanya hilang. Lebih baik, jika membeli rumah kedua, agunannya adalah rumah kedua itu sendiri, tanpa mengagunkan rumah pertama untuk bayar down payment. Hal ini untuk meminimalisir risiko.

Jika dihitung, ternyata cicilan KPR per bulan terlalu besar, dapat minta perpanjangan waktu atau tenor dari pembayaran cicilan KPR tersebut. Tenor bisa sampai 20 tahun, bahkan ada bank yang mau memberikan jangka waktu cicilan hingga 30 tahun. Atau pilih bank yang memberikan bunga tetap (fixed rate) untuk 3 sampai 5 tahun pertama, sehingga cicilan anda akan tetap selama periode tersebut dan cash flow anda terjaga.

Sebagai penutup, investasi di apartemen atau rumah siap huni, jika sudah di beli dapat langsung disewakan, sehingga hasil sewa dapat digunakan untuk membayar cicilan tersebut. Yang perlu jadi perhatian, untuk rumah harus selalu di rawat dan di jaga, agar bangunan tidak rusak atau di makan rayap. Karena kalau rumah rusak, akan berdampak pada nilai jual dari rumah yang turun. Kalau nilai jual turun, otomatis harga sewa juga akan turun. Sedangkan untuk apartemen, bangunan dan fasilitas apartemen sudah ada pihak yang menjaga dan merawat, sehingga anda tinggal mem-furnish unit yang dimiliki supaya orang tertarik dan berminat untuk menyewa.

 

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner dan Rekan

weblink Investor Daily: http://id.beritasatu.com/opini/pilih-rumah-atau-apartemen/178701

 

Beli Mobil Baru Tanpa Kredit Tapi Via Reksadana, Bagaimana Caranya?

Kalau ada keluaran model baru dari merk mobil tertentu, rasanya pingin supaya mobil yang lama di jual dan ganti dengan model baru. Event seperti Pameran Mobil (IIMS) yang rencana di gelar bulan April 2017, bisa jadi ajang ganti mobil baru. Kalau beli mobil baru dengan cara kredit itu sudah biasa, kita hanya diminta bayar DP nya dulu kemudian sisanya dicicil lewat lembaga pembiayaan atau bank.
Tapi coba kita pikirkan untuk beli mobil baru dengan cara nabung dulu, karena mobil adalah aset yang terdepresiasi, sehingga value nya akan terus turun. Jika kita bayar dengan fasilitas kredit, total nilai yang kita bayar akan pasti lebih tinggi dari nilai market value nya karena adanya bunga bank atau lembaga pembiayaan.
Oleh karena itu pola pikir beli mobil dengan cara cicilan setiap bulan di gantikan dengan pola pikir tabungan setiap bulan dengan menabung lewat reksadana. Ya, lewat instrumen keuangan yang satu ini, agar tujuan kita bisa tercapai. Tentu saja risikonya jauh berbeda, sebagai contoh jika kita telat bayar cicilan, tentu saja lembaga pembiayaan atau bank akan mengirimkan ‘reminder’ kepada kita, mulai dari surat cinta sampai ‘tamu’ kunjungan, sedangkan bila tabungan kita telat setor, hanya kita sendiri yang rugi, karena target tabungan kita bisa jadi missed.
Sebagai ilustrasi, misalkan kita ingin setiap 5 tahun kita ganti mobil, beli mobil baru. Asumsikan mobil yang dibeli adalah mobil sejuta umat, Toyota Avanza. Jika kita lihat, harga mobil Avanza baru pada tahun 2012 asumsikan Rp. 160 juta, sementara harga OTR mobil baru untuk seri yang sama di tahun 2017 ini kurang lebih Rp. 203 juta. Artinya kenaikan selama 5 tahun sebesar 26.6% atau kenaikan per tahunnya rata-rata kurang lebih 5%. Asumsikan dengan kenaikan 5% tersebut, pada tahun 2022, harga mobil Avanza seri tersebut sudah mencapai Rp. 257 juta.
Perbandingannya sebagaimana di bawah ini:
Harga mobil tahun 2022 Cicilan/ bulan Ket
Skenario A Rp. 257 juta Rp. 4,9 juta/ bulan Cicilan kredit

Skenario B Rp. 257 juta Rp. 2,9 juta/ bulan Menabung dalam bentuk reksadana

Selisih Rp. 2,0 juta/bulan

Skenario A: jika kita mengambil fasilitas kredit untuk pembelian mobil selama 5 tahun, bunga yang mesti dibayarkan sekitar 6% per tahun saat ini atau dengan cicilan tiap bulannya kurang lebih Rp. 4,9 juta dan total nilai pembayaran pokok dan bunga cicilan selama 5 tahun kurang lebih Rp. 347 juta.
Skenario B: bandingkan bila kita memilih menabung dahulu melalui instrumen reksadana saham setiap bulannya selama 5 tahun, maka secara kalkulasi, tabungan per bulan adalah sebesar Rp. 2,9 juta dan di akhir tahun ke-5, nilai mobil baru seharga Rp. 257 juta tercapai. Asumsikan return reksadana saham setiap tahunnya 15%.
Pada penghujung tahun ke-5, terdapat perbedaan nominal yang signifikan, ada selisih Rp. 90 juta (Rp. 347 juta – Rp. 257 juta) atau penghematan sebesar 35% selama 5 tahun. Lumayan kan.

Dari kedua skenario di atas, dapat dihitung selisih per bulannya antara skenario A dan skenario B yaitu sebesar Rp. 2 juta. Selisih ini jika kita investasikan juga di reksadana saham, yang memberikan return 15% per tahun, maka dalam 5 tahun akan menghasilkan kurang lebih Rp. 183 juta.
Dari skenario B di atas, dapat di simpulkan bahwa perencanaan membeli mobil baru baru dengan cara menabung via reksadana punya kelebihan:
1. jauh lebih murah
2. risiko lebih rendah, serta
3. mengurangi beban cash flow keuangan setiap bulannya yang lebih tinggi.
Instrumen keuangan yang digunakan di sesuaikan dengan jangka waktu menabung, kalau pendek jangka waktu menabung nya, maka pilih instrumen keuangan yang lebih rendah risikonya..

Selamat beli mobil baru..!

Catch me: @rizalplanner
Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

CASH IS KING

source: poluscapital.com

pic source: poluscapital.com

Hari ini Indeks bursa saham di Indonesia sempat jatuh ke 4100, Rupiah sudah menyentuh ke Rp.14000 per 1 Dolar Amerika (bahkan ada yang sudah meramal bahwa akan menyentuh Rp. 15000/1US$). Indeks Dow Jones juga merah membara turun -588.40 ke level 15000 (dari Indeks tertinggi sebelumnya 18000). Belum lagi hadirnya fenomena alam El Nino di Indonesia. Dampak dari Topan El Nino ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat wilayah Negara Republik Indonesia tercinta kita ini menjadi kering dan kemarau yang berkepanjangan. Konon hembusan angin El Nino ini juga mempengaruhi indeks bursa saham, terutama saham-saham yang terkait dengan produk pertanian.

Jika fenomena alam El Nino ditambah dengan kondisi babak belur bursa dan kurs Rupiah yang menguatirkan ini terus berlanjut sampai akhir tahun 2015, apakah kondisi krisis 1997-1998 bisa terulang kembali?

Indikator lainnya yang menunjukkan kondisi ekonomi global dan domestik lagi lesu bisa dilihat dari:

  • Ekspor turun -15,5% mom (atau -19,2% yoy) di bulan Juli 2015.
  • Impor juga turun lebih dalam lagi -22,4% mom (atau -28,4% yoy) di bulan Juli 2015
  • Penjualan semen yang menurun -10,2% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -6,2% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan mobil turun -39,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -25,7% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan motor turun -21,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -23,5% yoy di bulan Juni 2015.

Keterangan:

mom = month on month, menunjukkan perbandingan dari bulan ke bulan, sementara yoy = year on year, menunjukkan perbandingan dari tahun ke tahun.

 

Poin pertama di atas menunjukkan ekonomi dunia yang lagi lesu, sementara poin kedua sampai kelima menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang lemah.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini jaga kondisi likuiditas keuangan keluarga anda, karena likuiditas adalah raja, orang (kepepet) menjual aset karena butuh uang. CASH is KING!

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Change of Email Address

pic source: michigan.gov

pic source: michigan.gov

Dear Readers,

Tulisan ini sebagai pemberitahuan bahwa email sebelumnya rizal.planner@gmail.com sudah TIDAK aktif dan selanjutnya email yang BARU adalah rizal.plannerindo@gmail.com

So guys, kalau ada pertanyaan, inquiries, atau sekedar sharing silakan kirim ke email yang baru

Salam

rizal.plannerindo@gmail.com