INVESTASI di MASA PENSIUN

Salah seorang kenalan saya, sebut saja Mr X, cerita pada saya bahwa dana pensiunnya yang sudah dia kumpulkan selama ini hilang, lenyap tanpa bekas. Kok bisa tanya saya? Ia bilang karena ia berinvestasi pada salah satu perusahaan yang melakukan usaha peternakan bebek di Cirebon. Awalnya selama 6 (enam) bulan pertama ia rutin menerima kiriman uang dari perusahaan ternak bebek tersebut, tapi begitu bulan ketujuh, bebeknya ‘ngambek’ sehingga tidak mau bertelur lagi. Bahkan ia sempat menengok langsung peternakan bebek tersebut di Cirebon. Memang benar ada kandang bebek berikut bebeknya, lengkap dengan papan nama investor di depan kendang tersebut. Tapi, tetap ada tapinya, tidak semua nama investor ada di depan kendang yang ada.

Hal ini tentu saja membuat Mr X ketar ketir, karena seluruh uang pensiunnya habis di investasikan di peternakan peternakan bebek tersebut. Perusahaan tersebut berjanji memberikan hasil investasi 15% per bulan, jauh di atas deposito. Karena Mr X tergiur dengan janji tersebut, disinilah berawalnya petaka. Karena ingin cepat kaya dan mau cepet untung, maka habislah dana pensiun tersebut. Singkat cerita, akhirnya pemimpin perusahaan peternakan bebek tersebut dilaporkan ke polisi atas dakwaan penipuan.

Di atas adalah salah satu contoh nyata, dimana para pensiunan, karena merasa sudah tidak bekerja lagi, dan uang pensiun satu-satunya harapan penghidupan, ingin bisa dilipatgandakan sedemikian rupa, tanpa melihat risiko yang ada. Ini juga berlaku tidak hanya para pensiunan, tapi juga masyarakat pada umumnya yang karena faktor ingin cepet kaya dan cepet untung serta mudah percaya atas hal-hal begini, akhirnya mau untung jadi buntung.

Penulis ingin memberikan sharing kepada para pensiun terutama, agar dalam menginvestasikan uang pensiun mereka, bisa dilakukan melalui investasi yang sifatnya low risk. Meskipun low risk berarti low return, tapi faktor keamanan dari dana pensiun juga tinggi. Ada beberapa contoh instrumen investasi yang low risk misalnya deposito bank, bisa pilih konvensional atau syariah, tergantung preferensi. Untuk dana di bank, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin simpanan per nasabah per bank sebesar maksimum Rp. 2 Milyar. Jadi kalau kita punya dana lebih dari Rp. 2M, bisa di distribusikan ke dalam beberapa bank. Sisi lainnya, ada pajak final sebesar 20% atas bunga deposito yang dikenakan. Sedangkan jangka waktu investasi bisa dipilih 1,3,6,12 bulan.

Instrumen lain yang bisa dipilih oleh pensiunan adalah Obligasi Retail Indonesia (ORI) atau Obligasi Negara Ritel, ORI ini merupakan Surat Utang Negara (SUN) yang dijual kepada individu Warga Negara Indonesia melalui agen penjual dengan volume minimum yang telah ditentukan. Obligasi syariah juga ada, namanya SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau Sukuk. Kenapa ada ORI? Pemerintah RI butuh uang untuk membangun negeri, daripada utang ke luar negeri, lebih baik berhutang kepada masyarakat Indonesia sendiri.

Ada beberapa manfaat ORI, yang pertama kupon atau imbalan yang dibayarkan oleh Pemerintah, sehingga risikonya sangat kecil tidak dibayarkan. Artinya risiko gagal bayar tidak ada, karena negara menjamin kupon dan pokok sampai jatuh tempo yang dananya disediakan dalam APBN setiap tahunnya. Yang menarik dari ORI adalah kupon (imbal hasil yang dibayarkan dari obligasi) yang cukup tinggi, dan pajak atas kupon hanya 15%, lebih rendah 5% daripada deposito. Kupon ORI lebih tinggi daripada inflasi, ingat tujuan investasi sendiri adalah mengalahkan inflasi. Manfaat yang kedua adalah Capital gain. Capital gain ini di dapat kalau kita menjual ORI tersebut lebih tinggi daripada harga beli di awal, maka selisihnya disebut sebagai keuntungan atau capital gain. Misalnya saat beli di agen penjual 100%, kemudian di tengah jalan di jual di bursa efek, dan harganya lagi naik sebesar 105%, maka keuntungannya adalah sebesar 5%. Jangka waktu jatuh tempo ORI bisa 2, 3, 5 tahun. Tapi jika tidak mau diperdagangkan selama jangka waktu tersebut, maka tidak akan ada capital gain (atau capital loss) dari ORI tersebut.

Instrumen ketiga yang bisa menjadi pilihan setelah deposito dan ORI adalah reksadana, pilihannya reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Bedanya dengan dua instrumen investasi di atas (Deposito dan ORI), pajak reksadana 0 (nol) %. Pembelian reksadana sendiri dihitung berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB). Kalau beli di awal NAB 1000 dan pada saat dijual NAB setahun kemudian menjadi 1060, artinya ada keuntungan sebesar 6%. Jadi kalau dalam setahun dapat imbal hasil 6%, maka tidak ada potongan pajak untuk instrumen ini.

Dari 3 (tiga) pilihan instrumen investasi di atas, cara membelinya jaman now, sudah semakin mudah, dengan aplikasi digital yang ada seperti e-banking, marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, aplikasi penjual reksadana seperti Bibit, Tanamduit, serta peer to peer lending, semuanya sudah tersedia, tinggal tetapkan tujuan dan pilihan investasi kita. Masing-masing aplikasi punya kelebihan dan kekurangannya. Silakan baca review penulis, salah satunya Bibit.

Penulis juga mengingatkan diri sendiri dan juga yang mau pensiun atau yang sudah pensiun, untuk tidak coba-coba investasi yang tidak jelas legalitasnya dan yang mengiming-imingi bunga yang tinggi, seperti cerita peternakan bebek di atas. Jangan serakah, jangan juga hanya ikut-ikutan. Era jaman now, investasi bodong semakin canggih dalam bentuk aplikasi.

So, please take good care of your investment.

Catch me:

Email: rizal.planner@gmail.com

Twitter: @rizal.planner

IG: @rizal.plannerindo

Pilih Rumah Atau Apartemen?

Boy Hazuki Rizal ID 5Aug18 Print

Sekarang ini penawaran rumah maupun apartemen alias rumah susun banyak sekali. Meskipun banyak, sering kita mendengar bahwa kebutuhan rumah lebih tinggi dari pasokan rumah. Istilahnya ada backlog antara pasokan rumah dan kebutuhan rumah. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, kebutuhan tempat tinggal menjadi salah satu yang issue yang terus menerus muncul. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia membutuhkan tempat tinggal. Mau pilih rumah atau apartemen, tergantung kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Zaman now, salah satu pilihan untuk hunian adalah rumah susun atau apartemen. Banyak orang memilih apartemen dengan alasan kepraktisan. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan bahwa lokasi tempat bekerja atau beraktivitas tidaklah jauh dari apartemen. Mobilisasi penghuni sangat berpengaruh. Karena, kalau pilih apartemen tapi lokasinya jauh dari tempat bekerja, maka selain biaya transportasi yang lumayan, juga waktu perjalanan yang terbuang. Biaya transportasi dan waktu yang hilang tersebut di trade off dengan harga hunian yang lebih dekat dengan tempat bekerja atau beraktivitas, terutama untuk lokasi yang berada di tengah kota.

Sebagai pilihan investasi, tentu apartemen yang masih di jual dalam bentuk gambar, harganya akan jauh lebih murah, sehingga pada saat apartemennya sudah jadi, maka bisa di jual lagi dan mendapatkan capital gain dari investasi tersebut.

Jika disewakan, rental yield atau hasil sewa per tahun dari apartemen secara rata-rata sekitar 8%-10% dari nilai jual. Sementara untuk hasil sewa rumah hanya berkisar 4%-5% per tahun. Artinya, hasil sewa dari apartemen dua kali lipat daripada hasil sewa rumah. Investasi apartemen cocok untuk di kota-kota besar yang aktivitas penghuninya banyak berpusat di tengah kota. Apartemen yang dibeli untuk investasi ini dapat disewakan kemudian. Untuk melihat apakah investasi apartemen tersebut memang menguntungkan atau tidak, salah satu indikatornya bisa dilihat seberapa besar orang membutuhkan tempat tinggal sementara di area tersebut, seperti untuk pekerja asing dan turis. Semakin banyak yang butuh tempat tinggal sementara, investasi apartemen untuk disewakan cocok untuk di area tersebut.

Untuk keluarga muda atau yang masih single, dengan keuangan ‘terbatas’, apartemen bisa jadi pilihan awal untuk hunian. Dan pada saat keluarga bertumbuh dengan adanya anak-anak dan kondisi keuangan juga semakin baik, setelah 3 sampai 5 tahun, harga apartemen akan naik, selanjutnya apartemen bisa di jual dan hasil penjualan bisa menjadi down payment untuk beli rumah. Keterbatasan ruang di tengah kota menjadikan apartemen sebagai pilihan hunian karena untuk beli rumah di tengah kota, harganya sudah sangat mahal dan mungkin tidak masuk akal lagi.

Sedangkan pilihan untuk membeli rumah, salah satu alasannya karena kebutuhan ruang yang lebih luas bagi anggota keluarga. Dengan adanya tambahan anggota keluarga, apartemen dirasa kurang memadai.

Bila kita ingin membeli rumah sebagai hunian maupun investasi, maka yang perlu kita perhatikan adalah, lokasi, lokasi, lokasi. Pakar properti pasti menyarankan lokasi yang strategis, yang akses nya bagus, ada berbagai fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, pasar, akses jalan tol, tempat rekreasi, sarana olahraga dan fasilitas lainnya. Karena fasilitas seperti itu yang menarik orang untuk tinggal dan beraktivitas di area situ. Semakin lengkap fasilitas, semakin banyak orang yang ingin tinggal disitu, hal ini otomatis akan mendongkrak harga properti di area tersebut.

 

Pembiayaan Rumah atau Apartemen

Jika sudah punya rumah pertama dan ingin membeli apartemen atau rumah kedua untuk investasi, dengan menggunakan fasilitas pinjaman dari bank (KPA – Kredit Pemilikan Apartemen / KPR – Kredit Pemilikan Rumah), tidak di sarankan untuk mengagunkan rumah hunian pertama yang ditempati saat ini untuk dijadikan down payment. Karena itu berarti bebannya akan ada 2 (dua), pertama, cicilan untuk membayar kredit multiguna dari rumah pertama yang dipakai untuk down payment, dan yang kedua, cicilan KPR dari rumah kedua itu sendiri. Jika ada kesulitan cash flow dalam pembayaran cicilan tersebut, maka rumah pertama bisa hilang karena disita bank, apalagi rumah kedua, ujung-ujungnya kedua-duanya hilang. Lebih baik, jika membeli rumah kedua, agunannya adalah rumah kedua itu sendiri, tanpa mengagunkan rumah pertama untuk bayar down payment. Hal ini untuk meminimalisir risiko.

Jika dihitung, ternyata cicilan KPR per bulan terlalu besar, dapat minta perpanjangan waktu atau tenor dari pembayaran cicilan KPR tersebut. Tenor bisa sampai 20 tahun, bahkan ada bank yang mau memberikan jangka waktu cicilan hingga 30 tahun. Atau pilih bank yang memberikan bunga tetap (fixed rate) untuk 3 sampai 5 tahun pertama, sehingga cicilan anda akan tetap selama periode tersebut dan cash flow anda terjaga.

Sebagai penutup, investasi di apartemen atau rumah siap huni, jika sudah di beli dapat langsung disewakan, sehingga hasil sewa dapat digunakan untuk membayar cicilan tersebut. Yang perlu jadi perhatian, untuk rumah harus selalu di rawat dan di jaga, agar bangunan tidak rusak atau di makan rayap. Karena kalau rumah rusak, akan berdampak pada nilai jual dari rumah yang turun. Kalau nilai jual turun, otomatis harga sewa juga akan turun. Sedangkan untuk apartemen, bangunan dan fasilitas apartemen sudah ada pihak yang menjaga dan merawat, sehingga anda tinggal mem-furnish unit yang dimiliki supaya orang tertarik dan berminat untuk menyewa.

 

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner dan Rekan

weblink Investor Daily: http://id.beritasatu.com/opini/pilih-rumah-atau-apartemen/178701

 

Beli Mobil Baru Tanpa Kredit Tapi Via Reksadana, Bagaimana Caranya?

Kalau ada keluaran model baru dari merk mobil tertentu, rasanya pingin supaya mobil yang lama di jual dan ganti dengan model baru. Event seperti Pameran Mobil (IIMS) yang rencana di gelar bulan April 2017, bisa jadi ajang ganti mobil baru. Kalau beli mobil baru dengan cara kredit itu sudah biasa, kita hanya diminta bayar DP nya dulu kemudian sisanya dicicil lewat lembaga pembiayaan atau bank.
Tapi coba kita pikirkan untuk beli mobil baru dengan cara nabung dulu, karena mobil adalah aset yang terdepresiasi, sehingga value nya akan terus turun. Jika kita bayar dengan fasilitas kredit, total nilai yang kita bayar akan pasti lebih tinggi dari nilai market value nya karena adanya bunga bank atau lembaga pembiayaan.
Oleh karena itu pola pikir beli mobil dengan cara cicilan setiap bulan di gantikan dengan pola pikir tabungan setiap bulan dengan menabung lewat reksadana. Ya, lewat instrumen keuangan yang satu ini, agar tujuan kita bisa tercapai. Tentu saja risikonya jauh berbeda, sebagai contoh jika kita telat bayar cicilan, tentu saja lembaga pembiayaan atau bank akan mengirimkan ‘reminder’ kepada kita, mulai dari surat cinta sampai ‘tamu’ kunjungan, sedangkan bila tabungan kita telat setor, hanya kita sendiri yang rugi, karena target tabungan kita bisa jadi missed.
Sebagai ilustrasi, misalkan kita ingin setiap 5 tahun kita ganti mobil, beli mobil baru. Asumsikan mobil yang dibeli adalah mobil sejuta umat, Toyota Avanza. Jika kita lihat, harga mobil Avanza baru pada tahun 2012 asumsikan Rp. 160 juta, sementara harga OTR mobil baru untuk seri yang sama di tahun 2017 ini kurang lebih Rp. 203 juta. Artinya kenaikan selama 5 tahun sebesar 26.6% atau kenaikan per tahunnya rata-rata kurang lebih 5%. Asumsikan dengan kenaikan 5% tersebut, pada tahun 2022, harga mobil Avanza seri tersebut sudah mencapai Rp. 257 juta.
Perbandingannya sebagaimana di bawah ini:
Harga mobil tahun 2022 Cicilan/ bulan Ket
Skenario A Rp. 257 juta Rp. 4,9 juta/ bulan Cicilan kredit

Skenario B Rp. 257 juta Rp. 2,9 juta/ bulan Menabung dalam bentuk reksadana

Selisih Rp. 2,0 juta/bulan

Skenario A: jika kita mengambil fasilitas kredit untuk pembelian mobil selama 5 tahun, bunga yang mesti dibayarkan sekitar 6% per tahun saat ini atau dengan cicilan tiap bulannya kurang lebih Rp. 4,9 juta dan total nilai pembayaran pokok dan bunga cicilan selama 5 tahun kurang lebih Rp. 347 juta.
Skenario B: bandingkan bila kita memilih menabung dahulu melalui instrumen reksadana saham setiap bulannya selama 5 tahun, maka secara kalkulasi, tabungan per bulan adalah sebesar Rp. 2,9 juta dan di akhir tahun ke-5, nilai mobil baru seharga Rp. 257 juta tercapai. Asumsikan return reksadana saham setiap tahunnya 15%.
Pada penghujung tahun ke-5, terdapat perbedaan nominal yang signifikan, ada selisih Rp. 90 juta (Rp. 347 juta – Rp. 257 juta) atau penghematan sebesar 35% selama 5 tahun. Lumayan kan.

Dari kedua skenario di atas, dapat dihitung selisih per bulannya antara skenario A dan skenario B yaitu sebesar Rp. 2 juta. Selisih ini jika kita investasikan juga di reksadana saham, yang memberikan return 15% per tahun, maka dalam 5 tahun akan menghasilkan kurang lebih Rp. 183 juta.
Dari skenario B di atas, dapat di simpulkan bahwa perencanaan membeli mobil baru baru dengan cara menabung via reksadana punya kelebihan:
1. jauh lebih murah
2. risiko lebih rendah, serta
3. mengurangi beban cash flow keuangan setiap bulannya yang lebih tinggi.
Instrumen keuangan yang digunakan di sesuaikan dengan jangka waktu menabung, kalau pendek jangka waktu menabung nya, maka pilih instrumen keuangan yang lebih rendah risikonya..

Selamat beli mobil baru..!

Catch me: @rizalplanner
Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

CASH IS KING

source: poluscapital.com

pic source: poluscapital.com

Hari ini Indeks bursa saham di Indonesia sempat jatuh ke 4100, Rupiah sudah menyentuh ke Rp.14000 per 1 Dolar Amerika (bahkan ada yang sudah meramal bahwa akan menyentuh Rp. 15000/1US$). Indeks Dow Jones juga merah membara turun -588.40 ke level 15000 (dari Indeks tertinggi sebelumnya 18000). Belum lagi hadirnya fenomena alam El Nino di Indonesia. Dampak dari Topan El Nino ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat wilayah Negara Republik Indonesia tercinta kita ini menjadi kering dan kemarau yang berkepanjangan. Konon hembusan angin El Nino ini juga mempengaruhi indeks bursa saham, terutama saham-saham yang terkait dengan produk pertanian.

Jika fenomena alam El Nino ditambah dengan kondisi babak belur bursa dan kurs Rupiah yang menguatirkan ini terus berlanjut sampai akhir tahun 2015, apakah kondisi krisis 1997-1998 bisa terulang kembali?

Indikator lainnya yang menunjukkan kondisi ekonomi global dan domestik lagi lesu bisa dilihat dari:

  • Ekspor turun -15,5% mom (atau -19,2% yoy) di bulan Juli 2015.
  • Impor juga turun lebih dalam lagi -22,4% mom (atau -28,4% yoy) di bulan Juli 2015
  • Penjualan semen yang menurun -10,2% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -6,2% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan mobil turun -39,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -25,7% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan motor turun -21,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -23,5% yoy di bulan Juni 2015.

Keterangan:

mom = month on month, menunjukkan perbandingan dari bulan ke bulan, sementara yoy = year on year, menunjukkan perbandingan dari tahun ke tahun.

 

Poin pertama di atas menunjukkan ekonomi dunia yang lagi lesu, sementara poin kedua sampai kelima menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang lemah.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini jaga kondisi likuiditas keuangan keluarga anda, karena likuiditas adalah raja, orang (kepepet) menjual aset karena butuh uang. CASH is KING!

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Change of Email Address

pic source: michigan.gov

pic source: michigan.gov

Dear Readers,

Tulisan ini sebagai pemberitahuan bahwa email sebelumnya rizal.planner@gmail.com sudah TIDAK aktif dan selanjutnya email yang BARU adalah rizal.plannerindo@gmail.com

So guys, kalau ada pertanyaan, inquiries, atau sekedar sharing silakan kirim ke email yang baru

Salam

rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

Pensiun? Gimana nanti atau nanti gimana?

pension jar

 

Memang rejeki itu sudah ada yang ngatur, kalau sudah rejeki gak akan kemana. Rasanya kalimat seperti itu sering kita dengar ya. Jadi kalau untuk pensiun pun kita sudah yakin nanti pasti ada rejekinya. Atau kalau keburu meninggal duluan, ya gak usah pusing mikirin pensiun. Umur rahasia Tuhan, kalau di kasih umur panjang sampai setelah pensiun, maka kita sudah siap dengan rencana pensiun kita. Semakin muda kita  memulai persiapan pensiun semakin baik.

Salah seorang teman main tenis saya yang sudah senior, > 65 tahun, pernah bilang ke saya, “….dulu saya waktu masih muda sudah mikirin ntar pensiun mau ngapain ya..?” tapi waktu itu teman-teman seusia di kantor sering ngeledek saya, “..ngapain mikirin pensiun, nikmatin saja hidup yang sekarang, pensiun, gimana nanti aja…”. Nah, kemudian terbukti, setelah pensiun, teman-teman si senior ada yang kerja jadi tukang ojeg, ada yang tidak bisa kerja lagi karena sakit-sakitan sementara biaya berobat tidak cukup dari uang pensiun, dan berbagai macam cerita perih lainnya.

Bagi anda yang pekerja profesional, perusahaan akan menyisihkan sebagian dana dari gaji anda untuk disisihkan sebagai dana pensiun. Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Program Jaminan Pensiun, pemerintah menetapkan uang jaminan pensiun “hanya” sebesar 8%, rinciannya anda sendiri harus menyumbang 3% dari total gaji, sementara perusahaan 5% sebagai pemberi kerja. Sementara untuk kebutuhan hidup pensiun anda nanti, jika anda menyisihkan 10% dari gaji, maka pada saat pensiun hanya akan mencukupi 40% dari gaji terakhir, artinya standar hidup sederhana. Jika iuran pensiun 15% dari total gaji, maka manfaat pensiun hanya 70% dari gaji terakhir, dan jika iuran pensiun 20% dari total gaji, maka manfaat pensiun sampai 90% dari standar hidup anda sekarang.

Dengan adanya aturan baru tersebut di atas yang “hanya” 8%, tentu manfaat pensiun yang akan diterima nanti oleh pekerja akan lebih kecil dari 40% kan? Standar hidup pensiun super sederhana. Oleh karena itu kita sendiri harus menyiapkan pensiun kita.

Apa saja yang harus anda siapkan?

Pertama, kalau dari sisi dana tentu anda harus menyisihkan extra dana untuk kebutuhan pensiun tersebut, agar pensiun gak super sederhana. Anda bisa pilah-pilih instrument investasi apa yang  akan anda gunakan, karena tujuan anda untuk pensiun, tentu jangka panjang, instrument di financial market, seperti reksadana saham atau saham bisa jadi pilihan. Atau kalau anda sudah cukup dananya, belilah properti dan jadikan sebagai passive income dengan menyewakan properti tersebut.

Kedua, kalau dari sisi lain, seperti kata sang senior, kita harus punya special skills tersendiri. Skills ini harus kita asah selama kita masih usia produktif. Sehingga pada saat pensiun nanti, kita sudah bisa langsung jalan. Misalnya anda suka jajan kuliner, bagaimana caranya supaya anda sendiri yang menghasilkan uang dari kuliner kesukaan anda tersebut?

Anyway, yuk siapkan pensiun kita…