Cermat Berasuransi

 

asuransi jiwa_rizalplanner

Melihat bencana dan kejadian 3 (tiga) bulan terakhir yang terjadi berturut-turut di Indonesia mulai dari gempa bumi di Lombok, likuifaksi di Palu dan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta – Pangkal Pinang di perairan Karawang membuat hati bersedih, berapa banyak keluarga korban yang kehilangan pencari nafkah (bread winner) atas kejadian ini. Ada anak kehilangan bapak, istri kehilangan suami. Namanya musibah memang tidak ada manusia yang mengharapkan dan tidak ada yang tahu kapan terjadinya. Bisa saja kejadian tersebut menimpa Anda dimana saja berada.

Dampak dari kehilangan pencari nafkah bagi keluarga atau tanggungan yang ditinggalkan tentu akan sangat berasa dalam menjalani hidup selanjutnya. Di luar kejadian luar biasa ataupun bencana yang mungkin timbul, seorang kepala keluarga sudah sepatutnya mempunyai perlindungan jiwa atas dirinya. Perlindungan jiwa ini untuk mengantisipasi hilangnya sumber pendapatan dari pencari nafkah, salah satu caranya adalah dengan mempunyai asuransi. Asuransi ini sebagai perlindungan kepada keluarga atau tanggungan yang ditinggalkan. Membeli asuransi itu seperti membeli payung sebelum hujan.

Siapa saja yang perlu asuransi? Menurut hemat saya, orang yang sudah mempunyai tanggungan perlu membeli asuransi. Sebagai bread winner, Anda harus punya payung jika keluarga atau tanggungan Anda kena hujan. Asuransi jiwa ini melindungi penghasilan Anda. Jika Anda sampai meninggal dunia maka istri dan anak-anak atau pihak yang menjadi tanggungan Anda, akan terlindungi. Asuransi jiwa bukan melindungi Anda tapi melindungi orang yang bergantung pada penghasilan Anda dalam hal ini ahli waris Anda bisa istri, anak atau pihak lainnya.

Apa saja yang perlu Anda perhatikan pada saat membeli asuransi?

Yang pertama, belilah perlindungan bukan investasi. Sekarang ini di pasaran memang banyak asuransi yang dikemas sekaligus investasi. Padahal yang dibutuhkan dari asuransi adalah perlindungannya, bukan investasinya. Investasinya dapat dibeli secara terpisah. Jika Anda belum punya perlindungan hendaklah Anda prioritaskan perlindungan saja dulu dibandingkan yang lainnya. Salah satu alasan mengapa harus dipisahkan antara membeli perlindungan dan investasi adalah, kinerja hasil investasi dari produk asuransi ini tidak seoptimal bila anda melakukan investasi secara langsung. Misalnya untuk underlying (dasar portfolio investasi) yang sama, produk investasi langsung memberikan yield (imbal hasil) sebesar 15%, sementara investasi produk asuransi memberikan yield sebesar 10%. Terdapat selisih 5%. Cukup lumayan besar selisih tersebut.

Yang kedua, pastikan ahli waris Anda adalah ahli waris yang cakap hukum. Di Indonesia, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( Burgerlijk Wetboek) pasal 330, disebutkan bahwa jika belum berumur 21 tahun dan tidak kawin sebelumnya, maka belum dapat dikatakan cakap hukum. Artinya yang berhak menerima waris adalah anak yang sudah berusia di atas 21 tahun atau sudah menikah. Jika anak tersebut di bawah 21 tahun tapi sudah menikah, maka anak tersebut dapat dikatakan cakap hukum. Oleh karena itu jika Anda sebagai pemegang polis asuransi, maka pastikan bahwa ahli waris Anda bukan anak yang masih di bawah umur yang belum cakap hukum. Untuk itu ahli waris bisa diberikan kepada wali dari anak tersebut. Dalam hal ini wali bisa pasangan hidup atau orang tua atau pihak yang ditunjuk oleh pemegang polis dalam surat wasiat.

Yang ketiga, belilah asuransi yang memberikan perlindungan terhadap risiko yang ditakuti. Jadi jika ada risiko yang anda takutkan terjadi, pastikan bahwa Anda menemukan risiko tersebut ditanggung oleh pihak asuransi. Misalnya, Anda mempunyai hobi untuk melakukan extreme sports seperti terjun payung, layang gantung, olahraga selam (scuba diving), arung jeram, panjat tebing, pacuan kuda atau balapan mobil atau motor dan kemungkinan terjadi apa-apa dengan Anda pada saat melakukan olahraga tersebut, pasti ada. Untuk itu pastikan Anda menemukan klausula yang menanggung risiko atas extreme sports tersebut dalam polis yang Anda beli. Tidak cukup mengandalkan penjelasan dari agen, karena perusahaan Asuransi hanya akan membayarkan klaim sesuai dengan polis yang tertulis.

Demi mengantisipasi kemungkinan musibah atau kejadian di masa yang akan datang, cermatlah berasuransi, sehingga anda mendapatkan ‘peace of mind’. Bukalah kembali polis asuransi yang Anda sudah beli, bacalah kembali dengan teliti, sehingga Anda tidak mengalami kerugian atas asuransi yang Anda beli.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

Boy Hazuki Rizal_ID_27Nov18.JPG

ACCIDENT DOES HAPPEN

pitchero.com

pitchero.com

Pagi ini kita di kejutkan berita duka cita, salah satu ustadz terkenal meninggal dunia karena kecelakaan motor gede, berita-berita di sosial media menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut kecelakaan tunggal, dini hari Jumat 26 April 2013. Mungkin habis memberikan ceramah hingga larut malam, kita tidak tahu. Tulisan kali ini tidak membahas mengenai si ustadz tapi mengenai pentingnya asuransi kecelakaan diri sebagai bagian dari perencanaan keuangan.

Kecelakaan bisa menimpa pada siapa saja, termasuk diri kita sendiri. Contoh lain kecelakaan diri adalah  karena terinjak kulit pisang hingga menyebabkan jatuh, atau karena memanjat tangga untuk membetulkan langit-langit, lampu atau apapun itu yang menyebabkan kita jatuh. Semua itu masuk dalam kategori kecelakaan diri. Di sinilah pentingnya kita mempunyai asuransi kecelakaan diri (Personal Accident). Karena jika terjadi apa-apa dengan kita, maka ada asuransi yang memberikan proteksi pada kita, apakah itu biaya medis yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan sampai kehilangan jiwa seperti contoh kasus ustadz di atas.

Kecelakaan menurut definisi Polis Standar Asuransi Kecelakaan Diri Indonesia adalah suatu kejadian atau peristiwa yang mengandung unsur kekerasan baik yang bersifat fisik maupun kimia yang datangnya tiba-tiba, tidak dikehendaki atau direncanakan, termasuk keracunan, mati lemas atau tenggelam.

Asumsikan berita-berita tersebut benar, maka kecelakaan motor tersebut di perkirakan tidak direncanakan dan mengandung unsur kekerasan fisik karena menabrak pohon palem, jika masuk dalam definisi Polis Standar maka pihak asuransi akan memberikan uang pertanggungannya pada si ahli warisnya, misalnya dalam kasus ini istrinya si ustadz. Tapi jika ternyata ditemukan bahwa kecelakaan tersebut terdapat unsur kesengajaan atau direncanakan, maka pihak asuransi berhak untuk menolak klaim. Pihak asuransi bisa melakukan investigasi untuk kecelakaan, apalagi jika uang pertanggungannya guede.

Hal lain yang perlu di perhatikan dalam membeli asuransi kecelakaan diri adalah luasnya jaminan, maksudnya coveragenya apakah termasuk bila mengemudi sepeda motor, karena jika termasuk maka akan di cover si perusahaan asuransi, tapi jika tidak, maka percuma saja.

Ada juga pengecualian tambahan dalam polis, seperti teroris dan huru hara, maksudnya, jika kecelakaan diri terjadi karena unsur terorisme dan atau huru hara dimana kita terlibat di dalamnya, maka pihak asuransi akan menolak klaim kita.

So guys, plan yourself better and get protected.

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.planner@gmail.com

WARIS

warisan

Hari Minggu lalu, 3 Maret 2013 merupakan hari yang kelam buat saya sekeluarga, karena kehilangan neneknda tercinta untuk selama-lamanya. Almarhumah sangat dekat dan care sekali pada semua orang, apalagi sama cucu-cucunya, salah satunya saya. Hubungan batin yang sangat kuat, membuat saya sulit menghadapi kenyataan ini, sampai kering rasanya air mata ini. Tapi kematian adalah hal yang pasti dan merupakan rahasia Tuhan, kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita.

Sebagaimana layaknya orang yang meninggal, bisa jadi mewariskan harta maupun hutang. Di Indonesia terdapat 3 hukum pewarisan yang berlaku yaitu Hukum Waris Islam (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama Islam), Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam) dan Hukum Adat (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam). Sebagai financial planner alias perencana keuangan, sharing tulisan kali ini saya batasi pada ahli waris dan cara mewaris berdasarkan Hukum Islam karena hubungan perkawinan dan hubungan darah.

Berikut adalah perincian besarnya bagian-bagian ahli waris berdasarkan Kompilasi Hukum Islam:

  1. Anak perempuan, ½ bagian bila seorang, 2/3 bila 2 orang atau lebih anak perempuan dan apabila bersama anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Dalam case nenek saya, anak-anaknya yang masih hidup adalah 2 perempuan dan 1 anak laki-laki, maka pembagiannya 2: 1 untuk laki-laki dan perempuan.
  2. Ayah, bila mempunyai anak, maka entitle mendapat seperenam bagian. Dalam case ini, karena ayah dari nenek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  3. Ibu, bila ada anak atau dua saudara atau lebih, maka entitle seperenam bagian, dalam case ini, karena ibunda dari nenek juga sudah almarhumah, maka tidak ada yang dibagi.
  4. Duda, dalam hal ini suami dari nenek saya, kakek saya entitle mendapat ¼ bagian karena ada anak, tapi dalam case ini karena kakek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  5. Saudara seibu, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seibu mendapakan 1/6 bagian, tapi bila saudara seibu dua atau lebih, maka saudara-saudara itu bersama-sama mendapat 2/3 bagian. Dalam case ini, saudara seibu dari nenek saya tidak ada.
  6. Saudara seayah, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seayah bila lebih dari 2 orang, maka saudara laki-laki entitle 2 berbanding 1 dibanding saudara perempuan. Dalam case ini, saudara seayah sudah tidak ada lagi yang hidup.
  7. Anak angkat dan orang tua angkat, dapat saling mewaris maksimum 1/3, dalam case ini karena nenek saya tidak punya anak angkat dan orang tua angkat, maka tidak ada yang diwariskan.
  8. Cucu, menggantikan kedudukan orangtuanya yang berhak mewaris, dalam case ini karena anak-anak dari nenek saya masih ada, maka saya sebagai cucunya tidak berhak mewaris.

Dalam case ini, misalnya harta warisan nenek saya Rp. 1 Milyar, biaya pengurusan jenazah Rp. 30 juta, biaya rumah sakit Rp. 60 juta, hutang Rp. 10 juta maka sisa harga warisannya adalah Rp. 900 juta. Ahli warisnya 2 orang anak perempuan dan 1 laki-laki.

Ahli waris Bagian Perhitungan Total
2 anak perempuan 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta
1 anak laki-laki 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta

 

 

1 anak laki-laki + 2 anak perempuan = 4 anak perempuan

= 900 juta / 4 = Rp. 225 juta

1 anak laki-laki mendapat 450 juta, dua anak perempuan masing-masing entitle Rp. 225 juta.

So guys, buatlah family tree anda masing-masing, biar tahu siapa saja lingkaran dalam keluarga kita.

In memoriam to my beloved Grandma Sapiah binti Muhammad Ridwan.

Catch me: @ rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com