ANGGARAN JAMAN NOW

budget boksbur

IMG_6967
Menjelang akhir tahun, perusahaan sudah mulai membuat anggaran untuk tahun depan, dengan menggunakan asumsi-asumsi ekonomi seperti nilai tukar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi. Proyeksi anggaran dapat dibuatkan untuk jangka pendek (1-2 tahun) sampai jangka menengah (3-5 tahun). Sama halnya juga dengan Anda, sebagai personal maupun kepala keluarga, Anda juga perlu membuat anggaran dengan asumsi-asumsi yang mungkin akan ada atau timbul dalam waktu dekat, misalnya, akan ada tambahan anggota keluarga baru, anak yang akan masuk sekolah atau Anda akan mengambil pendidikan strata lanjutan dan sebagainya.
Semua asumsi dalam keuangan personal ataupun keluarga, bisa kita artikan sebagai adanya alokasi anggaran yang mesti di persiapkan. Dalam jaman now, banyak aplikasi-aplikasi yang bisa di gunakan untuk membantu Anda dalam membuat anggaran personal ataupun keluarga, mencatat secara aktual berapa pengeluaran Anda, bahkan bisa membandingkan aktual terhadap anggaran.
Untuk membuat anggaran, tentu ada 2 (dua) komponen besar yang mesti Anda catat, pendapatan dan pengeluaran. Untuk membuat anggaran, mudahnya Anda bagi dalam beberapa tahapan:
Tahap pertama, catat pos pendapatan, Anda perlu mencatat semua pendapatan anda seperti gaji bulanan, jika Anda punya penghasilan lain selain gaji bulanan, seperti honor menjadi pengajar atau menyewakan motor untuk ojeg online, maka semua pendapatan variabel tersebut perlu di masukkan dalam pos pendapatatan, dan di proyeksikan dalam jangka pendek dan menengah. Sebagai ilustrasi, untuk gaji dalam pos pendapatan, akan lebih mudah bagi anda untuk memproyeksikan nya setiap bulan karena sudah tercatat rutin dalam rekening anda. Sedangkan untuk pendapatan non rutin, harus anda catat, kedua pendapatan rutin dan non rutin perlu diproyeksikan, dengan bantuan aplikasi yang ada, akan jauh lebih mudah.
Tahap kedua, mencatat semua pengeluaran selama 30 hari. Nah ini yang paling membuat orang kadang menyepelekan, atau tidak melihat urgensinya. “Buat apa sih mencatat, cuma segitu aja duit yang keluar”. Coba bayangkan bila Anda adalah perusahaan atau badan usaha, semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan dan ada pejabat yang mengotorisasi pengeluaran tersebut. Tidak sembarangan menyetujui sebuah pengeluaran. Begitu juga dengan keuangan personal ataupun keluarga anda, setiap pengeluaran harus dibuatkan anggarannya, kalau anggaran tersebut tidak ada, bagaimana? Misalnya anggaran untuk keperluan masuk sekolah untuk si kecil, apakah sudah disiapkan?
Untuk tahap kedua ini, Anda bisa mencatat semua pengeluaran rutin Anda, seperti bayar biaya listrik, biaya air, biaya telpon, iuran lingkungan/ keamanan dan lainnya yang bersifat rutin, ada atau tiada, Anda tetap perlu membayar setiap bulannya, paling tidak abonemen nya. Kemudian Anda lanjurkan mencatat semua pengeluaran non rutin Anda, seperti misalnya minum kopi lewat ‘drive thru’ dari kedai tertentu, kongkow-kongkow dengan kolega, nonton bioskop, nonton konser dan lainnya.
Dari perhitungan tahap satu dikurangi tahap dua, Anda bisa dapatkan berapa sisa penghasilan Anda setiap bulannya, apakah masih positif alias ada lebih nya atau malah negatif.
Jika Anda punya asumsi personal atau keluarga, bahwa tahun depan akan ada anggota keluarga baru, atau dalam 2-3 tahun ke depan Anda berniat untuk melanjutkan strata pendidikan lanjutan, maka perlu alokasi khusus dalam proyeksi anggaran pengeluaran tersebut. Misalnya biaya untuk kebutuhan bayi, beli susu bayi, atau menyiapkan uang kuliah untuk 2-3 tahun ke depan dan sebagainya.
Tahap ketiga, kalau melihat bahwa selisih antara pendapatan dan pengeluaran anda sudah mepet, maka lihat lagi pos-pos pengeluaran mana yang bisa di pangkas, atau di relokasi ke pos pengeluaran untuk kebutuhan akan datang. Contohnya, bila asumsi anda akan ada anggota keluarga baru, dan pasti membutuhkan popok, susu, dan lainnya yang baru, maka bisa Anda siasati merelokasi dari pos anggaran lainnya. Contohnya, bila setiap hari anda ke kantor membeli kopi secara drive thru dari kedai tertentu, maka biaya kopi tersebut dapat dipangkas dan diganti dengan membawa sendiri kopi dari rumah. Sehingga pemangkasan anggaran kopi ini, bisa di relokasikan ke anggaran untuk mempersiapkan kebutuhan calon bayi.
Yang keempat, bila selisih cash flow mepet dan pos pengeluaran sudah sedemikian hematnya, maka yang bisa anda lakukan adalah menambah pendapatan, misalnya dengan menyewakan kamar di Airbnb, atau anda sendiri menjadi partner dari taxi online, atau jualan melalui marketplace atau Instagram. Semua tahap-tahap tersebut dioptimalkan untuk membantu mewujudkan tujuan-tujuan anda dalam anggaran tersebut.
Yang menjadi perhatian dalam membuat anggaran personal atau keluarga ini adalah gaya hidup. Gaya hidup itu identik dengan pengeluaran, seperti minum kopi drive thru dari kedai tertentu, apakah anda rela menukarnya dengan kopi sachet dari rumah, demi kebutuhan calon baby. Atau misalnya anda terbiasa nonton dua kali seminggu di bioskop, apakah anda rela mengurangi nya menjadi sebulan sekali? Semua berpulang pada Anda pribadi. Yang terpenting disini adalah bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran secara disiplin, demi mewujudkan mimpi-mimpi Anda.

Catch me: @rizalplannerEmail me: rizalplannerindo@gmail.com

FUN FUND

source: sports-kings.com

source: sports-kings.com

Masih ingat Mike Tyson? si leher beton, sang juara tinju kelas berat dunia yang royal, pada waktu itu dibayar jutaan dollar dan sempat mempunyai pendapatan sampai Rp 2,6 T sepanjang karirnya, tapi kemudian dinyatakan bangkrut tahun 2003 oleh pengadilan atas permintaan sendiri dan sempat jadi tunawisma. Kenapa bangkrut? Salah satu penyebabnya adalah karena ketidakmampuan mengatur keuangan pribadi. Terlalu boros untuk hal-hal yang fun dan bersifat jangka sangat pendek, tanpa melihat tujuan jangka panjang.

Bercermin dari cerita di atas, kita sebagai manusia juga tetap butuh melakukan hal-hal yang fun, do fun things, seperti ketemu dengan teman-teman, gathering, gaul, hang out, going out, having fun di amusement park, main game atau apapun itu namanya, supaya gak stress dan bosan dengan rutinitas yang ada. Tapi semua itu tentu butuh biaya, dari mana biaya itu?

Selain tujuan-tujuan keuangan yang kita punyai, seperti untuk investasi, asuransi, pensiun dan tujuan serius lainnya, kita juga perlu menyisihkan sebagian untuk dana gaul alias dana hura-hura alias fun fund. Dana ini besarnya kurang lebih 10% – 11% dari dari pendapatan bulanan. Jadi kalau misalnya pendapatan kita per bulan Rp. 30 juta, maka dana gaul per bulan Rp. 3 – 3,3 juta. Besar atau kecil itu relatif, tergantung gaya hidup kita.

Yang perlu jadi perhatian adalah disiplin anggaran kita dalam mengelola keuangan pribadi, artinya jangan lebih besar pasak dari tiang, misalnya karena kita lebih mengejar kesenangan sekarang semua, maka kita lebih banyak menghabiskan dana untuk yang fun fun saja yang enaknya bersifat jangka sangat pendek, sementara tujuan kita jangka panjang lainnya tidak tercapai – seperti kasusnya Tyson. Juga sebaliknya, karena alokasi dana kita habis untuk tujuan-tujuan serius tersebut, maka kita tidak punya budget untuk gaul alias hura-hura. Life will be boring.

So let’s have fun!
Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

TIPS MENGHADAPI KENAIKAN BBM

source: bantenpos-online.com

source: bantenpos-online.com

Akhir-akhir ini topik hangat yang jadi pembicaraan adalah seputar rencana kenaikan harga BBM, dengan dua harga, satu untuk motor dan angkutan umum, satu lagi untuk mobil. Untuk motor asumsinya tetap Rp 4500 dan untuk mobil Rp. 6500 – Rp. 7000 (ini masih asumsi yaa, sampai tulisan ini dibuat, belum ada kepastian berapa harganya). Ini adalah sesuatu yang di luar kendali kita dan tidak bisa kita lawan, mau ga mau mobil kita tetap butuh bensin. Tapi jgn kuatir, ini bisa kita siasati.

Apa yang mesti kita perbuat? Sementara harga-harga juga sudah mulai ikut-ikutan naik?

Pertama, kita susun ulang kembali anggaran (budget) kita. Kalau sebelumnya kita punya anggaran transportasi misalnya Rp. 1 juta, anggaran hiburan seperti nonton, hang out Rp. 1 juta, maka dengan kenaikan max. 55% seperti itu maka kita realokasikan sebagian anggaran hiburan tsb ke transportasi. Sehingga anggaran baru untuk hiburan dan hang out masih tetap ada, tapi jumlahnya hanya 45% dari awal, yaitu sebesar Rp. 450 ribu, sementara anggaran transport karena kita butuh untuk aktivitas kita, tetap mendapatkan jumlah liter yang sama meskipun secara nominal naik menjadi Rp. 1,55 juta.

Cara kedua adalah dengan mengubah life style, ini mungkin yang agak sulit, karena jika kita sudah terbiasa, maka menghilangkan ketergantungan tersebut rasanya susah. Misalnya yang tadinya naik mobil, beralih naik motor atau naik kendaraan umum. Selain ongkos dan waktu yang jadi pertimbangan, juga kenyamanan yang selama ini sudah jadi standar kita sepertinya hilang. Kalkulasi kembali, berapa biaya yang anda keluarkan jika naik motor/kendaraan umum dengan naik mobil serta.

Cara ketiga, dengan mencari penghasilan lain, nah, kalau yang ini tergantung dari kreativitas kita. Misalnya kita punya halaman rumah yang kosong, bisakah di buatkan budidaya ikan? Atau mulai menanam anggrek? Atau dengan kecanggihan teknologi sekarang: jualan barang on line, barang-barang yang sepertinya remeh temeh, bisa anda package-kan dan di jual melalui media sosial. Jasa pengiriman pun sudah banyak yang bisa membantu.

Hal lain yang tidak bisa kita kurangi adalah kewajiban kita, ya hutang, cicilan rumah, cicilan mobil, semua itu mau ga mau alokasi anggarannya tetap harus ada, karena kalau tidak kita bayarkan maka risiko nya ada di kita, kalau sudah macet, kita tidak bisa bayar cicilan, maka rumah kita bisa di sita, mobil kita bisa di sita, dan lebih parahnya, nama kita pun masuk daftar hitam Bank Indonesia (BI), sehingga jika kelak kemudian hari kita mau pinjam uang lagi, sulit rasanya untuk dapat fasilitas kredit dari bank manapun di Indonesia.

Untuk itu, sebagai financial planner, saya sarankan agar kita memprioritaskan apa yang menjadi kebutuhan kita, sehingga tujuan keuangan kita tercapai.

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.planner@gmail.com

Inflasi oh inflasi..

sumber: skyscrapercity.com

sumber: skyscrapercity.com

Parkir mobil di mall per 1 Februari 2013 naik menjadi Rp. 4.000 per jam, sementara sebelumnya mulai Oktober 2012 sudah naik dari Rp. 2.000 menjadi Rp. 3.000 per jam. Memang kelihatannya kecil, hanya naik Rp 2.000 perak saja. Tapi selama periode Oktober 2012 – Februari 2013 atau 4 bulan, kenaikan inflasi ongkos parkir sudah mencapai 100%!  Artinya kalau kenaikan parkir ini akan berlanjut setiap 4 bulan, maka dalam 12 bulan ongkos parkir akan naik 300%! Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya tidak bosan untuk mengingatkan kita akan bahaya inflasi, musuh bersama yang tidak kelihatan. Dan kali ini inflasi dari parkir sudah luar biasa. Apapun tujuan mulia Pemprov DKI sepertinya sulit menjadi pembenaran dengan kondisi transportasi dan lalu lintas Jakarta seperti sekarang ini.

Kemarin Gubernur Jakarta Pak Jokowi bilang “belum ngerti saya”, karena rupanya aturan ini dikeluarkan oleh Gubernur sebelumnya pada bulan September 2012 – Pergub DKI Jakarta No. 120 tahun 2012, dimana gedung-gedung komersial dihimbau untuk menaikkan tarif parkirnya.

Belum lagi kenaikan (baca penyesuaian bertahap) tarif listrik yang sudah dimulai per Januari 2013 ini, di susul lagi rencana di 2013 ini, Pemerintah akan menaikkan harga tabung gas elpiji, mengurangi subsidi BBM, dan kenaikan upah pekerja.

Ini semua pasti akan berdampak pada harga dan jasa dari produsen, yang mau tidak mau akan menambah harga jual, yang kemudian akan di bebankan ke konsumen, ya kita- kita ini. Dan yang pasti, biaya-biaya yang menjadi pengeluaran kita juga pasti akan bertambah.

Kenaikan parkir, kenaikan tarif listrik, rencana kenaikan harga gas elpiji, rencana kenaikan harga BBM  dan rencana kenaikan lainnya adalah hal yang uncontrollable, di luar kendali kita, hal seperti ini tidak bisa kita lawan. Tapi kita dapat mengatur ulang kembali strategi anggaran rumah tangga kita (lihat tulisan saya: Uang dan Keluarga).

Next step, ada 2 hal yang bisa dilakukan, pertama menambah penghasilan atau yang kedua mengurangi pengeluaran. Mana yang anda pilih?

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

Catat Pengeluaran Anda!

sumber: notesfromthefield.sd62.bc.ca

sumber: notesfromthefield.sd62.bc.ca

Pernahkah anda merasa bahwa penghasilan yang kita terima tahu-tahu habis saja, ga tahu larinya kemana. Belum sampai gajian yang berikut, sudah habis (hayoo ngakuu…).

Kalau bicara berapa cukup, pasti tidak akan pernah cukup, semakin besar penghasilan, semakin tinggi juga pengeluaran, tergantung lifestyle kita (ini kata kuncinya).

Untuk mengetahui kemana larinya uang kita, kita perlu mencatat dan mencatat secara disiplin, sehingga apa yang sudah kita budget kan di awal bulan bisa kita bandingkan dengan pengeluaran kita (lihat tulisan saya Uang dan Keluarga, 31 Desember 2012 https://rizalplanner.wordpress.com/2012/12/31/uang-dan-keluarga/).

Saat ini sudah banyak aplikasi yang bisa membantu mencatat pengeluaran kita, bisa android atau di iPhone. Kita tinggal masukkan saja setiap kita mengeluarkan uang, baik cash maupun dengan credit card, maka otomatis akan terakumulasi.

Dengan terus menerus melakukan pencatatan ini, maka kita akan terbiasa untuk disiplin budget, dan akan mendorong kita untuk tidak menjadi impulsive buyer alias lapar mata.

Kalau sudah sebulan, maka rekap dari pengeluaran kita akan terlihat di masing-masing pos, mana yang overbudget mana yang underbudget. Seyogyanya, pengeluaran kita harus tidak boleh lebih dari budget atau overbudget, kalau masih di bawah budget atau underbudget, berarti kita sudah disiplin budget. Pos-pos yang underbudget bisa mengkompensasikan pos-pos pengeluaran yang overbudget, sehingga total pengeluaran tetap terkendali.

Mari awali tahun baru dengan lebih baik.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Persiapan Dana Pendidikan Anak

smart baby 

Hari ini hari kerja pertama di tahun 2013 ini, atau ada yang masih mingpitnas (minggu kejepit nasional) ah senangnyaa….Mungkin ada yang ingat, ada salah satu iklan yang bilang: our kids are our future. Its true! Kita perlu mempersiapkan pendidikan anak-anak di masa depan.

Anyway, kalau kemarin kita sudah membuat budget atau bujet atau anggaran, selanjutnya dari kelebihan atau sisa anggaran tersebut, kita berencana untuk mulai mewujudkan resolusi kita, misalnya kita ingin merencanakan dana pendidikan anak untuk kuliah di suatu perguruan tinggi dalam waktu 10 tahun lagi.

  • Asumsi anak kita sekarang dalam usia 7-8 tahun/ 2 SD
  • Total uang kuliah untuk masuk salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negri) saat ini adalah Rp. 100 juta, biaya tersebut sudah termasuk uang pangkal Rp. 60 juta dan uang kuliah Rp. 5 juta per semesternya untuk 4 tahun masa kuliah)
  • Artinya untuk kita para orang tua, dalam 10 tahun lagi, dengan asumsi inflasi pendidikan sebesar 8%, maka dana kuliah yang harus kita persiapkan sebesar Rp. 215.900.000 atau hampir 220% dari biaya sekarang.

Gimana cara mempersiapkannya?

  1. Menabung, hmm, cara ini yang paling konvensional dan harus dilakukan dengan penuh disiplin. Cara yang efektif ialah dengan mendebet langsung rekening kita dan pisahkan dengan rekening operasional kita. Hal ini penting untuk memaksa kita untuk konsisten menabung, sudah banyak perbankan yang menjual produk ini, mulai dari Rp. 100 ribu sebulan, sampai yang jutaan Rupiah dengan iming-iming hadiah seperti gadget jika menempatkan sejumlah dana di awal.
  2. Yang kedua Asuransi, dengan membeli asuransi, kita tidak saja menabung tapi juga terproteksi. Ada banyak banget produk asuransi pendidikan yang di jual di pasaran.
  3. Yang ketiga Investasi, dapat dilakukan dengan memilih instrumen keuangan yang paper based salah satunya adalah reksadana, atau instrument yang non paper based seperti komoditas seperti emas.

Masih dengan asumsi dengan biaya kuliah di atas, selanjutnya bagaimana cara menghitungnya?

  1. Misalnya kita memilih untuk menabung, dengan asumsi bunga bank yang diberikan 3% per tahun, maka tabungan yang mesti kita sisihkan kurang lebih sebesar Rp. 1.500.000 SETIAP BULANNYA SELAMA 10 TAHUN. Maka pada tahun 2023, akan terbentuk dana kurang lebih sebesar Rp. 215.900.000.
  2. Asuransi, tergantung berapa besar premi yang kita sanggup, ada yang bayar bulanan, semesteran atau tahunan. Untuk proteksinya pastikan bahwa produk yang kita beli memberikan waiver premium, artinya kalau ada apa-apa dengan kita sebagai yang bayarin premi, maka si perusahaan asuransi akan tetap melanjutkan pembayaran premi tersebut dan anak kita akan tetap mendapatkan manfaat sesuai polis.
  3. Investasi, misalkan kita memilih reksadana saham sebagai instrumen kita untuk mewujudkan dana pendidikan anak kita, kalau asumsi return reksadana ini sebesar 20% per tahun, maka dana yang perlu kita sisihkan kurang lebih sebesar Rp. 575.000 SETIAP BULANNYA SELAMA 10 TAHUN. Memang ini jauh lebih murah dari pada menabung, tapi please please note, bahwa ada disclaimer nya (DISCLAIMER ON). Tapi bukan berarti impossible ya, saya sebagai Financial Planner, sudah melihat produk yang memberikan return kurang lebih 20%, tergantung pemilihan produk yang tepat dan kinerjanya.

Catch me @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Uang dan Keluarga

Selamat Tahun Baru 2013

 

Toeeetttt, bunyi terompet bersahut-sahutan, selamat tahun baru 2013! Konon menurut hitungan kalender Cina, tahun 2013 adalah tahun Ular, naah shio ular konon tidak bersahabat dengan shio macan (saya sendiri bukan shio macan)

Well, tahun baru sudah di mulai dan rencana keuangan kita awal tahun sudah harus di mulai dari sekarang. Ada yang pengen naik haji, ada yang pengen punya rumah baru, ada yang pengen kuliah lagi, semuanya sebagai resolusi baru 2013.

Apapun resolusi anda di tahun 2013 ini, haruslah kita rencanakan sedini mungkin untuk memberikan waktu yang cukup dalam merealisasikan perencanaan keuangan kita.

Sebagai perencana keuangan alias financial planner, maka langkah pertama yang mesti kita lakukan adalah: menyusun budget, bahasa P erancisnya: bujet atau anggaran. Seperti juga negara Indonesia kita tercinta ini yang mempunyai RAPBN kitapun harus punya RAPRT alias Rencana Anggaran Pembelanjaan Rumah Tangga.

Kita harus mengidentifikasi dulu semua pendapatan-pendapatan kita baik yang rutin maupun yang non rutin. Apa aja sih yang dimaksud pendapatan rutin, misalnya: gaji sang ayah, gaji sang ibu, THR, bonus sedangkan pendapatan non-rutin contohnya: honor dari menulis (misalnya….), komisi dari penjualan barang, seperti komisi agen property, yang kalau berhasil menjual properti tertentu, maka ybs akan mendapatkan sekian persen dari penjualan tsb, sewa dari kos-kosan yang kita punya. Semua pendapatan tersebut kita identifikasi berapa nilainya setiap bulan.

Selanjutnya yang diperlu dilakukan adalah mencatat semua pengeluaran yang rutin dan non rutin serta yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Pengeluaran rutin dan dapat dikendalikan misalnya belanja keperluan rumah tangga, setiap kita pergi belanja ke pasar ataupun supermarket, kita bisa membuat catatan, apa saja yang kita butuhkan yang akan kita beli, misalnya beli gula, kopi, beras, sedangkan pembelian non rutin yang tidak dapat dikendalikan misalnya beli gadget baru, kalau di media massa ada iklan gadget baru yang muncul dan tawaran cicilan 0%, tanyakan lagi diri kita apakah kita membutuhkan gadget tersebut?

What next bosss? Kalau sudah, kita bisa mulai membuat budget tersebut secara bulanan, juga mulai mencatat pengeluaran-pengeluaran kita setiap hari, sehingga kita akan tahu uang kita larinya kemana aja.

Berikut ini contoh dari pembuatan budget yang sederhana.

BUDGET

PENDAPATAN Frekuensi Bulanan Tahunan
Pendapatan Rutin      
Pendapatan bulanan Rp. 10.000.000 Rp. 120.000.000
Pendapatan (istri) bulanan Rp.   8.000.000 Rp.   96.000.000
Bonus tahunan   Rp.
THR tahunan   Rp.   18.000.000
Lainnya tahunan   Rp.
Pendapatan Non Rutin      
Honor mingguan Rp.       250.000 Rp.  1.000.000
Komisi bulanan Rp.  
Sewa bulanan Rp.  
Lainnya bulanan Rp.  
TOTAL PENDAPATAN   Rp. Rp.
       
PENGELUARAN      
PENGELUARAN RUTIN      
Biaya transportasi      
Bensin mingguan Rp.        400.000 Rp.      4.800.000
Angkutan umum bulanan Rp.  
Cicilan kendaraan bulanan Rp.  
Biaya perpanjang STNK tahunan   Rp.
Makan siang di kantor bulanan Rp.  
Lainnya (mis. asuransi mobil) tahunan   Rp.
       
Keperluan Rumah Tangga      
Listrik bulanan Rp.        300.000 Rp.     3.600.000
Air/PAM bulanan Rp.  
Telpon (rumah) bulanan Rp.  
Telpon (HP) bulanan Rp.  
Internet bulanan Rp.  
TV kabel bulanan Rp.  
Gaji pembantu bulanan Rp.  
       
Keperluan Pendidikan Anak      
SPP Anak 1 bulanan Rp.  
SPP anak 2 bulanan Rp.  
Biaya antar jemput bulanan Rp.  
Biaya kegiatan sekolah tahunan   Rp.
       
Kebutuhan Rumah Tangga      
Biaya cicilan rumah bulanan Rp.  
Biaya sewa rumah bulanan Rp.  
Pemeliharaan rumah bulanan Rp.  
Furniture tahunan   Rp.
Kebutuhan bahan pokok bulanan Rp.  
       
PENGELUARAN NON RUTIN      
Hiburan      
Makan di luar/hang out bulanan Rp.  
Nonton tahunan Rp.  
Hobi tahunan   Rp.
Travel tahunan   Rp.
       
Keperluan sosial      
Zakat bulanan Rp.  
Uang saku bulanan Rp.  
Sumbangan bulanan Rp.  
Hadiah tahunan   Rp.
TOTAL PENGELUARAN bulanan Rp. Rp. 
       
SURPLUS/(DEFISIT)   Rp. Rp.

 

Jika sudah ketahuan berapa selisih dari pendapatan dan pengeluaran, maka kita akan tahu apakah kita mempunyai selisih lebih dari pendapatan kita, yang di sebut surplus, atau kita malah nombokin alias defisit.

Ahaa, ternyata budget anda surplus, kelebihan tersebut bisa kita investasikan supaya uang anda tumbuh lebih berkembang lagi, sialnya bos, kalau budget kita ternyata defisit, maka kita perlu menghitung kembali pos-pos pengeluaran yang ada.

Toeeett..!

Contact: rizal.planner@gmail.com

Financial Planner uang & keluarga