Review Investasi Emas di Apps Bukalapak

bukalapak

Salah satu instrumen yang tak lekang jaman dan lazim digunakan untuk investasi adalah emas. Kilau emas selalu memikat, apalagi kalau dikaitkan dengan wanita.

Saat ini, beli emas bisa dilakukan secara online melalui marketplace, salah satunya adalah melalui aplikasi Bukalapak, nama menunya BukaEmas. Khusus emas yang di perjualbelikan melalui BukaEmas adalah Logam Mulia (LM). Bukalapak sendiri hanya sebagai fasilitator, sementara penjualnya sendiri adalah pihak ketiga, sebuah perusahaan swasta.

Untuk mulai berinvestasi emas di Bukalapak, yang pertama perlu dilakukan adalah pendaftaran, untuk bisa beli emas melalui BukaEmas, anda harus buat account dulu, juga mendaftarkan no handphone. Tidak terlalu banyak persyaratan seperti halnya investasi reksadana di Bukareksa, tidak perlu scanned KTP dan menunggu verifikasi. Cukup buat account, anda sudah bisa langsung transaksi.

Selanjutnya dalam apps, istilah beli dan jual disini diterangkan bahwa beli artinya anda sebagai pihak pembeli yang melakukan pembelian emas, dan sebaliknya, jual, artinya, anda sebagai pihak penjual yang melakukan penjualan emas di Apps Bukalapak.

Yang kedua, pembelian, dalam apps Bukalapak, masuk ke menu BukaEmas, maka akan muncul harga beli emas per gram saat itu, karena harga emas selalu di update setiap 15 menit, ada indikator perubahan harga, apakah naik atau turun, juga ada grafik perubahan harga untuk 7 hari, 1 bulan dan 3 bulan dimana anda bisa melihat trend harga emas. Ada tabel harga beli tertinggi hari itu dan harga beli terendah, juga harga pembukaan pada hari itu dan harga penutupan perdagangan hari sebelumnya. Anda bisa beli emas dengan gram terendah 0.0001 gram sampai maksimal 850 gram. Dalam hal pembayaran, Bukalapak bekerjasama dengan Apps Dana (‘Dana’), sehingga untuk pembayaran bisa langsung di debit dari Dana. Cara pembayaran lain adalah melalui transfer bank. Selanjutnya, kalau sudah yakin beli emas dengan jumlah gram pembelian dan harga yang tercantum, tinggal klik bayar.

Yang ketiga, penjualan. Dalam BukaEmas, masuk ke menu Jual. Dalam menu ini mirip dengan yang ada di menu Beli, hanya saja harga yang tercantum adalah harga jual emas per gram. Terdapat pula indikator perubahan harga, naik atau turun, grafik trend perubahan harga serta harga tertinggi, terendah, pembukaan dan penutupan dari sisi jual. Yang notabene pasti selalu lebih rendah dari harga beli.  Jika dihitung, antara harga jual dan harga beli di BukaEmas, terdapat selisih 4%. Contohnya pada saat tulisan ini dibuat, harga beli Rp. 628.608 per gram, harga jualnya ‘hanya’ Rp. 604.000, 4% lebih rendah dari harga beli. Artinya kalau anda beli sekarang dan anda jual sekarang, maka akan rugi 4%.

Penulis mengakumulasikan emas dari 1 Februari 2019 sampai 24 Mei 2019, selama 4 bulan kurun waktu tersebut, memang harga emas dalam trend naik, namun meskipun demikian, pada saat menjual justru, terjadi kerugian. Mengapa? Bisa dilihat pada tabel di bawah:

Tabel 1 Dalam Rp.
Harga beli 1 Feb 2019       619.527
Harga jual 24 Mei 2019       604.000
Kerugian –       15.527
Kerugian dalam %              -3%

 

Tabel 2 Dalam Rp.
Harga beli 1 Feb 2019      619.527
Harga beli 24 Mei 2019      628.600
Kenaikan harga           9.073
Kenaikan dlm %               1%

 

Kalau dilihat tabel 1, ada selisih -3% pada saat jual 24 Mei’19 dengan harga beli 1 Feb’19, padahal, pada tabel 2, harga beli untuk 24 Mei’19 sudah naik 1% jika dibandingkan harga beli 1 Feb’19. Ini artinya, meskipun emas dalam trend naik, tapi karena selisih harga jual dan beli di awal sudah berkisar 4%, maka kenaikan harga emas tidak akan mampu memberikan profit atas selisih tersebut. Kalaupun break even, perlu waktu yang cukup panjang. Sementara kalau anda jual emas LM di toko secara fisik, akan dipotong Rp. 3.000 per gram dari harga beli saat itu. Contohnya, kalau harga beli 24 Mei 2019 Rp. 628.600, maka harga jual kembali Rp. 625.600. Selisihnya hanya 0.005 atau 0.5%.

Yang ke empat, penarikan uang. Jika sudah terjual, uang hasil penjualan emas, akan masuk ke Dana. Untuk melakukan penarikan uang dari Dana, anda perlu menginstall Apps Dana terlebih dahulu, dan juga melakukan registrasi untuk menjadi premium account. Disini perlu foto KTP dan selfie dengan KTP. Proses verifikasinya cepat, hanya 2 jam. Namun untuk dapat melakukan penarikan dana, tidak serta merta langsung bisa, karena Apps Dana selalu memberikan notifikasi bahwa account saya belum terdaftar sebagai premium account. Ini kontradiktif dengan notifikasi verifikasi yang 2 jam tersebut. Meskipun pada akhirnya setelah 2 hari, uang baru bisa ditarik.

Penarikan uang lewat Apps Dana bisa dilakukan lewat menu Cashout, anda tinggal memasukkan no. rekening anda sendiri. Pilihan lain, melalui menu kirim uang (Send Rp), disini pilihan bisa ke rekening bank atau ke no telpon pihak ketiga, anda harus hati-hati, mengecek windows notifikasi persetujuan yang menyatakan bahwa nominal uang akan di kirim ke no HP atau no rekening tujuan untuk memastikan. Setelah klik kirim, uang akan terkirim secara instan, langsung masuk pada rekening tujuan.

Terakhir, penarikan emas. Hanya bisa dilakukan di website Bukalapak, karena di Apps Bukalapak pada smartphone, belum ada fasilitas Tarik Emas. Untuk penarikan emas, ada ongkos pembuatan sertifikat sebesar Rp. 100.000 (saat ini) dan ada biaya kurir yang besarnya lumayan signifikan, nilainya tidak seperti kurir pengiriman belanja online. Besar kecilnya kurir tergantung jarak, contoh lihat tabel 3:

Tabel 3.

Ongkos cetak sertifikat   100.000
Kurir     84.840
Total   184.840

 

Artinya, jika anda menarik emas secara fisik, ada biaya cetak sertifikat dan kurir yang harus dibayarkan.

Kesimpulannya, meskipun jual beli emas lebih efisien dan mudah via online, tapi akan lebih hemat, jual dan beli emas langsung secara fisik di toko emas, just like old school way. Mengapa? Karena pertimbangan selisih jual beli dan biaya-biaya yang timbul di atas. Dimana kalau jual beli di toko emas secara fisik, sertifikat emas juga sudah ada dan tidak ada biaya kurir. Hal lain yang juga patut dipertimbangkan risiko investasi secara online adalah Apps yang mungkin dalam kondisi down atau secara traffic sedang overload, sehingga mengganggu lancarnya transaksi.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

 

 

Review Investasi Reksadana via Apps Bukalapak

bukalapak apps 

Selain market place Tokopedia, kompetitor nya yaitu Bukalapak juga menyediakan layanan pembelian instrumen reksadana via Apps Bukalapak. Sebagai catatan, Bukalapak sebagai agen penjual produk reksadana tidak bertanggung jawab terhadap kinerja reksadana yang dijual.

Ada 3 hal yang bisa jadi perhatian.

Pertama, untuk pendaftaran, karena Bukalapak bekerjasama dengan Bareksa (portal jual beli reksadana online), maka tatacaranya mirip dengan yang ada di Bareksa.com. Anda perlu scanned KTP dan smartphone dan/atau laptop yang touchscreen untuk proses pendaftaran seperti terima sms dan tanda tangan online pada screen. Selanjutnya anda tinggal masuk ke menu BukaReksa (nama yang digunakan Bukalapak sebagai menu jual beli reksadana) lalu klik mulai investasi sekarang. Dari sini ikuti saja instruksi yang diberikan pada layar. Setelah daftar, perlu waktu 1 (satu) hari lamanya untuk account anda di verifikasi. Tidak serta merta pendaftaran online, saat itu juga langsung disetujui. Setelah verifikasi OK, maka baru anda bisa mulai bertransaksi.

Kedua, beli reksadana. Di Bukalapak, saat ini ada 4 jenis reksadana yang dijual:

  1. Pasar uang,
  2. Pendapatan tetap,
  3. Campuran dan
  4. Saham

 

Dari jenis reksadana tersebut, produk yang dijual berturut-turut adalah

  1. Pasar uang, reksadana yang mempunyai risiko rendah:
    1. Mandiri Investa Pasar Uang,
    2. Reksa Dana Syariah Mandiri Bukareksa,
    3. CIMB-P Bukareksa Pasar Uang
  2. Pendapatan Tetap, yang mempunyai risiko menengah:
    1. Syailendra Fixed Income Fund,
    2. CIMB-Principal Total Return Bond Fund,
    3. Mandiri Investa Dana Syariah,
    4. Reksadana Ashmore Dana Obligasi Nusantara,
    5. Bahana MES Syariah,
    6. Manulife Obligasi Negara Indonesia II.
  3. Campuran, juga mempunyai risiko menengah:
    1. Batavia Dana Dinamis,
    2. Kresna Flexima,
    3. Cipta Syariah Balance,
    4. Schroder Dynamic Balanced Fund,
    5. Schroder Dana Kombinasi,
  4. Saham, yang mempunyai risiko tinggi, yaitu:
    1. Manulife Dana Saham,
    2. BNP Paribas Infrastruktur Plus,
    3. BNP Paribas Pesona,
    4. BNP Paribas Pesona Syariah,
    5. Batavia Dana Saham,
    6. Sucorinvest Sharia Equity Fund,
    7. Sucorinvest Maxi Fund, dan
    8. BNP Paribas Ekuitas.

Anda bisa lihat di menu Produk yang ada di BukaReksa. Tinggal dipilih saja mana yang sesuai dengan tujuan dan risk profile anda. Kalau anda hanya punya tujuan jangka pendek, kurang dari 1 tahun, maka pasar uang menjadi pilihan yang tepat, begitu juga seberapa konservatif nya anda, dan sebaliknya. Semakin panjang tujuan anda dan semakin agresif profile anda, reksadana saham bisa menjadi pilihan. Bagusnya, buat yang belum familiar dengan reksadana, BukaReksa menampilkan kategori dari produk reksadana yang ada, apakah masuk risiko rendah atau risiko tinggi. Sehingga investor awam, bisa tahu masuk kategori mana produk reksadana tersebut.

Untuk membeli reksadana, tinggal klik pada salah satu reksadana yang menjadi pilihan, kemudian akan muncul tombol beli, klik saja. Pada tampilan produk, informasi Nilai Aktiva Bersih (NAB) ditampilkan secara jelas, bersamaan dengan kinerja harian nya. Apakah naik atau turun. Begitu juga dengan kinerja per 7 hari, 1 bulan, 3 bulan dan 1 tahun lengkap dengan grafiknya. Menurut saya ini akan membantu investor akan gambaran atas kinerja dari produk reksadana tersebut.

Pembelian minimum tercantum Rp. 10.000, namun di situ sudah tersedia kotak pilihan Rp. 50.000, Rp. 100.000, Rp. 200.000, Rp. 500.000 dan Rp. 1.000.000, atau anda bisa juga menuliskan secara manual pada kotak yang tersedia. Saat ini karena Bukalapak sudah bekerja sama dengan Apps Dana, maka uang untuk beli reksadana bisa digunakan dari saldo yang ada di Dana, atau bisa juga melalui transfer bank. Jika sudah beli, maka kita bisa melihat total harga yang ada dan biaya pembelian – ada produk yang masih memberikan fee gratis tapi ada pula yang sudah berbayar seperti di Schroder Dana Kombinasi. Informasi gratis atau tidak, ada di detail informasi produk. Tinggal klik saja. Secara umum, cara pembelian reksadana mirip dengan anda transaksi belanja online di Apps Bukalapak.

Ketiga, pada saat menjual reksadana, lihat dulu di menu portfolio, reksadana apa saja yang dimiliki. Dari menu portfolio ini, BukaReksa menampilkan berapa keuntungan/kerugian yang di dapat sejak pembelian dilakukan. Jika sudah dipilih pada reksadana yang ingin dijual, klik jual. Bisa jual semua unit bisa sebagian. Kalau ingin menjual semua unit, tinggal klik pada kotak yang tersedia. Kalau sebagian saja, ketik secara spesifik berapa jumlah unit yang ingin di jual. Tampilan ini mirip dengan menu yang ada di Bareksa.com itu sendiri. Info jumlah unit, tersedia di menu portfolio. Jika anda melakukan transaksi jual sebelum jam 13.00, maka akan digunakan NAB pada hari tersebut, tapi jika setelah jam 13.00, maka NAB H+1 atau hari berikutnya yang akan digunakan. Hal ini dikaitkan dengan settlement yang baru bisa dihitung pada akhir/ malam hari.

Selanjutnya bank kustodian, akan mentransfer uang langsung ke rekening anda maksimum 7 hari bursa. Karena menggunakan sistem kliring, maka akan ada biaya Rp. 5.000 untuk beneficiary atau bank tujuan jika berbeda dengan bank asal. Proses jual ini, sangat mudah, seperti halnya menjual barang secara online di marketplace.

Hal lain, sebelum membeli reksadana di marketplace seperti ini, investor juga perlu membaca fund fact sheet dan prospektus yang tersedia di detail informasi produk.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Review Investasi Reksadana Via Apps Tokopedia

tokopedia apps

Sebelum dunia digital berkembang seperti sekarang ini, untuk orang bisa berinvestasi reksadana perlu menghubungi Manager Investasi nya atau melalui bank sebagai agen penjual. Namun sekarang investasi reksadana   bisa dilakukan melalui apps e-commerce yang ada, seperti Tokopedia. Selain untuk belanja barang, bisa juga untuk berinvestasi. Memang ada cara lain untuk berinvestasi melalui reksadana, yaitu melalui portal yang memang mengkhususkan untuk bertransaksi reksadana seperti Bareksa, IPOT atau Tanamduit.

Untuk tulisan kali ini, kita mulai dulu dengan yang ada di Apps Tokopedia. Perlu di catat bahwa pihak agen penjual tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap kinerja Reksadana.

Pertama, untuk daftar, kita harus login dulu, kalau belum punya account, buat dulu. Siapkan foto KTP atau scanned KTP dan smartphone dan/atau laptop yang touchscreen. Selanjutnya, bisa masuk ke menu investasi. Pihak Tokopedia bekerjasama dengan Bareksa untuk menjual reksadana. Isi data dan tandatangan secara digital di smartphone dan/atau laptop. Mirip dengan pendaftaran di Bareksa.com itu sendiri. Setelah diverifikasi 1 hari, baru bisa transaksi. Dari sisi pendaftaran, tidak bisa instan untuk verifikasi, sehingga tidak bisa langsung untuk transaksi.

Kedua, pembelian reksadana di Tokopedia, saat ini, hanya bisa beli 2 produk saja, yaitu Syailendra Dana Kas dan Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra. Pembelian disebutkan mulai Rp. 10.000, tapi di kolom pembelian, akan otomatis tercantum Rp. 20.000, mungkin system default nya seperti itu. Namun kita dapat sesuaikan nominal yang kita mau. Reksadana yang di jual oleh Tokopedia adalah Reksadana Pasar Uang, sehingga cukup minim resikonya. Kedua Reksadana tersebut return nya berturut-turut 5,634% dan 5,701% lebih tinggi sedikit dari Deposito (setelah pajak). Seiring juga dengan return atau hasil yang diberikan, maka risikonya juga rendah, high risk high return, low risk low return. Selain itu, untuk pembelian saat ini juga tersedia fitur langganan reksadana, yang bisa anda klik untuk pembelian reksadana secara regular. Untuk beli, anda bisa transfer atau gunakan saldo OVO yang sekarang bekerjasama dengan Tokopedia. Setelah transfer, pembelian reksadana  akan di proses selama 48 jam. Untuk melihat kinerja reksadana  yang dibeli, Tokopedia kurang menampilkan informasi yang memadai, seperti berapa nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) rata-rata pada saat pembelian dan berapa persen keuntungan/kerugian.

Ketiga, apabila Anda mau melakukan penjualan reksadana, anda perlu memasukkan nilai Rupiahnya. Agak berbeda dengan portal atau e-commerce yang menjual reksadana yang lain, dimana yang dimasukkan adalah nilai unitnya. Karena harga unit, baru akan ditransaksikan untuk settle pada saat akhir hari atau malam hari, sehingga sebenarnya kita belum tahu nilai nominalnya. Itupun bila transaksi dilakukan sebelum pukul 12.00 siang pada hari yang sama. Selanjutnya untuk pencairan dana, dana akan masuk ke saldo Tokopedia atau saldo OVO secara instan. Dana cair seketika ini cukup menarik, karena umumnya, jika menggunakan nilai unit, rata-rata perlu 2 (dua) hari untuk dana masuk ke rekening anda, pertama karena menunggu nilai settlement pada malam hari dan kedua, menunggu transfer dari bank custodian. Karena menggunakan nilai Rupiah, maka penjualan bisa dilakukan pada hari libur, tidak perlu menunggu NAB pada hari kerja berikutnya. Sehingga kalau anda butuh uang segera, maka investasi ini sangat likuid. Apabila anda menginginkan return yang lebih besar dari investasi yang lebih beresiko, maka bukan di Tokopedia tempatnya, karena saat ini, Tokopedia hanya menjual reksadana jenis pasar uang. Apabila dana cair esok harinya tapi menggunakan nilai Rupiah hari ini, maka ada potensi kerugian bunga, meskipun potensi kenaikan bunga relatif kecil untuk jenis reksadana pasar uang seperti ini.

Keempat, transfer dana hasil pencairan dari saldo Tokopedia atau OVO dilakukan secara instan ke rekening yang anda daftarkan di Tokopedia. Ada biaya kliring bila beneficiary bank atau bank tujuan berbeda dengan bank asal, tidak besar, saat ini hanya Rp. 5000, pastikan cukup waktu dalam berinvestasi, sehingga nilai nominal anda tidak tergerus karena biaya ini.

Sebagai penutup, investasi di Tokopedia sangat mudah, seperti halnya membeli barang online. Mulai dari pendaftaran, pembelian, penjualan sampai dana hasil penjualan efektif di rekening. Sehingga anda bisa langsung untuk belanja online kembali begitu uang efektif di rekening. Apabila dikemudian hari Tokopedia menjual reksadana jenis saham, campuran dan pendapatan tetap, maka ada potensi keuntungan atau kerugian yang tidak tercatat bila metode penjualan tetap dilakukan dengan nilai Rupiah.

Catch me: @rizalplanner

Email : rizal.plannerindo@gmail.com

 

Bagaimana Memulai Investasi?

Time To Invest Concept Clock

Pic source: beaconfinancialstrategies

Boy Hazuki Rizal ID 3Maret 2019

Investor Daily 3 Maret 2019: https://id.beritasatu.com/home/bagaimana-memulai-investasi/186106

Apa saja sih yang perlu Anda perhatikan bila mulai berinvestasi? Kenapa harus berinvestasi? Bagaimana cara berinvestasi? Apa saja yang bisa dijadikan instrumen untuk investasi? Setiap manusia yang hidup pasti punya kebutuhan dalam hidupnya, mulai dari kebutuhan tempat tinggal, kendaraan, pakaian, yang bersifat tangible (berwujud) sampai yang intangible (tidak berwujud) seperti pendidikan, berlibur dan lainnya.

Kalau Anda hanya berpikiran jangka pendek seperti hari ini makan siang di mana? Weekend ini mau pergi kemana? Atau, apa yang mesti dilakukan besok? Maka Anda belum berpikiran untuk jangka panjang. Jangka panjang dalam investasi contohnya adalah investasi untuk uang pensiun. Saat ini, penduduk Indonesia, banyak pensiunan yang menggantungkan hidupnya hanya dari uang pensiun saja, yang menurut perhitungan saya tidak cukup. Harus ada investasi tambahan untuk menambah kekurangan dari uang pensiun yang diterima tersebut. Karena setiap tahun biaya hidup semakin meningkat. Ada pula pensiunan yang baru mulai berinvestasi pada saat baru pensiun, dan dilakukan pada jenis investasi yang sangat beresiko (high risk) karena mengharapkan imbal hasil (return) yang tinggi dalam waktu yang singkat, demi masa pensiun. Padahal pada saat pensiun, justru investasi yang harus dilakukan adalah investasi dengan resiko rendah. Untuk menurunkan resiko dan stress yang mungkin terjadi.

Dalam hal berinvestasi, investor wajib mengenali apa itu investasi bodong agar tidak tertipu dan terjebak. Ada 3 (tiga) ciri umum yang bisa dilihat dalam penawaran investasi bodong. Yang pertama, menjanjikan imbal hasil yang tinggi. Kalau rata-rata deposito 7%  per tahun saat ini dan imbal hasil reksadana 15%-18% per tahun, tapi ada pihak yang berani menjamin imbal hasil 70% per tahun, maka patut dicurigai. If its too good to be true, Its not true. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Kedua, legalitas, apakah perusahaan investasi tersebut sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Kalau belum, jangan dilanjutkan. Untuk mengetahui legal atau tidak, bisa di cek langsung di website resmi OJK. Kalau tidak ada, sebaiknya jangan. Yang ketiga, menggunakan sistem Multi Level Marketing (MLM), ada yang menawarkan investasi dengan sistem berjenjang. Apabila sudah mendaftar sebagai anggota, maka harus merekrut sekian orang untuk menjadi downline. Kalau sudah begini, lebih baik dihindari. Bila Anda menemukan investasi dengan ciri-ciri di atas, sebaiknya lapor ke regulator (OJK).

Investasi jangka panjang, umumnya adalah investasi di atas 10 (sepuluh) tahun. Tidak bisa instan, ingin cepat-cepat agar hasil investasinya langsung mendapatkan hasil yang besar. Kunci dari investasi adalah waktu. Semakin panjang waktu yang diberikan, semakin besar hasil yang dapat dicapai. Investasi ini Anda perlukan untuk memberikan Anda dana yang cukup pada saat pensiun nanti, dengan gaya hidup yang Anda inginkan, atau gaya hidup yang mirip dengan yang Anda lakukan sekarang. Kalau Anda ingin gaya hidup yang lebih dari sekarang, maka semakin besar uang yang Anda harus investasikan.

Untuk memulai investasi, ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Anda perlu cek kesehatan keuangan Anda. Caranya dengan membuat laporan keuangan pribadi, membuat arus kas Anda. Apakah pengeluaran Anda sudah lebih kecil daripada gaji yang diterima? Kalau setiap bulan Anda mendapatkan gaji atau pendapatan dari tempat Anda bekerja, maka belanjalah lebih sedikit dari yang Anda terima. Sehingga selisihnya bisa Anda investasikan. Lakukanlahlah terus menerus secara rutin setiap bulan, sehingga hasil investasi Anda bisa membiayai gaya hidup Anda. Contohnya, kalau setiap bulan Anda mendapatkan penghasilan Rp. 20 juta, maka pengeluaran setiap bulan harus kurang dari itu (misalnya Rp. 15 juta), maka selisihnya sebesar Rp. 5 juta dapat diinvestasikan.

Yang kedua, tetapkan tujuan keuangan Anda. Apakah tujuan Anda berinvestasi? Untuk pensiunkah? Berapa waktu yang yang Anda punyai untuk membentuk dana pensiun tersebut? Pemilihan produk investasi disesuaikan dengan jangka waktu. Semakin panjang jangka waktunya, semakin tinggi risiko produk yang dapat dipilih. Sehingga diharapkan, dapat memberikan imbal hasil yang tinggi pula. Sebaliknya, semakin pendek jangka waktunya, pilih instrumen yang rendah resikonya. Kalau Anda masih berumur 30 tahun, masih punya waktu 25 tahun sebelum pensiun, maka instrumen investasi seperti saham atau reksadana saham dapat menjadi pilihan. Sebaliknya, jika Anda sudah berumur 50 tahunan, dan hanya punya waktu < 5 tahun, maka instrumen seperti Obligasi dengan jenis Saving Bond Retail (SBR), Sukuk Tabungan (ST), atau Reksadana Pendapatan Tetap dapat menjadi pilihan.

Instrumen lain yang dapat menjadi pilihan adalah Emas, Deposito, Properti, produk turunan atau derivative dari saham dan obligasi seperti Reksadana Campuran. Jaman now, peer to peer lending juga dapat menjadi alternatif pilihan investasi. Pelajari terlebih dahulu ketentuannya. Selanjutnya, tinggal klik dari gadget Anda, maka anda sudah mulai berinvestasi.

Yang ketiga, faktor resiko. Ini terkait kesanggupan Anda menerima resiko yang timbul. Kalau misalnya Anda berinvestasi pada saham, tapi ternyata membuat jantung Anda berdegup kencang melihat harga saham yang naik turun, maka instrumen saham bukan pilihan yang tepat. Sebaliknya, semakin konservatif Anda, semakin rendah resiko instrumen investasi yang dipilih. Untuk itu perlu pencocokan antara profil resiko dengan produk investasi yang dipilih.

Selamat berinvestasi.

Layanan Peer to Peer (P2P) Lending

fintech ci

Inovasi dan kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah dalam melakukan transaksi keuangan, kapanpun dan dimanapun dengan smartphone di tangan. Cukup klik klik, voila.., transaksi Anda selesai. Memang generasi sekarang benar-benar dimanjakan dengan adanya teknologi digital ini. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai bulan Oktober 2018, sudah terdaftar lebih dari 70 start up Financial Technology (fintech) Lending. Fintech Lending sendiri sebenarnya hanya satu dari beberapa jenis start up jasa keuangan yang sedang marak saat ini. Di Indonesia sendiri jenis start up jasa keuangan ada bermacam-macam, yaitu: crowdfunding, P2P Lending (Peer to Peer Lending), Microfinancing, investasi retail, remitansi, riset keuangan dan perencana keuangan. Total transaksi fintech di Indonesia konon kabarnya mencapai Rp. 202.77 Triliun di tahun 2017.

Start up yang paling banyak menarik perhatian adalah P2P Lending. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Ada yang ingin berinvestasi dengan imbal hasil yang tinggi, dan ada yang ingin mendapatkan pinjaman dengan mudah dan cepat. P2P Lending merupakan wadah yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman dalam satu tempat. Dimana penerima pinjaman bertanggung jawab penuh kepada yang memberi pinjaman. Tidak seperti halnya nasabah bank, yang meminjam uang ke bank, peminjam hanya bertanggung jawab ke bank tersebut, dimana bank berfungsi sebagai intermediari. Yang mendepositokan uangnya tidak tahu uangnya dipinjamkan ke siapa. Jika terjadi macet atau gagal bayar dalam pembayaran pinjaman, maka nasabah hanya berurusan ke bank.

Macet dalam pembayaran pinjaman atau dalam istilah perbankan dikenal sebagai Non Performing Loan (NPL) merupakan masalah serius di bank karena apabila NPL meningkat, maka bisa menggerus laba melalui peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai.

Sebagai pengguna P2P lending baik sebagai pemberi pinjaman maupun penerima pinjaman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah legalitas dari perusahaan P2P lending tersebut. Hal ini dapat di cek melalui website OJK, terdaftar atau tidak. Sehingga calon pengguna jasa mempunyai rasa aman terlebih dahulu, karena sudah ada OJK yang memvalidasi dan mengawasi perusahaan fintech tersebut. Bila tidak terdaftar di OJK, maka lebih baik hindari.

Yang kedua, adalah syarat dan ketentuan pengguna jasa. Misalnya, apakah perusahaan P2P Lending dalam perjanjian diperbolehkan untuk mengakses nomor telepon kontak pengguna? Karena apabila ya, dan ternyata penerima pinjaman gagal bayar, maka perusahaan mempunyai akses atas contact list. Meskipun dalam perjanjian hanya satu, tapi kenyataannya semua. Sudah banyak kasus yang menimpa penerima pinjaman yang gagal bayar sebagai pengguna jasa. Seperti yang pernah disiarkan oleh salah satu TV swasta, mulai dari ancaman pembunuhan, percobaan bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban bunga tinggi, dipecat dari tempat bekerja karena perusahaan fintech menagih ke atasan maupun kolega tempat bekerja, diceraikan pasangan karena perusahaan fintech menagih ke mertua, dan kasus lainnya. Oleh karena itu tanyakan terlebih dahulu apa saja terms and condition dalam perjanjian, sehingga jelas hak dan kewajiban dari konsumen.

Yang ketiga, biaya. Pengguna jasa P2P Lending harus cermat dalam menghitung biaya yang muncul. Jika anda memang harus menggunakan jasa P2P lending ini, hitung terlebih dahulu berapa yang anda bayarkan, sehingga yang anda terima sesuai kebutuhan anda. Karena ada biaya yang dipotong dari total nominal pinjaman. Bagi peminjam, ada biaya administrasi, kurang lebih berkisar 10% dari total pinjaman, dan jika ada tambahan biaya lain maka harus dimasukkan pula dalam perhitungan. Sehingga nominal yang peminjam terima hanya berkisar 90%. Jadi, kalau Anda butuh pinjaman Rp. 1,8 juta, maka nilai yang Anda harus ajukan sebesar Rp. 2 juta.

Yang ke empat, bunga. Bagi pemberi pinjaman tentu akan senang bila dapat imbal hasil yang tinggi. Sejalan dengan itu, semakin besar imbal hasil yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman, otomatis akan berdampak pada bunga yang harus dibayarkan oleh penerima pinjaman. Semakin besar tentu saja semakin mencekik. Bila dihitung dari kasus-kasus yang ada, ada perusahaan P2P Lending yang mengenakan bunga pinjaman selama 2 minggu sebesar 16.8%, artinya bunga 1% lebih per hari nya. Bahkan ada yang mengenakan biaya 30% selama 2 minggu, artinya bunga kurang lebih 2% per hari. Bandingkan dengan bunga kartu kredit sebesar 26.95% per tahun atau 2,25% per bulan. Kalau bunga kartu kredit saja sudah tinggi, bisa dibayangkan bagaimana penerima pinjaman mampu membayar dengan bunga yang lebih tinggi dari itu?

Yang ke lima, Minimalkan risiko melalui diversifikasi. Bagi pemberi pinjaman, demi menghindari kemungkinan gagal bayar dari penerima pinjaman, maka investasikan uang Anda pada beberapa perusahaan P2P Lending. Sehingga apabila ada satu yang gagal bayar, maka masih ada yang lainnya. Kalau ada uang Rp. 100 juta untuk investasi, maka letakkan pada 10 perusahaan P2P Lending, masing-masing sebesar Rp. 10 juta. Risiko investasi akan jauh lebih kecil bila disebar pada 10 perusahaan P2P Lending dibandingkan hanya diletakkan pada satu perusahaan P2P Lending saja. Hal ini seperti resep investasi yang sudah kita kenal: Don’t put all your eggs in one basket. Akan sangat bijak untuk mendiversifikasikan investasi Anda pada beberapa instrumen yang berbeda demi meminimalkan risiko.

Sebagai penutup, baik pemberi maupun penerima pinjaman mempunyai ekspektasi dan risikonya masing-masing. Semakin tinggi ekspektasi imbal hasil, semakin tinggi pula risikonya. Ukur kesanggupan diri masing-masing dalam menerima ekspektasi dan risiko bila memakai jasa P2P Lending ini.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan.

as published in Investor Daily 16 Des 2018: https://id.beritasatu.com/opini/layanan-peer-to-peer-p2p-lending/183640

Boy Hazuki Rizal_ID_16Dec18.JPG

Cermat Berasuransi

 

asuransi jiwa_rizalplanner

Melihat bencana dan kejadian 3 (tiga) bulan terakhir yang terjadi berturut-turut di Indonesia mulai dari gempa bumi di Lombok, likuifaksi di Palu dan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta – Pangkal Pinang di perairan Karawang membuat hati bersedih, berapa banyak keluarga korban yang kehilangan pencari nafkah (bread winner) atas kejadian ini. Ada anak kehilangan bapak, istri kehilangan suami. Namanya musibah memang tidak ada manusia yang mengharapkan dan tidak ada yang tahu kapan terjadinya. Bisa saja kejadian tersebut menimpa Anda dimana saja berada.

Dampak dari kehilangan pencari nafkah bagi keluarga atau tanggungan yang ditinggalkan tentu akan sangat berasa dalam menjalani hidup selanjutnya. Di luar kejadian luar biasa ataupun bencana yang mungkin timbul, seorang kepala keluarga sudah sepatutnya mempunyai perlindungan jiwa atas dirinya. Perlindungan jiwa ini untuk mengantisipasi hilangnya sumber pendapatan dari pencari nafkah, salah satu caranya adalah dengan mempunyai asuransi. Asuransi ini sebagai perlindungan kepada keluarga atau tanggungan yang ditinggalkan. Membeli asuransi itu seperti membeli payung sebelum hujan.

Siapa saja yang perlu asuransi? Menurut hemat saya, orang yang sudah mempunyai tanggungan perlu membeli asuransi. Sebagai bread winner, Anda harus punya payung jika keluarga atau tanggungan Anda kena hujan. Asuransi jiwa ini melindungi penghasilan Anda. Jika Anda sampai meninggal dunia maka istri dan anak-anak atau pihak yang menjadi tanggungan Anda, akan terlindungi. Asuransi jiwa bukan melindungi Anda tapi melindungi orang yang bergantung pada penghasilan Anda dalam hal ini ahli waris Anda bisa istri, anak atau pihak lainnya.

Apa saja yang perlu Anda perhatikan pada saat membeli asuransi?

Yang pertama, belilah perlindungan bukan investasi. Sekarang ini di pasaran memang banyak asuransi yang dikemas sekaligus investasi. Padahal yang dibutuhkan dari asuransi adalah perlindungannya, bukan investasinya. Investasinya dapat dibeli secara terpisah. Jika Anda belum punya perlindungan hendaklah Anda prioritaskan perlindungan saja dulu dibandingkan yang lainnya. Salah satu alasan mengapa harus dipisahkan antara membeli perlindungan dan investasi adalah, kinerja hasil investasi dari produk asuransi ini tidak seoptimal bila anda melakukan investasi secara langsung. Misalnya untuk underlying (dasar portfolio investasi) yang sama, produk investasi langsung memberikan yield (imbal hasil) sebesar 15%, sementara investasi produk asuransi memberikan yield sebesar 10%. Terdapat selisih 5%. Cukup lumayan besar selisih tersebut.

Yang kedua, pastikan ahli waris Anda adalah ahli waris yang cakap hukum. Di Indonesia, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( Burgerlijk Wetboek) pasal 330, disebutkan bahwa jika belum berumur 21 tahun dan tidak kawin sebelumnya, maka belum dapat dikatakan cakap hukum. Artinya yang berhak menerima waris adalah anak yang sudah berusia di atas 21 tahun atau sudah menikah. Jika anak tersebut di bawah 21 tahun tapi sudah menikah, maka anak tersebut dapat dikatakan cakap hukum. Oleh karena itu jika Anda sebagai pemegang polis asuransi, maka pastikan bahwa ahli waris Anda bukan anak yang masih di bawah umur yang belum cakap hukum. Untuk itu ahli waris bisa diberikan kepada wali dari anak tersebut. Dalam hal ini wali bisa pasangan hidup atau orang tua atau pihak yang ditunjuk oleh pemegang polis dalam surat wasiat.

Yang ketiga, belilah asuransi yang memberikan perlindungan terhadap risiko yang ditakuti. Jadi jika ada risiko yang anda takutkan terjadi, pastikan bahwa Anda menemukan risiko tersebut ditanggung oleh pihak asuransi. Misalnya, Anda mempunyai hobi untuk melakukan extreme sports seperti terjun payung, layang gantung, olahraga selam (scuba diving), arung jeram, panjat tebing, pacuan kuda atau balapan mobil atau motor dan kemungkinan terjadi apa-apa dengan Anda pada saat melakukan olahraga tersebut, pasti ada. Untuk itu pastikan Anda menemukan klausula yang menanggung risiko atas extreme sports tersebut dalam polis yang Anda beli. Tidak cukup mengandalkan penjelasan dari agen, karena perusahaan Asuransi hanya akan membayarkan klaim sesuai dengan polis yang tertulis.

Demi mengantisipasi kemungkinan musibah atau kejadian di masa yang akan datang, cermatlah berasuransi, sehingga anda mendapatkan ‘peace of mind’. Bukalah kembali polis asuransi yang Anda sudah beli, bacalah kembali dengan teliti, sehingga Anda tidak mengalami kerugian atas asuransi yang Anda beli.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

Boy Hazuki Rizal_ID_27Nov18.JPG

Bijak dan Cermat Berutang

 

Boy Hazuki Rizal_printID15Okt18

Pernah dapat tawaran telpon untuk mengambil utang? Dengan iming-iming bunga rendah untuk mengambil sisa limit kartu kredit (unused credit) yang tidak terpakai? Apakah Anda sering mendengar bujukan di ujung telpon  “Sayang kalau gak di ambil sisanya..” atau “mumpung lagi bunga promo, murah lho…” dan rayuan sejenis nya. Dalam sehari, tawaran seperti ini bisa berpuluh kali, baik via telpon, sms, email, whatsapp dll. Apalagi jaman now, penawaran instant loan banyak sekali di marketplace, tinggal klik disitu.

Apa saja yang perlu menjadi perhatian kalau Anda mau berutang?  Apa tujuan Anda dari berutang ini?  Ada 3 (tiga) tujuan yang direkomendasikan jika Anda mau berutang. Pertama, utang untuk tujuan membeli aset produktif, misalnya untuk membeli properti. Tentu tidak semua orang mampu membeli secara cash untuk membeli properti, oleh karena itu kredit menjadi salah satu ‘jembatan’ untuk memiliki properti. Dengan berutang melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Anda mendapatkan aset produktif yang nilainya akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja ada bunga yang harus dibayarkan kepada bank atau lembaga keuangan yang memberi pinjaman, tapi seiring dengan berjalannya waktu, jika properti tersebut anda jual, kenaikan harga dari properti tersebut, akan menutup bunga pinjaman tersebut. Kedua, utang untuk tujuan menghasilkan income (pendapatan). Misalnya, Anda membeli motor, motor tersebut kemudian digunakan untuk ojek online. Maka diharapkan pendapatan dari ojek online tersebut dapat digunakan untuk menutup cicilan motor. Yang ketiga, untuk meningkatkan produktivitas, sebagai contoh misalnya Anda mendapat pinjaman untuk renovasi rumah, kemudian anda renovasi garasi Anda, dan kemudian digunakan untuk bengkel motor, sehingga dari usaha bengkel motor tersebut, Anda dapat menutup cicilan bulanan dari pinjaman renovasi tersebut. Utang seperti ini masuk dalam kategori utang yang produktif.

Mengapa Anda perlu berutang? Sebelum mengambil utang, Anda perlu bertanya dulu pada diri Anda sendiri, apakah memang perlu berutang? Umumnya gaya hidup menjadi ‘tuntutan utama’ orang untuk berutang. Seperti keinginan untuk terus exist di sosial media. Keinginan tidak mau ketinggalan dari peers. Sebagai contoh, jika ada teman yang sedang liburan, misalnya di Bali, dan menampilkan foto-foto liburan di sosial media, Anda tidak mau kalah, dan spontan membeli tiket pesawat dan akomodasi lewat kartu kredit dan kemudian mencicil nya selama sekian bulan. Padahal Anda tidak punya budget untuk membiayai liburan Anda. Atau menggunakan kartu kredit untuk membeli pakaian yang brand new  secara terus menerus, agar foto-foto di Instagram selalu di like orang.  Padahal Anda tidak punya uang untuk membayar pakaian tersebut. Contoh-contoh tekanan gaya hidup sosial seperti ini yang membuat orang berutang jadi salah tujuan.

Kalau sudah tahu tujuan Anda untuk berutang, maka sebelum mengajukan utang, cek terlebih dahulu kemampuan bayar Anda. Karena kalau tidak punya kemampuan bayar, sebaiknya tidak perlu berutang. Dan perbankan pasti akan melakukan pengecekan terlebih dahulu atas pengajuan pinjaman Anda. Secara umum kemampuan bayar seseorang dihitung maksimal sebesar 30% dari penghasilan atau sering disebut sebagai Debt Burden Ratio (DBR). Dari rumus ini, bisa dihitung berapa besar cicilan per bulan yang sanggup Anda sisihkan dari penghasilan Anda. Selanjutnya, dihitung berapa lama jangka waktu (tenor) dan berapa jumlah pinjaman (plafond) yang dapat anda terima. Contohnya, jika penghasilan anda per bulan Rp. 15 juta, maka maksimal cicilan yang sanggup Anda pikul hanya 30% saja atau sebesar Rp.4, 5 juta per bulan. Kalau Anda mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) selama 10 tahun, maka jumlah pinjaman yang bisa Anda ambil kurang lebih sebesar Rp. 400 juta.

Yang kedua, yang perlu jadi perhatian adalah suku bunga. Secara umum bisa dibedakan, yang ada agunan dan tanpa agunan. Umumnya di perbankan, pinjaman tanpa agunan, suku bunganya akan lebih besar daripada pinjaman dengan agunan.  Contohnya Kredit Tanpa Agunan (KTA)suku bunganya berkisar 21% – 28% vs Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan kisaran suku bunga 7% – 12%. Mengapa? Karena risiko yang ditanggung pemberi KTA lebih besar, dan untuk menutup risiko tersebut di terjemahkan dengan pengenaan bunga yang lebih tinggi ke konsumen. Untuk pinjaman syariah, dapat dihitung dengan equivalen ke bunga konvensional.

Dengan banyaknya penawaran fasilitas kredit atau pinjaman, Anda tidak perlu kreatif untuk membuat utang baru jika tidak perlu berutang. Karena utang baru berarti kewajiban dan beban baru. Sebaliknya, Anda  dituntut untuk semakin cerdas dan bijak dalam berutang.