Catat Pengeluaran Anda!

sumber: notesfromthefield.sd62.bc.ca

sumber: notesfromthefield.sd62.bc.ca

Pernahkah anda merasa bahwa penghasilan yang kita terima tahu-tahu habis saja, ga tahu larinya kemana. Belum sampai gajian yang berikut, sudah habis (hayoo ngakuu…).

Kalau bicara berapa cukup, pasti tidak akan pernah cukup, semakin besar penghasilan, semakin tinggi juga pengeluaran, tergantung lifestyle kita (ini kata kuncinya).

Untuk mengetahui kemana larinya uang kita, kita perlu mencatat dan mencatat secara disiplin, sehingga apa yang sudah kita budget kan di awal bulan bisa kita bandingkan dengan pengeluaran kita (lihat tulisan saya Uang dan Keluarga, 31 Desember 2012 https://rizalplanner.wordpress.com/2012/12/31/uang-dan-keluarga/).

Saat ini sudah banyak aplikasi yang bisa membantu mencatat pengeluaran kita, bisa android atau di iPhone. Kita tinggal masukkan saja setiap kita mengeluarkan uang, baik cash maupun dengan credit card, maka otomatis akan terakumulasi.

Dengan terus menerus melakukan pencatatan ini, maka kita akan terbiasa untuk disiplin budget, dan akan mendorong kita untuk tidak menjadi impulsive buyer alias lapar mata.

Kalau sudah sebulan, maka rekap dari pengeluaran kita akan terlihat di masing-masing pos, mana yang overbudget mana yang underbudget. Seyogyanya, pengeluaran kita harus tidak boleh lebih dari budget atau overbudget, kalau masih di bawah budget atau underbudget, berarti kita sudah disiplin budget. Pos-pos yang underbudget bisa mengkompensasikan pos-pos pengeluaran yang overbudget, sehingga total pengeluaran tetap terkendali.

Mari awali tahun baru dengan lebih baik.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Persiapan Dana Pendidikan Anak

smart baby 

Hari ini hari kerja pertama di tahun 2013 ini, atau ada yang masih mingpitnas (minggu kejepit nasional) ah senangnyaa….Mungkin ada yang ingat, ada salah satu iklan yang bilang: our kids are our future. Its true! Kita perlu mempersiapkan pendidikan anak-anak di masa depan.

Anyway, kalau kemarin kita sudah membuat budget atau bujet atau anggaran, selanjutnya dari kelebihan atau sisa anggaran tersebut, kita berencana untuk mulai mewujudkan resolusi kita, misalnya kita ingin merencanakan dana pendidikan anak untuk kuliah di suatu perguruan tinggi dalam waktu 10 tahun lagi.

  • Asumsi anak kita sekarang dalam usia 7-8 tahun/ 2 SD
  • Total uang kuliah untuk masuk salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negri) saat ini adalah Rp. 100 juta, biaya tersebut sudah termasuk uang pangkal Rp. 60 juta dan uang kuliah Rp. 5 juta per semesternya untuk 4 tahun masa kuliah)
  • Artinya untuk kita para orang tua, dalam 10 tahun lagi, dengan asumsi inflasi pendidikan sebesar 8%, maka dana kuliah yang harus kita persiapkan sebesar Rp. 215.900.000 atau hampir 220% dari biaya sekarang.

Gimana cara mempersiapkannya?

  1. Menabung, hmm, cara ini yang paling konvensional dan harus dilakukan dengan penuh disiplin. Cara yang efektif ialah dengan mendebet langsung rekening kita dan pisahkan dengan rekening operasional kita. Hal ini penting untuk memaksa kita untuk konsisten menabung, sudah banyak perbankan yang menjual produk ini, mulai dari Rp. 100 ribu sebulan, sampai yang jutaan Rupiah dengan iming-iming hadiah seperti gadget jika menempatkan sejumlah dana di awal.
  2. Yang kedua Asuransi, dengan membeli asuransi, kita tidak saja menabung tapi juga terproteksi. Ada banyak banget produk asuransi pendidikan yang di jual di pasaran.
  3. Yang ketiga Investasi, dapat dilakukan dengan memilih instrumen keuangan yang paper based salah satunya adalah reksadana, atau instrument yang non paper based seperti komoditas seperti emas.

Masih dengan asumsi dengan biaya kuliah di atas, selanjutnya bagaimana cara menghitungnya?

  1. Misalnya kita memilih untuk menabung, dengan asumsi bunga bank yang diberikan 3% per tahun, maka tabungan yang mesti kita sisihkan kurang lebih sebesar Rp. 1.500.000 SETIAP BULANNYA SELAMA 10 TAHUN. Maka pada tahun 2023, akan terbentuk dana kurang lebih sebesar Rp. 215.900.000.
  2. Asuransi, tergantung berapa besar premi yang kita sanggup, ada yang bayar bulanan, semesteran atau tahunan. Untuk proteksinya pastikan bahwa produk yang kita beli memberikan waiver premium, artinya kalau ada apa-apa dengan kita sebagai yang bayarin premi, maka si perusahaan asuransi akan tetap melanjutkan pembayaran premi tersebut dan anak kita akan tetap mendapatkan manfaat sesuai polis.
  3. Investasi, misalkan kita memilih reksadana saham sebagai instrumen kita untuk mewujudkan dana pendidikan anak kita, kalau asumsi return reksadana ini sebesar 20% per tahun, maka dana yang perlu kita sisihkan kurang lebih sebesar Rp. 575.000 SETIAP BULANNYA SELAMA 10 TAHUN. Memang ini jauh lebih murah dari pada menabung, tapi please please note, bahwa ada disclaimer nya (DISCLAIMER ON). Tapi bukan berarti impossible ya, saya sebagai Financial Planner, sudah melihat produk yang memberikan return kurang lebih 20%, tergantung pemilihan produk yang tepat dan kinerjanya.

Catch me @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Uang dan Keluarga

Selamat Tahun Baru 2013

 

Toeeetttt, bunyi terompet bersahut-sahutan, selamat tahun baru 2013! Konon menurut hitungan kalender Cina, tahun 2013 adalah tahun Ular, naah shio ular konon tidak bersahabat dengan shio macan (saya sendiri bukan shio macan)

Well, tahun baru sudah di mulai dan rencana keuangan kita awal tahun sudah harus di mulai dari sekarang. Ada yang pengen naik haji, ada yang pengen punya rumah baru, ada yang pengen kuliah lagi, semuanya sebagai resolusi baru 2013.

Apapun resolusi anda di tahun 2013 ini, haruslah kita rencanakan sedini mungkin untuk memberikan waktu yang cukup dalam merealisasikan perencanaan keuangan kita.

Sebagai perencana keuangan alias financial planner, maka langkah pertama yang mesti kita lakukan adalah: menyusun budget, bahasa P erancisnya: bujet atau anggaran. Seperti juga negara Indonesia kita tercinta ini yang mempunyai RAPBN kitapun harus punya RAPRT alias Rencana Anggaran Pembelanjaan Rumah Tangga.

Kita harus mengidentifikasi dulu semua pendapatan-pendapatan kita baik yang rutin maupun yang non rutin. Apa aja sih yang dimaksud pendapatan rutin, misalnya: gaji sang ayah, gaji sang ibu, THR, bonus sedangkan pendapatan non-rutin contohnya: honor dari menulis (misalnya….), komisi dari penjualan barang, seperti komisi agen property, yang kalau berhasil menjual properti tertentu, maka ybs akan mendapatkan sekian persen dari penjualan tsb, sewa dari kos-kosan yang kita punya. Semua pendapatan tersebut kita identifikasi berapa nilainya setiap bulan.

Selanjutnya yang diperlu dilakukan adalah mencatat semua pengeluaran yang rutin dan non rutin serta yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Pengeluaran rutin dan dapat dikendalikan misalnya belanja keperluan rumah tangga, setiap kita pergi belanja ke pasar ataupun supermarket, kita bisa membuat catatan, apa saja yang kita butuhkan yang akan kita beli, misalnya beli gula, kopi, beras, sedangkan pembelian non rutin yang tidak dapat dikendalikan misalnya beli gadget baru, kalau di media massa ada iklan gadget baru yang muncul dan tawaran cicilan 0%, tanyakan lagi diri kita apakah kita membutuhkan gadget tersebut?

What next bosss? Kalau sudah, kita bisa mulai membuat budget tersebut secara bulanan, juga mulai mencatat pengeluaran-pengeluaran kita setiap hari, sehingga kita akan tahu uang kita larinya kemana aja.

Berikut ini contoh dari pembuatan budget yang sederhana.

BUDGET

PENDAPATAN Frekuensi Bulanan Tahunan
Pendapatan Rutin      
Pendapatan bulanan Rp. 10.000.000 Rp. 120.000.000
Pendapatan (istri) bulanan Rp.   8.000.000 Rp.   96.000.000
Bonus tahunan   Rp.
THR tahunan   Rp.   18.000.000
Lainnya tahunan   Rp.
Pendapatan Non Rutin      
Honor mingguan Rp.       250.000 Rp.  1.000.000
Komisi bulanan Rp.  
Sewa bulanan Rp.  
Lainnya bulanan Rp.  
TOTAL PENDAPATAN   Rp. Rp.
       
PENGELUARAN      
PENGELUARAN RUTIN      
Biaya transportasi      
Bensin mingguan Rp.        400.000 Rp.      4.800.000
Angkutan umum bulanan Rp.  
Cicilan kendaraan bulanan Rp.  
Biaya perpanjang STNK tahunan   Rp.
Makan siang di kantor bulanan Rp.  
Lainnya (mis. asuransi mobil) tahunan   Rp.
       
Keperluan Rumah Tangga      
Listrik bulanan Rp.        300.000 Rp.     3.600.000
Air/PAM bulanan Rp.  
Telpon (rumah) bulanan Rp.  
Telpon (HP) bulanan Rp.  
Internet bulanan Rp.  
TV kabel bulanan Rp.  
Gaji pembantu bulanan Rp.  
       
Keperluan Pendidikan Anak      
SPP Anak 1 bulanan Rp.  
SPP anak 2 bulanan Rp.  
Biaya antar jemput bulanan Rp.  
Biaya kegiatan sekolah tahunan   Rp.
       
Kebutuhan Rumah Tangga      
Biaya cicilan rumah bulanan Rp.  
Biaya sewa rumah bulanan Rp.  
Pemeliharaan rumah bulanan Rp.  
Furniture tahunan   Rp.
Kebutuhan bahan pokok bulanan Rp.  
       
PENGELUARAN NON RUTIN      
Hiburan      
Makan di luar/hang out bulanan Rp.  
Nonton tahunan Rp.  
Hobi tahunan   Rp.
Travel tahunan   Rp.
       
Keperluan sosial      
Zakat bulanan Rp.  
Uang saku bulanan Rp.  
Sumbangan bulanan Rp.  
Hadiah tahunan   Rp.
TOTAL PENGELUARAN bulanan Rp. Rp. 
       
SURPLUS/(DEFISIT)   Rp. Rp.

 

Jika sudah ketahuan berapa selisih dari pendapatan dan pengeluaran, maka kita akan tahu apakah kita mempunyai selisih lebih dari pendapatan kita, yang di sebut surplus, atau kita malah nombokin alias defisit.

Ahaa, ternyata budget anda surplus, kelebihan tersebut bisa kita investasikan supaya uang anda tumbuh lebih berkembang lagi, sialnya bos, kalau budget kita ternyata defisit, maka kita perlu menghitung kembali pos-pos pengeluaran yang ada.

Toeeett..!

Contact: rizal.planner@gmail.com

Financial Planner uang & keluarga