PENTINGNYA BERWASIAT DENGAN CARA YANG BENAR

 

wasiatdictio

pic source: dictiotid

Tidak hanya saat virus Corona melanda seperti saat ini, tapi kapanpun saatnya, selama manusia hidup dan mempunyai harta yang ditinggalkan, maka hendaklah bersiap dengan berwasiat. Bisa jadi saat ini yang perlu membuat wasiat adalah para dokter, suster dan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan virus di Rumah Sakit. Dalam kondisi virus Corona melanda dunia dan negeri Indonesia tercinta, anda bisa melihat laporan dan beritanya di media sosial, berapa banyak orang yang meninggal. Bisa terbayangkan betapa berat keluarga yang ditinggalkan. Untuk itu sebagai kepala keluarga, seandainya skenario risiko terburuk terjadi, persiapkan dan rencanakanlah dengan baik demi keluarga tercinta.

Dalam perencanaan keuangan, ada yang namanya perencanaan distribusi kekayaan atau istilahnya estate planning. Salah satu cara untuk distribusi kekayaan adalah dengan wasiat.

Wasiat adalah dokumen pribadi berupa akta. Akta berisi pernyataan seseorang terhadap apa yang dikehendakinya terjadi setelah ia meninggal, akta ini dapat dicabut kembali. Akta artinya adanya dokumen secara tertulis. Tidak bisa dibuat melalui video atau vlog, karena ini bukanlah akta. Akta dapat dibuat sendiri atau bisa dengan bantuan notaris. Bila dibuat di hadapan Notaris, maka akan dicatat pada Direktorat Harta Peninggalan dan Pusat Daftar Wasiat.

Tujuan berwasiat sendiri adalah memberikan kepastian orang yang anda inginkan memperoleh harta anda, ketika anda meninggal dunia. Selain itu, tentu anda menginginkan keharmonisan keluarga tetap terjadi, tidak terjadi keributan keluarga karena perebutan harta.

Ada 3 (tiga) hal yang perlu di highlights bagaimana berwasiat dengan cara yang benar:

Pertama, harta tercatat dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak. Pastikan bahwa setiap anda melaporkan SPT, harta anda tercatat dengan lengkap dan benar. Bahwa harta inilah yang kemudian akan dibagikan kepada orang-orang yang tertulis dalam wasiat. Karena jika tidak, maka orang-orang yang menerima harta tersebut, akan dianggap menerima tambahan pendapatan. Yang menerima tambahan pendapatan akan terkena pajak, dimana tarif progresif pajak bisa mencapai 25%. Contohnya, kalau anda punya 3 rumah tinggal, 1 ruko, 2 apartemen pastikan semuanya tercatat di laporan SPT anda.

Kedua, perwalian atas anak. Umumnya orang tua akan memberikan hartanya pada anak-anaknya. Kalau anda memberikan harta anda pada anak anda, maka bila anak-anak anda belum mencapai umur 21 tahun, maka anak anda belum cakap hukum. Konsekuensinya anak anda perlu wali. Maka dalam wasiat tersebut ditunjuk juga siapa walinya. Ada beberapa persyaratan untuk menjadi wali, hal yang perlu di highlights, bahwa wali adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Indonesia, serta beragama sama dengan agama yang dianut oleh anak. Jadi kalau ada WNI tapi tidak berdomisili di Indonesia, maka tidak terpenuhi syaratnya menjadi wali, atau bila agama wali ternyata berbeda dengan agama anak, maka tidak bisa pula. Khusus untuk asuransi, tanyakan pada perusahaan asuransi, sampai batas umur berapa seorang anak masih perlu wali? Dan bila perlu cantumkan pula dalam polisnya, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.

Yang ketiga, kemudahan akses terhadap surat wasiat. Kalau terjadi apa-apa dengan anda, maka pastikan bahwa surat wasiat anda dapat di akses dengan mudah, sehingga tidak menghambat dan merugikan proses yang dibutuhkan dalam mengurus wasiat. Misalnya, Salinan surat wasiat dapat disimpan di Notaris yang membuat wasiat. Sehingga jika terjadi apa-apa dapat dengan mudah di akses. Bayangkan bila surat wasiat tersimpan di Safe Deposit Box (SDB) di bank. Untuk mengaksesnya saja perlu prosedur dan persyaratan yang banyak dan bisa memakan waktu, dan berakibat menghambat pelaksanaan dari isi wasiat tersebut.

Bila anda membuat surat wasiat, pastikan hukum mana yang dipilih. Di Indonesia, ada 3 (tiga) hukum yang berlaku, hukum nasional, hukum islam dan hukum adat, pastikan bahwa anda menggunaksan salah satu dari hukum tersebut. Secara kedudukan, ketiga hukum tersebut sama. Jika menggunakan hukum nasional pastikan legitieme portie anak tidak terlanggar. Legitieme portie maksudnya bagian mutlak para ahli waris yang sama sekali tidak dapat dilanggar dengan suatu penetapan yang dimuat dalam wasiat. Ini harus diberikan kepada ahli waris yang berada dalam garis lurus menurut undang-undang. Hal ini dimaksudkan agar ahli waris terlindungi dan tidak dirugikan apabila si pewaris hendak bertindak sewenang-wenang.

Sebagai penutup, pastikan pula bahwa dalam isi wasiat tersebut, ada orang yang ditunjuk untuk melaksanakan wasiat tersebut jika yang membuat wasiat sudah tiada. Penunjukkan orang yang melaksanakan wasiat menjadi hal yang tak kalah penting, karena orang yang ditunjuk tersebut haruslah orang yang netral dan tidak mempunyai kepentingan terhadap wasiat tersebut. Orang yang ditunjuk ini akan menguasai dan membagikan isi wasiat tersebut.

 

Penulis

Boy Hazuki Rizal

Catch me: @rizalplanner (twitter)

 

 

 

 

 

 

 

Marriage with pre nuptial agreement, apa konsekuensinya?

pic source: novylaw.com

pic source: novylaw.com

Di antara orang-orang yang anda kenal mungkin ada yang menikah dengan perjanjian pisah harta (pre nuptial agreement). Perjanjian ini harus di buat sebelum pernikahan dilangsungkan. Kalau dibuatnya setelah pernikahan maka  gak berlaku.

Apa sih pre nuptial agreement  (pre nup) itu? Pre nup adalah Perjanjian pranikah yang mengikat di antara calon suami dan istri yang isinya terkait dengan harta, yang berlaku selama pernikahan hingga jika terjadi perceraian.

Untuk memudahan menjelaskan konsekuensinya, saya berikan ilustrasi berikut.

Masih ingat kasus tahun 2005 yang lalu, di mana salah satu selebriti wanita Indonesia asal Bali, yang bertubuh besar (ga perlu disebut nama yaa) yang menikah, dan setelah 4 tahun kemudian cerai dengan suaminya? Pengadilan mengabulkan perceraian tersebut dengan menetapkan pembagian harta gono gini 50:50. Atas hasil putusan pengadilan tersebut si wanita mengajukan banding, karena si wanita merasa bahwa harta-harta yang diperoleh selama pernikahan tersebut adalah miliknya, karena dia yang bekerja mendapatkannya semua itu. Tapi pengadilan memutuskan bahwa harta gono gini tersebut harus dibagi dua, karena meskipun si wanita merasa dia yang bekerja keras mendapatkan harta tersebut, tapi harta tersebut di dapatkan selama pernikahan berlangsung, maka hakim pengadilan memutuskan untuk membagi dua.

Nah dari cerita tersebut, dapat disimpulkan bahwa pernikahan tersebut dilakukan tanpa perjanjian pisah harta (pre nuptial agreement), maka si lelaki berhak untuk mendapatkan harta gono gini tersebut.

Lain ceritanya bila sebelum menikah mereka membuat pre nuptial agreement, maka:

  1. Harta si wanita akan terlindungi.
  2. Harta si pria juga terlindungi, kalau misalnya, seumpamanya, ternyata dikemudian hari ketahuan bahwa si wanita mempunyai hutang segunung, maka si pria tidak harus menanggung hutang segunung tersebut. Karena si pria juga sudah terlindungi dengan adanya pre nuptial agreement tersebut.

Pre nuptial agreement merupakan tools bagi saya sebagai financial planner untuk perencanaan distribusi kekayaan.

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

Surat Wasiat = Hemat Pajak!

surat wasiat

Dalam 1 hari saya mendapatkan 2 berita duka sekaligus, salah satunya kepergian suami teman saya yang berada di puncak karirnya. Kedua, ibu teman baik saya. Memang hidup mati itu sudah di takdirkan oleh Allah SWT, dan kita sebagai manusia tidak bisa tahu rahasiaNya, dimana dan kapan kita akan kembali padaNya.

Sebagai Financial Planner alias Perencana Keuangan, sisi yang saya lihat adalah bahwa setiap orang yang meninggal pasti akan meninggalkan harta benda yang dimilikinya kepada pewaris, bisa istri, anak, keluarga dalam hubungan sedarah. Dalam financial planning situasi ini  disebut perencanaan distribusi kekayaan atau estate planning. Tidak ada hubungannya dengan real estate perumahan ya bos. Dalam tulisan ini, saya hanya membatasi distribusi kekayaan berupa rumah.

Yuk kita lihat contoh sederhana ini:

Jika seseorang meninggalkan properti berupa rumah, dan sebelum meninggal dunia ia menulis surat waris/wasiat, maka si anak entitle untuk mendapatkan properti tersebut. Namun, jika tidak ada surat waris/ hibah wasiat, maka si anak yang notabene berhak mendapatkan warisan harus mendapatkan surat keterangan ahli waris dari kelurahan dan kecamatan, dan ini pasti ada biayanya! wong bikin KTP aja yang katanya gratis, juga harus bayar, apalagi ini yang ada duitnya (there’s no such free lunch). Biaya ini akan jauh lebih taktis dan hemat, jika si pewaris sudah menuliskan surat wasiat melalui notaris yang di tunjuknya, of course there is price but its worth the price.

Apalagi manfaat surat waris/wasiat?

Dalam hibah wasiat, maka si ahli waris entitle mendapatkan discount 50% dari 5% Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang di atur dalam Peraturan Gubernur DKI No. 112/2011 – ini hanya berlaku untuk wilayah DKI ya guys – nilai ini mau ga mau harus di bayarkan dan di setorkan ke kas daerah, dan dibayarkan saat akte di tandatangani.  Selain itu si ahli waris entitle mendapatkan pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). Jika asumsi Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) rumah tersebut Rp. 500.000.000. secara perhitungan si ahli waris akan hemat pajak Rp. 17.250.000,

Simulasi sederhananya sebagai berikut:

 Dengan Hibah Wasiat  Tanpa Wasiat
 NJOP*

    500,000,000

   
 NPOPTKP**  

 (Rp. 350.000.000)

 (Rp. 80.000.000)

 BPHTB yang dibayarkan  

                           3,750,000

                      21,000,000

 Hemat pajak  

                         17,250,000

 

Ket:

*) Nilai Jual Objek Pajak

**) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak

 

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri ataupun orang tua kita supaya bagi-bagi waris sekarang. Sekedar pengingat, dengan membuat surat wasiat artinya menghemat bayar pajak bagi ahli waris, kita berpikir lebih efektif dan penuh persiapan untuk keluarga kita. Buat apa kita bayar pajak besar, kalau kita bisa hemat pajak, bukan begitu?

Kesimpulannya: Mari kita hemat pajak dengan tetap taat aturan!

 

Catch me: @rizalplanner

@rizal.planner@gmail.com