Review Investasi Reksadana via Apps Bareksa

Apps Bareksa

Salah satu Apps dan/atau portal yang cukup popular digunakan untuk investasi reksadana adalah Bareksa. Portal ini menawarkan layanan digital sebagai agen penjual reksadana atau tempat penjualan reksadana. Tempat penjualan atau agen penjual ini tidak ada hubungannya dengan kinerja reksadana yang mau anda beli.

Yuk kita lihat, bagaimana layanan yang diberikan oleh Apps dan/atau portal Bareksa ini.

Pertama, pendaftaran. Kalau anda belum punya account Bareksa, anda harus mendaftar dulu. Caranya cukup klik hyperlink Buka Account yang ada. Siapkan scan copy KTP, NPWP dan bukti kepemilikan rekening, proses cukup mudah sampai tanda tangan pun cukup secara digital di gadget anda. Kalau anda sudah pernah punya account di Bukalapak atau Tokopedia, maka tidak perlu buka account baru, cukup klik lupa password, maka akan diarahkan untuk mendapatkan password baru.

Jika sudah berhasil buka account baru, maka anda bisa lihat bahwa banyak features di Bareksa seperti Daftar Reksa Dana, Simulasi Reksa Dana, Return Analysis, Newcomers – daftar reksadana yang baru terdaftar dalam industri – yang bisa digunakan untuk meng explore Reksa Dana lebih lanjut. Saat penuli mereview ini, total 1753 Reksa Dana yang ada, namun hanya 195 Reksa Dana yang bisa di beli melalui Bareksa. Artinya tidak semua manager investasi bekerja sama dengan pihak Bareksa agar produknya dapat di jual di agen ini.

Selanjutnya yang kedua, pembelian. Kalau anda sudah tahu tujuan keuangan anda, anda bisa mulai memilih dan membeli Reksa Dana yang di jual di Bareksa. Caranya, masuk dulu pada menu Pembelian, pilih Reksa Dana yang menjadi pilihan anda. Paralel, anda akan mendapatkan konfirmasi melalui email atas pembelian Reksa Dana anda. Dalam email tersebut terdapat no order dan no rekening fund manager. Jika sudah transfer, maka anda wajib untuk mengkonfirmasikan dengan meng-upload bukti transfer tersebut. Bukti transfer tidak boleh dalam bentuk .pdf, tapi harus dalam bentuk .jpg atau .jpeg atau .gif dan harus disampaikan dalam waktu 1×24 jam, jika tidak, maka order beli anda tidak diakui. Kalau portal Bareksa lagi hang, maka anda dapat kirimkan bukti transfer via Whatsapp (WA) ke nomer customer service atau bisa juga via email ke email customer service Bareksa. Ribet memang, apalagi kalau anda transaksi hari Jumat, dimana besoknya libur. Kalau ada apa-apa, harus nunggu hari Senin baru bisa dilayani lagi oleh Bareksa. Proses bayar menurut penulis masih ribet, kurang kekinian dan bisa menimbulkan harap-harap cemas kalau tidak ada respon dari CS atas konfirmasi transfer. Padahal kalau kita bandingkan dengan transaksi di tempat penjualan reksa dana lain secara digital saat ini seperti marketplace Tokopedia, proses bayar sangat mudah dan langsung dikenali secara otomatis. Apps/portal Bareksa masih perlu meningkatkan layanannya untuk hal ini.

Selanjutnya jika sudah dikonfirmasi, anda bisa cek order anda di menu Portfolio, apakah order anda completed atau belum. Kalau belum terjadi transfer dalam waktu 1×24 jam dan/atau tidak di konfirmasi oleh pihak Bareksa, maka status order anda Rejected.

Kalau status order sudah completed, anda akan melihat transaksi anda di menu Transaksi. Di situ akan terlihat berapa Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada saat pembelian. Nama Reksa Dana dan Manager Investasinya, Jumlah unit pembelian, Nilai Transaksi bersih, Biaya transaksi. Total Nilai Transaksi. Yang perlu jadi perhatian, jika anda melakukan transaksi sebelum jam 13.00 WIB pada hari itu, maka pembelian menggunakan NAB pada akhir hari. Namun jika transaksi lewat dari jam 13.00, maka akan digunakan NAB pada keesokan harinya. Bagi anda yang mau melakukan debet otomatis untuk pembelian berkala Reksa Dana, hanya bisa dilakukan lewat rekening BCA. Yang punya non BCA, jangan harap bisa melakukan pembelian berkala dengan debet otomatis.

Yang ketiga, penjualan. Jika anda ingin mencairkan dana anda yang ada di Apps Bareksa, maka anda klik menu Penjualan. Nanti akan terlihat nilai investasi awal dan perkiraan nilai investasi terakhir, sehingga akan terlihat berapa kira-kira persentase return yang di dapat atas pembelian produk Reksa Dana tersebut. Return ini akan di update setiap hari secara otomatis oleh Bareksa, sehingga anda bisa melihat perkembangan portfolio anda.

Jika sudah klik jual, klik juga button konfirmasi, maka akan ada token yang dikirim via sms ke HP anda, untuk mengkonfirmasikan penjualan tersebut. Hal ini juga ribet, karena kalau kita sudah log in dan masuk dengan password ke dalam aplikasi, mestinya sudah terverifikasi. Ini bisa jadi salah satu input untuk Bareksa, agar memangkas prosedur dan mengupdate proses pembayaran dan penjualan nya supaya menjadi lebih ringkas dan otomatis.

Dari hasil penjualan, kalau rekening tujuan anda non BCA, maka akan ada biaya transfer sebesar Rp. 5000 (Lima ribu Rupiah), yang akan langsung di potong dari nominal hasil penjualan. Kalau tidak mau ada biaya transfer, maka pada waktu pendaftaran, gunakan rekening di BCA juga. Uang akan di transfer oleh Bareksa maksimal 7 hari kerja. Tergantung dari bank custodiannya. Dari pengalaman penulis melakukan transaksi jual, uang hasil penjualan sudah masuk rekening dalam 2 (dua) hari kerja. Lumayan cepat.

Secara keseluruhan, features yang diberikan Apps Bareksa bagus, hanya saja untuk proses bayar dan jual masih ribet dan tidak otomatis terkonfirmasi.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

bareksa web

 

 

 

Layanan Peer to Peer (P2P) Lending

fintech ci

Inovasi dan kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah dalam melakukan transaksi keuangan, kapanpun dan dimanapun dengan smartphone di tangan. Cukup klik klik, voila.., transaksi Anda selesai. Memang generasi sekarang benar-benar dimanjakan dengan adanya teknologi digital ini. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai bulan Oktober 2018, sudah terdaftar lebih dari 70 start up Financial Technology (fintech) Lending. Fintech Lending sendiri sebenarnya hanya satu dari beberapa jenis start up jasa keuangan yang sedang marak saat ini. Di Indonesia sendiri jenis start up jasa keuangan ada bermacam-macam, yaitu: crowdfunding, P2P Lending (Peer to Peer Lending), Microfinancing, investasi retail, remitansi, riset keuangan dan perencana keuangan. Total transaksi fintech di Indonesia konon kabarnya mencapai Rp. 202.77 Triliun di tahun 2017.

Start up yang paling banyak menarik perhatian adalah P2P Lending. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Ada yang ingin berinvestasi dengan imbal hasil yang tinggi, dan ada yang ingin mendapatkan pinjaman dengan mudah dan cepat. P2P Lending merupakan wadah yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman dalam satu tempat. Dimana penerima pinjaman bertanggung jawab penuh kepada yang memberi pinjaman. Tidak seperti halnya nasabah bank, yang meminjam uang ke bank, peminjam hanya bertanggung jawab ke bank tersebut, dimana bank berfungsi sebagai intermediari. Yang mendepositokan uangnya tidak tahu uangnya dipinjamkan ke siapa. Jika terjadi macet atau gagal bayar dalam pembayaran pinjaman, maka nasabah hanya berurusan ke bank.

Macet dalam pembayaran pinjaman atau dalam istilah perbankan dikenal sebagai Non Performing Loan (NPL) merupakan masalah serius di bank karena apabila NPL meningkat, maka bisa menggerus laba melalui peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai.

Sebagai pengguna P2P lending baik sebagai pemberi pinjaman maupun penerima pinjaman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah legalitas dari perusahaan P2P lending tersebut. Hal ini dapat di cek melalui website OJK, terdaftar atau tidak. Sehingga calon pengguna jasa mempunyai rasa aman terlebih dahulu, karena sudah ada OJK yang memvalidasi dan mengawasi perusahaan fintech tersebut. Bila tidak terdaftar di OJK, maka lebih baik hindari.

Yang kedua, adalah syarat dan ketentuan pengguna jasa. Misalnya, apakah perusahaan P2P Lending dalam perjanjian diperbolehkan untuk mengakses nomor telepon kontak pengguna? Karena apabila ya, dan ternyata penerima pinjaman gagal bayar, maka perusahaan mempunyai akses atas contact list. Meskipun dalam perjanjian hanya satu, tapi kenyataannya semua. Sudah banyak kasus yang menimpa penerima pinjaman yang gagal bayar sebagai pengguna jasa. Seperti yang pernah disiarkan oleh salah satu TV swasta, mulai dari ancaman pembunuhan, percobaan bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban bunga tinggi, dipecat dari tempat bekerja karena perusahaan fintech menagih ke atasan maupun kolega tempat bekerja, diceraikan pasangan karena perusahaan fintech menagih ke mertua, dan kasus lainnya. Oleh karena itu tanyakan terlebih dahulu apa saja terms and condition dalam perjanjian, sehingga jelas hak dan kewajiban dari konsumen.

Yang ketiga, biaya. Pengguna jasa P2P Lending harus cermat dalam menghitung biaya yang muncul. Jika anda memang harus menggunakan jasa P2P lending ini, hitung terlebih dahulu berapa yang anda bayarkan, sehingga yang anda terima sesuai kebutuhan anda. Karena ada biaya yang dipotong dari total nominal pinjaman. Bagi peminjam, ada biaya administrasi, kurang lebih berkisar 10% dari total pinjaman, dan jika ada tambahan biaya lain maka harus dimasukkan pula dalam perhitungan. Sehingga nominal yang peminjam terima hanya berkisar 90%. Jadi, kalau Anda butuh pinjaman Rp. 1,8 juta, maka nilai yang Anda harus ajukan sebesar Rp. 2 juta.

Yang ke empat, bunga. Bagi pemberi pinjaman tentu akan senang bila dapat imbal hasil yang tinggi. Sejalan dengan itu, semakin besar imbal hasil yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman, otomatis akan berdampak pada bunga yang harus dibayarkan oleh penerima pinjaman. Semakin besar tentu saja semakin mencekik. Bila dihitung dari kasus-kasus yang ada, ada perusahaan P2P Lending yang mengenakan bunga pinjaman selama 2 minggu sebesar 16.8%, artinya bunga 1% lebih per hari nya. Bahkan ada yang mengenakan biaya 30% selama 2 minggu, artinya bunga kurang lebih 2% per hari. Bandingkan dengan bunga kartu kredit sebesar 26.95% per tahun atau 2,25% per bulan. Kalau bunga kartu kredit saja sudah tinggi, bisa dibayangkan bagaimana penerima pinjaman mampu membayar dengan bunga yang lebih tinggi dari itu?

Yang ke lima, Minimalkan risiko melalui diversifikasi. Bagi pemberi pinjaman, demi menghindari kemungkinan gagal bayar dari penerima pinjaman, maka investasikan uang Anda pada beberapa perusahaan P2P Lending. Sehingga apabila ada satu yang gagal bayar, maka masih ada yang lainnya. Kalau ada uang Rp. 100 juta untuk investasi, maka letakkan pada 10 perusahaan P2P Lending, masing-masing sebesar Rp. 10 juta. Risiko investasi akan jauh lebih kecil bila disebar pada 10 perusahaan P2P Lending dibandingkan hanya diletakkan pada satu perusahaan P2P Lending saja. Hal ini seperti resep investasi yang sudah kita kenal: Don’t put all your eggs in one basket. Akan sangat bijak untuk mendiversifikasikan investasi Anda pada beberapa instrumen yang berbeda demi meminimalkan risiko.

Sebagai penutup, baik pemberi maupun penerima pinjaman mempunyai ekspektasi dan risikonya masing-masing. Semakin tinggi ekspektasi imbal hasil, semakin tinggi pula risikonya. Ukur kesanggupan diri masing-masing dalam menerima ekspektasi dan risiko bila memakai jasa P2P Lending ini.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan.

as published in Investor Daily 16 Des 2018: https://id.beritasatu.com/opini/layanan-peer-to-peer-p2p-lending/183640

Boy Hazuki Rizal_ID_16Dec18.JPG

SEKSINYA INVESTASI DI PEER TO PEER LENDING

invdaily_Boy Hazuki Rizal

http://id.beritasatu.com/opini/seksinya-investasi-di-peer-to-peer-lending/172694

 

P2P sebagai alternatif investasi

Kemajuan teknologi digital zaman now, membawa banyak perubahan, salah satunya dari sisi finansial. Kalau dulu kita perlu datang ke bank atau institusi keuangan lainnya untuk investasi, sekarang cukup dengan smartphone Anda. Tinggal klik, anda sudah bisa memilih investasi seperti apa yang Anda mau.  Saat ini salah satu pilihan untuk investasi adalah melalui Peer to Peer Lending (P2PL). Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place dimana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online. Saat ini P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternatif channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

Dalam pendanaan online yang di fasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana yang dibuka oleh perusahaan tekfin dalam platform mereka. Siapa saja boleh berpartisipasi dengan mengikuti syarat dan ketentuan dari masing-masing platform tekfin. Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan.  Sepertinya halnya perbankan, credit scoring juga dilakukan oleh tekfin untuk menilai karakter dan kapasitas dari si peminjam.

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi konvensional seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang ‘hanya’ memberikan imbal hasil berkisar antara 15%-20% per tahun.

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan. Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang disematkan dalam proposal pinjaman online tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Sebagai contoh, misalnya X mengajukan proposal pinjaman dan setelah dilakukan penilaian, mendapatkan grade A+, maka bunga yang dikenakan 12%, artinya kemampuan dan kapasitas bayar X sangat meyakinkan, sementara  Y mendapatkan grade C-, bunga yang dikenakan oleh tekfin 22%, artinya risiko Y kemungkinan gagal bayar atau default, di kompensasi dengan suku bunga yang tinggi. Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Seperti umumnya orang berbisnis, pasti ujungnya adalah untung, kalau bisnis tapi tidak untung kan buat apa. Untuk melihat untung atau tidaknya, bisa di lihat melalui laporan keuangan. Laporan keuangan ini menampilkan kinerja dari bisnis tersebut. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi. Dalam hal ini, anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisa yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan di platform.

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memotong. Namanya bisa service fee, biaya platform, biaya layanan, biaya administrasi, dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan prosentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1%-3%. Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima sebagai imbal hasil ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besarnya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

Sesuaikan kemampuan dan tujuan investasi

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp. 100 juta, ada yang minimummya Rp. 10 juta, dan ada juga yang hanya Rp. 100 ribu. Ada platform yang mengharuskan pendanaan atau investasi harus kelipatan Rp. 1 juta untuk pendanaan individu atau Rp. 5 juta untuk bisnis. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

Yang ke empat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbeda-beda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp. 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan pendanaan masing-masing @Rp. 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda-beda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp. 10 juta. Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 25 Januari 2018, sudah ada 32 perusahaan tekfin yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional  dan lebih seksi dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional.

Sebagai investor, Anda juga di tuntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.

Boy Hazuki Rizal ID_2Mar2018

PENDANAAN ONLINE

Tulisan ini merupakan sisi lain dari tulisan saya sebelumnya mengenai pinjaman online (Tabloid Kontan, 15-21 Januari 2018). Sisi lain dari pinjaman online dalam Peer to Peer Lending (P2PL) adalah pendanaan online. Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place dimana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online, dan P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternatif channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

Dalam pendanaan online yang di fasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana. Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan.  Dalam penilaian perusahaan tekfin, ada grade yang diberikan atas proposal pinjaman, semakin tinggi risiko peminjam, maka semakin tinggi pula imbal hasil yang diberikan kepada pemberi dana.

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang memberikan imbal hasil berkisar antara 15%-20% per tahun.

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian.

Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan. Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang dilsematkan dalam proposal tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi. Anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisa yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan.

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memungut. Namanya bisa service fee, biaya layanan, biaya administrasi, biaya platform dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan prosentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1%-3%. Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima (imbal hasil) ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besar nya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp. 100 juta. Ada juga yang minimum Rp. 10 juta,tapi  ada yang hanya Rp. 100 ribu. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

Yang ke empat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbeda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp. 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan investasi masing-masing @Rp. 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp. 10 juta. Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 9 Desember 2017, sudah ada 28 perusahaan tekfin yang terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional  dan lebih sexy dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional.

Sebagai investor, Anda juga di tuntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.

 

 

 

TIPS INVESTASI ONLINE

pic source: ljitechnologies.com

pic source: ljitechnologies.com

Salah satu cara untuk meningkatkan kekayaan adalah melalui investasi. Yup investasi.., salah satu pilihan investasi adalah melalui reksadana. Kita bisa lebih cepat mengakumulasikan dana kita melalui reksadana. Tentu hal pertama yang perlu kita pastikan adalah tujuan kita untuk apa? Apakah untuk pendidikan anak? Untuk umroh? Travelling dsb? Sehingga jangka waktu investasinya pun disesuaikan dengan tujuan kita. Kalau sudah tahu tujuannya untuk apa dan berapa lama, maka besarannya pun bisa dihitung menyesuaikan tujuan dan jangka waktu.

Bagaimana menentukan pilihan investasi reksadana yang tepat? Secara gambaran besar dibagi 3 (tiga), kalau tujuannya untuk jangka waktu pendek, sekitar 1-2 tahun, penempatan dananya di pasar uang, untuk jangka waktu menengah 3-5 tahun, di fixed income (obligasi), sedangkan untuk jangka panjang 5-7 tahun, penempatannya di saham. Selain itu kita sebagai investor juga harus paham risiko yang ada, hampir tidak ada investasi yang tidak berisiko, karena deposito di bank pun tetap ada risikonya. Yang paling ekstrim adalah ‘hilangnya’ uang kita, ‘hilang’nya disini misalnya karena kondisi eksternal seperti pasar saham yang lagi anjlok atau bank yang di ‘rush’. Seperti kejadian tahun 1998 dimana terjadi kerusuhan politik di Jakarta, yang berdampak penjualan besar-besaran saham di pasar modal, sehingga dana yang di tempatkan di saham akan anjlok mengikuti underlying nya (acuan investasinya).

Selain itu kita, kita juga perlu tahu toleransi risiko kita, seberapa besar kita bisa mentolerir risiko atas investasi tersebut, misalnya seperti contoh kejadian di atas, kalau tiba-tiba kita kehilangan duit karena ada kejadian ekstrim, apakah kita sanggup menerimanya? Bisa repot kan kalau sampai kena stroke, tekanan darah tinggi atau stress. Bila kita tidak sanggup menerima high risk tersebut, maka pilihan kita bisa turun ke investasi yang portfolio yang lebih rendah risiko nya, otomatis lebih rendah juga return (tingkat pengembalian investasi) nya.

Saat ini cara investasi pun semakin mudah, sudah bisa dilakukan online, Investasi Reksa Dana Online DIM, Investasi aman dan mudah, kita bisa tahu kinerja masing-masing reksadana dan juga bisa membandingkan dengan pilihan yang ada. Investasi online diperkirakan akan meningkat, hal ini seiring dengan meningkatkan jumlah investor di Indonesia yang naik 104.88% dibandingkan dengan periode sebelumnya, menjadi 886.574 per 20 Desember 2016 (sumber: kompas.com).

Yang terakhir adalah disiplin kita berinvestasi, karena tanpa disiplin mustahil kita bisa mencapai dana yang kita impikan tersebut. Dengan investasi online, kita dimudahkan untuk memilih pemotongan /pendebetan langsung rekening kita untuk pembelian investasi tersebut. Caranya kurang lebih sama seperti kalau kita cicil rumah (KPR), bedanya kalau kita telat bayar cicilan rumah, akan ada yang datangin kita, telponin kita, sampai mengancam kita, tapi kalau kita telat taruh dana untuk investasi di rekening, tidak ada yang datengin atau telpon mengingatkan kita, yang kecewa adalah kita sendiri di ujungnya nanti.

Yuk mulai investasi…!

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog ‘Blogging Competition – Reksa Dana Online DIM, Investasi Aman dan Mudah’. Isi dan tulisan dari artikel/blog post ini diluar tanggung jawab Danareksa Investment Management

blog competition