Bijak dan Cermat Berutang

 

Boy Hazuki Rizal_printID15Okt18

Pernah dapat tawaran telpon untuk mengambil utang? Dengan iming-iming bunga rendah untuk mengambil sisa limit kartu kredit (unused credit) yang tidak terpakai? Apakah Anda sering mendengar bujukan di ujung telpon  “Sayang kalau gak di ambil sisanya..” atau “mumpung lagi bunga promo, murah lho…” dan rayuan sejenis nya. Dalam sehari, tawaran seperti ini bisa berpuluh kali, baik via telpon, sms, email, whatsapp dll. Apalagi jaman now, penawaran instant loan banyak sekali di marketplace, tinggal klik disitu.

Apa saja yang perlu menjadi perhatian kalau Anda mau berutang?  Apa tujuan Anda dari berutang ini?  Ada 3 (tiga) tujuan yang direkomendasikan jika Anda mau berutang. Pertama, utang untuk tujuan membeli aset produktif, misalnya untuk membeli properti. Tentu tidak semua orang mampu membeli secara cash untuk membeli properti, oleh karena itu kredit menjadi salah satu ‘jembatan’ untuk memiliki properti. Dengan berutang melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Anda mendapatkan aset produktif yang nilainya akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja ada bunga yang harus dibayarkan kepada bank atau lembaga keuangan yang memberi pinjaman, tapi seiring dengan berjalannya waktu, jika properti tersebut anda jual, kenaikan harga dari properti tersebut, akan menutup bunga pinjaman tersebut. Kedua, utang untuk tujuan menghasilkan income (pendapatan). Misalnya, Anda membeli motor, motor tersebut kemudian digunakan untuk ojek online. Maka diharapkan pendapatan dari ojek online tersebut dapat digunakan untuk menutup cicilan motor. Yang ketiga, untuk meningkatkan produktivitas, sebagai contoh misalnya Anda mendapat pinjaman untuk renovasi rumah, kemudian anda renovasi garasi Anda, dan kemudian digunakan untuk bengkel motor, sehingga dari usaha bengkel motor tersebut, Anda dapat menutup cicilan bulanan dari pinjaman renovasi tersebut. Utang seperti ini masuk dalam kategori utang yang produktif.

Mengapa Anda perlu berutang? Sebelum mengambil utang, Anda perlu bertanya dulu pada diri Anda sendiri, apakah memang perlu berutang? Umumnya gaya hidup menjadi ‘tuntutan utama’ orang untuk berutang. Seperti keinginan untuk terus exist di sosial media. Keinginan tidak mau ketinggalan dari peers. Sebagai contoh, jika ada teman yang sedang liburan, misalnya di Bali, dan menampilkan foto-foto liburan di sosial media, Anda tidak mau kalah, dan spontan membeli tiket pesawat dan akomodasi lewat kartu kredit dan kemudian mencicil nya selama sekian bulan. Padahal Anda tidak punya budget untuk membiayai liburan Anda. Atau menggunakan kartu kredit untuk membeli pakaian yang brand new  secara terus menerus, agar foto-foto di Instagram selalu di like orang.  Padahal Anda tidak punya uang untuk membayar pakaian tersebut. Contoh-contoh tekanan gaya hidup sosial seperti ini yang membuat orang berutang jadi salah tujuan.

Kalau sudah tahu tujuan Anda untuk berutang, maka sebelum mengajukan utang, cek terlebih dahulu kemampuan bayar Anda. Karena kalau tidak punya kemampuan bayar, sebaiknya tidak perlu berutang. Dan perbankan pasti akan melakukan pengecekan terlebih dahulu atas pengajuan pinjaman Anda. Secara umum kemampuan bayar seseorang dihitung maksimal sebesar 30% dari penghasilan atau sering disebut sebagai Debt Burden Ratio (DBR). Dari rumus ini, bisa dihitung berapa besar cicilan per bulan yang sanggup Anda sisihkan dari penghasilan Anda. Selanjutnya, dihitung berapa lama jangka waktu (tenor) dan berapa jumlah pinjaman (plafond) yang dapat anda terima. Contohnya, jika penghasilan anda per bulan Rp. 15 juta, maka maksimal cicilan yang sanggup Anda pikul hanya 30% saja atau sebesar Rp.4, 5 juta per bulan. Kalau Anda mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) selama 10 tahun, maka jumlah pinjaman yang bisa Anda ambil kurang lebih sebesar Rp. 400 juta.

Yang kedua, yang perlu jadi perhatian adalah suku bunga. Secara umum bisa dibedakan, yang ada agunan dan tanpa agunan. Umumnya di perbankan, pinjaman tanpa agunan, suku bunganya akan lebih besar daripada pinjaman dengan agunan.  Contohnya Kredit Tanpa Agunan (KTA)suku bunganya berkisar 21% – 28% vs Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan kisaran suku bunga 7% – 12%. Mengapa? Karena risiko yang ditanggung pemberi KTA lebih besar, dan untuk menutup risiko tersebut di terjemahkan dengan pengenaan bunga yang lebih tinggi ke konsumen. Untuk pinjaman syariah, dapat dihitung dengan equivalen ke bunga konvensional.

Dengan banyaknya penawaran fasilitas kredit atau pinjaman, Anda tidak perlu kreatif untuk membuat utang baru jika tidak perlu berutang. Karena utang baru berarti kewajiban dan beban baru. Sebaliknya, Anda  dituntut untuk semakin cerdas dan bijak dalam berutang.

3 tips memilih bank untuk KPR

source: belisewarumah.com

source: belisewarumah.com

 

Kalau anda sudah ketemu dengan properti, rumah, ruko atau apartemen yang cocok dengan anda, yang ingin anda beli, tentu anda ingin segera merealisasikannya. Salah satu caranya dengan pinjaman dari bank atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Bila anda beli melalui perantara/broker, bisa saja si broker punya jalur ke bank yang biasa menjadi langganan bagi kliennya. Tapi jika tidak, maka anda sendirilah yang mencari jalur ke bank, bisa lewat teman, telpon langsung ke bank, datang langsung ke cabang bank tersebut.

 

Ada 3 tips yang perlu diperhatikan dalam memilih bank untuk KPR anda:

1. Pilih bank yang memberikan fleksibilitas atas kredit yang diberikan,

maksudnya bank tersebut mengikuti prosedur tapi tidak kaku. Contohnya begini, ada satu bank besar, sebut saja Bank X, yang minta semua persyaratan dokumen harus di penuhi, setelah di hitung, ternyata rasio cicilan anda tidak cukup. Tapi jika ternyata anda punya sumber pendapatan lain, maka bank akan menambah sumber pendapatan lain tersebut, sehingga rasio cicilan anda mencukupi. Rasio tersebut disebut sebagai debt burden ratio (DBR) artinya cicilan anda per total penghasilan anda, nilainya maksimal 30%. Kalau cicilan anda 10 juta per bulan, maka minimal total penghasilan anda (dan pasangan) dalam sebulan harus Rp.30 juta, karena kalau DBR lebih dari 30%, akan di anggap akan mengganggu cash flow keuangan anda. Artinya terlalu banyak pengeluaran lain yang mungkin dapat mengganggu kelancaran pembayaran cicilan anda.

 

2. Pilihlah bank yang memberikan plafond tertinggi

Hal ini bisa terjadi bila anda mengajukan KPR pada lebih dari 1 (satu) bank. Boleh-boleh saja, ini untuk memberikan pilihan kepada anda, bank mana yang paling favorable buat anda.

Aturan pembiayaannya anda adalah 70% dari harga beli, karena 30% merupakan uang muka (down payment) yang harus di bayar secara cash. Pada waktu anda mengajukan permintaan kredit, bank akan menilai properti tersebut, Iapi bisa jadi hasil appraisal (penilaian) atas properti yang anda akan beli, nilainya di bawah harga pasar dan di bawah dari nilai penawaran anda. Ini akan berakibat plafond (nilai pinjaman yang di setujui) akan lebih kecil. Dampaknya uang muka yang harus disediakan lebih dari 30%. Setiap bank punya mekanisme dan sistem perhitungan yang berbeda. Ilustrasinya, dengan pengajuan pinjaman yang sama misalnya Rp. 500 juta, bank A hanya setuju memberikan pinjaman 475 juta, bank B hanya Rp. 450 juta dan bank C setuju Rp. 500 juta. Maka pilihlah bank C.

 

3. Pilih bank yang memberikan bunga fixed paling lama.

Mengapa bunga fixed? Karena umumnya bank yang memberikan bunga fixed paling lama, bagi anda sebagai nasabah akan menguntungkan dalam hal mengatur cash flow, karena selama periode tersebut, cicilan anda akan tetap. Misalnya bunga 9,75% selama 4 tahun, maka selama 4 tahun tersebut, cicilan anda akan tetap misalnya Rp. 5 juta per bulan, tapi begitu menginjak tahun ke-5, maka cicilan akan berubah dan umumnya naik dan pasti naik (kalau yang ini sepertinya ga perlu di jelasin kenapa…) misalnya bunga akan naik jadi 14%, dan cicilan per bulan nya menjadi Rp. 6,3 juta. Ini hanya ilustrasi sederhana saja.

 

Tiga hal tersebut adalah hal-hal yang perlu menjadi concern anda pada saat memilih bank untuk KPR.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

 

Bunga KPR: pilih yang mana, fix atau floating?

man move to lower interest

Kalau kita sudah ketemu properti yang akan kita beli, baik rumah idaman, apartemen dambaan, atau ruko impian kita, maka salah satu cara pembayarannya adalah dengan pinjaman dari bank.

Saat ini banyak bank yang menawarkan KPR/KPA dengan bunga fix (tetap) dan banyak juga yang menawarkan bunga floating (mengambang). Kalau kita harus memilih, pilihlah bunga fix dengan tenor (jangka waktu) paling lama. Misalnya ada penawaran KPR:  9,75% untuk 4 tahun, 8,88% untuk 3 tahun, 7,11% untuk 2 tahun, maka pilihlah yang pertama: 9,75% untuk 4 tahun. Mengapa? Karena dengan memilih bunga fix selama 4 tahun pertama, artinya cicilan yang kita bayarkan ke bank akan tetap selama 4 tahun. Dan ini penting untuk menjaga cash flow kita dan rencana-rencana keuangan lainnya. Tapi bila kita pilih bunga floating (mengambang) artinya cicilan kita bisa berubah-ubah setiap saat/periode, misalnya, bunga 12 bulan pertama 12%, maka belum tentu untuk bunga 12 bulan berikutnya masih 12%, bisa jadi malah naik jadi 13%, yang sering disebut sebagai penyesuaian bunga pinjaman yang karena berbagai faktor biasanya naik, dan kalau pun turun karena patokan suku bunga seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) turun, maka turunnya bunga KPR bisa lamaa banget dan mungkin saja stabil di angka awal.

Contoh sederhana dari cerita di atas misalnya kalau kita beli rumah dengan pinjaman 10 tahun dari bank sebesar  Rp. 500 juta, bunga KPR  fix 9,75% selama 4 tahun, maka cicilan kita per bulan Rp. 6,5 juta, jumlah ini tetap selama 4 tahun pertama, sedangkan untuk sisa 6 tahunnya akan kena bunga floating yang umumnya lebih tinggi dari bunga fix,  tapi bila sejak awal  kita pilih bunga floating 12%, maka cicilan kita pada awal periode sudah sebesar Rp. 7,2 juta. Untuk awalnya saja ada selisih Rp. 700 ribu perak yang merupakan  extra tambahan 2,25% bunga yang mesti kita bayarkan ke bank sejak awal. Tentu saja ini merugikan bagi kita sebagai konsumen. Kalau kita bisa bayar bunga lebih murah kenapa harus bayar mahal?

Memang setelah masa akhir bunga fix 4 tahun, kita akan dikenakan bunga floating oleh bank yang umumnya lebih tinggi dari bunga fix. Karena disinilah bank mendapatkan margin alias untung nya.

Nah kalau sudah habis masa bunga fix, lihat-lihat saja di market, apakah ada bank lain yang menawarkan bunga fix, kalau ada, pindahkan saja lagi.

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

BUNGA 0%

zero-loan-rate

Weekend kemarin, saya iseng-iseng melihat salah satu koran nasional, yg satu halaman belakang, isinya iklan elektronik dengan penawaran bunga 0% dengan menggunakan kartu kredit Bank X, Y dan Z.

Ada TV, kulkas, kamera, beragam gadget serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Pertanyaannya apakah benar 0%?

Ambil contoh: TV 60 inch, harga cash Rp. 20.609.100, kalau dengan cicilan, bayar Rp. 1.812.838 selama 12 bulan, pembayaran dengan menggunakan kartu kredit Bank X, Y, Z tsb, sementara ada tertera harga yang dicoret  Rp. 22 juta.

Kalau kita hitung dengan metode time value of money, cicilan Rp. 1.812.838 selama 12 bulan maka kalkulasi saya, bunganya adalah 17.3%. Selisih antara Rp. 22.000.000 dengan Rp. 20.609.100 itulah bunga sebenarnya, yang di bundling dengan harga jual, dan dimasukkan sebagai komponen cicilan.

Oleh karena itu, jika kita membeli sebuah barang, perhatikan hal berikut:

1.Lihat urgensi barang tersebut? Kalau bisa ditunda, lebih baik kita menyisihkan uang sebagian untuk  ditabung dan jika sudah cukup, dibelikan barang yang jadi kebutuhan kita.

2. Jika kita terpaksa harus membeli (misalnya butuh AC karena AC yang di rumah rusak), maka perhatikan jangka waktu cicilannya, semakin panjang waktunya, semakin besar bunganya. Saat sekarang kita akan senang karena punya barang tersebut, tapi setelah itu kita akan terbebani dengan kewajiban bayar hutang.

Kalau kita tidak bisa bayar cicilan kartu kredit, maka worst case, nama kita akan masuk DHBI (Daftar Hitam Bank Indonesia). Jika kemudian hari kita mau pinjam uang lagi dari bank, maka nama kita sudah di black list dan kita akan sulit utk mendapatkan pinjaman baru dari bank manapun di Indonesia.

Kesimpulan:  telitilah sebelum membeli, manage pengeluaran anda dengan bijak, pilih mana yang kebutuhan mana yang lapar mata.

 

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com