CASH IS KING

source: poluscapital.com

pic source: poluscapital.com

Hari ini Indeks bursa saham di Indonesia sempat jatuh ke 4100, Rupiah sudah menyentuh ke Rp.14000 per 1 Dolar Amerika (bahkan ada yang sudah meramal bahwa akan menyentuh Rp. 15000/1US$). Indeks Dow Jones juga merah membara turun -588.40 ke level 15000 (dari Indeks tertinggi sebelumnya 18000). Belum lagi hadirnya fenomena alam El Nino di Indonesia. Dampak dari Topan El Nino ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat wilayah Negara Republik Indonesia tercinta kita ini menjadi kering dan kemarau yang berkepanjangan. Konon hembusan angin El Nino ini juga mempengaruhi indeks bursa saham, terutama saham-saham yang terkait dengan produk pertanian.

Jika fenomena alam El Nino ditambah dengan kondisi babak belur bursa dan kurs Rupiah yang menguatirkan ini terus berlanjut sampai akhir tahun 2015, apakah kondisi krisis 1997-1998 bisa terulang kembali?

Indikator lainnya yang menunjukkan kondisi ekonomi global dan domestik lagi lesu bisa dilihat dari:

  • Ekspor turun -15,5% mom (atau -19,2% yoy) di bulan Juli 2015.
  • Impor juga turun lebih dalam lagi -22,4% mom (atau -28,4% yoy) di bulan Juli 2015
  • Penjualan semen yang menurun -10,2% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -6,2% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan mobil turun -39,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -25,7% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan motor turun -21,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -23,5% yoy di bulan Juni 2015.

Keterangan:

mom = month on month, menunjukkan perbandingan dari bulan ke bulan, sementara yoy = year on year, menunjukkan perbandingan dari tahun ke tahun.

 

Poin pertama di atas menunjukkan ekonomi dunia yang lagi lesu, sementara poin kedua sampai kelima menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang lemah.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini jaga kondisi likuiditas keuangan keluarga anda, karena likuiditas adalah raja, orang (kepepet) menjual aset karena butuh uang. CASH is KING!

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Tips berinvestasi

sumber: earningdiary.com

sumber: earningdiary.com

“Kira-kira tahun ini investasi yang paling bagus apa yaa”? “Ada rekomendasi gaa“? “Berapa yang harus kita alokasikan untuk investasi A“?

 Semua pertanyaan itu sering kali saya dengar dan semuanya ingin mendapatkan jawaban yang paling mujarab atas pertanyaan klasik tersebut. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu di perhatikan pada waktu kita berinvestasi:

1.       Tujuan, tetapkan dahulu tujuan kita untuk berinvestasi. Ini sangat erat terkait dengan jangka waktu (time horizon) yang kita inginkan dan kita punya, misalnya tujuan kita untuk dana pendidikan anak untuk kuliah sarjana di Perguruan Tinggi. Saat ini anak kita berumur 7 – 8 tahun, pada saat kuliah mulai umur 18 tahun, maka jangka waktu yang kita punya untuk investasi kurang lebih 10 tahun. Maka pilihan investasinya bisa macam-macam tergantung pilihan kita.

 

2.       Profil risiko, artinya seberapa besar kita mampu mentoleransi risiko? Kalau misalnya kita hari ini investasi dengan membeli saham A, tiba-tiba besok harinya harga saham A yang kita beli terjun bebas, dan kita tiba-tiba sakit jantung, sakit kepala, sakit lainnya ditambah lagi uang pas-pasan, artinya profil risiko kita bukan risk taker, tapi lebih ke konservatif, saran saya,kalau belum siap sport jantung jangan beli saham. Kalau seperti ini lebih baik cari instrumen keuangan yang risikonya lebih kecil, yang bisa kita terima. Ingat semua investasi itu ada risikonya. Semakin canggih instrumen keuangannya semakin tinggi risikonya, seperti forex dan derivatif.

 

3.        Kebutuhan dana masa depan, dari nomer 1 di atas, misalnya kebutuhan dana pendidikan kuliah anak saat Rp. 100.000.000, maka kebutuhan dana yang perlu disiapkan 10 tahun lagi kurang lebih Rp. 215.000.000 (lihat tulisan saya Persiapan Dana Pendidikan Anak). Maka kita perlu menyisihkan Rp. 1.500.000 setiap bulan bila kita memilih instrumen tabungan, agar kita bisa mencapai dana masa depan tersebut.

 

4.       Pajak,  poin ini penting bagi kita agar jangan sampai investasi kita habis di makan inflasi plus ketiban pajak pula, bisa jadi return yang kita dapat jadinya negatif. Oleh karena itu pilihlah instrumen yang dalam track recordnya memberikan return lebih besar dari inflasi dengan minimal pemotongan pajak.  Seperti kita tahu bahwa bunga deposito itu dikenakan pajak 20% dan inflasi tahun 2013 di proyeksikan 5.3% (ingat yaa ini hanya proyeksi), kalau misalnya bunga deposito di bank 6% per tahun, maka bunga nett nya adalah 4.8%,artinya kita uang kita tumbuh minus 0.5%.  

 

5.       Likuiditas,  pelajari instrumen yang akan kita investasikan, apakah cukup likuid untuk di jual dan kita segera dapat cash?

 

Last but not least, monitor investasi anda!

Selamat berinvestasi

 

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com