HIBAH WASIAT/ WARIS = HEMAT PAJAK

hibahdanwasiat

rizalplanner_Tab Kontan 14Aug17

Pernahkah anda mendengar satu keluarga ribut karena memperebutkan harta warisan? Kakak adik saling bertengkar mempermasalahkan siapa yang paling berhak untuk mendapatkan warisan orang tuanya.

Bisakah anda bayangkan kejadian serupa bisa menimpa anda? Setelah anda tidak ada, anak-anak anda saling memperebutkan warisan anda. Mereka bertengkat memperebutkan rumah, tanah, villa, apartemen anda. Bisa-bisa anda tidak tenang di alam kubur sana.

Salah satu caranya agar menghindari masalah yang mungkin timbul kelak adalah dengan hibah wasiat. Jika hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain semasa hidup dan pelaksanaan pembagiannya dilakukan saat pemberi hibah masih hidup, maka hibah wasiat hanya berlaku pada saat pemberi wasiat tersebut sudah meninggal. Hibah wasiat artinya pemberian barang oleh Pewaris (orang yang memiliki harta) kepada orang tertentu yang telah disebutkan atau ditetapkan oleh Pewaris dalam surat wasiat yang dibuatnya. Pemberi wasiat mempunyai hubungan langsung kepada penerima wasiat, hubungan satu derajat ke bawah contohnya anak, ataupun satu derajat ke atas, contohnya orang tua, termasuk dalam hal ini suami/istri.

Hibah wasiat bagi penerima wasiat selain mendapatkan hak juga punya kewajiban yang harus di penuhi. Begitu juga dengan ahli waris, selain mendapatkan hak, ahli waris juga punya kewajiban yang juga harus dipenuhi. Dalam case ini berupa pajak kepemilikan rumah, sehingga apabila terjadi perpindahan kepemilikan dari almarhum orang tua kepada anak, maka anak yang memperoleh rumah tersebut punya kewajiban untuk membayar pajak. Seperti halnya transaksi jual beli rumah, maka di analogikan yang beli rumah adalah penerima hibah wasiat atau penerima waris tersebut. Bagi penerima hibah wasiat atau waris tersebut berlaku tarif seperti halnya pembeli rumah, dengan dasar pengenaan pajak khusus sebagaimana di atur dalam Peraturan Pemerintah dan Provinsi.

Jika seseorang meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa rumah kepada anaknya, dan sebelum meninggal dunia ia menulis surat wasiat, maka si anak entitle untuk mendapatkan rumah tersebut. Namun, jika tidak atau belum sempat menulis wasiat atau tidak ada surat waris, maka anak yang notabene berhak mendapatkan warisan harus mendapatkan surat keterangan waris dari kelurahan dan kecamatan, hibah wasiat ini akan jauh lebih taktis dan hemat, jika pewaris sudah menuliskan surat wasiat.

Apa bedanya waris dan hibah wasiat?

Dalan Peraturan Pemerintah No. 111 tahun 2000 yang di tandatangani oleh Presiden Gusdur yang dimaksud dengan perolehan hak karena waris, adalah perolehan hak atas tanah dan bangunan oleh ahli waris dari pewaris, yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia. Sementara, yang di maksud dengan perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.

Apa manfaat waris dan hibah wasiat?

Pertama, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan diskon 50% dari 5% Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang seharusnya terutang, nilai ini harus di bayarkan dan disetorkan ke kas daerah dan dibayarkan saat ahli waris atau penerima hibah mendaftarkan peralihan hak nya atau sejak akte di tandatangani.  Yang kedua, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) yang besarnya di tentukan oleh Pemerintah Provinsi.

Rumus Perhitungan

Rumus BPHTB Waris atau Hibah Wasiat: 50% x 5% (NJOP PBB – NPOPTKP).

NJOP adalah Nilai Jual Objek Pajak, NPOPTKP adalah Nilai Perolehan Obek Pajak Tidak Kena Pajak. NPOPTKP adalah pengurang dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Di Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan daerah Provinsi DKI Jakarta No.18 tahun 2010. NPOPTKP untuk waris dan hibah wasiat nilainya sebesar Rp. 350 juta. Jika selain hibah wasiat atau waris, maka nilainya sebesar Rp. 80 juta. Angka NPOPTKP tersebut di atur dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 18 tahun 2010. Untuk wilayah di luar DKI Jakarta, di atur oleh daerahnya masing-masing.

Untuk lebih jelas, ilustrasinya sebagai berikut, jika asumsi ahli waris atau penerima hibah wasiat mendapatkan rumah dengan NJOP di DKI Jakarta Rp. 1 Miliar dan NPOPTKP karena Hibah Wasiat atau Waris Rp. 350 juta, maka bila mengikuti rumus di atas, secara perhitungan, sang ahli waris atau penerima hibah wasiat akan hemat pajak sebesar Rp.29.750.000 (lihat tabel 1 di bawah).

Tabel 1:

Dengan Hibah Wasiat / Waris  Selain Hibah Wasiat / Waris
 NJOP*     1.000,000,000    
 NPOPTKP**    (Rp. 350.000.000)  (Rp. 80.000.000)
 BPHTB yang dibayarkan                              16,250,000                       46,000,000
 Hemat pajak                            29,750,000  
Ket:

*) Nilai Jual Objek Pajak

**)  Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak; di Provinsi DKI Jakarta.

Untuk waris dan hibah wasiat diperuntukkan bagi orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas dan satu derajat ke bawah dengan pemberi waris dan hibah wasiat, termasuk suami/ istri.

Cara membuat hibah wasiat?

Bagaimana caranya membuat hibah wasiat? Bisa dilakukan melalui Notaris. Hibah wasiat dibuat oleh pembuat wasiat sekaligus pemilik properti sewaktu masih hidup dan berlaku kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sedangkan surat keterangan waris, dibuat di kelurahan dan kecamatan oleh ahli waris sesudah pemilik properti meninggal dunia.

Baik hibah wasiat maupun surat keterangan waris, keduanya membutuhkan surat keterangan kematian. Baik penerima hibah maupun ahli waris perlu membuktikan kepada Notaris maupun pihak kelurahan dan kecamatan bahwa pemilik properti sudah meninggal dunia.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri ataupun orang tua kita supaya bagi-bagi waris sekarang. Tetapi dengan membuat surat hibah wasiat artinya menghemat bayar pajak bagi penerima hibah wasiat/ ahli waris, kita berpikir lebih efektif dan penuh persiapan untuk keluarga kita.

 

Catch me: @rizalplanner
Rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

Tips berinvestasi

sumber: earningdiary.com

sumber: earningdiary.com

“Kira-kira tahun ini investasi yang paling bagus apa yaa”? “Ada rekomendasi gaa“? “Berapa yang harus kita alokasikan untuk investasi A“?

 Semua pertanyaan itu sering kali saya dengar dan semuanya ingin mendapatkan jawaban yang paling mujarab atas pertanyaan klasik tersebut. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu di perhatikan pada waktu kita berinvestasi:

1.       Tujuan, tetapkan dahulu tujuan kita untuk berinvestasi. Ini sangat erat terkait dengan jangka waktu (time horizon) yang kita inginkan dan kita punya, misalnya tujuan kita untuk dana pendidikan anak untuk kuliah sarjana di Perguruan Tinggi. Saat ini anak kita berumur 7 – 8 tahun, pada saat kuliah mulai umur 18 tahun, maka jangka waktu yang kita punya untuk investasi kurang lebih 10 tahun. Maka pilihan investasinya bisa macam-macam tergantung pilihan kita.

 

2.       Profil risiko, artinya seberapa besar kita mampu mentoleransi risiko? Kalau misalnya kita hari ini investasi dengan membeli saham A, tiba-tiba besok harinya harga saham A yang kita beli terjun bebas, dan kita tiba-tiba sakit jantung, sakit kepala, sakit lainnya ditambah lagi uang pas-pasan, artinya profil risiko kita bukan risk taker, tapi lebih ke konservatif, saran saya,kalau belum siap sport jantung jangan beli saham. Kalau seperti ini lebih baik cari instrumen keuangan yang risikonya lebih kecil, yang bisa kita terima. Ingat semua investasi itu ada risikonya. Semakin canggih instrumen keuangannya semakin tinggi risikonya, seperti forex dan derivatif.

 

3.        Kebutuhan dana masa depan, dari nomer 1 di atas, misalnya kebutuhan dana pendidikan kuliah anak saat Rp. 100.000.000, maka kebutuhan dana yang perlu disiapkan 10 tahun lagi kurang lebih Rp. 215.000.000 (lihat tulisan saya Persiapan Dana Pendidikan Anak). Maka kita perlu menyisihkan Rp. 1.500.000 setiap bulan bila kita memilih instrumen tabungan, agar kita bisa mencapai dana masa depan tersebut.

 

4.       Pajak,  poin ini penting bagi kita agar jangan sampai investasi kita habis di makan inflasi plus ketiban pajak pula, bisa jadi return yang kita dapat jadinya negatif. Oleh karena itu pilihlah instrumen yang dalam track recordnya memberikan return lebih besar dari inflasi dengan minimal pemotongan pajak.  Seperti kita tahu bahwa bunga deposito itu dikenakan pajak 20% dan inflasi tahun 2013 di proyeksikan 5.3% (ingat yaa ini hanya proyeksi), kalau misalnya bunga deposito di bank 6% per tahun, maka bunga nett nya adalah 4.8%,artinya kita uang kita tumbuh minus 0.5%.  

 

5.       Likuiditas,  pelajari instrumen yang akan kita investasikan, apakah cukup likuid untuk di jual dan kita segera dapat cash?

 

Last but not least, monitor investasi anda!

Selamat berinvestasi

 

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Surat Wasiat = Hemat Pajak!

surat wasiat

Dalam 1 hari saya mendapatkan 2 berita duka sekaligus, salah satunya kepergian suami teman saya yang berada di puncak karirnya. Kedua, ibu teman baik saya. Memang hidup mati itu sudah di takdirkan oleh Allah SWT, dan kita sebagai manusia tidak bisa tahu rahasiaNya, dimana dan kapan kita akan kembali padaNya.

Sebagai Financial Planner alias Perencana Keuangan, sisi yang saya lihat adalah bahwa setiap orang yang meninggal pasti akan meninggalkan harta benda yang dimilikinya kepada pewaris, bisa istri, anak, keluarga dalam hubungan sedarah. Dalam financial planning situasi ini  disebut perencanaan distribusi kekayaan atau estate planning. Tidak ada hubungannya dengan real estate perumahan ya bos. Dalam tulisan ini, saya hanya membatasi distribusi kekayaan berupa rumah.

Yuk kita lihat contoh sederhana ini:

Jika seseorang meninggalkan properti berupa rumah, dan sebelum meninggal dunia ia menulis surat waris/wasiat, maka si anak entitle untuk mendapatkan properti tersebut. Namun, jika tidak ada surat waris/ hibah wasiat, maka si anak yang notabene berhak mendapatkan warisan harus mendapatkan surat keterangan ahli waris dari kelurahan dan kecamatan, dan ini pasti ada biayanya! wong bikin KTP aja yang katanya gratis, juga harus bayar, apalagi ini yang ada duitnya (there’s no such free lunch). Biaya ini akan jauh lebih taktis dan hemat, jika si pewaris sudah menuliskan surat wasiat melalui notaris yang di tunjuknya, of course there is price but its worth the price.

Apalagi manfaat surat waris/wasiat?

Dalam hibah wasiat, maka si ahli waris entitle mendapatkan discount 50% dari 5% Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang di atur dalam Peraturan Gubernur DKI No. 112/2011 – ini hanya berlaku untuk wilayah DKI ya guys – nilai ini mau ga mau harus di bayarkan dan di setorkan ke kas daerah, dan dibayarkan saat akte di tandatangani.  Selain itu si ahli waris entitle mendapatkan pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). Jika asumsi Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) rumah tersebut Rp. 500.000.000. secara perhitungan si ahli waris akan hemat pajak Rp. 17.250.000,

Simulasi sederhananya sebagai berikut:

 Dengan Hibah Wasiat  Tanpa Wasiat
 NJOP*

    500,000,000

   
 NPOPTKP**  

 (Rp. 350.000.000)

 (Rp. 80.000.000)

 BPHTB yang dibayarkan  

                           3,750,000

                      21,000,000

 Hemat pajak  

                         17,250,000

 

Ket:

*) Nilai Jual Objek Pajak

**) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak

 

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri ataupun orang tua kita supaya bagi-bagi waris sekarang. Sekedar pengingat, dengan membuat surat wasiat artinya menghemat bayar pajak bagi ahli waris, kita berpikir lebih efektif dan penuh persiapan untuk keluarga kita. Buat apa kita bayar pajak besar, kalau kita bisa hemat pajak, bukan begitu?

Kesimpulannya: Mari kita hemat pajak dengan tetap taat aturan!

 

Catch me: @rizalplanner

@rizal.planner@gmail.com