Terbebas dari Belitan Utang

Boy Hazuki Rizal ID 5Sept18

Merdeka dari utang

Anda suka berhutang? Sering ditawari supaya berhutang? Kalau anda diberikan fasilitas berupa utang artinya anda dipercaya oleh bank atau institusi keuangan. Kalau sampai bank tidak mau memberikan fasilitas kredit kepada anda, bisa jadi salah satu kriteria pemberian kredit tidak terpenuhi atau penilaian terhadap diri anda kurang bagus. Dalam dunia kredit perbankan, untuk menilai individu atau bisnis layak mendapat kredit atau tidak, dikenal adanya 5C: capacity, capital, collateral, conditions dan character.

Karakter dalam penilaian kredit bisa tercermin dari histori kredit anda, reputasi atau rekam jejak anda dalam membayar utang seperti apakah pernah menunggak bayar kredit atau pernah telat bayar tagihan baik di bank atau perusahaan pembiayaan (multifinance) maupun pegadaian. Semuanya akan terlihat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang mulai awal tahun 2018 ini di kelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelumnya dikenal dengan sebagai BI Checking oleh nasabah dan pelaku industri keuangan.

Keinginan dan gaya hidup, terkadang ‘menghilangkan’ nalar sehat anda untuk menghitung kemampuan anda dalam membayar utang tersebut. Setiap hari anda dibombardir dengan iklan dan tawaran fasilitas berutang, telemarketing yang dengan rayuan manis menelpon anda setiap hari untuk mengambil tunai sisa limit kartu kredit yang belum terpakai, maupun tawaran online dan offline cash advance dari kartu kredit.

Kalau sudah tergiur dan terlanjur untuk mengambil fasilitas kredit tersebut, dan pada waktu mendekati tanggal jatuh tempo, anda bingung darimana uangnya untuk membayar tagihan-tagihan tersebut? Mungkin anda akan berpikir untuk mengambil jalan pintas yaitu ambil utang lagi untuk menutup utang sebelumnya, alias gali lubang tutup lubang. Apalagi jaman now, dengan banyaknya toko online, pemilik kartu kredit bisa melakukan gestun (gesek tunai) di toko online dengan pemotongan sejumlah komisi tertentu. Karena ini berlangsung terus menerus, akhirnya anda menggali begitu banyak lubang dan bingung bagaimana menutup semua lubangnya.

Saat ini, jasa fintech (financial technology) membuat anda mendapatkan fasilitas pinjaman semakin mudah. Dengan hanya sentuhan jari, tanpa harus bertele-tele  memikirkan persyaratan agunan, anda dapat dengan mudah mendapatkan pinjaman. Namun mudahnya pinjaman tanpa agunan ini di kompensasi dengan tingginya bunga pinjaman. Karena risiko tinggi yang harus ditanggung pemberi pinjaman membuat bunga pinjaman yang diberikan juga tinggi. Misalnya, sebagai perbandingan untuk bunga kartu kredit 26.95% per tahun, sementara ada fintech yang memberikan bunga 1% per hari, artinya 30 hari sudah 30%. Jauh lebih dahsyat dari bunga setahun kartu kredit!

Dan sebagai konsekuensinya, jika anda tidak mampu membayar utang, maka pihak kreditur, baik bank maupun institusi keuangan lainnya akan mengejar-ngejar anda. Kalau macet bayar, risikonya nama baik anda akan tercoreng. Bank atau perusahaan pembiayaan akan segan memberikan fasilitas kredit kepada anda. Kalau sudah begini kondisinya, ada beberapa langkah yang dapat anda lakukan agar keluar dari belitan utang:

Pertama, buatlah cash flow yang menggambarkan berapa besar pendapatan dan pengeluaran anda termasuk rincian utang. Hal ini untuk mengetahui berapa besar gaji, komisi dan lainnya serta biaya hidup, utang dan kewajiban lain anda setiap bulannya. Jika ternyata pengeluaran anda lebih besar dari pendapatan, artinya lebih besar pasak dari tiang, atau cash flow anda negatif.

Kedua, jika sudah tahu bahwa cash flow anda negatif, bicara dan jelaskan kondisi keuangan anda pada pihak bank atau institusi keuangan tempat anda mendapat fasilitas, hal ini menunjukkan itikad dan integritas yang baik bahwa anda akan menyelesaikan kewajiban anda. Lakukan permohonan restrukturisasi utang. Apakah nanti restrukturisasi utang berupa pemotongan denda, penurunan bunga, perpanjangan jangka waktu atau tenor cicilan pembayaran. Semua hal tersebut dapat menjadi solusi dari penyelesaian kewajiban anda. Pengajuan permohonan restrukturisasi utang ini tergantung pada kebijakan bank.

Ketiga, refinancing. Sebelum melakukan refinancing, lakukan terlebih dahulu konsolidasi utang yang ada. Jika ingin mengambil utang baru untuk refinancing, pastikan bahwa bunga jauh lebih rendah dari semua utang yang ada atau bila mungkin tanpa bunga, untuk melunasi konsolidasi utang tersebut. Kalau semua utang yang dikonsolidasikan tersebut telah selesai dibayarkan, maka fokus bayar utang anda hanya pada satu utang yaitu utang untuk refinancing tersebut. Refinancing tersebut misalnya pinjaman dari koperasi atau kantor.

Pada waktu mengambil pinjaman refinancing, yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengambil pinjaman dengan mengagunkan aset, seperti properti (rumah tinggal). Karena jika satu dan lainnya, anda tidak mampu membayar cicilannya, maka properti anda akan disita. Sehingga kalau kejadian anda macet dalam bayar utang, properti anda hilang, lantas anda mau tinggal dimana?

Keempat, jual asset. Kalau anda punya emas batangan atau perhiasan, dapat dijual dulu untuk menutup utang-utang tersebut. Begitu juga dengan aset bergerak seperti kendaraan, dapat di jual juga agar sisa dari penjualan aset tersebut dapat menutup utang lainnya. Saat ini untuk menjual barang/aset sudah semakin mudah di toko online, tinggal klik dari gadget anda, tampilkan foto dan spesifikasinya, maka barang yang anda mau jual akan muncul di marketplace.

Kelima, cari tambahan penghasilan. Hal ini sebagai alternatif untuk menutup sisa cash flow negatif. Cari tambahan untuk menambah pendapatan dan menutup kewajiban bulanan yang timbul. Anda dapat membuka toko online yang menjual barang atau jasa yang dibutuhkan.

Terakhir, sebagai penutup, untuk mengantisipasi semua kemungkinan, jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai debitur bank/ nasabah institusi keuangan/ fintech, siapkan asuransi jiwa yang nilai Uang Pertanggungan (UP) nya cukup untuk menutup seluruh utang anda. Ini bukan untuk menakut-nakuti tapi sebagai antisipasi skenario terburuk. Bisa dibayangkan bila tidak ada asuransi untuk ahli waris anda, maka baik itu suami/istri maupun anak-anak anda harus menderita menanggung semua utang anda kalau anda sudah tidak ada.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

Bisa di baca juga di Investor Daily online: http://id.beritasatu.com/home/terbebas-dari-belitan-utang/180127

Pilih Rumah Atau Apartemen?

Boy Hazuki Rizal ID 5Aug18 Print

Sekarang ini penawaran rumah maupun apartemen alias rumah susun banyak sekali. Meskipun banyak, sering kita mendengar bahwa kebutuhan rumah lebih tinggi dari pasokan rumah. Istilahnya ada backlog antara pasokan rumah dan kebutuhan rumah. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, kebutuhan tempat tinggal menjadi salah satu yang issue yang terus menerus muncul. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia membutuhkan tempat tinggal. Mau pilih rumah atau apartemen, tergantung kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Zaman now, salah satu pilihan untuk hunian adalah rumah susun atau apartemen. Banyak orang memilih apartemen dengan alasan kepraktisan. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan bahwa lokasi tempat bekerja atau beraktivitas tidaklah jauh dari apartemen. Mobilisasi penghuni sangat berpengaruh. Karena, kalau pilih apartemen tapi lokasinya jauh dari tempat bekerja, maka selain biaya transportasi yang lumayan, juga waktu perjalanan yang terbuang. Biaya transportasi dan waktu yang hilang tersebut di trade off dengan harga hunian yang lebih dekat dengan tempat bekerja atau beraktivitas, terutama untuk lokasi yang berada di tengah kota.

Sebagai pilihan investasi, tentu apartemen yang masih di jual dalam bentuk gambar, harganya akan jauh lebih murah, sehingga pada saat apartemennya sudah jadi, maka bisa di jual lagi dan mendapatkan capital gain dari investasi tersebut.

Jika disewakan, rental yield atau hasil sewa per tahun dari apartemen secara rata-rata sekitar 8%-10% dari nilai jual. Sementara untuk hasil sewa rumah hanya berkisar 4%-5% per tahun. Artinya, hasil sewa dari apartemen dua kali lipat daripada hasil sewa rumah. Investasi apartemen cocok untuk di kota-kota besar yang aktivitas penghuninya banyak berpusat di tengah kota. Apartemen yang dibeli untuk investasi ini dapat disewakan kemudian. Untuk melihat apakah investasi apartemen tersebut memang menguntungkan atau tidak, salah satu indikatornya bisa dilihat seberapa besar orang membutuhkan tempat tinggal sementara di area tersebut, seperti untuk pekerja asing dan turis. Semakin banyak yang butuh tempat tinggal sementara, investasi apartemen untuk disewakan cocok untuk di area tersebut.

Untuk keluarga muda atau yang masih single, dengan keuangan ‘terbatas’, apartemen bisa jadi pilihan awal untuk hunian. Dan pada saat keluarga bertumbuh dengan adanya anak-anak dan kondisi keuangan juga semakin baik, setelah 3 sampai 5 tahun, harga apartemen akan naik, selanjutnya apartemen bisa di jual dan hasil penjualan bisa menjadi down payment untuk beli rumah. Keterbatasan ruang di tengah kota menjadikan apartemen sebagai pilihan hunian karena untuk beli rumah di tengah kota, harganya sudah sangat mahal dan mungkin tidak masuk akal lagi.

Sedangkan pilihan untuk membeli rumah, salah satu alasannya karena kebutuhan ruang yang lebih luas bagi anggota keluarga. Dengan adanya tambahan anggota keluarga, apartemen dirasa kurang memadai.

Bila kita ingin membeli rumah sebagai hunian maupun investasi, maka yang perlu kita perhatikan adalah, lokasi, lokasi, lokasi. Pakar properti pasti menyarankan lokasi yang strategis, yang akses nya bagus, ada berbagai fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, pasar, akses jalan tol, tempat rekreasi, sarana olahraga dan fasilitas lainnya. Karena fasilitas seperti itu yang menarik orang untuk tinggal dan beraktivitas di area situ. Semakin lengkap fasilitas, semakin banyak orang yang ingin tinggal disitu, hal ini otomatis akan mendongkrak harga properti di area tersebut.

 

Pembiayaan Rumah atau Apartemen

Jika sudah punya rumah pertama dan ingin membeli apartemen atau rumah kedua untuk investasi, dengan menggunakan fasilitas pinjaman dari bank (KPA – Kredit Pemilikan Apartemen / KPR – Kredit Pemilikan Rumah), tidak di sarankan untuk mengagunkan rumah hunian pertama yang ditempati saat ini untuk dijadikan down payment. Karena itu berarti bebannya akan ada 2 (dua), pertama, cicilan untuk membayar kredit multiguna dari rumah pertama yang dipakai untuk down payment, dan yang kedua, cicilan KPR dari rumah kedua itu sendiri. Jika ada kesulitan cash flow dalam pembayaran cicilan tersebut, maka rumah pertama bisa hilang karena disita bank, apalagi rumah kedua, ujung-ujungnya kedua-duanya hilang. Lebih baik, jika membeli rumah kedua, agunannya adalah rumah kedua itu sendiri, tanpa mengagunkan rumah pertama untuk bayar down payment. Hal ini untuk meminimalisir risiko.

Jika dihitung, ternyata cicilan KPR per bulan terlalu besar, dapat minta perpanjangan waktu atau tenor dari pembayaran cicilan KPR tersebut. Tenor bisa sampai 20 tahun, bahkan ada bank yang mau memberikan jangka waktu cicilan hingga 30 tahun. Atau pilih bank yang memberikan bunga tetap (fixed rate) untuk 3 sampai 5 tahun pertama, sehingga cicilan anda akan tetap selama periode tersebut dan cash flow anda terjaga.

Sebagai penutup, investasi di apartemen atau rumah siap huni, jika sudah di beli dapat langsung disewakan, sehingga hasil sewa dapat digunakan untuk membayar cicilan tersebut. Yang perlu jadi perhatian, untuk rumah harus selalu di rawat dan di jaga, agar bangunan tidak rusak atau di makan rayap. Karena kalau rumah rusak, akan berdampak pada nilai jual dari rumah yang turun. Kalau nilai jual turun, otomatis harga sewa juga akan turun. Sedangkan untuk apartemen, bangunan dan fasilitas apartemen sudah ada pihak yang menjaga dan merawat, sehingga anda tinggal mem-furnish unit yang dimiliki supaya orang tertarik dan berminat untuk menyewa.

 

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner dan Rekan

weblink Investor Daily: http://id.beritasatu.com/opini/pilih-rumah-atau-apartemen/178701

 

NAIK HAJI LEBIH CEPAT

kabah

rizalplanner_Tabloid Kontan 4Oct17

Jemaah haji baru saja pulang untuk musim haji tahun 2017 ini. Yang sudah mampu mengerjakan rukun Islam ke-5, naik haji, senangnya luar biasa, merupakan impian yang tak terkira. Ingin rasanya kembali lagi dan lagi. Siapa umat muslim yang tidak kepengen naik haji, mulai dari tukang ojek sampai pemimpin negara yang muslim pasti punya keinginan untuk naik haji, karena itu seperti ‘mimpi’ umat muslim untuk bisa bertamu ke rumah Tuhan Yang Maha Kuasa. Naik haji (bagi yang mampu) juga merupakan tujuan untuk melengkapi rukun Islam.

Memang tidak murah naik haji, untuk biaya haji reguler sesuai ketetapan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 sekitar Rp. 35 juta atau setara USD 2.585 dengan asumsi nilai tukar Rp. 13.400/USD dan daftar tunggu (waiting list) sampai 24 tahun – berdasarkan data dari Kementrian Agama. Kalau Anda daftar dan dapat nomor porsi haji umur 40 tahun, maka baru bisa berangkat umur 60 tahun, itu juga dengan catatan kalau umur Anda sampai. Untuk mendapatkan nomer porsi haji yang 10 digit Anda harus menabung dahulu sampai terkumpul dana Rp. 25 juta. Bisa dibayangkan bila ternyata 20 tahun kemudian ongkos haji naik menjadi Rp. 236 juta, maka sisanya harus kita lunasi untuk bisa pergi haji, sementara uang yang Rp. 25 juta itu mengendap di tabungan tanpa imbal hasil yang memadai.

Alternatif lain selain haji reguler yang 40 hari, adalah haji khusus (dulu Ongkos Naik Haji – ONH – plus) dan Haji Khusus Non-Kuota. Kalau ONH Plus, mendapatkan nomer porsi haji seperti halnya haji reguler, namun layanan lebih mewah, jumlah hari lebih sedikit, tapi tetap harus antri beberapa tahun meskipun relatif lebih cepat dari haji reguler. Sedangkan Haji Khusus Non-Kuota, atau ada yang menyebut ‘haji sendal jepit’ tidak mendapatkan nomer porsi haji, visanya di luar kuota nasional resmi. Visa ini tetap dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Arab Saudi untuk tamu raja atau tamu pangeran. Dan harganya juga relatif lebih mahal dibandingkan reguler, mirip harga ONH Plus. Namun kelebihan Haji Khusus Non-Kuota, tidak perlu antri, bila Anda bayar tahun ini, maka tahun depan insya allah Anda sudah bisa berangkat haji.

Haji Khusus Non-Kuota, di tawarkan oleh beberapa travel agent, harganya sekitar USD 12.000 per orang, kurang lebih Rp. 160 juta per orang dengan kurs Rp. 13.400/USD atau 4,6 kali dari ONH regular. Haji Khusus Non-Kuota jadi pilihan paling efisien dari sisi waktu, meskipun lebih mahal, tapi dari sisi umur calon haji pada saat melaksanakan ibadah haji dan rentang waktu tidak terlalu jauh.

Perhitungannya sebagai berikut, seperti tersebut di atas, biaya Haji Khusus Non-Kuota Rp. 160 juta per orang, kita gunakan asumsi waktu keberangkatan 2x lebih cepat dari waktu tunggu rata-rata haji reguler, artinya Anda bisa berangkat ‘hanya’ dalam waktu 10 tahun dan asumsi kenaikan biaya haji dan kurs dollar per tahun 10%, maka biaya Haji Khusus Non-Kuota dalam waktu 10 tahun mendatang naik menjadi Rp. 415 juta.

Untuk kegiatan haji ini agar lebih pas, kita gunakan instrumen berbasis syariah. Bila kita menggunakan tabungan syariah Rupiah, dengan bagi hasil setara 2%, maka akan butuh dana yang besar untuk mengakumulasikan dana naik haji, tapi bila kita gunakan instrumen reksadana syariah saham, maka waktu dan dana dapat lebih cepat dan lebih efisien.

Ilustrasinya, lihat tabel di bawah ini:

Item:

Haji Khusus Non-Kuota

Rp. 415 juta

Tabungan syariah Reksadana syariah saham
Imbal hasil 1% per tahun 15% per tahun
Waktu 10 tahun 10 tahun
Cicilan per bulan Rp. 3,3 juta Rp. 1,5 juta

Asumsi kurs: Rp. 13.400/USD

Bila kita gunakan tabungan syariah, dengan asumsi bagi hasil setara 1% per tahun, maka dana yang harus kita cicil tiap bulan sebesar Rp. 3,3 juta, tapi bila kita menggunakan instrumen reksadana syariah saham yang bersifat agresif untuk 10 tahun, maka cicilan nya ‘hanya’ Rp. 1,5 juta setiap bulan selama 10 tahun. Ini berarti efisiensi dana sebesar 64%. Apabila kita kombinasikan dengan setoran awal yang Rp. 25 juta – seperti halnya Anda daftar haji reguler – bila dikembangkan dalam instrumen reksadana syariah saham yang punya imbal hasil setara 15%, maka dalam waktu 10 tahun akan menjadi Rp. 101 juta. Artinya sisa sebesar Rp. 314 juta dapat menggunakan instrumen syariah juga, dan cicilan lebih kecil lagi tiap bulan nya selama 10 tahun, yaitu hanya Rp. 1,1 juta. Kalau Anda berangkat berdua bersama pasangan, maka tinggal kalikan dua saja. Selain waktu yang bisa Anda persingkat 50%, fisik Anda juga masih relatif lebih kuat untuk musim haji 10 tahun lagi, dibandingkan 20 tahun kemudian.

Dari perhitungan di atas, jika waktu 10 tahun dirasakan lama, maka waktu keberangkatan bisa di percepat, misalnya, menjadi 5 tahun, maka otomatis ‘cicilan’ per bulan nya juga lebih besar, menjadi Rp. 3 juta per bulan, sebaliknya jika dirasakan masih cukup sabar menunggu keberangkatan 20 tahun lagi, maka ‘cicilan’ nya pun menjadi lebih kecil, yaitu sebesar Rp. 720 ribu.

Tinggal di pilih mana waktu dan dana yang paling pas, selanjutnya luruskan niat untuk bisa berangkat haji!

 

Catch  me: @rizalplanner

Email : rizal.plannerindo@gmail.com

INVESTASI JANGKA PENDEK, JANGAN BELI EMAS MENCICIL

 

emas-batangan

rizalplanner_Tab Kontan 31Jul17

Emas memang sangat populer untuk investasi, tidak ada matinya, gak kenal jaman, dari dulu sampai sekarang, emas selalu menjadi pilihan untuk investasi. Untuk investasi emas khususnya Logam Mulia (LM) atau goldbar saat ini dimudahkan dengan adanya berbagai macam pilihan untuk membeli emas, baik online maupun secara fisik datang ke toko emas, pegadaian maupun bank syariah tertentu.

Pembelian LM secara fisik bisa dilakukan baik secara tunai, cicilan atau menabung emas. Ideal nya kita membeli emas LM dalam kepingan yang ekonomis seperti 100 gram, dimana harga per gram nya lebih murah di bandingkan kepingan standar 1,2,5,10, 25 dan 50 gram. Semata-mata karena ongkos produksi kepingan logam yang lebih kecil lebih besar dibandingkan kepingan yang 100 gram.

Dalam 30-60 hari terakhir emas dalam trend bearish market, meskipun sempat rebound tapi kemudian turun lagi. Banyak orang yang membeli emas LM hari-hari terakhir ini, memanfaatkan momentum bearish ini. Pegadaian menawarkan jasa pembelian emas LM secara cicilan, dimana kita bisa membeli LM dengan harga hari ini atau pada saat akad (jika menggunakan bank Syariah), plus tambahan perhitungan administrasi dan jasa penyimpanan, dengan cara mencicil selama 1, 3, 6, 12, 18, 24 dan 36 bulan.

Untuk membeli emas dengan menggunakan metode cicilan di Pegadaian, ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan sebelum memutuskan untuk membeli emas LM secara cicilan.

Pertama, adanya margin setiap pembelian LM baik cash maupun cicil.

Sebagai ilustrasi, misalnya kita membeli 100 gram LM Antam dengan harga pasar saat ini Rp. 56.200.000, tapi karena Pegadaian menerapkan margin baik beli secara mencicil maupun beli cash, maka harga beli cash LM Antam harus ditambah 3% dari harga pasar, sehingga harga yang dibayarkan menjadi Rp. 57.886.000 (lihat tabel 1 di bawah). Artinya meskipun kita mampu beli cash, kita tidak bisa dapat harga pasaran LM Antam, karena ada margin untuk Pegadaian.

Tabel 1

Unit Harga pasar LM (Rp.) Harga Jual Pegadaian (Rp.) Margin % Margin Harga Beli Kembali (Rp.)
100 gram          56.200.000    57.886.000                1.686.000 3%                        53.700.000

 

Kedua, harga jual tersebut belum termasuk biaya administrasi, materai dan asuransi. Analoginya sama seperti kalau kita beli properti secara kredit, pasti akan ada biaya-biaya yang timbul atau yang disebut biaya-biaya untuk memperoleh kredit tersebut. Sama halnya dengan properti, semakin tinggi nilai properti semakin besar asuransinya, begitu juga nilai emas, semakin tinggi nilai emasnya, semakin besar pula asuransi yang harus di bayarkan.

Yang ketiga, prosentase kenaikan harga emas belum tentu lebih tinggi dari prosentase bunga cicilan.

Ilustrasinya, kalau kita beli LM secara mencicil di Pegadaian, misalnya untuk pembelian LM 100 gram selama 12 bulan, maka ada down payment atau uang muka minimum yang harus di bayar, besarnya 34% dari harga pasar saat itu, dalam contoh ini Rp. 19.108.000, dan pastinya ada cicilan per bulan selama 12 bulan yang nilainya sebesar Rp. 3.669.460/ bulan. Jika kita hitung, maka total harga yang dibayar sampai lunas Rp. 63.141.514, yang artinya Pegadaian mengenakan bunga 12%  setahun atau kurang lebih 1% sebulan kepada kita selaku pembeli. Pengenaan bunga cicilan ini sebenarnya wajar-wajar saja, karena kita beli secara mencicil. Tapi jika kita lihat kinerja emas tahun sebelumnya (2016) kenaikan harganya hanya 8,5%, artinya jika kita asumsikan selama 1 tahun ke depan kenaikan harga emas tetap 8,5% sejak kita beli hari ini, maka emas yang kita sudah beli selama setahun imbal hasil (return) nya negatif (-3,5%)., dan kalau dihitung value dari 100 gram emas kita tersebut menjadi hanya Rp. 60.977.000 pada saat lunas 12 bulan kemudian, atau kita rugi Rp. 2.164.514.

Yang empat, kalau di jual kembali, harga beli LM Antam di Pegadaian selisih nya cukup besar, atau hanya dihargai sekitar ~95% dari harga pasar.

Dari ke empat alasan di atas itulah mengapa membeli emas fisik itu tidak direkomendasikan dengan cara mencicil di Pegadaian.

Meskipun data kinerja emas menunjukkan bahwa sampai di pertengahan tahun 2017 ini perubahan harga emas positif naik 6,7%, namun tahun 2013, 2014, 2015 perubahan harga menunjukkan penurunan -28,3%, -1,5%, -10,4% berturut-turut dan baru di tahun 2016 naik 8,5% dan tidak ada jaminan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus naik. Banyak faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga emas di dunia. Kalau tujuan kita beli emas dalam jangka pendek untuk dijual lagi setelah cicilan lunas, maka bisa bukan untung yang di dapat tapi malah jadi bunting.

Terkait dengan perubahan harga emas yang berfluktuasi tersebut, sebagai catatan beberapa tahun lalu, kita pernah dengar yang namanya berkebun emas, ‘berkebun’ dengan skema gadai dengan asumsi harga emasnya naik terus. Menggadaikan emas yang di beli untuk membeli emas yang baru, dan seterusnya. Asumsi harga naik terus dan diharapkan keuntungan yang di dapat tinggi, tapi risikonya juga pasti tinggi. Namun kalau ke depan harganya turun seperti tahun 2013-2015, maka bisa dipastikan berkebun nya akan gagal alias rugi.

Oleh karena itu jika kita membeli emas, belilah secara tunai, jika kita hanya mampu 50 gram, tidak usah dipaksakan untuk mencicil 100 gram, sesuaikan dengan kemampuan kita. Karena investasi emas memang unik, jagalah investasi anda.

KREDIT PROPERTI

icon property

rizalplanner_Tabloid Kontan 3Juli2017

Sedari kecil kita semua di ajarkan bahwa salah satu kebutuhan primer adalah kebutuhan papan. Tidak hanya perlu makan minum dan pakaian, tapi juga tempat tinggal. Saat sekarang ini, kebutuhan papan tersedia dalam berbagai macam tipe, mulai dari rumah tapak, rumah susun (apartemen, flat, kondotel), ruko dan lain-lain. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia perlu tempat tinggal. Kita semua sadar bahwa beli properti itu melibatkan uang yang besar, sehingga kalau mengumpulkan uang sendiri sampai nilainya terpenuhi kemudian baru beli, sepertinya sangat jarang dan sulit untuk mengejar kenaikan harga properti tersebut. Bahkan untuk kalangan tertentu, gaji tidak akan pernah mampu untuk mengejar kenaikan harga properti. Untuk itu, biasanya pembeli menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya untuk me-leverage kemampuan beli properti tersebut.

Jika anda ingin membeli properti, misalnya dari secondary market atau rumah bekas, sebelum menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya, buatlah planning nya terlebih dahulu.

Pertama hitunglah terlebih dahulu penghasilan anda per bulan. Jika penghasilan anda perbulan misalkan Rp. 20 juta, maka tentu tidak semua gaji anda bisa jadikan cicilan untuk membeli properti. Mau hidup dengan apa jika semuanya dihabiskan untuk cicilan? Hanya 30% dari penghasilan tersebut yang bisa dijadikan angsuran, artinya Rp. 6 juta sebagai cicilan. Saat ini jika anda masuk ke dalam situs jual beli properti tertentu, sudah ada simulasi online yang menghitung secara langsung berapa angsuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) per bulannya. Dari situ bisa di hitung berapa nilai pinjaman properti yang menjadi target anda.

Yang kedua, jika anda sudah tahu kemampuan cicil anda perbulan, carilah properti seperti apa dan dimana yang bisa anda beli dengan kemampuan cicilan seperti itu dan yang mau di biayai oleh bank. Pertimbangkan bahwa semakin tinggi atau semakin premium kelas propertinya, semakin besar pula biaya bulanannya, seperti biaya pengelolaan lingkungan, dan maintenance fee lainnya. Bank tentu akan menilai berapa besar nilai properti tersebut yang akan di agunkan. Saat ini sesuai peraturan Bank Indonesia (BI) per Agustus tahun 2016 lalu, bahwa untuk DP rumah pertama turun menjadi 15% dimana sebelumnya 20%. Ini artinya Bank membiayai 85% dari nilai properti tersebut. Nilai 85% itulah yang disebut LTV (loan to value) atau penilaian pinjaman dan nilai inilah yang menjadi patokan total pinjaman anda. Kalau nilai appraisal properti yang ingin di beli Rp. 600 juta, maka besar KPR yang bisa anda pinjam hanya 85% nya yaitu sebesar Rp. 510 juta. Sebelumnya aturan BI untuk rumah pertama, kedua dan ketiga 20%, 30% dan 40%, sekarang menjadi 15%, 20% dan 25%.

Yang ketiga, berapa lama anda mampu membayar cicilan tersebut? Normalnya orang mengambil jangka waktu 10 sampai 15 tahun. Namun saat ini sudah ada yang sampai 25 tahun. Ini tentu berdampak pada perhitungan angsuran per bulan. Kalau misalnya ada tawaran bunga fix selama 3 tahun, dan cap selama 2 tahun berikut, maka jika terjadi perubahan (baca: naik) suku bunga Bank Indonesia, angsuran akan tetap selama periode tersebut mengikuti suku bunga yang sudah di sepakati. Karena itu jika suku bunga patokan turun, akan sangat sangat ‘susah’ suku bunga pinjaman juga turun. Jika lebih dari 5 tahun, maka suku bunga mengambang (floating rate) yang akan berlaku, mengikuti suku bunga pasar. Contohnya fix 6,99% per 3 tahun dan cap 8,99% per 3 tahun, maka jika masuk tahun ke-6 suku bunga naik menjadi 12,00%, maka cicilannya tentu akan naik juga. Asumsi pinjaman sampai 15 tahun, nah ruang kenaikan ini selama masa sisa cicilan 9 tahun alias sampai lunas tahun ke -15 harus sudah siap di antisipasi. Jangan sampai pada saat tahun ke-6 dan seterusnya, anda tidak mampu membayar cicilan tersebut.

Yang ke empat, siapkan juga dana untuk uang muka (DP – down payment) nya. Down payment rumah pertama sebesar 15%. Jika dari contoh di atas, maka uang sebesar Rp. 90 juta harus anda siapkan untuk down payment nya. Sangat tidak disarankan untuk mengambil pinjaman tanpa agunan seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk membayar DP ini. Karena itu berarti anda mempunyai beban cicilan lebih dari 30% dan kewajiban bayarnya lebih pendek dari cicilan KPR anda.

Yang ke lima, jika menggunakan fasilitas kredit dari bank atau insititusi keuangan lainnya, maka ada biayanya, biaya untuk memperoleh KPR tersebut berkisar 8%-10%, termasuk pembayaran pajak, provisi, BPHTB (Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan), jasa notaris, asuransi dan lainnya. Untuk itu dana sebesar 8%-10% dari nilai pinjaman perlu dipersiapkan. Dari contoh di atas kira-kira sebesar Rp. 41 juta s/d Rp. 51 juta yang sudah harus disiapkan.

Sehingga total dana cash yang mesti anda siapkan adalah gabungan dari DP dan biaya KPR, dalam contoh ini kurang lebih nilainya Rp. 131 juta – 141 juta.

Sebelum hal tersebut di atas dilakukan, periksalah terlebih dahulu bahwa tidak ada tunggakan tagihan dari pinjaman atau kredit lain, misalnya dari kartu kredit atau KTA atau fasilitas lainnya. Jika masih ada tagihan, di’bersih’kan dahulu supaya pada saat perhitungan parameter kredit, tidak ada masalah. Jika ada tunggakan, lunasi dan selesaikan terlebih dahulu, mintalah surat keterangan lunas jika diperlukan dari bank penerbit kartu kredit atau pemberi fasilitas kredit lainnya. Karena pada saat mengajukan KPR, bank pasti akan melakukan riwayat pinjam meminjam anda melalui BI checking, bagaimana historis kredit dan pembayaran anda sebelumnya.  Apabila anda pernah terlambat dalam membayar kewajiban anda, atau pernah tidak lancar dalam memenuhi kewajiban anda, akan terlihat jelas. Sehingga bila semua sudah clear, kapabilitas anda sebagai orang yang ‘bankable’ meyakinkan.

Meskipun harga properti terus naik, namun saat sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli properti? Mengapa ? karena saat sekarang adalah saatnya buyer’s market, dimana lebih banyak supply daripada demand, lebih banyak supply propertinya daripada permintaannya. Banyak orang dan developer properti  yang ingin menjual rumah atau apartemen nya, namun jumlah pembeli nya tidak sebanding. Keadaan seperti inilah yang membuat buyer lebih punya banyak pilihan untuk memilih properti.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Utang Kartu Kredit

republika kk

rizalplanner_Kontan 12Jun17

Peraturan terbaru Bank Indonesia mengenai pemangkasan bunga Kartu Kredit yang keluar 2 Desember 2016 sudah berlaku per Juni 2017, disebutkan bahwa suku bunga Kartu Kredit di Indonesia di turunkan dari 2,95% per bulan atau 35,4% per tahun menjadi 2,25% per bulan atau 26,95% per tahun. Perhitungan bunga tagihan akan turun seiring dengan penurunan suku bunga. Yang perlu diperhatikan oleh pemegang Kartu Kredit adalah bahwa bunga Kartu Kredit dibebankan secara proporsional terhadap setiap transaksi yang terjadi.

Penurunan 70 basis point berdampak pada turunnya beban bunga sebesar 24% bagi pengguna Kartu Kredit yang tidak membayar penuh atau membayar minimum payment, namun bila menunggak sama sekali atau membayar kurang jumlah dari minimum payment maka selain beban bunga dikenakan juga late charges (besarannya Rp. 20000 – Rp. 150000). Yang ujungnya akan menambah beban hutang.

Kartu Kredit merupakan kredit yang tidak ada agunannya. karena tidak adanya agunan itulah menyebabkan bank mempunyai risiko yang lebih besar dalam pemberian kredit. Risiko yang lebih besar tersebut diterjemahkan dalam bunga yang lebih besar, yang harus dibayarkan oleh konsumen. Hasil riset suatu portal keuangan menunjukkan bahwa sekitar 70% dari pengguna Kartu Kredit melakukan pembayaran minimum, dan hanya 30% yang membayar tepat waktu atau sebelum jatuh tempo.

Dengan penurunan suku bunga ini, kita tetap harus bijak dalam menggunakan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank. Setiap kali menggunakan Kartu Kredit, pastikan ada dana tesedia di rekening untuk membayar tagihannya. Secara akumulatif transaksi kartu kredit, hitunglah kira-kira maksimal tagihan 20% dari pendapatan bulanan anda. Angka 20% ini di luar kewajiban anda bayar cicilan KPR.

Menutup Hutang

Bila anda sudah terlibat dalam hutang, misalnya karena satu dan lain hal ada kebutuhan mendesak, anda mengambil fasilitas cash advance dari Kartu Kredit, sementara sebelumnya anda juga sudah belanja dengan menggesek Kartu Kredit dengan hanya melakukan pembayaran minimum, dan itu anda lakukan untuk 8 Kartu Kredit anda, bisa dibayangkan hutang menumpuk menjadi lautan hutang. Bila sudah demikian biasanya orang akan stress dan cenderung mencari jalan pintas untuk melunasinya. Namun ada prinsip yang perlu kita perhatikan bersama, yaitu yang pertama jangan pernah menutup kredit tanpa agunan anda dengan kredit yang beragunkan. Konkritnya, kalau anda punya tagihan Kartu Kredit, jangan pernah menggadaikan rumah anda menjadi fasilitas pinjaman untuk menutup tagihan Kartu Kredit tersebut. Karena apabila dikemudian hari anda tidak mampu membayar cicilan rumah anda atau ada kejadian luar biasa seperti konflik keluarga dan berujung pada ketidakmampuan membayar hutang, maka rumah anda akan disita bank atau harus di jual untuk menutupi tagihan anda. Buntutnya anda kehilangan tempat tinggal.

Yang kedua, jangan pernah menutup hutang lama dengan mengambil hutang baru, ini seperti gali lubang tutup lubang. Kalau anda punya tagihan belanja Kartu Kredit, jangan mengambil Kredit Tanpa Agunan (KTA) ataupun cash advance dari Kartu Kredit lain untuk menutup tagihan Kartu Kredit tersebut.

Yang ketiga, jika sudah mentok atau kepepet tidak mampu bayar, diskusilah dengan pihak bank sebagai penerbit Kartu Kredit. Jelaskan kondisi anda dan diskusikanlah bagaimana cara membayar tagihan anda, bisa melalui cicilan dalam waktu yang panjang atau dengan mengurangi denda.

Asuransi untuk Hutang

Jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai pengguna fasilitas kredit alias yang berhutang, tentu kewajiban tersebut akan diwariskan kepada ahli waris. Kalau anda punya KPR, otomatis sisa tagihan anda akan lunas oleh asuransi yang anda bayarkan pada saat pengambilan kredit. Sehingga ahli waris terbebas dari kewajiban. Sedangkan bila anda punya hutang Kartu Kredit yang tidak ada asuransinya, bila terjadi apa-apa dengan anda, maka ahli waris anda yang akan menanggung kewajiban anda. Bila ada opsi credit shield untuk Kartu Kredit, periksalah terlebih dahulu bahwa credit shield itu meng cover bila terjadi kematian atau cacat tetap, periksa juga apakah santunan itu melunasi seluruh hutang atau cicilan rutin saja? Siapa yang mendapatkan uang santunannya, apakah penerbit kartu atau ahli waris? Dan berapa besarnya premi dibandingkan total tagihan? Tanyakanlah secara jelas sebelum anda membeli credit shield tersebut.

Sebagai senjata pamungkas, untuk menutup semua tagihan Kartu Kredit yang anda ambil, jika terjadi kematian dengan pemegang Kartu Kredit, lebih baik mempunyai asuransi jiwa yang nilai Uang Pertanggungan (UP) nya jauh lebih besar daripada total tagihannya dan UP tersebut diwariskan kepada ahli waris. Sehingga setelah melunasi semua tagihan tersebut, sisanya dapat digunakan untuk menutup tagihan lain-lain di luar hal tersebut.

Sebagai kesimpulan, jika ingin mengambil hutang dengan bertransaksi melalui Kartu Kredit, ukurlah terlebih dahulu kemampuan anda, pastikan anda mempunyai kemampuan untuk membayarnya. Dan sebagai proteksi, jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai yang berhutang, pastikan ada asuransi yang menutupnya.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com