Menghitung UP Asuransi

alhealthinsurancetip

rizalplanner_Tabloid Kontan 17Apr17

Akhir-akhir ini banyak berita duka di sekitar kita, entah itu tokoh terkenal di negeri ini, teman kerja di kantor, tetangga, sampai keluarga dekat kita sendiri. Kalau kita lihat, bahkan ada yang masih sangat muda sudah ‘pergi’ untuk selamanya. Umur di tangan Tuhan, kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Ketika anda berkeluarga, dan mempunyai kewajiban menafkahi keluarga, saat itulah anda memerlukan proteksi bagi diri anda demi kepentingan keluarga. Kenapa? Karena kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dengan anda -sebagai pencari nafkah- yang menyebabkan kematian, maka orang-orang yang ditinggalkan, istri dan anak, akan mendapatkan penggantian dari pendapatan anda yang hilang.

Salah satu cara untuk melindungi penghasilan anda jika terjadi apa-apa dengan anda adalah dengan Asuransi Jiwa. Asuransi Jiwa ini memberikan proteksi terhadap risiko kematian kepada tertanggung, dalam hal ini anda sebagai pencari nafkah. Kata orang, yang namanya untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Memang kita harus menghilangkan dahulu prasangka negatif serta kekhawatiran, dan menumbuhkan harapan bagi diri kita dan keluarga terhadap Asuransi Jiwa.

Ada dua aspek kehidupan untuk setiap orang bila dilihat by product, yang pertama jika ia meninggal lebih dahulu, apa yang diwariskan untuk keluarga yang ditinggalkan, yang kedua, kalau ia panjang umur, mau hidup dengan apa? Untuk tulisan kali ini, hanya membahas poin yang pertama saja, sedangkan poin kedua, untuk orang-orang yang pensiun.

Dalam poin pertama, produk yang menjadi fokus adalah Asuransi Jiwa. Asumsikan dalam ilustrasi ini, anda adalah kepala keluarga dengan seorang istri dan satu orang anak.

Dalam menghitung kebutuhan Asuransi Jiwa, setidaknya ada 2 cara:

Yang pertama, pendekatan Human Life Value, pendekatan ini menghitung berdasarkan rata-rata pendapatan setiap bulan yang disetahunkan serta dikalikan dengan ekspektasi lamanya dana tersebut menopang hidup ahli waris sampai mampu mendapatkan incomenya sendiri. Cara perhitungannya: penghasilan rata-rata per bulan  x 12 x waktu pertanggungan. Ilustrasi sederhananya sebagai berikut, misalnya Anda, sebagai kepala keluarga (35 thn) mempunyai penghasilan Rp. 10 juta per bulan, dengan istri (30 thn) dan seorang anak (6 thn).

Maka dengan pendekatan ini, perhitungan kebutuhan asuransi Anda:

  • Rp. 10 juta x 12 x 17 = Rp. 2,04 Milyar.

Darimana datangnya angka 17 tahun? Asumsikan dalam 17 tahun, anak anda yang saat ini 6 tahun akan berusia 23 tahun dan diharapkan pada usia tersebut sudah selesai kuliah, mempunyai pekerjaan dan sudah dapat menopang dirinya sendiri.

Yang kedua, pendekatan Income Based Value, pendekatan ini berdasarkan pendapatan-rata-rata per bulan dibagi dengan faktor pertumbuhan dana (coupon atau suku bunga), karena UP tersebut harus di simpan dalam instrumen investasi.  Pilihan investasi bisa macam-macam, disarankan untuk memilih instrumen yang risikonya nyaris tidak ada, alias risk free.

Cara perhitungannya: pendapatan rata-rata perbulan / faktor pertumbuhan dana. Hasil investasi yang di dapat harus sama dengan penghasilan rata-rata perbulan atau uang yang dibutuhkan. Artinya jika terjadi klaim atas anda dan Uang Pertanggungan nya keluar, keluarga anda mendapatkan sejumlah uang yang jika di investasikan dalam instrumen tertentu, memberikan hasil yang sama dengan penghasilan rata-rata bulanan. Ilustrasinya masih sama seperti di atas, dengan asumsi penghasilan anda (Rp. 10 juta), instrumen yang dipilih adalah ORI (Obligasi Ritel Indonesia), contoh saat ini ORI 13 memberikan coupon 6,60% per tahun, nett 5,61% (setelah potong pajak) per tahun, atau 0,4675% per bulan.

Sehingga jika dihitung Uang Pertanggungan yang dibutuhkan:

  • Rp. 10 juta/ 0,4675% = Rp. 2,14 Milyar

Idealnya, keluarga ini punya UP sebesar Rp. 2,14 Milyar agar dapat menghasilkan Rp. 10 juta setiap bulannya. Pemilihan instrumen ORI pada pendekatan kedua ini, karena bisa di anggap investasi yang nyaris bebas risiko dan memberikan imbal hasil di atas suku bunga perbankan, jika kemudian kondisi perekonomian berubah dan instrumen yang bebas risiko berganti, maka pemilihan instrumen juga di sesuaikan.

Dari dua pendekatan ini, masing- masing punya kekurangan dan kelebihannya, yang pasti, biasanya, semakin besar Uang Pertanggungan semakin besar pula premi yang harus dibayarkan.

Setidaknya kita dapat mengetahui secara optimal berapa nilai UP yang wajar, sehingga ketika anda sebagai bread winner ‘pergi’ untuk selama-lamanya, anak istri tercinta terus dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik tanpa perlu bergantung pada pihak lain.

Sedikit tips, mintalah contoh polis sebelum membeli, bacalah terlebih dahulu, tanyakan apa saja yang dijamin, apa saja yang tidak, hal ini mencakup manfaat yang diterima, bagaimana dan kapan manfaat diterima dan risiko apa saja yang masuk dalam pengecualian- yang mengakibatkan UP tidak dibayar (contoh pengecualian seperti tindakan kriminal, olahraga ekstrem-mendaki gunung, menyelam). Jika polis sudah diterima, masih ada waktu untuk  mempelajarinya kembali (free look) selama 2-3 minggu dan jika ingin membatalkan dapat dilakukan pada masa tersebut. Last but not least, yang paling PENTING diketahui secara clear adalah proses klaim. Pelajari ketentuannya, apa saja persyaratan yang harus dipersiapkan, siapa yang dapat di hubungi  di perusahaan asuransi tsb, dan berapa lama perusahaan asuransi memproses klaim anda. Pastikan ahli waris anda cukup umur, minimum 21 tahun atau sudah menikah sesuai undang-undang di Indonesia, karena kalau masih anak-anak, dianggap belum cakap hukum, sehingga tidak bisa menerima waris.

YUK, CEK UP KESEHATAN KEUANGAN

source: EHshumfinancial.com

🙂 pic source: EHshumfinancial

 

Menjelang akhir tahun ini, saatnya kita mengevaluasi kondisi kesehatan kita, tidak hanya kesehatan badan kita tapi juga kesehatan dompet kita. Mungkin saja selama setahun terakhir ini banyak penambahan pengeluaran yang mungkin kita tidak sadar sudah di luar budget kita (sounds familiar ya..), atau malah penambahan pendapatan, tiba-tiba kita ketiban rejeki (yang ini bisa terjadi, tapi jaraaaang 🙂 .

Pernahkah anda mengajukan pertanyaan pada diri anda sendiri?

Apakah investasi yang kita lakukan sudah maksimal dengan kemampuan keuangan kita?

Apakah rasio hutang kita sudah melewati batas ambang kesehatan keuangan kita?

Apakah asuransi yang kita miliki sudah memadai? Cukupkah uang pertanggungan nya meng cover kita sebagai breadwinner jika terjadi apa-apa dengan kita?

Berapa total networth aset yang kita miliki?

Apakah cash flow keuangan keluarga saya sudah sehat, atau masih negatif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti di atas, bisa kita jawab dengan mengetahui seberapa besar tingkat kesehatan keuangan kita.

Sebagai bentuk kepedulian sosial kami sebagai financial planner, kami memberikan financial check up gratis sampai 31 Desember 2016, kirimkan email anda ke rizal.plannerindo@gmail.com dengan subject: Free Financial Check Up.

Terms and condition apply.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Bagaimana Mewujudkan Naik Haji Lebih Cepat?

Haji di Mekah

 

“…bersamaan dengan keberangkatan kami ke Tanah Suci, mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan kesalahan kami.., kami berencana akan berangkat menunaikan ibadah haji …..dst. kira-kira itu ucapan dari kerabat dan sahabat yang akan naik haji tahun ini.

Siapa sih umat muslim yang gak pengen naik haji… mulai dari tukang becak sampai presiden atau raja di dunia ini pasti punya keinginan untuk naik haji, karena itu seperti ‘mimpi’ umat muslim untuk bertamu ke rumah Tuhan nya, naik haji (bagi yang mampu) juga merupakan tujuan untuk melengkapi rukun Islam. Memang tidak murah naik haji, dengan asumsi biaya tahun ini sekitar Rp. 34.641.340 juta atau setara USD 2.585 dengan asumsi nilai tukar Rp. 13.400/USD.  Ongkos haji sesuai ketetapan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016. Atau bila menggunakan ONH Plus biaya nya sekitar USD 12.000 per orang atau kurang lebih Rp. 160 juta per orang atau 4,6 kali dari ONH regular.

Untuk ONH Reguler, daftar tunggu saat ini sudah mencapai 40 tahun di daerah, jadi kalau kita daftar umur 35 tahun, maka baru bisa berangkat waktu sudah jadi kakek nenek umur 75 tahun, itu juga dengan catatan kalau kita sampai umur segitu. Sementara kalau untuk mendapat nomer pendaftaran kita harus menabung dulu sampai terkumpul Rp. 25 juta, baru kemudian melunasi sisanya. Bisa dibayangkan bila ternyata 40 tahun kemudian ongkos haji naik menjadi Rp. 180 juta, maka sisanya harus kita lunasi untuk bisa pergi haji, sementara uang yang Rp. 25 juta itu mengendap tanpa hasil.

Kalau mau pergi cepat dari negara lain seperti Filipina, urusan nya bisa repot, kena deportasi sampai ancaman kehilangan kewarganegaraan.

Oleh karena itu pilihan paling logis dari sisi waktu, adalah dengan ikut ONH Plus, meskipun lebih mahal, tapi dari sisi waktu, umur calon haji dan rentang waktu tidak terlalu jauh, karena waktu tunggu ONH Plus jauh lebih cepat dari ONH Reguler (saat ini kurang lebih 7-8 tahun).

Asumsikan ongkos naik haji USD 12.000 atau IDR 160 juta, bila kita menggunakan tabungan syariah Rupiah, dengan bagi hasil nya kurang lebih 2%, maka akan butuh waktu yang lama dan dana yang lebih besar untuk mewujudkan naik haji kita, tapi…. bila kita menggunakan instrumen reksadana syariah, maka waktu dan nominal dapat lebih cepat dan lebih murah.

Ilustrasi dengan instrumen reksadana syariah Rupiah- bisa dilihat tabel di bawah ini:

Type Cicilan per bulan selama 3 tahun Cicilan per bulan selama 4 tahun Cicilan per bulan selama 5 tahun
ONH

Plus Rp. 160.000.000

Rp. 3.38 juta Rp. 2,30 juta Rp. 1,67 juta

Asumsi kurs: Rp. 13.400/USD

 

 

Bila kita menggunakan reksadana Dollar, maka ilustrasinya sbb:

Type Cicilan per bulan selama 3 tahun Cicilan per bulan selama 4 tahun Cicilan per bulan selama 5 tahun
ONH

Plus

USD 12000

USD 300 USD 217 USD 168

 

Angka nya ternyata mirip-mirip ya, hanya saja risiko fluktuasi nilai tukar akan lebih kecil bila kita gunakan instrumen dolar juga, karena tujuan akhir ongkos haji dalam bentuk dolar (USD 12000).

Yuk luruskan niat untuk kita bisa berangkat haji…!

 

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

Asuransi Pendidikan, tepatkah untuk sang buah hati?

asuransi pendidikan

Sebagai orang tua pasti kita ingin yang terbaik untuk pendidikan anak-anak kita, pingin sekolah nya yang terbaik, mulai dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Selain menabung dan investasi, ada orang tua yang membeli produk asuransi pendidikan untuk anak-anaknya.

Sekarang, banyak penawaran asuransi pendidikan, yang notabene sekarang adalah produk unit link, produk yang sangat canggih dan sophisticated. Anda beli produk ini, kalau anda sudah punya produk proteksi yang memadai dan juga investasi yang trengginas (eeh.., betul kan bahasa indonesianya). Mengapa? Karena produk unit link adalah produk proteksi sekaligus investasi, produk yang dikemas canggih sedemikian rupa sehingga produk ini bisa memberikan perlindungan asuransi sekaligus memberikan return atas investasi yang dilakukan.

Namun, karena canggihnya produk ini, banyak dari nasabah yang kurang paham dan kurang mengerti bagaimana mekanisme nya, berikut hal-hal penting yang wajib anda ketahui mengenai asuransi pendidikan:

  1. Nilai tunai berkurang dalam periode awal, kalau misalnya di awal anda membayar premi Rp. X juta, maka dalam beberapa tahun pertama, nilai tunai anda akan berkurang. Ini namanya biaya akuisisi. Ilustrasinya begini, misalnya uang premi yang disetor Rp. 100 juta, ternyata dalam laporan tahunan sudah terpotong Rp. 10 juta, otomatis nilai tunai nya tersisa Rp. 90 juta. Nilai Rp. 10 juta tersebut adalah biaya akuisisi, artinya kurang lebih biaya yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi untuk komisi agen, biaya marketing, yang diambil dari setoran premi nasabah. Biaya ini akan terus ada sampai periode tertentu. Dan bukan tidak mungkin laporan berikutnya nominal uang anda akan berkurang lagi.
  1. Waiver premium, kurang lebih artinya, premi akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, bila terjadi ketidakmampuan dari pihak yang membayarkan premi, sampai si anak mencapai usia sekolah/kuliah. Logikanya, buat apa dilanjutin bayar premi sampai anak mencapai usia sekolah/kuliah? Wong dibutuhin saat itu juga, saat si bapak udah ga ada lagi. Siapa yang akan bayarin sekolah si anak sekarang sampai usia sekolah/kuliah nanti? Emang nya si anak udah bisa otomatis cari duit sendiri saat si bapak ga ada sampai mencapai usia sekolah/kuliah nanti? Yang di asuransikan seharusnya adalah yang membayarkan premi, biasanya sih breadwinner alias pencari nafkah alias bapaknya BUKAN si anak sebagai penerima manfaat asuransi. Kalau ada apa-apa dengan bapaknya, maka otomatis anak akan ter-cover, bukan sebaliknya, kalau ada apa-apa dengan si anak, maka Bapaknya yang mendapatkan manfaatnya, ini kan salah kaprah.
  1. Asuransi sebagai proteksi, yang kita cari adalah untuk proteksi, sedangkan asuransi pendidikan unit link menawarkan proteksi sekaligus investasi, yang berakibat pada performance investasi dari nilai unit link itu sendiri yang tidak setinggi investasi murni. Ilustrasinya begini, misalnya Asuransi Unit Link dengan underlying asset yang sama (portfolio asset dasar yang sama) untuk Reksadana investasi murni, maka akan terlihat perbedaan yang nyata, jika pada reksadana bisa memberikan return hingga 12% p.a. (misalnya), maka return investasi di unit link biasanya lebih rendah dari 12% p.a.
  1. Perbedaan harga beli dan jual di asuransi unit link (di perusahaan asuransi tertentu), kalau diperhatikan di surat kabar, terdapat 2 kolom, jual dan beli, maka selisihnya kurang lebih sebesar 5 %. Ini adalah margin bagi perusahaan asuransi, sedangkan pada reksadana harga NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang dipublikasikan hanya closing price kolom saja, artinya harga jual dan beli unit Reksadana tersebut pada harga yang sama.

Kesimpulannya, dari 4 poin di atas, menurut saya, bisa dinilai bahwa asuransi pendidikan unit link kurang tepat sebagai proteksi sekaligus investasi untuk buah hati anda.

Oleh karena itu tetapkan tujuan dan kebutuhan anda, cermatlah dalam membeli asuransi, lebih baik bawel kepada agen asuransi daripada menyesal kemudian. Kalau masih kurang jelas, tanyakan pada financial planner anda.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Take Over = Hemat Waktu Cicilan

KPR take over

Ket: salah satu contoh iklan KPR Take Over dari salah satu bank swasta di Indonesia.

 

Kalau anda punya hutang rumah di bank dan suatu saat anda menjerit melihat tagihan rutin KPR (Kredit Pemilikan Rumah) anda naik, maka bisa dipastikan bunga KPR anda naik! Dan bunga ini bisa naik setiap 6 bulanan, sementara turunnya susah banget. Siapa sih yang gak senewen melihat tagihan yang naik? Sementara harga barang-barang kebutuhan juga terus naik.

Bank mengenakan floating rate, artinya suku bunga bank mengikuti pasar. Kalau patokan tingkat bunga naik, maka yang paling cepet naik adalah bunga kredit, sementara bunga tabungan & deposito paling lambat mengikuti kenaikan, dan begitu juga kalau patokan tingkat bunga turun. Kenapa? Karena bunga kredit adalah sumber pendapatan bank, sementara bunga tabungan dan deposito adalah kewajiban bank terhadap nasabah. Sebagai catatan BI rate per Kamis 14 Januari 2015 lalu turun dari 7.50% menjadi 7.25%.

Kalau ada penawaran KPR dengan bunga fixed rate 3 tahun dari suatu bank, maka ini bisa jadi salah satu solusi penghematan untuk anda dengan memindahkannya (take over). Ilustrasinya begini, kalau misalnya asumsi bunga floating rate bank saat ini 13,5% dan penawaran fixed rate 8.5%, maka dengan take over KPR, penghematan anda sebesar 5%, luar biasa kan? Ternyata penurunan rate 5% ini, jika dihitung dengan nilai cicilan yang sama, maka anda akan berhemat 2,5 tahun.

Tentu saja ada biaya-biaya KPR untuk take over (KPR yang di alihkan ke bank lain). Namun biaya ini hanya sekitar 5% dari total tagihan KPR, sementara penghematan total pokok dan bunga kurang lebih 30% dari nilai tagihan. Artinya anda berhemat 25% kan.

Ilustrasi tabel di bawah bisa menggambarkan kondisi ilustrasi di atas:

  Sebelum

Take Over

Sesudah

Take Over

 
  Rate KPR: 13.5% Rate KPR: 8.5% Selisih
Tingkat Bunga KPR

13.50%

8.50%

5.00%

Cicilan per bulan (Rp.)

         7,600,000

               7,600,000                        –
Jangka Waktu (tahun)                            10

7.5

2.5

Sisa Tagihan (Outstanding) (Rp.)

         500,000,000

                 500,000,000

0
Bunga+Pokok selama 36 bulan (Rp.)

         601,776,000

                 455,375,000

   146,401,000
Biaya take over (Rp.)  

                   17,060,000

 

 

Dari tabel di atas asumsikan nilai sisa tagihan (outstanding) sebesar Rp. 500.000.000, terlihat bahwa dengan nominal cicilan sebelum dan sesudah KPR take over mempunyai nominal yang sama Rp. 7.600.000, jangka waktu cicilan hemat 2,5 tahun menjadi 7,5 tahun. Selama 36 bulan pertama, selama masa fixed rate berlaku, anda juga berhemat untuk Bunga dan Pokok cicilan sebesar Rp. 146.401.000. Nilai penghematan Bunga dan Pokok ini setara dengan 30% dari nilai tagihan (outstanding). Sedangkan biaya take over sebesar Rp. 17.060.000 setara dengan 5% dari nilai tagihan (outstanding). Jika di net off, anda berhemat 25%.

Memang ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk take over, tapi jika anda sudah pernah disetujui untuk KPR, maka untuk take over kurang lebih syarat yang sama yang diperlukan.

Selanjutnya, jika sudah 3 tahun, dimana masa fixed rate sudah selesai, maka bunga akan kembali mengikuti pasar, pindahkan saja lagi KPR anda ke bank lain yang menawarkan fixed rate yang lebih rendah untuk jangka waktu tertentu.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

CASH IS KING

source: poluscapital.com

pic source: poluscapital.com

Hari ini Indeks bursa saham di Indonesia sempat jatuh ke 4100, Rupiah sudah menyentuh ke Rp.14000 per 1 Dolar Amerika (bahkan ada yang sudah meramal bahwa akan menyentuh Rp. 15000/1US$). Indeks Dow Jones juga merah membara turun -588.40 ke level 15000 (dari Indeks tertinggi sebelumnya 18000). Belum lagi hadirnya fenomena alam El Nino di Indonesia. Dampak dari Topan El Nino ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat wilayah Negara Republik Indonesia tercinta kita ini menjadi kering dan kemarau yang berkepanjangan. Konon hembusan angin El Nino ini juga mempengaruhi indeks bursa saham, terutama saham-saham yang terkait dengan produk pertanian.

Jika fenomena alam El Nino ditambah dengan kondisi babak belur bursa dan kurs Rupiah yang menguatirkan ini terus berlanjut sampai akhir tahun 2015, apakah kondisi krisis 1997-1998 bisa terulang kembali?

Indikator lainnya yang menunjukkan kondisi ekonomi global dan domestik lagi lesu bisa dilihat dari:

  • Ekspor turun -15,5% mom (atau -19,2% yoy) di bulan Juli 2015.
  • Impor juga turun lebih dalam lagi -22,4% mom (atau -28,4% yoy) di bulan Juli 2015
  • Penjualan semen yang menurun -10,2% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -6,2% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan mobil turun -39,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -25,7% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan motor turun -21,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -23,5% yoy di bulan Juni 2015.

Keterangan:

mom = month on month, menunjukkan perbandingan dari bulan ke bulan, sementara yoy = year on year, menunjukkan perbandingan dari tahun ke tahun.

 

Poin pertama di atas menunjukkan ekonomi dunia yang lagi lesu, sementara poin kedua sampai kelima menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang lemah.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini jaga kondisi likuiditas keuangan keluarga anda, karena likuiditas adalah raja, orang (kepepet) menjual aset karena butuh uang. CASH is KING!

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

WARIS MENURUT ISLAM

souce: baltyra.com

source: baltyra.com

Ini merupakan pembahasan yang sensitif, karena menyangkut harta dan keluarga. Mengapa kita perlu belajar waris? Salah satu alasan utamanya adalah menghindari perpecahan keluarga..! Betul, sudah banyak cerita keluarga pecah karena harta warisan. Kakak beradik berantem karena menginginkan harta yang sama. Saling gontok-gontokan, berkelahi sampai ke pengadilan.

Dalam tulisan ini kita hanya membahas waris menurut Islam, banyak yang bilang ribet, tapi pada prinsipnya jika anda seorang muslim, maka posisi anda baik sebagai istri atau ibu, sebagai seorang suami atau ayah, atau sebagai seorang anak, maka anda perlu tahu dan mengerti bagaimana hukum waris menurut Islam agar tidak ribut dikemudian hari. Karena ketentuan ini sudah tertulis dalam Al-Quran.

Kalau dilihat dari kelompok ahli waris, maka ada dua kelompok ahli waris, yaitu:

  1. Berdasarkan hubungan darah:
    1. Golongan laki-laki, terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
    2. Golongan perempuan, terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.
  2. Berdasarkan hubungan perkawinan:
    1. Duda
    2. Janda

Ada juga yang bisa menjadi penghalang, kalau misalnya si ahli waris membunuh atau mencoba melakukan pembunuhan terhadap pemberi waris atau menganiaya berat, yang semuanya terbukti berdasarkan keputusan pengadilan, maka terhalanglah ahli waris tersebut untuk menerima warisan. Misalnya si anak membunuh ayahnya untuk menguasai seluruh harta warisan, singkat cerita ketangkep polisi, kemudian di adili (ini bukan cerita mafia seperti di film), maka jika terbukti di pengadilan, maka si anak tidak berhak mendapatkan hak warisnya.

Berapa besar bagian dari ahli waris, bisa kita lihat dari summary di tabel di bawah ini.

TABEL AHLI WARIS DAN BAGIAN WARIS HUKUM WARIS ISLAM MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)

Oleh: Nasichun Amin, M. Ag (Penghulu Muda di KUA, Kec. Gresik)

sumber: http://www.bimoprasetio.com/dokumen/web-bimo-tabel-ahli-waris-dan-bagian-waris-khi.pdf

source: source: http://www.bimoprasetio.com/dokumen/web-bimo-tabel-ahli-waris-dan-bagian-waris-khi.pdf

Sebagai ilustrasi, misalnya seorang suami/ ayah wafat meninggalkan seorang istri dan 2 anak, maka istri yang ditinggalkan berhak mendapatkan 1/8 dari total hartanya, jika ada 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Misalnya sang suami/ayah meninggalkan warisan uang Rp. 8 Milyar, maka sang istri berhak mendapatkan 1/8 dari Rp. 8 Milyar, yaitu Rp. 1 Milyar. Sisanya Rp. 7 Milyar dibagi untuk kedua anaknya. Anak-anaknya dihitung 3 (karena bagian anak laki-laki dihitung 2 dibanding 1 anak perempuan), sehingga anak laki-lakinya mendapat 2/3 x Rp. 7 Milyar yaitu Rp. 4,67 M, sedangkan anak perempuan nya mendapat 1/3 x Rp. 7 Milyar yaitu Rp. 2,33 Milyar. Nah gak ribet kan ternyata….

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

MOBIL BEKAS via REKSADANA

infinityFX37

Kalau beli mobil bekas memang perlu banyak yang di perhatikan, mesin nya, bodynya, servis nya dst dst.., yang jadi benefit kalau beli mobil bekas adalah kita tidak perlu membayar pajak untuk mobil baru.., tapi tulisan ini tidak untuk membahas mengenai hal-hal teknis seperti itu, tapi bagaimana membeli mobil bekas yang notabene aset yang terdepresiasi melalui instrumen yang terus terapresiasi. Kalau mobil rata-rata terdepresiasi 10-15% per tahun dan reksadana campuran mempunyai average return rata-rata 10-12% per tahun, maka kalau ada grafik, maka grafik harga mobil akan terus menurun, sementara grafik reksadana akan terus naik dan akan bertemu di suatu titik (titik equilibrium namanya), seperti grafik supply & demand (kebayang kaan..).

harga mobil vs reksadana

Misalnya, mobil baru 2011 Infinity FX37 harganya Rp. 1.1 Miliar, maka seken nya tahun 2014 harganya turun jadi Rp. 750 juta. Dalam waktu 3 (tiga) tahun menyusut Rp. 350 juta atau 32%, kurang lebih 11% per tahun.

Asumsi contoh yang digunakan misalnya: Mobil Infinity FX37 keluaran tahun 2011, mesin: 3696 cc, V6, 320 dk. Harga baru 2011: Rp. 1,1 Miliar, harga seken 2014: Rp. 750 jutaan. SUV ini merupakan salah satu kasta tertinggi dari Jepang yang mempunyai tenaga berlimpah. Selain itu tenaga pacunya mencapai 320 dk, daya pikat lain SUV ini mempunyai 4 roda penggerak, akan menambah rasa percaya diri saat di medan yang agak berat.

Jika dari informasi di atas, kita berandai-andai kembali ke tahun 2011, maka simulasinya:

Cicilan mobil baru per bulan selama 3 tahun (2011 – 2014): Rp. 34,7 juta/ bulan.

Sebaliknya, jika di tahun 2011 kita berencana untuk membeli mobil Infinity ini secara seken 3 tahun kemudian, maka  dari simulasi, tabungan dalam bentuk reksadana campuran per bulan selama 3 tahun (2011 – 2014) sebesar Rp.24,6 juta/bulan.

Jadi ada selisih sebesar Rp. 34.7 juta – 24,6 juta = Rp. 10,1 juta per bulan.

Tabel 1. Simulasi pembelian mobil Infinity FX37.

Tahun awal 2011 Tahun selesai  2014 Cicilan per bulan selama 3 tahun

 

Keterangan
Baru   Rp. 34,7 juta/bulan Cicilan kredit

 

  Bekas Rp. 24,6 juta/ bulan Tabungan dalam bentuk Reksadana
Selisih   Rp. 10,1 juta/bulan  

 

 

Bedanya Rp. 10,1 juta, cukup signifikan, bisa kita gunakan untuk investasi lainnya. Apalagi kalau kelas 2000 cc ke atas penyusutannya cukup signifikan dibandingkan dengan mobil dibawah 2000 cc, belum lagi kalau mobil Eropa.

Jadi kalau anda berkeinginan mempunyai mobil 3 tahun lagi dari sekarang, dan anda tahu berapa harga mobil tersebut saat ini, maka anda bisa menghitung berapa tabungan yang mesti anda siapkan sekarang dengan pilihan instrumennya. Kalau mau mobil periode yang lebih panjang, misalnya 5 tahun, tentu kita gunakan instrumen yang berbeda, tergantung kapan kita rencana beli mobil bekas tersebut.

 

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.plannerindo@gmail.com

MERANCANG BIAYA PERJALANAN WISATA

kompas travel fair

rizalplanner_Tab Kontan 6Mar17

Kalau di ajak jalan-jalan, kayaknya tidak ada yang nolak, kalau bisa, lebih banyak jalan-jalannya dibanding kegiatan lainnya (baca: kerja). Kalau melihat penawaran travel fair yang terakhir di JCC dari salah satu media nasional, rasanya setiap saat tahun pingin pergi at least ke satu negara.

Nah kalau dari poster penawaran yang ada, dengan perhitungan perencanaan keuangan serta instrumen menabungnya tepat, maka kita bisa berpergian setiap tahunnya.

Untuk travelling, penawaran cicilan 0% not recommended, karena kenikmatan yang sudah kita dapat tapi kita masih terbebani untuk bayar cicilan tersebut setelah berpergian. Emang enak sih tinggal gesek tapi bayar belakangannya yang tidak enak.

Oleh karena itu mari kita rencanakan travelling kita dengan cara menabung pada instrumen yang tepat. Misalnya kita rencanakan selama 5, 4, 3, 2, dan 1 tahun ke depan kita akan berpergian ke USA, Japan, West Europe, Middle East, Korea.  Harga masing-masing paket per orang dengan asumsi kurang lebih sama seperti iklan tahun ini, sbb:

5 tahun                 à           10D USA                               = USD 1488

4 tahun                 à           7D Japan                              = USD 1199

3 tahun                 à           8D West Europe               = USD 888

2 tahun                 à           10D Middle East                = USD 699

1 tahun                 à           6D Korea                              = USD 449

Pilihan menabung bisa dalam Rupiah atau US Dollar, asumsi yang kita tabung adalah paket tersebut saja, di luar keperluan lainnya seperti beli oleh-oleh, belanja, makan dan keperluan pribadi lainnya. Untuk memudahkan perhitungan dan instrumen yang digunakan, maka dalam case ini digunakan Rupiah.

Untuk ke USA, karena jangka waktunya 5 tahun lagi, kita bisa pakai instrumen menabungnya reksadana saham, sedangkan untuk ke Jepang dan West Europe, kita bisa gunakan instrumennya Reksadana Campuran, sedangkan untuk 1 dan 2 tahun mendatang ke Middle East dan Korea, kita bisa gunakan Deposito.

Hitungannya seperti di bawah ini:

 harga Installment/ bulan
 US$ = IDR 5 tahun 4 tahun 3 thn 2 thn 1 thn
USA 1488    17,856,000.00             (186,000)
Japan 1199    14,388,000.00          (245,000)
West Europe 888    10,656,000.00 (256,000)
Middle East 699      8,388,000.00 (328,000)
Korea 449      5,388,000.00 (436,000)

Dari tabel di atas terlihat, bahwa untuk membeli paket USA dalam 5 tahun mendatang, kita perlu menabung Rp. 186.000 setiap bulannya selama 5 tahun di Reksadana Saham, ke Jepang Rp. 245.000 setiap bulan selama 4 tahun di Reksadana Campuran, ke Eropa Rp. 256.000 setiap bulan selama 3 tahun di Reksadana Campuran, ke Timur Tengah, Rp. 328.000 setiap bulan selama 2 tahun dan terakhir ke Korea, Rp. 436.000 setiap bulan selama setahun.

Asumsi yang digunakan di atas adalah 1 US$ = Rp 12.000 dan hanya untuk 1 orang saja. Oleh karena itu jika anggota keluarga anda 4 orang, maka angka tersebut perlu dikalikan dengan jumlah anggota keluarga anda yang ikut.

Kesimpulan: semakin jauh anda mempersiapkan rencana travelling anda, semakin murah tabungan yang mesti anda siapkan setiap bulannya.

So let’s travel with plan.

Catch me: @rizalplanner

Email: rizalplannerindo@gmail.com

Review Buku: Real Estate Riches by Dolf de Roos, Ph.D

pic source: judyoz.com

pic source: judyoz.com

 

Pengarang buku ini seorang Kiwi (sebutan khusus untuk orang New Zealand), Dolf De Roos namanya. De Roos mengasosiasikan bukunya  dengan Robert Kiyosaki, pengarang buku Rich Dad Poor Dad, seri dari “Rich Dad Advisor™”, warna cover nya pun ungu hitam, mengikuti tema cover buku Kiyosaki. Di dalamnya juga ada pengantar dari Kiyosaki. De Roos adalah seorang Ph.D di bidang electrical engineering, yang tidak pernah kerja pada orang. Menurut ceritanya, de Roos pernah ditawari pekerjaan dengan gaji sebesar US$ 32.000 setahun, tapi ditolaknya, karena seminggu sebelumnya dia sudah deal transaksi real estate senilai US$ 35.000. De Roos bilang kalau dalam seminggu bisa dapat US$ 35000, ngapain harus kerja setahun untuk uang yang lebih kecil US$ 32.000?

Ada beberapa poin yang ingin De Roos highlight dalam bukunya:

  1. The 100:10:3:1 rule

Maksudnya De Roos kalau kita sedang mencari properti, carilah 100 unit properti, kemudian buatlah penawaran untuk 10 unit, selanjutnya cobalah cari pendanaan untuk 3 unit dan akhirnya anda hanya akan beli 1 unit. ‘Cari’ disini maksudnya inspeksi secara fisik unit dari masing-masing properti tersebut.

  1. Ignore biaya broker dan komisi untuk simplicity.

Menurut saya kalau kita jual properti melalui broker, paling tidak 2%-3% dari nilai transaksi harus kita keluarkan sebagai komisi. Komisi ini tetap harus diperhitungkan. Selain itu biaya transaksi properti sangat signifikan, seperti pajak yang harus dibayar oleh pembeli dan penjual, biaya notaris, dll.

  1. KPR memberikan leverage yang lebih tinggi dari pada membeli saham dengan fasilitas margin.

Besar bunga fasilitas margin lebih tinggi dari bunga bank, semakin lama uang ditahan semakin besar pula bunga yang harus dibayarkan. Poin ini terkait dengan besar bunga dan jangka waktu KPR vs fasilitas.

  1. Biaya sewa meng cover biaya-biaya yang terkait properti.

De Roos bilang bahwa kalau kita beli properti dengan bijak dan menyewakannya, maka uang sewa tersebut akan meng cover biaya-biaya yang timbul seperti cicilan, biaya pemeliharaan, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Menurut saya jika kita bandingkan harga sewa sekitar 3%-5% per tahun, sementara biaya bunga cicilan KPR per tahun 12%-15%, maka sangat jarang harga sewa dapat mengcover biaya-biaya yang timbul, seperti biaya bunga cicilan KPR tersebut.

  1. Penjual harus meng hire appraiser.

Appraiser dibutuhkan jika bank atau perusahaan pembiayaan dibutuhkan dalam transaksi ini. Sementara itu di lain sisi, seorang investor harus lebih jeli dari appraiser itu sendiri. Sang investor harus lebih kenal medan.

  1. Membandingkan saham dengan real estate

De Roos ingin mencoba membuktikan bahwa real estate lebih baik daripada saham, karena harganya yang sangat berfluktuasi dibandingkan harga real estate.

  1. Hanya dibutuhkan common sense untuk berinvestasi di properti.

Padahal menurut Matius Yusuf, Direktur Pemasaran dari Agung Podomoro – salah satu perusahaan properti di tanah air, perlu ilmu yang memadai, kecepatan dan ketajaman dalam berpikir dan bertindak untuk membeli suatu properti. Artinya sang investor perlu dibekali ilmu manajemen keuangan, hukum yang terkait properti, perpajakan, asuransi dll.

  1. De Roos bilang, anda akan mendapatkan feel harga dari suatu properti setelah me’lihat’ beragam properti.

 

Tidak semua poin bisa di aplikasikan menurut saya, jadi tinggal bagaimana kita ambil yang related saja.

 

 

Catch me     : @rizalplanner

Email             : rizal.planner@gmail.com

 

Tags: financial planner, perencana keuangan, properti, Real Estate Riches, Real Estate, Dolf de Roos, buku properti.