MOBIL BEKAS via REKSADANA

infinityFX37

Kalau beli mobil bekas memang perlu banyak yang di perhatikan, mesin nya, bodynya, servis nya dst dst.., yang jadi benefit kalau beli mobil bekas adalah kita tidak perlu membayar pajak untuk mobil baru.., tapi tulisan ini tidak untuk membahas mengenai hal-hal teknis seperti itu, tapi bagaimana membeli mobil bekas yang notabene aset yang terdepresiasi melalui instrumen yang terus terapresiasi. Kalau mobil rata-rata terdepresiasi 10-15% per tahun dan reksadana campuran mempunyai average return rata-rata 10-12% per tahun, maka kalau ada grafik, maka grafik harga mobil akan terus menurun, sementara grafik reksadana akan terus naik dan akan bertemu di suatu titik (titik equilibrium namanya), seperti grafik supply & demand (kebayang kaan..).

harga mobil vs reksadana

Misalnya, mobil baru 2011 Infinity FX37 harganya Rp. 1.1 Miliar, maka seken nya tahun 2014 harganya turun jadi Rp. 750 juta. Dalam waktu 3 (tiga) tahun menyusut Rp. 350 juta atau 32%, kurang lebih 11% per tahun.

Asumsi contoh yang digunakan misalnya: Mobil Infinity FX37 keluaran tahun 2011, mesin: 3696 cc, V6, 320 dk. Harga baru 2011: Rp. 1,1 Miliar, harga seken 2014: Rp. 750 jutaan. SUV ini merupakan salah satu kasta tertinggi dari Jepang yang mempunyai tenaga berlimpah. Selain itu tenaga pacunya mencapai 320 dk, daya pikat lain SUV ini mempunyai 4 roda penggerak, akan menambah rasa percaya diri saat di medan yang agak berat.

Jika dari informasi di atas, kita berandai-andai kembali ke tahun 2011, maka simulasinya:

Cicilan mobil baru per bulan selama 3 tahun (2011 – 2014): Rp. 34,7 juta/ bulan.

Sebaliknya, jika di tahun 2011 kita berencana untuk membeli mobil Infinity ini secara seken 3 tahun kemudian, maka  dari simulasi, tabungan dalam bentuk reksadana campuran per bulan selama 3 tahun (2011 – 2014) sebesar Rp.24,6 juta/bulan.

Jadi ada selisih sebesar Rp. 34.7 juta – 24,6 juta = Rp. 10,1 juta per bulan.

Tabel 1. Simulasi pembelian mobil Infinity FX37.

Tahun awal 2011 Tahun selesai  2014 Cicilan per bulan selama 3 tahun

 

Keterangan
Baru   Rp. 34,7 juta/bulan Cicilan kredit

 

  Bekas Rp. 24,6 juta/ bulan Tabungan dalam bentuk Reksadana
Selisih   Rp. 10,1 juta/bulan  

 

 

Bedanya Rp. 10,1 juta, cukup signifikan, bisa kita gunakan untuk investasi lainnya. Apalagi kalau kelas 2000 cc ke atas penyusutannya cukup signifikan dibandingkan dengan mobil dibawah 2000 cc, belum lagi kalau mobil Eropa.

Jadi kalau anda berkeinginan mempunyai mobil 3 tahun lagi dari sekarang, dan anda tahu berapa harga mobil tersebut saat ini, maka anda bisa menghitung berapa tabungan yang mesti anda siapkan sekarang dengan pilihan instrumennya. Kalau mau mobil periode yang lebih panjang, misalnya 5 tahun, tentu kita gunakan instrumen yang berbeda, tergantung kapan kita rencana beli mobil bekas tersebut.

 

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.plannerindo@gmail.com

MERANCANG BIAYA PERJALANAN WISATA

kompas travel fair

rizalplanner_Tab Kontan 6Mar17

Kalau di ajak jalan-jalan, kayaknya tidak ada yang nolak, kalau bisa, lebih banyak jalan-jalannya dibanding kegiatan lainnya (baca: kerja). Kalau melihat penawaran travel fair yang terakhir di JCC dari salah satu media nasional, rasanya setiap saat tahun pingin pergi at least ke satu negara.

Nah kalau dari poster penawaran yang ada, dengan perhitungan perencanaan keuangan serta instrumen menabungnya tepat, maka kita bisa berpergian setiap tahunnya.

Untuk travelling, penawaran cicilan 0% not recommended, karena kenikmatan yang sudah kita dapat tapi kita masih terbebani untuk bayar cicilan tersebut setelah berpergian. Emang enak sih tinggal gesek tapi bayar belakangannya yang tidak enak.

Oleh karena itu mari kita rencanakan travelling kita dengan cara menabung pada instrumen yang tepat. Misalnya kita rencanakan selama 5, 4, 3, 2, dan 1 tahun ke depan kita akan berpergian ke USA, Japan, West Europe, Middle East, Korea.  Harga masing-masing paket per orang dengan asumsi kurang lebih sama seperti iklan tahun ini, sbb:

5 tahun                 à           10D USA                               = USD 1488

4 tahun                 à           7D Japan                              = USD 1199

3 tahun                 à           8D West Europe               = USD 888

2 tahun                 à           10D Middle East                = USD 699

1 tahun                 à           6D Korea                              = USD 449

Pilihan menabung bisa dalam Rupiah atau US Dollar, asumsi yang kita tabung adalah paket tersebut saja, di luar keperluan lainnya seperti beli oleh-oleh, belanja, makan dan keperluan pribadi lainnya. Untuk memudahkan perhitungan dan instrumen yang digunakan, maka dalam case ini digunakan Rupiah.

Untuk ke USA, karena jangka waktunya 5 tahun lagi, kita bisa pakai instrumen menabungnya reksadana saham, sedangkan untuk ke Jepang dan West Europe, kita bisa gunakan instrumennya Reksadana Campuran, sedangkan untuk 1 dan 2 tahun mendatang ke Middle East dan Korea, kita bisa gunakan Deposito.

Hitungannya seperti di bawah ini:

 harga Installment/ bulan
 US$ = IDR 5 tahun 4 tahun 3 thn 2 thn 1 thn
USA 1488    17,856,000.00             (186,000)
Japan 1199    14,388,000.00          (245,000)
West Europe 888    10,656,000.00 (256,000)
Middle East 699      8,388,000.00 (328,000)
Korea 449      5,388,000.00 (436,000)

Dari tabel di atas terlihat, bahwa untuk membeli paket USA dalam 5 tahun mendatang, kita perlu menabung Rp. 186.000 setiap bulannya selama 5 tahun di Reksadana Saham, ke Jepang Rp. 245.000 setiap bulan selama 4 tahun di Reksadana Campuran, ke Eropa Rp. 256.000 setiap bulan selama 3 tahun di Reksadana Campuran, ke Timur Tengah, Rp. 328.000 setiap bulan selama 2 tahun dan terakhir ke Korea, Rp. 436.000 setiap bulan selama setahun.

Asumsi yang digunakan di atas adalah 1 US$ = Rp 12.000 dan hanya untuk 1 orang saja. Oleh karena itu jika anggota keluarga anda 4 orang, maka angka tersebut perlu dikalikan dengan jumlah anggota keluarga anda yang ikut.

Kesimpulan: semakin jauh anda mempersiapkan rencana travelling anda, semakin murah tabungan yang mesti anda siapkan setiap bulannya.

So let’s travel with plan.

Catch me: @rizalplanner

Email: rizalplannerindo@gmail.com

Review Buku: Real Estate Riches by Dolf de Roos, Ph.D

pic source: judyoz.com

pic source: judyoz.com

 

Pengarang buku ini seorang Kiwi (sebutan khusus untuk orang New Zealand), Dolf De Roos namanya. De Roos mengasosiasikan bukunya  dengan Robert Kiyosaki, pengarang buku Rich Dad Poor Dad, seri dari “Rich Dad Advisor™”, warna cover nya pun ungu hitam, mengikuti tema cover buku Kiyosaki. Di dalamnya juga ada pengantar dari Kiyosaki. De Roos adalah seorang Ph.D di bidang electrical engineering, yang tidak pernah kerja pada orang. Menurut ceritanya, de Roos pernah ditawari pekerjaan dengan gaji sebesar US$ 32.000 setahun, tapi ditolaknya, karena seminggu sebelumnya dia sudah deal transaksi real estate senilai US$ 35.000. De Roos bilang kalau dalam seminggu bisa dapat US$ 35000, ngapain harus kerja setahun untuk uang yang lebih kecil US$ 32.000?

Ada beberapa poin yang ingin De Roos highlight dalam bukunya:

  1. The 100:10:3:1 rule

Maksudnya De Roos kalau kita sedang mencari properti, carilah 100 unit properti, kemudian buatlah penawaran untuk 10 unit, selanjutnya cobalah cari pendanaan untuk 3 unit dan akhirnya anda hanya akan beli 1 unit. ‘Cari’ disini maksudnya inspeksi secara fisik unit dari masing-masing properti tersebut.

  1. Ignore biaya broker dan komisi untuk simplicity.

Menurut saya kalau kita jual properti melalui broker, paling tidak 2%-3% dari nilai transaksi harus kita keluarkan sebagai komisi. Komisi ini tetap harus diperhitungkan. Selain itu biaya transaksi properti sangat signifikan, seperti pajak yang harus dibayar oleh pembeli dan penjual, biaya notaris, dll.

  1. KPR memberikan leverage yang lebih tinggi dari pada membeli saham dengan fasilitas margin.

Besar bunga fasilitas margin lebih tinggi dari bunga bank, semakin lama uang ditahan semakin besar pula bunga yang harus dibayarkan. Poin ini terkait dengan besar bunga dan jangka waktu KPR vs fasilitas.

  1. Biaya sewa meng cover biaya-biaya yang terkait properti.

De Roos bilang bahwa kalau kita beli properti dengan bijak dan menyewakannya, maka uang sewa tersebut akan meng cover biaya-biaya yang timbul seperti cicilan, biaya pemeliharaan, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Menurut saya jika kita bandingkan harga sewa sekitar 3%-5% per tahun, sementara biaya bunga cicilan KPR per tahun 12%-15%, maka sangat jarang harga sewa dapat mengcover biaya-biaya yang timbul, seperti biaya bunga cicilan KPR tersebut.

  1. Penjual harus meng hire appraiser.

Appraiser dibutuhkan jika bank atau perusahaan pembiayaan dibutuhkan dalam transaksi ini. Sementara itu di lain sisi, seorang investor harus lebih jeli dari appraiser itu sendiri. Sang investor harus lebih kenal medan.

  1. Membandingkan saham dengan real estate

De Roos ingin mencoba membuktikan bahwa real estate lebih baik daripada saham, karena harganya yang sangat berfluktuasi dibandingkan harga real estate.

  1. Hanya dibutuhkan common sense untuk berinvestasi di properti.

Padahal menurut Matius Yusuf, Direktur Pemasaran dari Agung Podomoro – salah satu perusahaan properti di tanah air, perlu ilmu yang memadai, kecepatan dan ketajaman dalam berpikir dan bertindak untuk membeli suatu properti. Artinya sang investor perlu dibekali ilmu manajemen keuangan, hukum yang terkait properti, perpajakan, asuransi dll.

  1. De Roos bilang, anda akan mendapatkan feel harga dari suatu properti setelah me’lihat’ beragam properti.

 

Tidak semua poin bisa di aplikasikan menurut saya, jadi tinggal bagaimana kita ambil yang related saja.

 

 

Catch me     : @rizalplanner

Email             : rizal.planner@gmail.com

 

Tags: financial planner, perencana keuangan, properti, Real Estate Riches, Real Estate, Dolf de Roos, buku properti.

Pajak atas Transaksi Properti

Tax-Of-Property

Pada saat kita membeli atau menjual properti, pasti ada pajak yang mesti dibayarkan. Pajak seperti ini harus dibayarkan langsung (iya harus, ga bisa ditunda-tunda), yaitu:

Bagi Penjual:

  1. Pajak Penghasilan (PPh).
  2. Pajak Bumi & Bangunan (PBB).

 

Bagi Pembeli:

  1. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

 

Bagi Penjual:

Yang pertama, Pajak Penghasilan (PPh), ini harus dibayarkan oleh si Penjual atas uang hasil penjualan properti (tanah dan bangunan) yang diterimanya, nilainya 5% dari nilai transaksi. Misalnya ambil contoh rumah di Tangerang, luas tanah (LT) 100 m², luas bangunan (LB) 60 m², berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan Tahun 2014, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk tanah harganya Rp. 3.000.000 per m² dan nilai bangunan Rp. 1.500.000 per m².

–          Harga bumi (tanah)  : 100 x Rp. 3.000.000        = Rp. 300.000.000

–          Harga bangunan        :   60 x Rp. 1.500.000        =   Rp.   90.000.000

_____________________________________________________+

NJOP sebagai dasar pengenaan PBB:                                       Rp. 390.000.000

Misalnya ternyata harga transaksi Rp. 500.000.000, harga transaksi bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli. Misalkan dalam contoh ini, harga transaksi lebih besar dari NJOP

–          Harga pembelian bumi (tanah) dan bangunan:        Rp. 500.000.000

–          PPh yang harus dibayarkan (5% x Rp. 500.000.000): Rp.     25.000.000

Maka Pajak Penghasilan yang harus dibayar oleh si Penjual sebesar Rp. 25.000.000.

Yang kedua, jika si Penjual belum membayar PBB pada saat transaksi, maka PBB juga harus dibayarkan, hitungannya sebagai berikut (mengacu contoh di atas).

–          NJOP sebagai dasar pengenaan PBB  :                        Rp. 390.000.000

–          NJOP Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)   :                                                Rp. 0

____________________________________________________ –

–          NJOP untuk penghitungan PBB           :                         Rp. 390.000.000

–          Tarif PBB                                                       :                                        0,1%

–          PBB yang Terutang 0,1% x 390.000.000:                          Rp. 390.000

Pada PBB tahun sebelumnya, di break down menjadi tarif NJKP (Nilai Jual Kena Pajak) yang nilainya 20% dari NJOP untuk perhitungan PBB, dan tarif PBB yang Terutang 0.5% dari NJKP. Jjika dihitung, sebenarnya tarif sama saja yaitu: 20% x 0.5% = 0.1%.

Jadi PBB YANG HARUS DIBAYARKAN Rp. 390.000.

Saat ini PBB wajib dibayarkan sampai batas waktu Agustus tahun berjalan, jika lalai, maka denda administrasi 2% per bulan, maksimum 24 bulan.

Bagi Pembeli:

Yang mesti dibayarkan adalah BPHTB, dari contoh di atas, harga NJOP adalah sebesar Rp. 390.000.000. Kondisi di lapangan, harga transaksi bisa lebih tinggi dari NJOP meskipun tidak menutup kemungkinan lebih rendah dari NJOP. Kalau nilai transaksi lebih rendah maka mengacu pada NJOP.

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah setempat mengeluarkan peraturan bahwa pembayaran BPHTB mengacu pada harga transaksi, karena kecil kemungkinan nilai transaksi lebih rendah dari NJOP. Ini artinya nilai BPHTB yang dibayarkan akan lebih tinggi. Misalnya harga transaksi Rp. 500.000.000. Jika ketahuan oleh pihak Pajak, karena kita menggunakan nilai yang lebih rendah misalnya NJOP, maka tindakan ini bisa dikategorikan tax evasion atau tindakan melawan huku. Nah lhoo.

Perhitungannya sebagai berikut:

–          Harga transaksi bumi (tanah) dan bangunan:          Rp. 500.000.000

–          Harga Tidak Kena Pajak                                          :     Rp.    60.000.000*)

___________________________________________________ –

–          Nilai untuk perhitungan BPHTB                          :          Rp.   440.000.000

–          BPHTB yang harus dibayar (5% x Rp. 440.000.000):Rp.   22.000.000

Note *):  untuk wilayah Tangerang, Bogor, Bekasi Rp. 60.000.000, Jakarta Rp. 80.000.000 dst, Nilai ini disebut sebagai NPOPTKP (Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak) sesuai peraturan pemerintah setempat.

Harga Tidak Kena Pajak adalah NPOPTKP sebagai nilai pengurangan harga transaksi sebelum dikenakan tarif BPHTB, hal ini membuat nilai pajak pembeli lebih kecil dibandingkan nilai pajak penjual.

Rumusnya: BPHTB = 5% x (Nilai transaksi – NPOPTKP).

BPHTB ini dikenakan bukan hanya pada saat jual beli properti, tapi juga terhadap setiap perolahan hak atas tanah dan bangunan (tukar menukar, hibah, waris, pemasukan tanah dalam perseroan).

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

SUNRISE dan SUNSET PROPERTI

property investment

Ini merupakan rangkuman dari talkshow salah satu radio swasta dengan Matius Yusuf, Direktur Pemasaran Agung Podomoro yang saya dengar tadi malam saat menikmati kemacetan Jakarta. Beliau bicara mengenai bisnis properti, apa saja yang mesti kita perhatikan pada waktu membeli properti.

Untuk tahu properti mana yang bagus, kita harus tahu yang mana area yang sunrise mana area yang sunset. Maksudnya sunrise adalah lebih banyak orang yang inflow ke area tersebut dibandingkan yang outflow, contohnya Serpong, lebih banyak orang yang masuk (inflow) ke area Serpong dibandingkan orang yang keluar (outflow) dari Serpong. Sebaliknya Green Garden, Jakarta Barat, karena banjir yang terus menerus, lebih banyak orang yang keluar (outflow) dari situ dibandingkan orang yang masuk (inflow) ke Green Garden, area seperti ini dinamakan sunset area. Dari kriteria di atas, carilah area-area yang menjadi area sunrise properti.

Dalam berinvestasi properti ada 5 L yang menjadi rumusan dasar:

  1. Lokasi
  2. Lokasi
  3. Lokasi
  4. Lokasi
  5. Lokasi

Sedemikian pentingnya lokasi, sehingga harus dijadikan patokan dasar utama dalam investasi properti.

Dalam berinvestasi properti, seseorang harus mempunyai pengetahuan yang tepat sehingga berinvestasi di properti dapat terus menguntungkan. Beliau menyebutkan bahwa hal-hal terpenting dalam berinvestasi properti adalah:

  1. Lokasi yang strategis dan bagus,
  2. Aksesibilitas mudah,
  3. Fasilitas yang memadai, dan
  4. Who’s the man behind the gun (artinya: siapa orang dibalik developer tersebut dan bagaimana track recordnya).

Jika anda sudah menemukan itu semua, maka selain anda harus smart, juga harus speed, maksudnya cepat dalam mengeksekusinya. Jangan menunggu besok, karena harga akan terus naik.

Sebagai contoh, jika ada suatu area yang baru benar-benar mulai akan digarap, jadilah 10% pertama pembelinya, karena harga jual dari developer itu sama dengan Harga Pokok Penjualan nya (HPP). Perlu informasi dari ring 1, orang-orang dalam. Selanjutnya harga akan naik untuk 20% pembeli berikutnya, 30%, 40%, 50% dan seterusnya sampai kalau sudah dipasang papan reklame, maka ini menunjukkan harganya sudah berkali lipat dari HPP nya.

Carilah properti yang naik 2-3 kali lipat dari inflasi dalam setahun. Karena properti inilah yang memberikan keuntungan bagi anda.

Bagaimana dengan suku bunga yang tinggi saat ini?  Menurut beliau, dengan tingkat suku bunga acuan BI rate 7,5% saat ini (April 2014) dan suku bunga KPR 11.5%, suku bunga ini tergolong masih cukup rendah. Mengapa? Karena hitungannya, bila inflasi 8.38% saat ini (tahun 2013, BPS) dan properti tersebut naik 3x lipat dari inflasi, maka harga properti tersebut naik kurang lebih 25% dalam setahun. Bila dikurangi dengan suku bunga KPR 11,5%, maka masih ada margin 13,5% (25%- 11,5%). Inilah yang disebut properti yang memberikan keuntungan.

Untuk memulai bisnis properti ada beberapa level:

  1. Marketer, yang ini requirementnya MBA – modal bacot aja alias modal mulut aja. Pinter ngomong ke orang, jadi salesman/saleswoman.
  2. Investor, kalau sudah punya uang lebih bisa jadi investor, naik satu kelas, bisa pilah-pilih properti mana yang menguntungkan
  3. Developer, kelasnya sudah naik lagi, untuk level yang ini harus jeli melihat berbagai aspek, mulai dari pemilihan lokasi, pilih arsitek untuk desain perumahan sampai aspek purna jual. Aspek purna jual penting agar properti yang sudah dibangun developer tersebut tidak jatuh harganya, oleh karena itu perlu di maintain.

Bagaimana dengan apartemen? Apakah ini juga menguntungkan? Menurut beliau, apartemen berbeda dengan perumahan, karena kalau apartemen akan menguntungkan bila disewakan, inilah yang disebut dengan net yield. Harga jual pasarannya mungkin tidak naik drastis, tapi harga sewanya bisa 10% dari harga pasaran apartemen tersebut bila fully furnished. Sedangkan kalau rumah, yang dinikmati adalah capital gain nya, alias kenaikan harga rumah tersebut, sedangkan harga sewanya berkisar antara 3%-5% saja.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

INVESTASI BERAROMA BUSUK

Heboh kisah Ferdy Hasan terjerumus investasi bodong, karena rekomendasi seorang financial planner jadi pembicaraan paling hot di social media.  Duit Rp. 12 Milyar pun amblas, dan ini sampai jadi urusan polisi. Apalagi sebelumnya kasus dengan financial planner yang sama, heboh di surat pembaca salah satu surat kabar nasional bulan Februari 2014 lalu. Jika kita lihat ke belakang, banyak masyarakat kita yang karena mental ingin cepet kaya cari jalan tol buat hal ini, tapi akibatnya karena mungkin lebih tergiur iming-iming untung yang bakal di dapat dibanding risiko yang akan muncul maka rasionalitas seolah-olah hilang. Penawaran investasi tersebut umumnya ditawarkan dengan return nya sangat tinggi dan seolah-olah tidak ada risiko (risk free) plus iming-iming bonus dan cash back yang menggiurkan, apalagi kalau ada endorsement dari tokoh masyarakat. Kalau sudah begini something too good to be true, it’s hard to be true. Berikut adalah summary daftar perusahaan dan pelaku yang bermasalah dalam menjalankan investasinya:

  1. QSAR (Qurnia Subur Alam Raya) perkebunan, yang ini sudah lama banget dan pemiliknya – Ramly Arabi – sudah di penjara.
  2. ADD Farm, agribisnis – ternak itik, pemiliknya Ade Suhidin.
  3. Koperasi Langit Biru, agribisnis, kerugiannya sampai Rp. 6 T. Jaya Komara sang bos koperasi, jadi urusan dengan polisi.
  4. CV. Panen Mas, agribisnis: singkong, burung puyuh, dan ayam. Aria Pratomo, Dirutnya sudah di tangkap dan dipenjara polisi.
  5. PT Triguna Jaya Usaha Bahari, penyalur tenaga kerja ke luar negeri.
  6. Golden Traders Syariah Indonesia (GTIS), pemiliknya Michael Ong buron, motifnya klien diminta untuk beli emas dengan harga 30% lebih tinggi dari harga pasar dan kemudian memberikan return 13% selama 6 bulan. Kenyataannya harga emas tidak selalu naik.
  7. PT Golden Makmur Citra Sejahtera, investasi emas, skema mirip dengan GTIS, iming-iming return 2,5% – 2,75% dengan minimum investasi Rp. 180 juta.
  8. Virgin Gold Mining Corporation (VGMC), investasi pertambangan emas di Afrika dan Amerika Latin.
  9. Lautan Emas Mulia, investasi emas, skema mirip dengan GTIS.
  10. Pohon Mas, investasi emas.
  11. PT Gold Bullion Indonesia (GBI), investasi emas.
  12. PT Makira Nature, investasi emas.
  13. PT Trimas Mulia, investasi emas.
  14. PT Peresseia Mazekadwisapta Abadi (Primaz).
  15. Sarana Perdana Indoglobal, investasi komoditas dan valuta.
  16. Wahana Bersama Global, komoditas dan valuta, di Hong Kong dan Dressel dengan bunga 24%-28% per tahun untuk investasi US$ 5.000 – US$ 10.000. padahal deposito dollar paling tinggi cuma 4%, this is too good to be true.
  17. Gama Smart, komoditas dan valuta.
  18. Amanah I, forex trading, janji return 200% dalam sebulan. Wong 30% per tahun aja sudah bagus banget.
  19. Coal Trade and Investment, yang ini usaha batubara fiktif di Kalimantan. Minimum investasi US$ 500 atau sekitar Rp. 5 juta.
  20. Koperasi Titian Rizki Utama, berlokasi di Semarang, bisnis peternakan, lembaga pengembangan pendidikan dan properti.
  21. Nino de Guzman, Seattle, USA, skema Ponzi, penipuan dan pencucian uang.
  22. Steven Bingamas, Bedford, New York, USA, skema Ponzi.
  23. Bernard Madoff, USA, skema Ponzi, di penjara 150 tahun.

Dari summary di atas, apapun nama perusahannya, ada 3 kategori besar jenis investasi yang sering dijadikan peluang penipuan:

  1. Agribisnis
  2. Emas
  3. Komoditas dan valuta

so be careful!

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

CARA PRAKTIS MENGHITUNG KEBUTUHAN UANG PERTANGGUNGAN ASURANSI ANDA

insurance

Salah satu cara untuk melindungi penghasilan anda jika terjadi apa-apa dengan anda adalah dengan asuransi jiwa. Asuransi jiwa ini memberikan proteksi terhadap risiko kepada tertanggung, dalam hal ini anda sebagai breadwinner atau pencari nafkah. Kata orang yang namanya untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Memang kita harus menghilangkan dahulu prasangka negatif, kekhawatiran dan menumbuhkan harapan bagi diri kita dan keluarga terhadap asuransi jiwa.

Ada dua aspek kehidupan untuk setiap orang bila dilihat by product, yang pertama jika ia meninggal lebih dahulu, apa yang diwariskan untuk keluarga yang ditinggalkan, yang kedua, kalau ia panjang umur, mau hidup dengan apa? Untuk tulisan ini, hanya membahas yang poin pertama saja, sedangkan poin kedua, untuk orang-orang yang pensiun, jika dikaitkan dengan produk, inilah namanya produk anuitas.

Dalam poin pertama, produk yang menjadi fokus adalah asuransi jiwa. Dalam menghitung kebutuhan asuransi jiwa, setidaknya ada 3 cara:

Yang pertama, pendekatan Human Life Value, cara perhitungannya: penghasilan per bulan  x 12 x waktu pertanggungan. Semakin tinggi uang pertanggungan (sering disingkat UP), maka makin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Ilustrasi sederhananya, misalnya Mr. X (35 thn) mempunyai penghasilan 10 juta per tahun, mempunyai seorang istri yang ibu RT dan seorang anak 6 tahun. Maka dengan pendekatan ini, perhitungan kebutuhan asuransi Mr.X:

èRp. 10 juta x 12 bulan x 19 tahun = Rp. 2,28 Milyar.

Asumsi 19 tahun, karena anak akan berusia 25 tahun, dan diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri.

Yang kedua, pendekatan Income Based Value, cara perhitungannya: uang yang dibutuhkan / suku bunga. Hasil bunga yang di dapat harus sama dengan penghasilan bulanan atau uang yang dibutuhkan. Maksudnya keluarga anda mendapatkan sejumlah uang yang jika di investasikan dalam instrumen tertentu, memberikan hasil yang sama dengan penghasilan bulanan. Ilutrasinya masih sama dengan asumsi penghasilan Mr.X di atas (Rp. 10 juta), instrumen yang dipilih adalah ORI (Obligasi Republik Indonesia) dengan tingkat suku bunga ORI 8.50% per tahun, nett 6,8% per tahun setelah dipotong pajak, atau 0.57% per bulan. Mengapa ORI? Karena instrumen tersebut diasumsikan aman dan memberikan yield (imbal hasil) di atas bunga perbankan. Sehingga jika dihitung Uang Pertanggungan yang dibutuhkan:

èRp. 10 juta/ 0.57% = Rp. 1,76 Milyar

Idealnya, keluarga ini punya UP sebesar Rp. 1,76M agar dapat menghasilkan Rp. 10 juta setiap bulannya.

Yang ketiga, pendekatan Survival Based Income, cara perhitungannya mirip dengan pendekatan human life value dengan menambahkan perhitungan utang dan berapa sisa penghasilan yang harus di cover, sampai orang yang ditinggalkan survive. Dengan ilustrasi penghasilan Mr.X di atas, asumsi istri (Mrs. X, 30th) pernah bekerja sebelumnya dengan gaji Rp.5 juta per bulan. Jika terjadi apa-apa dengan Mr.X, maka Mrs X diharapkan akan dapat kembali bekerja dengan gaji sebelumnya (Rp. 5 juta), selain itu misalkan terdapat cicilan KPR Rp. 2 juta per bulan, dan total pengeluaran rumah tangga per bulan Rp. 9 juta. maka dapat kita hitung, seandainya Mr.X meninggal, pengeluaran menjadi hanya Rp. 7 juta (Rp. 9 juta – Rp. 2 juta). Cicilan KPR sebesar Rp.2 juta dapat dikeluarkan karena umumnya KPR selalu di cover asuransi jiwa, sehingga otomatis sisa pinjaman akan ditutup oleh asuransi jika Mr.X meninggal. Selain itu diasumsikan Mrs X kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan Rp. 5 juta per bulan, sehingga kekurangan dana per bulan hanya Rp. 2 juta (Rp. 7 juta – Rp. 5 juta). Selama 19 tahun, sampai anak selesai kuliah dan siap memenuhi kebutuhannya sendiri, maka kebutuhan kekurangan dana tersebut:

èRp. 2 juta x 12 bulan x 19 tahun = Rp. 456 juta.

Dengan pendekatan ini, maka nilai uang pertanggungan yang dibutuhkan dari asuransi untuk menutup kekurangan tersebut Rp. 456 juta.

Dari tiga pendekatan ini, masing-masing punya kekurangan dan kelebihannya, yang pasti semakin besar Uang Pertanggungan semakin besar pula premi yang harus dibayarkan.

So, sudahkah anda menghitung kebutuhan proteksi anda?

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.planner@gmail.com