ANGGARAN JAMAN NOW

budget boksbur

IMG_6967
Menjelang akhir tahun, perusahaan sudah mulai membuat anggaran untuk tahun depan, dengan menggunakan asumsi-asumsi ekonomi seperti nilai tukar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi. Proyeksi anggaran dapat dibuatkan untuk jangka pendek (1-2 tahun) sampai jangka menengah (3-5 tahun). Sama halnya juga dengan Anda, sebagai personal maupun kepala keluarga, Anda juga perlu membuat anggaran dengan asumsi-asumsi yang mungkin akan ada atau timbul dalam waktu dekat, misalnya, akan ada tambahan anggota keluarga baru, anak yang akan masuk sekolah atau Anda akan mengambil pendidikan strata lanjutan dan sebagainya.
Semua asumsi dalam keuangan personal ataupun keluarga, bisa kita artikan sebagai adanya alokasi anggaran yang mesti di persiapkan. Dalam jaman now, banyak aplikasi-aplikasi yang bisa di gunakan untuk membantu Anda dalam membuat anggaran personal ataupun keluarga, mencatat secara aktual berapa pengeluaran Anda, bahkan bisa membandingkan aktual terhadap anggaran.
Untuk membuat anggaran, tentu ada 2 (dua) komponen besar yang mesti Anda catat, pendapatan dan pengeluaran. Untuk membuat anggaran, mudahnya Anda bagi dalam beberapa tahapan:
Tahap pertama, catat pos pendapatan, Anda perlu mencatat semua pendapatan anda seperti gaji bulanan, jika Anda punya penghasilan lain selain gaji bulanan, seperti honor menjadi pengajar atau menyewakan motor untuk ojeg online, maka semua pendapatan variabel tersebut perlu di masukkan dalam pos pendapatatan, dan di proyeksikan dalam jangka pendek dan menengah. Sebagai ilustrasi, untuk gaji dalam pos pendapatan, akan lebih mudah bagi anda untuk memproyeksikan nya setiap bulan karena sudah tercatat rutin dalam rekening anda. Sedangkan untuk pendapatan non rutin, harus anda catat, kedua pendapatan rutin dan non rutin perlu diproyeksikan, dengan bantuan aplikasi yang ada, akan jauh lebih mudah.
Tahap kedua, mencatat semua pengeluaran selama 30 hari. Nah ini yang paling membuat orang kadang menyepelekan, atau tidak melihat urgensinya. “Buat apa sih mencatat, cuma segitu aja duit yang keluar”. Coba bayangkan bila Anda adalah perusahaan atau badan usaha, semua pengeluaran harus dipertanggungjawabkan dan ada pejabat yang mengotorisasi pengeluaran tersebut. Tidak sembarangan menyetujui sebuah pengeluaran. Begitu juga dengan keuangan personal ataupun keluarga anda, setiap pengeluaran harus dibuatkan anggarannya, kalau anggaran tersebut tidak ada, bagaimana? Misalnya anggaran untuk keperluan masuk sekolah untuk si kecil, apakah sudah disiapkan?
Untuk tahap kedua ini, Anda bisa mencatat semua pengeluaran rutin Anda, seperti bayar biaya listrik, biaya air, biaya telpon, iuran lingkungan/ keamanan dan lainnya yang bersifat rutin, ada atau tiada, Anda tetap perlu membayar setiap bulannya, paling tidak abonemen nya. Kemudian Anda lanjurkan mencatat semua pengeluaran non rutin Anda, seperti misalnya minum kopi lewat ‘drive thru’ dari kedai tertentu, kongkow-kongkow dengan kolega, nonton bioskop, nonton konser dan lainnya.
Dari perhitungan tahap satu dikurangi tahap dua, Anda bisa dapatkan berapa sisa penghasilan Anda setiap bulannya, apakah masih positif alias ada lebih nya atau malah negatif.
Jika Anda punya asumsi personal atau keluarga, bahwa tahun depan akan ada anggota keluarga baru, atau dalam 2-3 tahun ke depan Anda berniat untuk melanjutkan strata pendidikan lanjutan, maka perlu alokasi khusus dalam proyeksi anggaran pengeluaran tersebut. Misalnya biaya untuk kebutuhan bayi, beli susu bayi, atau menyiapkan uang kuliah untuk 2-3 tahun ke depan dan sebagainya.
Tahap ketiga, kalau melihat bahwa selisih antara pendapatan dan pengeluaran anda sudah mepet, maka lihat lagi pos-pos pengeluaran mana yang bisa di pangkas, atau di relokasi ke pos pengeluaran untuk kebutuhan akan datang. Contohnya, bila asumsi anda akan ada anggota keluarga baru, dan pasti membutuhkan popok, susu, dan lainnya yang baru, maka bisa Anda siasati merelokasi dari pos anggaran lainnya. Contohnya, bila setiap hari anda ke kantor membeli kopi secara drive thru dari kedai tertentu, maka biaya kopi tersebut dapat dipangkas dan diganti dengan membawa sendiri kopi dari rumah. Sehingga pemangkasan anggaran kopi ini, bisa di relokasikan ke anggaran untuk mempersiapkan kebutuhan calon bayi.
Yang keempat, bila selisih cash flow mepet dan pos pengeluaran sudah sedemikian hematnya, maka yang bisa anda lakukan adalah menambah pendapatan, misalnya dengan menyewakan kamar di Airbnb, atau anda sendiri menjadi partner dari taxi online, atau jualan melalui marketplace atau Instagram. Semua tahap-tahap tersebut dioptimalkan untuk membantu mewujudkan tujuan-tujuan anda dalam anggaran tersebut.
Yang menjadi perhatian dalam membuat anggaran personal atau keluarga ini adalah gaya hidup. Gaya hidup itu identik dengan pengeluaran, seperti minum kopi drive thru dari kedai tertentu, apakah anda rela menukarnya dengan kopi sachet dari rumah, demi kebutuhan calon baby. Atau misalnya anda terbiasa nonton dua kali seminggu di bioskop, apakah anda rela mengurangi nya menjadi sebulan sekali? Semua berpulang pada Anda pribadi. Yang terpenting disini adalah bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran secara disiplin, demi mewujudkan mimpi-mimpi Anda.

Catch me: @rizalplannerEmail me: rizalplannerindo@gmail.com

PROSES KLAIM ASURANSI.

claims,

rizalplanner @Tab Kontan 23Okt17

Kasus salah satu perusahaan Asuransi besar (baca: Allianz) yang heboh baru-baru ini di akhir September 2017 mengakibatkan selain kerugian material juga kerugian immaterial seperti lunturnya kepercayaan nasabah maupun calon nasabah terhadap asuransi secara umum. Kasus ini kemudian menjadi viral, karena perihal klaim merupakan perihal yang ‘sensitif’ bagi nasabah dan perusahaan asuransi. Bagi Anda yang punya asuransi baik yang beli melalui agen atau online pastikan Anda mempelajari dan memahami dengan baik polis Anda. Premi yang selama ini Anda bayarkan tentunya akan menjadi sia-sia jika klaim atas Uang Pertanggungan (UP) tidak dapat dicairkan. Dalam case Asuransi Jiwa, seandainya terjadi musibah (baca: kematian) atas diri Anda selaku pemegang polis dan karena satu dan lain hal terjadi kesalahan atau ketidakjujuran dalam pengisian Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ) atau Surat Permohonan Penutupan Asuransi Jiwa (SPPAJ), maka ahli waris Anda tidak mendapat pencairan UP tersebut. Bayangkan betapa kesedihan yang mendalam bagi ahli waris, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah kehilangan Anda sebagai pencari nafkah, hutang tidak dapat di lunasi karena UP asuransi tidak dapat dicairkan oleh ahli waris.

Untuk menghindari kejadian yang tidak mengenakkan di kemudian hari, dan agar klaim ahli waris Anda dibayar oleh pihak asuransi, maka ada 8 hal yang perlu di perhatikan.

Pertama, isilah dengan jujur dan benar. Pada saat Anda membeli asuransi jiwa, Anda akan diberikan formulir SPAJ atau SPPAJ, isilah dengan jujur dan benar, karena apabila dikemudian hari ditemukan ketidakcocokan atau kebohongan data, maka klaim tidak bisa di bayarkan. Contohnya, misalnya Anda sudah mempunyai penyakit tertentu sebelum Anda mengajukan SPAJ tapi  Anda tidak men-declare hal tersebut dalam SPAJ, maka dikemudian hari, bila ditemukan penyebab kematian karena penyakit tersebut, maka klaim Anda bisa ditolak.

Yang kedua, pastikan polis tidak lapse atau tidak aktif, karena artinya premi sudah jatuh tempo, namun belum terbayarkan. Umumnya pihak asuransi memberikan waktu 30-45 hari sebagai masa tenggang. Bila ada kejadian setelah batas waktu tenggang 30-45 hari, maka pihak asuransi tidak bertanggung jawab. Untuk itu pastikan Anda membayar premi tepat waktu, agar orang-orang yang Anda kasihi mendapat menfaatnya. Namun bila Anda membeli asuransi jiwa karena kredit yang Anda ajukan, maka hanya cukup di awal saja pembayaran preminya. Hal lain yang penting, buat pemegang asuransi unit link adalah nilai tunai yang cukup, bila nilai tunai kurang untuk menutupi biaya asuransi maka polis dianggap tidak berlaku.

Yang ketiga, pasal pengecualian dalam polis. Pengecualian yang mengakibatkan ahli waris Anda tidak berhak untuk mendapatkan pembayaran klaim. Dalam pasal ini, contoh yang paling umum adalah bila Anda terlibat dalam kriminal atau kejahatan baik secara langsung maupun tidak langsung.  Dan ini juga berlaku bagi penerima manfaat asuransi alias ahli waris. Apalagi kalau ada kongkalikong antara pemegang polis dan ahli waris dalam kriminal, maka UP tidak akan diterima.

Yang keempat adalah, klaim melebihi batas waktu. Umumnya perusahaan asuransi memberikan batas waktu 30-60 hari kalender terhitung sejak pemegang polis atau tertanggung meninggal dunia. Bila sang ahli waris telat mengajukan klaim, melebihi batas waktu yang telah di tetapkan, maka klaim tidak terima. Oleh karena itu pengajuan klaim Anda harus dalam batas waktu tersebut agar dapat di terima pihak asuransi.

Yang kelima, dokumen klaim harus lengkap. Pastikan Anda memenuhi semua persyaratan pengajuan klaim seperti yang tertulis dalam polis. Komunikasikan kepada ahli waris Anda dimana polis asli, dan/atau bukti pembayaran premi terakhir. Bila Anda penerima fasilitas kredit dari bank, mintalah polis aslinya, bisa lewat bank atau ke pihak asuransinya. Hal lain, misalnya terjadi musibah pada saat di luar negeri, maka surat keterangan kematian dari pihak yang berwenang seperti Konsulat Jenderal RI setempat diperlukan untuk kelengkapan dokumen klaim.

Yang ke enam, masa tunggu. Bila ahli waris mengajukan klaim dalam masa tunggu, maka pihak asuransi berhak untuk tidak membayar. Masa tunggu umumnya 30-365 hari untuk penyakit kritis. Jika Anda mengajukan klaim karena penyakit kritis sebelum masa tunggu berakhir, maka pihak asuransi berhak untuk menolak. Untuk itu perlu diperhatikan dengan baik masa tunggu dari tanggal polis tersebut.

Yang ketujuh, bila klaim tidak termasuk dalam polis. Misalnya terjadi kecelakaan yang mengakibatkan pemegang polis cacat kaki, sehingga harus di potong dari lutut ke bawah. Ternyata  setelah dibaca seksama, klausula menyebutkan hanya di cover bila terjadi kecacatan dari pangkal paha ke bawah, maka atas klaim Anda tidak dapat ditindaklanjuti.

Yang terakhir, setelah mempelajari dan memahami dengan cermat polis Anda, selalu komunikasikan dengan pasangan atau ahli waris Anda perihal asuransi yang dimiliki dan kewajiban yang mesti anda lunasi. Tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemput, persiapkan yang terbaik untuk ahli waris Anda.

 

HIBAH WASIAT/ WARIS = HEMAT PAJAK

hibahdanwasiat

rizalplanner_Tab Kontan 14Aug17

Pernahkah anda mendengar satu keluarga ribut karena memperebutkan harta warisan? Kakak adik saling bertengkar mempermasalahkan siapa yang paling berhak untuk mendapatkan warisan orang tuanya.

Bisakah anda bayangkan kejadian serupa bisa menimpa anda? Setelah anda tidak ada, anak-anak anda saling memperebutkan warisan anda. Mereka bertengkat memperebutkan rumah, tanah, villa, apartemen anda. Bisa-bisa anda tidak tenang di alam kubur sana.

Salah satu caranya agar menghindari masalah yang mungkin timbul kelak adalah dengan hibah wasiat. Jika hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain semasa hidup dan pelaksanaan pembagiannya dilakukan saat pemberi hibah masih hidup, maka hibah wasiat hanya berlaku pada saat pemberi wasiat tersebut sudah meninggal. Hibah wasiat artinya pemberian barang oleh Pewaris (orang yang memiliki harta) kepada orang tertentu yang telah disebutkan atau ditetapkan oleh Pewaris dalam surat wasiat yang dibuatnya. Pemberi wasiat mempunyai hubungan langsung kepada penerima wasiat, hubungan satu derajat ke bawah contohnya anak, ataupun satu derajat ke atas, contohnya orang tua, termasuk dalam hal ini suami/istri.

Hibah wasiat bagi penerima wasiat selain mendapatkan hak juga punya kewajiban yang harus di penuhi. Begitu juga dengan ahli waris, selain mendapatkan hak, ahli waris juga punya kewajiban yang juga harus dipenuhi. Dalam case ini berupa pajak kepemilikan rumah, sehingga apabila terjadi perpindahan kepemilikan dari almarhum orang tua kepada anak, maka anak yang memperoleh rumah tersebut punya kewajiban untuk membayar pajak. Seperti halnya transaksi jual beli rumah, maka di analogikan yang beli rumah adalah penerima hibah wasiat atau penerima waris tersebut. Bagi penerima hibah wasiat atau waris tersebut berlaku tarif seperti halnya pembeli rumah, dengan dasar pengenaan pajak khusus sebagaimana di atur dalam Peraturan Pemerintah dan Provinsi.

Jika seseorang meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa rumah kepada anaknya, dan sebelum meninggal dunia ia menulis surat wasiat, maka si anak entitle untuk mendapatkan rumah tersebut. Namun, jika tidak atau belum sempat menulis wasiat atau tidak ada surat waris, maka anak yang notabene berhak mendapatkan warisan harus mendapatkan surat keterangan waris dari kelurahan dan kecamatan, hibah wasiat ini akan jauh lebih taktis dan hemat, jika pewaris sudah menuliskan surat wasiat.

Apa bedanya waris dan hibah wasiat?

Dalan Peraturan Pemerintah No. 111 tahun 2000 yang di tandatangani oleh Presiden Gusdur yang dimaksud dengan perolehan hak karena waris, adalah perolehan hak atas tanah dan bangunan oleh ahli waris dari pewaris, yang berlaku setelah pewaris meninggal dunia. Sementara, yang di maksud dengan perolehan hak karena hibah wasiat adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan dari pemberi hibah wasiat, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.

Apa manfaat waris dan hibah wasiat?

Pertama, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan diskon 50% dari 5% Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang seharusnya terutang, nilai ini harus di bayarkan dan disetorkan ke kas daerah dan dibayarkan saat ahli waris atau penerima hibah mendaftarkan peralihan hak nya atau sejak akte di tandatangani.  Yang kedua, ahli waris atau penerima hibah wasiat entitle mendapatkan pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) yang besarnya di tentukan oleh Pemerintah Provinsi.

Rumus Perhitungan

Rumus BPHTB Waris atau Hibah Wasiat: 50% x 5% (NJOP PBB – NPOPTKP).

NJOP adalah Nilai Jual Objek Pajak, NPOPTKP adalah Nilai Perolehan Obek Pajak Tidak Kena Pajak. NPOPTKP adalah pengurang dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Di Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan daerah Provinsi DKI Jakarta No.18 tahun 2010. NPOPTKP untuk waris dan hibah wasiat nilainya sebesar Rp. 350 juta. Jika selain hibah wasiat atau waris, maka nilainya sebesar Rp. 80 juta. Angka NPOPTKP tersebut di atur dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 18 tahun 2010. Untuk wilayah di luar DKI Jakarta, di atur oleh daerahnya masing-masing.

Untuk lebih jelas, ilustrasinya sebagai berikut, jika asumsi ahli waris atau penerima hibah wasiat mendapatkan rumah dengan NJOP di DKI Jakarta Rp. 1 Miliar dan NPOPTKP karena Hibah Wasiat atau Waris Rp. 350 juta, maka bila mengikuti rumus di atas, secara perhitungan, sang ahli waris atau penerima hibah wasiat akan hemat pajak sebesar Rp.29.750.000 (lihat tabel 1 di bawah).

Tabel 1:

Dengan Hibah Wasiat / Waris  Selain Hibah Wasiat / Waris
 NJOP*     1.000,000,000    
 NPOPTKP**    (Rp. 350.000.000)  (Rp. 80.000.000)
 BPHTB yang dibayarkan                              16,250,000                       46,000,000
 Hemat pajak                            29,750,000  
Ket:

*) Nilai Jual Objek Pajak

**)  Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak; di Provinsi DKI Jakarta.

Untuk waris dan hibah wasiat diperuntukkan bagi orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas dan satu derajat ke bawah dengan pemberi waris dan hibah wasiat, termasuk suami/ istri.

Cara membuat hibah wasiat?

Bagaimana caranya membuat hibah wasiat? Bisa dilakukan melalui Notaris. Hibah wasiat dibuat oleh pembuat wasiat sekaligus pemilik properti sewaktu masih hidup dan berlaku kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sedangkan surat keterangan waris, dibuat di kelurahan dan kecamatan oleh ahli waris sesudah pemilik properti meninggal dunia.

Baik hibah wasiat maupun surat keterangan waris, keduanya membutuhkan surat keterangan kematian. Baik penerima hibah maupun ahli waris perlu membuktikan kepada Notaris maupun pihak kelurahan dan kecamatan bahwa pemilik properti sudah meninggal dunia.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri ataupun orang tua kita supaya bagi-bagi waris sekarang. Tetapi dengan membuat surat hibah wasiat artinya menghemat bayar pajak bagi penerima hibah wasiat/ ahli waris, kita berpikir lebih efektif dan penuh persiapan untuk keluarga kita.

 

Catch me: @rizalplanner
Rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

MENGHITUNG DANA PENSIUN

Pension

rizalplanner_ Tabloid Kontan 22Mei17

Memang rejeki itu sudah ada yang ngatur, kalau sudah rejeki gak akan kemana. Rasanya kalimat seperti itu sering kita dengar. Jadi kalau untuk pensiun pun kita sudah yakin nanti pasti ada rejekinya. Atau kalau keburu meninggal duluan, ya tidak usah pusing mikirin pensiun. Umur rahasia Tuhan, kalau di kasih umur panjang sampai setelah pensiun, maka kita sudah siap dengan rencana pensiun kita. Semakin muda kita memulai persiapan pensiun semakin baik.

Ada dua aspek kehidupan untuk setiap orang bila dilihat by product, yang pertama jika ia meninggal lebih dahulu, apa yang diwariskan untuk keluarga yang ditinggalkan, yang kedua, kalau ia panjang umur, mau hidup dengan apa?  Untuk tulisan kali ini, membahas poin yang kedua, untuk orang yang pensiun.

Kalau gaya hidup sekarang seminggu sekali kongkow-kongkow ngafe dengan teman-teman, maka dalam perencanaan perhitungan pensiun ini, gaya hidup seperti itu masih tetap diperhitungkan. Yang perlu kita perhatikan bahwa angsuran atau cicilan rutin (seperti angsuran properti – KPR/KPA) di asumsikan sudah lunas. Normalnya bank memberikan fasilitas kredit kepada seseorang sampai yang bersangkutan menjelang pensiun, sehingga pada saat pensiun, sudah tidak ada cicilan lagi. Di lain sisi dengan bertambahnya umur, risiko kesehatan juga semakin meningkat, yang akan berdampak semakin tingginya premi asuransi kesehatan yang harus dibayarkan. Dengan masuknya masa pensiun, maka tidak ada lagi utang properti atau cicilan rumah (KPR/KPA) yang mengkonsumsikan 30% dari total pendapatan bulanan anda. Sehingga apabila pendapatan anda (27th) sekarang sebesar Rp. 10 juta per bulan, dikurangi beban cicilan properti maka pendapatan bersih anda Rp. 7 juta yang dapat anda gunakan untuk menunjang kebutuhan hidup anda sehari-hari. Dari data  Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi 5 tahun terakhir, asumsikan inflasi rata-rata 6,3% per tahun, sisa usia produktif 28 tahun. Dengan konsep Time Value of Money, anda bisa menghitung berapa dana pensiun yang anda butuhkan.

Pertama yang perlu kita hitung adalah berapa pendapatan bersih anda selama setahun di usia 55. Jika pendapatan bersih sebulan saat ini Rp. 7 juta, maka dalam setahun Rp. 84 juta, dengan inflasi 6,3% sebulan, pendapatan anda di usia 55 sama dengan Rp. 465 juta. Artinya nilai uang Rp. 84 juta saat ini sama dengan Rp. 465 juta pada saat usia 55 tahun nanti atau 28 tahun kemudian.

Tahap kedua, hitung berapa biaya hidup selama pensiun (sebelum meninggal). Jika rata-rata usia hidup sampai dengan 70 tahun, maka ada masa 15 tahun dimana anda harus membiayai hidup anda. Dari hitungan tahap pertama di atas, biaya hidup per tahun Rp. 465 juta, inflasi 6.3%, maka selama masa 15 tahun tersebut sampai usia 70 tahun, dana yang anda butuhkan sebesar Rp. 4,43 Milyar. Artinya untuk bisa hidup selama 15 tahun sejak usia pensiun 55, dengan gaya hidup yang sama saat ini, kongkow kongkow ngafe seminggu sekali serta dengan asumsi tingkat inflasi yang kurang lebih sama, anda membutuhkan dana Rp. 4,43 Milyar selama 15 tahun tersebut.

Tahap ketiga, hitung berapa cicilannya untuk mendapatkan dana pensiun tersebut. Dari hitungan tahap kedua, anda sudah mendapatkan angka Rp. 4,43 Milyar sebagai dana pensiun yang harus di bentuk. Dengan rentang waktu 28 tahun menjelang pensiun, anda bisa memilih instrumen investasi yang bertipe agresif. Misalkan menggunakan instrumen pasar modal yang bisa memberikan return (imbal hasil) 15% per tahun, maka cicilan yang perlu di siapkan kurang lebih Rp. 865 ribu per bulan. Artinya dengan memilih instrumen yang bisa memberikan imbal hasil 15% per tahun selama 28 tahun, cicilan yang perlu dibayarkan setiap bulannya ‘hanya’ Rp. 865 ribu sehingga terbentuk dana pensiun Rp. 4,43 Milyar.

Semakin jauh persiapan dana pensiun, semakin kecil dana cicilan yang dibutuhkan, bayangkan bila anda baru mempersiapkan dana pensiun setelah berusia 40 tahun, maka cicilan per bulan nya melonjak menjadi Rp. 2,99 juta per bulan nya.

Dalam menyiapkan dana untuk kebutuhan pensiun tersebut, anda bisa memilah instrumen investasi apa yang akan anda gunakan, agar pensiun masih bisa mempertahankan gaya hidup seperti saat ini. Karena tujuan anda untuk pensiun, tentu tenor pilihan investasi adalah yang jangka panjang, instrumen di pasar modal seperti reksadana saham bisa menjadi pilihan.

Sebagai catatan, semakin pendek waktu persiapan anda untuk pensiun, semakin rendah tingkat risiko investasi yang di pilih, hal ini penting untuk meminimalisasi risiko investasi. Namun konsekuensinya return atau imbal hasil nya juga relatif lebih rendah. Ilustrasinya kalau masa pensiun anda kurang dari 7 tahun, maka reksadana campuran bisa menjadi pilihan, di bawah 3 tahun, reksadana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan. Semakin pendek masa investasi, pilihlah investasi yang risikonya lebih rendah dan menghasilkan, meskipun imbal hasil relatif lebih kecil.  Saat ini investasi reksadana tersebut bisa anda akses secara online melalui Manajer Investasi yang mengelola reksadana, atau melalui portal tertentu, atau melalui bank sebagai agen. Pembelian reksadana bisa dilakukan secara berkala dengan mendebit rekening  anda setiap tanggal tertentu. Semua  performa dari masing-masing reksadana  baik syariah maupun konvensional yang di jual juga dapat dilihat secara transparan.

Terakhir, review berkala perlu dilakukan bila penghasilan anda meningkat, gaya hidup juga meningkat, otomatis perhitungan dana pensiun juga harus di tambah.

FOKUS ke SATU TUJUAN KEUANGAN

focus-on-your-dream

rizalplanner_Tabloid Kontan 4Apr17

Dari sekian banyak perencanaan keuangan yang ingin dibuat dengan keterbatasan dana yang ada, mana yang lebih di dahulukan? Mana yang lebih penting? Apakah dana darurat, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana investasi atau dana proteksi?
Jawabannya: fokus satu saja dulu.
Hal pertama yang perlu anda lakukan adalah tetapkan dahulu tujuan keuangan anda. Jika sudah tahu arah tujuan anda, fokuslah untuk mengejar tujuan keuangan tersebut. Misalkan anda sebagai orang tua, ingin agar anak anda kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di dalam negeri dalam kurun waktu 6 tahun mendatang. Asumsikan pilihan anak tersebut adalah sekolah ekonomi dan bisnis yang paling top di Indonesia. Saat ini ada 2 (dua) jalur besar untuk masuk Universitas ternama tersebut, melalui jalur undangan atau melalui jalur ujian tertulis. Jika seandainya kemudian anak anda lulus dan masuk Universitas tersebut, maka biaya kuliahnya tentu mesti dipersiapkan. Dalam edaran resmi Universitas ternama itu, disebutkan bahwa untuk tahun ajaran 2016-2017 jurusan Sosial Humaniora (IPS), biaya kuliah per semester untuk kelas yang tertingginya adalah berkisar antara Rp. 16.500.000 s/d Rp. 17.500.000. Asumsi dibutuhkan 4 (empat) tahun atau 8 (delapan) semester untuk mendapatkan gelar sarjana, artinya total biaya kuliah Rp. 132.000.000 s/d Rp. 140.000.000. Biaya yang tercantum di luar biaya buku, fotocopy, transportasi, biaya hidup dan lainnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir naik turun, dari 3.79% di tahun 2011, naik menjadi 8,36% di tahun 2014, turun lagi 3,02% di tahun 2016. Asumsikan rata-rata inflasi selama 5 tahun terakhir adalah 6,3%. Bila kenaikan biaya kuliah linier dengan inflasi, maka tahap kedua adalah menghitung berapa biaya kuliah pada saat anak anda masuk kuliah. Dalam case ini, 6 (enam) tahun lagi untuk masuk jurusan pilihannya Sosial Humaniora tersebut, hitung punya hitung ternyata total biaya kuliah naik menjadi Rp. 191.000.000 s/d Rp. 202.000.000.
Jika sudah selesai menghitung proyeksi biaya kuliah tersebut, tahap selanjutnya adalah memilih instrumen apa yang tepat untuk dapat mewujudkan tujuan keuangan tersebut. Sedikit tips, pilihlah instrumen yang bisa mengalahkan inflasi alias si ‘perampok siluman’ tersebut. Jika rata-rata inflasi selama 5 tahun terakhir 6,3%, dan saat ini imbal hasil (return) deposito berkisar 6%-7% per tahun, dimana nett nya akan lebih kecil setelah di potong pajak 20%. Dus, deposito bukan merupakan pilihan yang tepat.
Dan yang terakhir adalah tahap paling penting: eksekusi! Eksekusi bisa dilakukan dalam 2 (dua) cara:
dengan cara mencicil (installment), secara berkala menempatkan dalam bentuk investasi, beli produk pasar modal seperti reksadana setiap bulannya, dan anda terus membeli reksadana tersebut selama kurun waktu proyeksi anak anda akan kuliah tersebut. Beli dengan metode dollar cost averaging, membeli produk dengan harga rata-rata. Jika bulan ini misalnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) dari reksadana 1200 dan bulan depan pada waktu kita beli naik menjadi 1300, maka secara-rata-rata harga unit reksadana yang anda beli NAB nya 1250. Dengan dollar cost averaging, anda tidak usah pusing soal kapan belinya, unit reksadana yang terbeli akan lebih banyak pada saat NAB rendah, dan akan lebih sedikit pada saat NAB naik. Karena tujuannya adalah mendapatkan harga rata-rata terendah dari investasi yang anda beli. Dalam case ini, lakukan ini terus setiap bulan selama 6 tahun. Yang kedua, dengan cara investasi lumpsum, asumsikan anda sudah mempunyai dana gede tapi belum memadai senilai total biaya kuliah masa yang akan datang, Misalnya anda sudah mempunyai dana Rp.87.400.000, dengan hanya sekali investasi pada instrumen yang dapat memberikan return 15% per tahun, maka biaya kuliah Rp. 202.000.000 akan terwujud.

Kalau anak anda lebih dari satu, maka bisa dilakukan cara yang sama dengan kurun waktu yang disesuaikan. Untuk memilih investasi apa yang akan dipilih, sektor finansial seperti pasar modal bisa menjadi pilihan, tapi ingat setiap pilihan investasi punya risikonya sendiri-sendiri.

Kalau satu tujuan keuangan sudah terkumpul, mulai lagi fokus dengan tujuan keuangan lainnya.
Kuncinya disiplin investasi dan monitor investasi anda.

Beli Mobil Baru Tanpa Kredit Tapi Via Reksadana, Bagaimana Caranya?

Kalau ada keluaran model baru dari merk mobil tertentu, rasanya pingin supaya mobil yang lama di jual dan ganti dengan model baru. Event seperti Pameran Mobil (IIMS) yang rencana di gelar bulan April 2017, bisa jadi ajang ganti mobil baru. Kalau beli mobil baru dengan cara kredit itu sudah biasa, kita hanya diminta bayar DP nya dulu kemudian sisanya dicicil lewat lembaga pembiayaan atau bank.
Tapi coba kita pikirkan untuk beli mobil baru dengan cara nabung dulu, karena mobil adalah aset yang terdepresiasi, sehingga value nya akan terus turun. Jika kita bayar dengan fasilitas kredit, total nilai yang kita bayar akan pasti lebih tinggi dari nilai market value nya karena adanya bunga bank atau lembaga pembiayaan.
Oleh karena itu pola pikir beli mobil dengan cara cicilan setiap bulan di gantikan dengan pola pikir tabungan setiap bulan dengan menabung lewat reksadana. Ya, lewat instrumen keuangan yang satu ini, agar tujuan kita bisa tercapai. Tentu saja risikonya jauh berbeda, sebagai contoh jika kita telat bayar cicilan, tentu saja lembaga pembiayaan atau bank akan mengirimkan ‘reminder’ kepada kita, mulai dari surat cinta sampai ‘tamu’ kunjungan, sedangkan bila tabungan kita telat setor, hanya kita sendiri yang rugi, karena target tabungan kita bisa jadi missed.
Sebagai ilustrasi, misalkan kita ingin setiap 5 tahun kita ganti mobil, beli mobil baru. Asumsikan mobil yang dibeli adalah mobil sejuta umat, Toyota Avanza. Jika kita lihat, harga mobil Avanza baru pada tahun 2012 asumsikan Rp. 160 juta, sementara harga OTR mobil baru untuk seri yang sama di tahun 2017 ini kurang lebih Rp. 203 juta. Artinya kenaikan selama 5 tahun sebesar 26.6% atau kenaikan per tahunnya rata-rata kurang lebih 5%. Asumsikan dengan kenaikan 5% tersebut, pada tahun 2022, harga mobil Avanza seri tersebut sudah mencapai Rp. 257 juta.
Perbandingannya sebagaimana di bawah ini:
Harga mobil tahun 2022 Cicilan/ bulan Ket
Skenario A Rp. 257 juta Rp. 4,9 juta/ bulan Cicilan kredit

Skenario B Rp. 257 juta Rp. 2,9 juta/ bulan Menabung dalam bentuk reksadana

Selisih Rp. 2,0 juta/bulan

Skenario A: jika kita mengambil fasilitas kredit untuk pembelian mobil selama 5 tahun, bunga yang mesti dibayarkan sekitar 6% per tahun saat ini atau dengan cicilan tiap bulannya kurang lebih Rp. 4,9 juta dan total nilai pembayaran pokok dan bunga cicilan selama 5 tahun kurang lebih Rp. 347 juta.
Skenario B: bandingkan bila kita memilih menabung dahulu melalui instrumen reksadana saham setiap bulannya selama 5 tahun, maka secara kalkulasi, tabungan per bulan adalah sebesar Rp. 2,9 juta dan di akhir tahun ke-5, nilai mobil baru seharga Rp. 257 juta tercapai. Asumsikan return reksadana saham setiap tahunnya 15%.
Pada penghujung tahun ke-5, terdapat perbedaan nominal yang signifikan, ada selisih Rp. 90 juta (Rp. 347 juta – Rp. 257 juta) atau penghematan sebesar 35% selama 5 tahun. Lumayan kan.

Dari kedua skenario di atas, dapat dihitung selisih per bulannya antara skenario A dan skenario B yaitu sebesar Rp. 2 juta. Selisih ini jika kita investasikan juga di reksadana saham, yang memberikan return 15% per tahun, maka dalam 5 tahun akan menghasilkan kurang lebih Rp. 183 juta.
Dari skenario B di atas, dapat di simpulkan bahwa perencanaan membeli mobil baru baru dengan cara menabung via reksadana punya kelebihan:
1. jauh lebih murah
2. risiko lebih rendah, serta
3. mengurangi beban cash flow keuangan setiap bulannya yang lebih tinggi.
Instrumen keuangan yang digunakan di sesuaikan dengan jangka waktu menabung, kalau pendek jangka waktu menabung nya, maka pilih instrumen keuangan yang lebih rendah risikonya..

Selamat beli mobil baru..!

Catch me: @rizalplanner
Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Bagaimana Perencanaan Keuangan Diperlukan Dalam Tahapan Kehidupan?

souce:blog.nsbank.com

source:blog.nsbank.com

Dalam hidup ini ada tahapan-tahapan yang akan dilalui oleh seseorang, mulai dari kecil sampai pensiun kelak. Dari perspektif financial planner, setiap tahapan kehidupan tersebut ada perencanaan keuangan yang mesti dipahami dan direncanakan.

Tahapan kehidupan tersebut sebagai berikut:

  1. Masa belajar, ini dimulai dari kita TK sampai kuliah, lazimnya masih tergantung pada orang tua atau wali kita. Tahap ini kita belum produktif, dimana biaya menjadi concern utama. Mencari pembiayaan atau beasiswa dan berbagai potongan harga selama berstatus pelajar / mahasiswa.
  2. Masa awal menikah, setelah mulai bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, maka mulailah tahapan kehidupan baru untuk menikah, saat-saat seperti ini, anda mulai berpikir untuk membeli rumah atau apartemen sendiri, investasi, perlunya asuransi kesehatan serta simpanan untuk masa depan
  3. Masa berkarir, setelah menikah, maka mulailah era tahapan berkarir atau bagi anda yang memulai usaha sendiri, berusaha keras untuk membesarkannya.
  4. Masa berkeluarga dengan anak-anak, dalam tahap ini perencanaan keuangan diperlukan, mulai dari mengatur budget keuangan keluarga, mengurangi beban hutang, beli asuransi tambahan, persiapan biaya sekolah anak-anak, sampai cara penghematan pajak.
  5. Masa pensiun, dalam tahap ini, orang ingin menikmati hasil dari apa yang telah diinvestasikan sebelumnya, idealnya agar selain waktu yang leluasa, dana juga memadai.  Selain itu perlu persiapan pendistribusian kekayaan, bahasa kerennya estate planning alias bagi-bagi warisan, ini juga mesti di persiapkan, agar tidak ada keributan dikemudian hari hari, jangan sampai anda bangkit dari kubur, gara-gara anak-anak anda meributkan warisan anda…(antara lebay dan kenyataan..)

Kelima tahapan kehidupan di atas, masing-masing memerlukan perencanaan keuangan tersendiri, misalnya pada saat masa berkeluarga. Bagaimana pada saat yang sama anda harus berinvestasi untuk anak-anak anda sekaligus membiayai orang tua anda, paralel di lain sisi membeli asuransi yang dibutuhkan untuk anda dan keluarga, membayar hutang-hutang anda, serta mempersiapkan dana pensiun anda. Untuk itulah perencanaan keuangan yang matang diperlukan agar hal-hal yang menjadi prioritas dapat dilakukan.

So which stage are you at?

source:scary-picture.feedio.net

source:scary-picture.feedio.net

Catch me:@rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

WARIS

warisan

Hari Minggu lalu, 3 Maret 2013 merupakan hari yang kelam buat saya sekeluarga, karena kehilangan neneknda tercinta untuk selama-lamanya. Almarhumah sangat dekat dan care sekali pada semua orang, apalagi sama cucu-cucunya, salah satunya saya. Hubungan batin yang sangat kuat, membuat saya sulit menghadapi kenyataan ini, sampai kering rasanya air mata ini. Tapi kematian adalah hal yang pasti dan merupakan rahasia Tuhan, kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita.

Sebagaimana layaknya orang yang meninggal, bisa jadi mewariskan harta maupun hutang. Di Indonesia terdapat 3 hukum pewarisan yang berlaku yaitu Hukum Waris Islam (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama Islam), Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam) dan Hukum Adat (yang berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang beragama selain Islam). Sebagai financial planner alias perencana keuangan, sharing tulisan kali ini saya batasi pada ahli waris dan cara mewaris berdasarkan Hukum Islam karena hubungan perkawinan dan hubungan darah.

Berikut adalah perincian besarnya bagian-bagian ahli waris berdasarkan Kompilasi Hukum Islam:

  1. Anak perempuan, ½ bagian bila seorang, 2/3 bila 2 orang atau lebih anak perempuan dan apabila bersama anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Dalam case nenek saya, anak-anaknya yang masih hidup adalah 2 perempuan dan 1 anak laki-laki, maka pembagiannya 2: 1 untuk laki-laki dan perempuan.
  2. Ayah, bila mempunyai anak, maka entitle mendapat seperenam bagian. Dalam case ini, karena ayah dari nenek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  3. Ibu, bila ada anak atau dua saudara atau lebih, maka entitle seperenam bagian, dalam case ini, karena ibunda dari nenek juga sudah almarhumah, maka tidak ada yang dibagi.
  4. Duda, dalam hal ini suami dari nenek saya, kakek saya entitle mendapat ¼ bagian karena ada anak, tapi dalam case ini karena kakek saya sudah tidak ada, maka tidak ada yang dibagi.
  5. Saudara seibu, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seibu mendapakan 1/6 bagian, tapi bila saudara seibu dua atau lebih, maka saudara-saudara itu bersama-sama mendapat 2/3 bagian. Dalam case ini, saudara seibu dari nenek saya tidak ada.
  6. Saudara seayah, bila meninggal tanpa ada anak dan ayah, maka saudara seayah bila lebih dari 2 orang, maka saudara laki-laki entitle 2 berbanding 1 dibanding saudara perempuan. Dalam case ini, saudara seayah sudah tidak ada lagi yang hidup.
  7. Anak angkat dan orang tua angkat, dapat saling mewaris maksimum 1/3, dalam case ini karena nenek saya tidak punya anak angkat dan orang tua angkat, maka tidak ada yang diwariskan.
  8. Cucu, menggantikan kedudukan orangtuanya yang berhak mewaris, dalam case ini karena anak-anak dari nenek saya masih ada, maka saya sebagai cucunya tidak berhak mewaris.

Dalam case ini, misalnya harta warisan nenek saya Rp. 1 Milyar, biaya pengurusan jenazah Rp. 30 juta, biaya rumah sakit Rp. 60 juta, hutang Rp. 10 juta maka sisa harga warisannya adalah Rp. 900 juta. Ahli warisnya 2 orang anak perempuan dan 1 laki-laki.

Ahli waris Bagian Perhitungan Total
2 anak perempuan 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta
1 anak laki-laki 2/4 2/4 x 900 juta 450 juta

 

 

1 anak laki-laki + 2 anak perempuan = 4 anak perempuan

= 900 juta / 4 = Rp. 225 juta

1 anak laki-laki mendapat 450 juta, dua anak perempuan masing-masing entitle Rp. 225 juta.

So guys, buatlah family tree anda masing-masing, biar tahu siapa saja lingkaran dalam keluarga kita.

In memoriam to my beloved Grandma Sapiah binti Muhammad Ridwan.

Catch me: @ rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

Jakarta Tenggelam vs Jakarta Tujuan Investasi Properti Terbaik 2013

sumber: windermeresocalcommercial.com

sumber: windermeresocalcommercial.com

Salah satu heading  text news di TV hari ini, hari kedua banjir hebat di Jakarta, adalah ’Jakarta Tenggelam’  dengan reporternya yang terus menerus menyiarkan kondisi terakhir dampak dari banjir di Jakarta. Kadang saya melihat cara reporter ini menyiarkan terlalu lebay, tapi untuk si pembuat berita, bad news is good news.

Sementara itu, awal tahun ini hampir semua media merilis hasil riset Pricewaterhouse Coopers (itu lho salah satu konsultan top dunia) dan Urban Land Institute, yang bilang bahwa Jakarta adalah peringkat pertama kota tujuan investasi property pada 2013.  Ini luar biasa, mengalahkan Singapura, Shanghai, Sydney, Kuala Lumpur  dan kota-kota besar Asia Pasific lainnya.

Anyway buat saya sebagai financial planner, ini saat yang tepat untuk melihat lokasi properti yang menjadi incaran kita untuk berinvestasi. Ingat 3 rumus investasi properti: lokasi, lokasi dan lokasi.

Lokasi yang banjir tentu tidak menjadi pilihan kita untuk berinvestasi. Tapi anomali di Jakarta terjadi di daerah yang namanya Kelapa Gading,  daerah yang disebut-sebut dengan Kepala Naga, yang sepertinya harganya anti  banjir, naik terus, ga ada matinya. (Ekor naganya dimana sih?) Dengan adanya kondisi banjir seperti sekarang tentu kita bisa mengecek melalui media dan tentu tinjau lokasi langsung. Lokasi yang menjadi incaran kita apakah termasuk lokasi yang aman, baik lingkungan perumahan maupun akses nya. Karena ini akan berpengaruh pada value dari properti tsb. Tentu kita tidak mau investasi yang kita tanamkan akan turun nilainya karena kita tidak cermat dalam memilih.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menanyakan terlebih dahulu pada perusahaan asuransi umum, apakah lokasi properti yang kita beli bisa di cover perluasan asuransi banjir? Karena pihak asuransi pasti akan berhitung cermat, jika lokasi properti yang kita pilih termasuk area banjir, maka mereka akan menolak duluan, meskipun kita insist untuk bayar preminya. Kalaupun mau pasti muahaaal banget.

Buat anda yang mau membeli properti, jangan segan untuk minta bantuan agen properti karena mereka lebih tahu dan paham daerah ”kekuasaannya“ (please note, saya bukan agen properti, dan juga bukan agen asuransi yaa), so, kita lihat saja setelah dampak banjir ini lewat, apakah Jakarta tetap akan menjadi No.1 Tujuan Investasi Properti 2013.

Selalu ada hikmah di balik bencana yang ada.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

sumber: windermeresocalcommercial.com

Asumsi

sumber: theinternettimemachine.com

sumber: theinternettimemachine.com

Kemarin Mentri Keuangan RI mengeluarkan revisi dari proyeksi ekonomi untuk tahun 2013, poin-poin penting yang perlu di catat:
1. Pertumbuhan ekonomi menjadi 6,6% – 6,8% dari 6,8%
2. Kurs Rupiah Rp. 9.300 – Rp. 9.700/US$ dari Rp. 9.300/US$
3. Dan inflasi 4,9% – 5,3% dari 4,9%
(sumber: Kontan)
Menyambung tulisan kemarin (Tips berinvestasi), perkiraan kenaikan inflasi, diperkirakan karena rencana-rencana pemerintah tahun 2013 ini:
a. kenaikan tarif listrik,
b. pengurangan subsidi BBM, dan
c. kenaikan upah pekerja.

Dengan mengetahui asumsi-asumsi di atas, apa pilihan investasi anda?