Small THINGS that MATTERS DALAM TRANSAKSI PROPERTI

Boy Hazuki Rizal ID 25Jun2018 Print

ijpropertysmallthingsmatter

 

Setiap orang pasti butuh tempat tinggal, bisa rumah, apartemen, ruko – buat yang mau sekalian buka usaha. Untuk mendapatkan tempat tinggal yang sesuai dengan kemauan tentu ada harganya, dan biasanya tidak murah.  Ada harga ada rupa, begitu kira-kira. Misalnya kita sudah cocok dengan sebuah rumah, lokasinya sudah pas, lingkungan nya juga sudah OK, maka dalam dalam melakukan transaksi, selain harga dan lokasi yang sudah cocok, ada beberapa hal kecil namun penting yang perlu menjadi perhatian:

Pertama, status sertifikat, namanya jual beli rumah adalah jual beli legalitas dari properti tersebut. Anda sebagai pembeli perlu teliti dan jeli dalam membeli. Perhatikan status dari sertifikat tersebut. Bila statusnya adalah Hak Guna Bangunan (HGB), lihat kapan tanggal berakhirnya Hak tersebut? Biasanya HGB punya masa berakhir 20 tahun. Kalau misalnya tanggal berakhir Hak Guna tersebut sudah mepet dengan tanggal akad jual beli di depan Notaris, maka tanyakan pada Notaris, apakah sertifikat tersebut masih cukup waktu untuk  di upgrade ke SHM (Sertifikat Hak Milik) atau harus di perpanjang dulu sebagai HGB. Apalagi jika Anda menggunakan fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dari bank, sertifikat tersebut tidak bisa langsung di ikat oleh bank dalam APHT (Akte Pengikatan Hak Tanggungan). Mengapa? Normalnya, begitu akad jual beli, maka sertifikat akan di pasang hak tanggungan oleh bank, tapi karena kondisi tidak normal, alias waktu yang mepet atas masa HGB yang sudah mau berakhir, maka upgrade dilakukan atas nama penjual dulu, baru kemudian di baliknamakan atas nama pembeli.  Ini dilakukan karena proses peningkatan hak, lebih cepat daripada proses balik nama. Sambil menunggu proses balik nama, bank sudah dapat melakukan proses pengikatan hak tanggungan. Hal ini juga akan lebih aman,  karena proses balik nama ke nama pembeli, dengan status sudah upgrade ke SHM.

Yang kedua, tanggal lahir penjual di sertifikat, kemungkinan kesalahan pada tanggal lahir/bulan/tahun penjual itu selalu ada, misalnya tanggal lahir penjual yang tertera di sertifikat adalah 27-07-1976, ternyata setelah di cek di KTP (Kartu Tanda Penduduk) penjual, tertera 27-06-1976. Yang benar adalah yang di KTP. Kesalahan penulisan di sertifikat bisa terjadi karena kesalahan pihak notaris yang mengutip atau bisa juga karena kesalahan pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional). Jika ini terjadi, maka penjual harus minta formulir PM1 ke kelurahan tempat penjual berdomisili, untuk menyatakan bahwa data tersebut merupakan orang yang sama. Jika sertifikat dipegang oleh penjual, tidak di agunkan ke bank, maka bisa mintakan perbaikan data di sertifikat tersebut melalui notaris. Biasanya notaris terakhir yang namanya tercantum di sertifikat tersebut. Agak repot memang, tapi ke depan nya akan lebih aman bagi anda bila menjual kembali, karena kesalahan di sertifikat sudah diperbaiki..

Yang ketiga, nominal pajak harus dihitung dengan teliti, meskipun sebelum transaksi, penjual dan pembeli sudah di informasikan oleh pihak notaris bahwa masing-masing akan dikenakan pajak sebesar 2.5% dan 5%, namun nominal nya tetap harus di periksa. Ilustrasinya sebagai berikut, asumsikan  untuk kepentingan perhitungan pajak contoh ini, nilai tertinggi antara NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) yang ada di PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan nilai transaksi, sebesar Rp. 7.2 Miliar, maka penjual akan dikenakan pajak 2.5% dari Rp. 7.2M. Sementara untuk pembeli, total transaksi akan dikurangi terlebih dahulu dengan NJOTKP (Nilai Jual Objek Tidak Kena Pajak) sebesar Rp. 80 juta. Sehingga nominal pajak yang dibayarkan sebesar 5% x (Rp. 7.2M – Rp. 80 juta) = Rp. 358.500.000, namun notaris mengutip Rp. 385.500.000, Sehingga ada selisih kelebihan bayar sebesar Rp. 27 juta (Rp. 385.5 juta – Rp. 358.5 juta). Bayangkan anda sudah harus bayar pajak sebesar ini, masih juga ada kesalahan yang merugikan anda sebagai pembeli.  Kesalahan ini bisa jadi karena kekurangtelitian notaris atau memang kesengajaan karena angkanya mirip-mirip, sehingga pihak penjual diasumsikan tidak akan melakukan perhitungan ulang dan percaya saja atas perhitungan notaris. Nah, disinilah anda sebagai pembeli harus teliti, cek dan recek, karena jelas-jelas pembeli dirugikan oleh pihak notaris. Jika ini terjadi, mintalah kepada pihak notaris untuk mengkoreksi tagihan pajak penjual tersebut, sehingga pada saat disetorkan ke negara, sudah tepat dan benar.

Yang keempat, informasi status tanah.  Sebelum membeli, pembeli perlu keyakinan atas status kepemilikan tanah dan bangunan tersebut atau bila sertifikat masih di agunkan oleh penjual, maka ada cara untuk ‘mengintip’nya, yaitu dengan meminta BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk mengeluarkan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) atas sertifikat tersebut. Hal ini bisa dilakukan lewat notaris.  Dalam SKPT nanti akan terlihat, siapa pemilik, status sertifikat dan catatan atas sertifikat tersebut.  Dalam catatan, bisa terlihat sertifikat tersebut diagunkan kemana saja dan bila ada catatan lain menyangkut sertifikat tersebut, akan terlihat pula disitu.

Yang kelima, bila mengajukan pinjaman rumah (KPR) ke bank, ajukan ke lebih dari satu bank.  Ini untuk memberikan pilihan kepada pembeli, bank mana yang lebih cepat dalam proses dan lebih tinggi plafon (nilai pinjaman) yang diberikan. Contohnya, pembeli membeli rumah dengan pengajuan plafon Rp. 5 M, maka proses pertama yang akan dilakukan bank, adalah melakukan appraisal (penilaian) terhadap rumah yang akan di beli. Beberapa bank menggunakan jasa penilai independen seperti Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) namun ada juga beberapa bank yang cukup dengan penilai internal (internal appraiser). Ini tergantung dengan nominal yang akan di pinjam. Dengan adanya beberapa bank dan beberapa appraisal, akan terlihat bank mana yang memberikan penilaian paling tinggi. Selain itu yang paling penting adalah service yang diberikan bank, karena ini akan berdampak pada pelaksanaan akad jual beli. Tidak ada jaminan bahwa bank dengan nama besar pasti lebih baik, bisa saja service nya lambat dan tidak canggih (baca: kurang profesional). Dan ini bisa bikin senewen kalu di ikutin polanya. Dengan pengajuan kepada lebih dari 1 (satu) bank, misalnya 4 (empat) bank sekaligus, akan terlihat bank mana yang memberikan service lebih baik.

Yang ke enam, PBB tahun berjalan pada saat transaksi, seyogyanya ditanggung oleh penjual. Meskipun transaksi dilakukan di awal tahun, misal Januari, sementara PBB  baru muncul pada Maret, maka penjual yang tetap harus membayarkan. Untuk hal ini, bisa dibuatkan perjanjian, bahwa biaya PBB yang timbul pada tahun dilaksanakannya transaksi jual beli menjadi kewajiban penjual, sehingga tidak ada dispute di kemudian hari.

Yang ketujuh, pengosongan rumah, bila pembeli membeli rumah yang masih di huni oleh penjual, perlu kiranya dibuatkan perjanjian pengosongan rumah. Kalau misalnya pihak penjual nya kooperatif, tidak masalah, namun jika penjual nya ada tanda-tanda kurang baik, maka perlu dibuat secara jelas hitam di atas putih. Ini bisa dilakukan pada saat perjanjian awal seperti Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Wajar bila penjual meminta waktu kepada pembeli dalam batas waktu yang wajar untuk mengosongkan rumah. Hal ini bisa dirundingkan dan disepakati terlebih dahulu, kapan dan berapa lama waktu pengosongan rumah. Orang Indonesia terkenal dengan kekeluargaannya, sehingga bisa di artikan dua: positif atau negatif, kalau positif, bisa mempercepat proses pengosongan atau sebaliknya.

Bisa disimpulkan dari small THINGS tersebut di atas, semua pihak harus beritikad baik dan bekerja sama  sebelum dan sesudah melakukan transaksi jual beli properti, dan pentingnya dibuatkan perjanjian secara tertulis. Mengenai angka-angka, baik penjual maupun pembeli harus ekstra teliti, karena ketidaktelitian maupun kelalaian pihak lain bisa berarti kerugian bagi anda.

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner dan Rekan

http://id.beritasatu.com/home/transaksi-properti/177039

KREDIT PROPERTI

icon property

rizalplanner_Tabloid Kontan 3Juli2017

Sedari kecil kita semua di ajarkan bahwa salah satu kebutuhan primer adalah kebutuhan papan. Tidak hanya perlu makan minum dan pakaian, tapi juga tempat tinggal. Saat sekarang ini, kebutuhan papan tersedia dalam berbagai macam tipe, mulai dari rumah tapak, rumah susun (apartemen, flat, kondotel), ruko dan lain-lain. Selama manusia hidup, selama itu pula manusia perlu tempat tinggal. Kita semua sadar bahwa beli properti itu melibatkan uang yang besar, sehingga kalau mengumpulkan uang sendiri sampai nilainya terpenuhi kemudian baru beli, sepertinya sangat jarang dan sulit untuk mengejar kenaikan harga properti tersebut. Bahkan untuk kalangan tertentu, gaji tidak akan pernah mampu untuk mengejar kenaikan harga properti. Untuk itu, biasanya pembeli menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya untuk me-leverage kemampuan beli properti tersebut.

Jika anda ingin membeli properti, misalnya dari secondary market atau rumah bekas, sebelum menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya, buatlah planning nya terlebih dahulu.

Pertama hitunglah terlebih dahulu penghasilan anda per bulan. Jika penghasilan anda perbulan misalkan Rp. 20 juta, maka tentu tidak semua gaji anda bisa jadikan cicilan untuk membeli properti. Mau hidup dengan apa jika semuanya dihabiskan untuk cicilan? Hanya 30% dari penghasilan tersebut yang bisa dijadikan angsuran, artinya Rp. 6 juta sebagai cicilan. Saat ini jika anda masuk ke dalam situs jual beli properti tertentu, sudah ada simulasi online yang menghitung secara langsung berapa angsuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) per bulannya. Dari situ bisa di hitung berapa nilai pinjaman properti yang menjadi target anda.

Yang kedua, jika anda sudah tahu kemampuan cicil anda perbulan, carilah properti seperti apa dan dimana yang bisa anda beli dengan kemampuan cicilan seperti itu dan yang mau di biayai oleh bank. Pertimbangkan bahwa semakin tinggi atau semakin premium kelas propertinya, semakin besar pula biaya bulanannya, seperti biaya pengelolaan lingkungan, dan maintenance fee lainnya. Bank tentu akan menilai berapa besar nilai properti tersebut yang akan di agunkan. Saat ini sesuai peraturan Bank Indonesia (BI) per Agustus tahun 2016 lalu, bahwa untuk DP rumah pertama turun menjadi 15% dimana sebelumnya 20%. Ini artinya Bank membiayai 85% dari nilai properti tersebut. Nilai 85% itulah yang disebut LTV (loan to value) atau penilaian pinjaman dan nilai inilah yang menjadi patokan total pinjaman anda. Kalau nilai appraisal properti yang ingin di beli Rp. 600 juta, maka besar KPR yang bisa anda pinjam hanya 85% nya yaitu sebesar Rp. 510 juta. Sebelumnya aturan BI untuk rumah pertama, kedua dan ketiga 20%, 30% dan 40%, sekarang menjadi 15%, 20% dan 25%.

Yang ketiga, berapa lama anda mampu membayar cicilan tersebut? Normalnya orang mengambil jangka waktu 10 sampai 15 tahun. Namun saat ini sudah ada yang sampai 25 tahun. Ini tentu berdampak pada perhitungan angsuran per bulan. Kalau misalnya ada tawaran bunga fix selama 3 tahun, dan cap selama 2 tahun berikut, maka jika terjadi perubahan (baca: naik) suku bunga Bank Indonesia, angsuran akan tetap selama periode tersebut mengikuti suku bunga yang sudah di sepakati. Karena itu jika suku bunga patokan turun, akan sangat sangat ‘susah’ suku bunga pinjaman juga turun. Jika lebih dari 5 tahun, maka suku bunga mengambang (floating rate) yang akan berlaku, mengikuti suku bunga pasar. Contohnya fix 6,99% per 3 tahun dan cap 8,99% per 3 tahun, maka jika masuk tahun ke-6 suku bunga naik menjadi 12,00%, maka cicilannya tentu akan naik juga. Asumsi pinjaman sampai 15 tahun, nah ruang kenaikan ini selama masa sisa cicilan 9 tahun alias sampai lunas tahun ke -15 harus sudah siap di antisipasi. Jangan sampai pada saat tahun ke-6 dan seterusnya, anda tidak mampu membayar cicilan tersebut.

Yang ke empat, siapkan juga dana untuk uang muka (DP – down payment) nya. Down payment rumah pertama sebesar 15%. Jika dari contoh di atas, maka uang sebesar Rp. 90 juta harus anda siapkan untuk down payment nya. Sangat tidak disarankan untuk mengambil pinjaman tanpa agunan seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk membayar DP ini. Karena itu berarti anda mempunyai beban cicilan lebih dari 30% dan kewajiban bayarnya lebih pendek dari cicilan KPR anda.

Yang ke lima, jika menggunakan fasilitas kredit dari bank atau insititusi keuangan lainnya, maka ada biayanya, biaya untuk memperoleh KPR tersebut berkisar 8%-10%, termasuk pembayaran pajak, provisi, BPHTB (Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan), jasa notaris, asuransi dan lainnya. Untuk itu dana sebesar 8%-10% dari nilai pinjaman perlu dipersiapkan. Dari contoh di atas kira-kira sebesar Rp. 41 juta s/d Rp. 51 juta yang sudah harus disiapkan.

Sehingga total dana cash yang mesti anda siapkan adalah gabungan dari DP dan biaya KPR, dalam contoh ini kurang lebih nilainya Rp. 131 juta – 141 juta.

Sebelum hal tersebut di atas dilakukan, periksalah terlebih dahulu bahwa tidak ada tunggakan tagihan dari pinjaman atau kredit lain, misalnya dari kartu kredit atau KTA atau fasilitas lainnya. Jika masih ada tagihan, di’bersih’kan dahulu supaya pada saat perhitungan parameter kredit, tidak ada masalah. Jika ada tunggakan, lunasi dan selesaikan terlebih dahulu, mintalah surat keterangan lunas jika diperlukan dari bank penerbit kartu kredit atau pemberi fasilitas kredit lainnya. Karena pada saat mengajukan KPR, bank pasti akan melakukan riwayat pinjam meminjam anda melalui BI checking, bagaimana historis kredit dan pembayaran anda sebelumnya.  Apabila anda pernah terlambat dalam membayar kewajiban anda, atau pernah tidak lancar dalam memenuhi kewajiban anda, akan terlihat jelas. Sehingga bila semua sudah clear, kapabilitas anda sebagai orang yang ‘bankable’ meyakinkan.

Meskipun harga properti terus naik, namun saat sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli properti? Mengapa ? karena saat sekarang adalah saatnya buyer’s market, dimana lebih banyak supply daripada demand, lebih banyak supply propertinya daripada permintaannya. Banyak orang dan developer properti  yang ingin menjual rumah atau apartemen nya, namun jumlah pembeli nya tidak sebanding. Keadaan seperti inilah yang membuat buyer lebih punya banyak pilihan untuk memilih properti.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

RULE of 72

pic source: swanretirement.com

pic source: swanretirement.com

Pernahkah anda mendengar rule of 72? Jangan bayangkan rumus ini sesusah rumus Archimedes atau rumus menghitung jarak matahari ke bumi. Rule of 72 atau hukum rumus 72 adalah rumus sederhana yang diciptakan oleh Einstein untuk menghitung cepat berapa tahun modal yang kita investasikan akan menjadi 2x lipat.

Rumusnya sangat mudah:

72 : tingkat suku bunga = jangka waktu nilai investasi jadi 2x lipat

Tabel di bawah sebagai ilustrasi dari Rule of 72

Tingkat suku bunga

Rule of 72

2%

36,0

3%

24,0

4%

18,0

5%

14,4

10%

7,2

12%

6,0

24%

3,0

Khusus untuk tulisan ini fokus pada investasi properti. Jika anda beli rumah sekarang seharga Rp. 1 M, dengan rata-rata tingkat suku bunga yang berlaku saat ini adalah 12%, maka nilai rumah anda akan berlipat dua menjadi Rp. 2 M dalam jangka waktu 6 tahun.

Rumus 72 ini berlaku universal, dimanapun anda berada. Oleh karena itu kalau anda beli properti di luar negeri, tingkat kenaikannya lambat, karena tingkat suku bunga nya rendah. Di Amerika rata-rata suku bunga 4,3%, di Australia 5,0%,  sedangkan di Indonesia tingkat suku bunganya tinggi, jauh lebih tinggi dari negara-negara maju. Dalam investasi properti, selain tingkat suku bunga dan waktu, maka inflasi juga memegang peran penting. Semakin tinggi tingkat inflasi suatu negara, semakin cepat kenaikan harga properti tersebut. Sebagai catatan tahun 2013 lalu, laju inflasi di Indonesia mencapai 8,38% (sumber: BPS).

Dari contoh di atas, secara teori matematis rumus tersebut menghitung kenaikan nilai properti menjadi dua kali lipat dalam jangka waktu 6 tahun, tapi bisa jadi kurang dari 6 tahun pun sudah mencapai kenaikan 2x lipat. Misalnya, 4 tahun lalu seseorang membeli rumah di suatu kawasan Jakarta, harganya Rp. 900 juta, sekarang harganya sudah Rp. 1,7 M. Artinya tidak perlu menunggu sampai 6 tahun untuk men- double kan nilai properti tersebut.  Ini disebabkan karena berbagai faktor, selain kondisi makro ekonomi, juga karena jumlah permintaan akan properti yang jauh lebih besar dari pada pasokan, serta aksi spekulan properti.

Hasil survey Harga Properti Residensial pasar primer yang dilakukan Bank Indonesia 2013 lalu menunjukkan secara year on year, kenaikan rumah 13,51%, dan rumah tipe kecil mengalami kenaikan yang paling tinggi 18,49%.

Anda bisa hitung sendiri, berapa lama nilai investasi anda akan jadi double?

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

APA SAJA YANG PERLU ANDA KETAHUI UNTUK HIBAH?

pic source: okezone,com

pic source: okezone.com

Dalam perencanaan keuangan, satu hal penting yang perlu diperhatikan bila anda sudah punya aset dan ingin mendistribusikan kekayaan anda kepada anak-anak atau orang-orang yang anda cintai adalah dengan cara hibah. Distribusi kekayaan selalu terkait dengan hukum yang berlaku, dalam hal ini ada tiga hukum yang berlaku di Indonesia: yang pertama Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang kedua Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP) dan yang ketiga Hukum Adat.

Menurut KUHP, ada 3 syarat hibah:

  1. Yang menerima dan yang memberi hibah masih hidup.
  2. Barang yang dihibahkan harus sudah ada, kalau baru akan ada kemudian, maka hibahnya batal.
  3. Harus dengan akte notaris, kecuali untuk barang yang bergerak, dapat langsung dialihkan secara fisik.

Setelah tahu syarat-syarat di atas, yang pertama yang perlu anda lakukan adalah mengklasifikasikan jenis kekayaan anda, apakah termasuk barang bergerak atau barang tidak bergerak. Barang bergerak terdiri dari 2 jenis, berwujud dan tidak berwujud. Yang berwujud seperti mobil, emas,berlian, permata, uang, dan yang tidak berwujud: seperti saham, obligasi dan piutang. Sedangkan barang tidak bergerak seperti tanah, dan segala benda yang secara permanen melekat di atasnya.

Jika sudah tahu klasifikasi apa, maka selanjutnya adalah cara pengalihannya. Untuk emas, berlian, permata, uang, mobil dan barang berwujud lainnya dialihkan dengan pengalihan fisik, sedangkan untuk saham, obligasi, piutang, dialihkan dengan cara cessie yaitu menandatangani akta pengalihan, sedangkan untuk benda tidak bergerak seperti properti, rumah, tanah, sawah, ladang, dialihkan dengan cara menandatangani akte pengalihan yang dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah).

Sebagai contoh, misalkan anda mempunyai 3 rumah di Jakarta ingin anda hibahkan kepada 2 anak dan istri anda, maka rumah pertama untuk anak pertama, rumah kedua untuk anak kedua sedangkan rumah ketiga yang ingin anda hibahkan ke istri tidak bisa. Mengapa? Karena hibah antara suami istri selama perkawinan dilarang menurut KUHP.

Selain itu yang menjadi perhatian adalah dampak finansialnya, untuk pengalihan tersebut tentu akan timbul biaya dan pajak, misalnya dari contoh di atas, untuk dari pengalihan 2 properti tersebut, maka anak pertama dan kedua, masing-masing harus membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPTHB) senilai 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP).

Lain halnya jika yang dilakukan adalah hibah wasiat, artinya hibah yang merupakan warisan, setelah si pemberi hibah meninggal dunia, maka sesuai peraturan, ada diskon 50% dari 5% atas BPHTB, selain itu anak-anak anda sebagai penerima hibah juga mendapat pengurangan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebesar Rp. 350 juta.

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

3 tips memilih bank untuk KPR

source: belisewarumah.com

source: belisewarumah.com

 

Kalau anda sudah ketemu dengan properti, rumah, ruko atau apartemen yang cocok dengan anda, yang ingin anda beli, tentu anda ingin segera merealisasikannya. Salah satu caranya dengan pinjaman dari bank atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Bila anda beli melalui perantara/broker, bisa saja si broker punya jalur ke bank yang biasa menjadi langganan bagi kliennya. Tapi jika tidak, maka anda sendirilah yang mencari jalur ke bank, bisa lewat teman, telpon langsung ke bank, datang langsung ke cabang bank tersebut.

 

Ada 3 tips yang perlu diperhatikan dalam memilih bank untuk KPR anda:

1. Pilih bank yang memberikan fleksibilitas atas kredit yang diberikan,

maksudnya bank tersebut mengikuti prosedur tapi tidak kaku. Contohnya begini, ada satu bank besar, sebut saja Bank X, yang minta semua persyaratan dokumen harus di penuhi, setelah di hitung, ternyata rasio cicilan anda tidak cukup. Tapi jika ternyata anda punya sumber pendapatan lain, maka bank akan menambah sumber pendapatan lain tersebut, sehingga rasio cicilan anda mencukupi. Rasio tersebut disebut sebagai debt burden ratio (DBR) artinya cicilan anda per total penghasilan anda, nilainya maksimal 30%. Kalau cicilan anda 10 juta per bulan, maka minimal total penghasilan anda (dan pasangan) dalam sebulan harus Rp.30 juta, karena kalau DBR lebih dari 30%, akan di anggap akan mengganggu cash flow keuangan anda. Artinya terlalu banyak pengeluaran lain yang mungkin dapat mengganggu kelancaran pembayaran cicilan anda.

 

2. Pilihlah bank yang memberikan plafond tertinggi

Hal ini bisa terjadi bila anda mengajukan KPR pada lebih dari 1 (satu) bank. Boleh-boleh saja, ini untuk memberikan pilihan kepada anda, bank mana yang paling favorable buat anda.

Aturan pembiayaannya anda adalah 70% dari harga beli, karena 30% merupakan uang muka (down payment) yang harus di bayar secara cash. Pada waktu anda mengajukan permintaan kredit, bank akan menilai properti tersebut, Iapi bisa jadi hasil appraisal (penilaian) atas properti yang anda akan beli, nilainya di bawah harga pasar dan di bawah dari nilai penawaran anda. Ini akan berakibat plafond (nilai pinjaman yang di setujui) akan lebih kecil. Dampaknya uang muka yang harus disediakan lebih dari 30%. Setiap bank punya mekanisme dan sistem perhitungan yang berbeda. Ilustrasinya, dengan pengajuan pinjaman yang sama misalnya Rp. 500 juta, bank A hanya setuju memberikan pinjaman 475 juta, bank B hanya Rp. 450 juta dan bank C setuju Rp. 500 juta. Maka pilihlah bank C.

 

3. Pilih bank yang memberikan bunga fixed paling lama.

Mengapa bunga fixed? Karena umumnya bank yang memberikan bunga fixed paling lama, bagi anda sebagai nasabah akan menguntungkan dalam hal mengatur cash flow, karena selama periode tersebut, cicilan anda akan tetap. Misalnya bunga 9,75% selama 4 tahun, maka selama 4 tahun tersebut, cicilan anda akan tetap misalnya Rp. 5 juta per bulan, tapi begitu menginjak tahun ke-5, maka cicilan akan berubah dan umumnya naik dan pasti naik (kalau yang ini sepertinya ga perlu di jelasin kenapa…) misalnya bunga akan naik jadi 14%, dan cicilan per bulan nya menjadi Rp. 6,3 juta. Ini hanya ilustrasi sederhana saja.

 

Tiga hal tersebut adalah hal-hal yang perlu menjadi concern anda pada saat memilih bank untuk KPR.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com