CERMAT MEMILIH INVESTASI

source: aegonreligare.com

source: aegonreligare.com

Akhir-akhir ini media massa banyak memberitakan seorang ustadz terkenal yang dihentikan kegiatan pengumpulan dananya oleh otoritas yang berwenang (baca: OJK = Otoritas Jasa Keuangan). Di radio kita juga mendengar, bahwa OJK banyak memberikan himbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam berinvestasi.

Tulisan ini tidak untuk membahas si ustadz (tidak perlu disebut namanya yaa) atau OJK atau person secara tertentu, tapi untuk diri kita sendiri dalam memahami keputusan investasi yang kita pilih, agar kita cermat dan berhati-hati.

Selain tips yang pernah saya bahas dalam tulisan saya 14 Januari 2013 https://rizalplanner.wordpress.com/2013/01/14/tips-berinvestasi/ , ada beberapa hal yang juga perlu menjadi concern kita dalam berinvestasi.

  • Legalitas usaha.
    • Adakah Surat Izin Usaha dari otoritas yang berwenang? Kalau misalnya mengumpulkan dana pihak ketiga, harus punya izin dari BI seperti layaknya Bank, kalau punya usaha pengelolaan dana, tentu harus ada izin dari OJK, kalau investasi komoditas, harus ada izin dari Otoritas Bursa Berjangka. Jadi jika ingin lebih yakin, cek terlebih dahulu surat ijin usaha nya ke otoritas berwenang, dan apakah benar izin usaha tersebut valid?
  • Underlying asset.
    • Duitnya untuk beli apa sebagai dasar investasi? Duit kelolaannya itu diputar dimana? Apakah di Pasar Modal? Pasar Uang? Komoditas? Forex? Properti? Tambang? Emas? atau apa? Semuanya itu bisa dihitung return nya. Misalnya jika ada yang menjanjikan return 10% per BULAN, patut di tanyakan, duitnya di putar dimana? Apa saja portfolionya? Sudah berapa lama mengelola portfolio tersebut. Mana buktinya? Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan yang harus menjadi concern kita, agar duit kita tidak hilang.
  • Kapasitas dan Pengetahuan.
    • Apakah pemilik usaha atau pengelola dana tersebut mempunyai kapasitas yang cukup dalam mengelola dana. Apakah ia mempunyai pengetahuan yang memadai dalam mengelola investasi. Apakah ia memiliki lisence (surat ijin) yang diterbitkan oleh otoritas berwenang, seperti di pasar modal dikenal adanya lisence MI (Manajer Investasi). Karena jika salah kelola dan tidak cukup kapasitasnya dalam mengelola portfolio yang ada, maka taruhannya selain nama baik juga secara hukum bisa dituntut, karena tidak berizin.
  • Kepercayaan.
    • Apakah si pengelola dapat dipercaya? Apakah dia punya track record yang bagus dalam dunia investasi? Sebagai contoh, misalnya untuk bank sebagai agen penjual reksadana tentu sudah melakukan seleksi terhadap manajer investasi. Bank mempunyai kriteria tersendiri dalam menilai kelayakan suatu manajer investasi agar produknya layak di jual oleh bank. Karena bank juga tidak mau terkena dampak jika terjadi apa-apa dengan si penjual alias si manajer investasi meskipun sudah dijelaskan di awal bahwa bank hanya sebagai agen penjual reksadana saja.

So guys, be careful choosing your investment.

Catch me; @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

Perspektif Lain Skandal Sapi – 2

sumber: vernonblog.blogspot.com

sumber: vernonblog.blogspot.com

Masih melanjutkan perspektif lain dari skandal sapi, apakah pernah terpikir oleh kita bahwa sapi-sapi itu bisa menjadi sumber pendapatan kita di saat pensiun nanti? Eeiittss, bukan ikut-ikutan skandal korupsi ya, maksudnya begini, sebagai financial planner alias perencana keuangan, tentu selain memperhitungkan life style, life expectancy, dan pengeluaran, kita juga memperhitungkan berapa pemasukan pada saat pensiun nanti. Ya, source of income juga harus di pikirkan, bisa passive income dari dividen saham yang kita punya, kupon dari obligasi kita, atau kos-kosan yang kita punya. Semua itu diibaratkan sapi-sapi yang memberikan hasil pada pemiliknya, bisa dari susunya, dagingnya, jeroannya atau kulitnya.

Source of income ini akan di perhitungkan sebagai salah satu sumber pendanaan kita di masa pensiun, contohnya jika kita saat ini mempunyai tabungan yang cukup untuk di investasikan, membuka kos-kosan bisa menjadi satu alternatif untuk mulai men generate source of income kita, atau bila kita punya warisan berupa properti seperti rumah yang bisa di sewakan, hal ini juga bisa men support dana kebutuhan pensiun. Sehingga pada waktu menghitung dana kebutuhan pensiun, kekurangan dana pensiun akan lebih ringan dengan source of income yang sudah ada.

Hal lain yang perlu di perhatikan dalam menghitung kekurangan dana pensiun adalah inflasi, ya inflasi. Sebagai financial planner, saya tidak akan bosan-bosan mengingatkan kita akan musuh bersama yang tidak kelihatan ini. Dengan memasukkan faktor inflasi, kita perlu evaluasi secara berkala portfolio yang kita punya, agar value Rp. 10 M dari dana pensiun tersebut tidak tergerus karena inflasi, sehingga akan mencerminkan jumlah rupiah sesungguhnya.

Kesimpulan: yuk, kita mulai rencanakan pensiun kita.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Perspektif Lain Skandal Sapi

sumber: thestoryofmoney.blogspot.com

sumber: thestoryofmoney.blogspot.com

Berita paling panas minggu ini adalah heboh skandal sapi Rp. 40 M dengan uang DP Rp. 1 M plus cerita si perantara yang plus plus.  Ssebelumnya heboh skandal korupsi suap pengurusan anggaran Kementrian Pemuda dan Olah Raga serta Kementrian Pendidikan Nasional sebesar Rp. 2,5 M dan US$ 12 juta, yang telah menghukum terdakwa 4,5 tahun penjara, saya tidak perlu menyebutkan nama-nama, karena anda pasti sudah tahu siapa yang di dimaksud dalam skandal-skandal ini.

Tulisan ini tidak akan membahas poltik, partai maupun sapi-sapi itu. Perspektif lain yang saya lihat dari skandal ini, sebagai financial planner alias perencana keuangan adalah nilai dari uang tersebut sebagai dana pensiun. Bayangkan jika kita bisa mempunyai uang senilai Rp. 40 M sebagai dana pensiun kita. Wah tentu kita tidak akan merepotkan anak-anak kita kelak, tidak akan merepotkan orang lain karena kita sudah mempunyai dana pensiun yang cukup untuk masa tua kita kelak.

Memang benar untuk menghitung kebutuhan tiap-tiap orang akan dana pensiun berbeda-beda, banyak faktor antara lain:

  1. Gaya hidup – apakah kita ingin pada waktu pensiun, life style kita sama seperti sekarang? Apakah kita justru ingin travelling ke tempat-tempat yang selama ini jadi impian?
  2. Besarnya pengeluaran  – bagaimana pengeluaran pada waktu pensiun nanti? apakah lebih kecil dari pada saat ini? Apakah dana untuk keperluan berobat akan lebih besar?
  3. Life expectancy – maksudnya berapa lama kita akan hidup selama menjalani masa pensiun sampai kita meninggal dunia (kita semua akan menuju ke sana, right guys?) misalnya kita pensiun di usia 55 dan diperkirakan meninggal usia 65 tahun, maka life expectancy kita 10 tahun.

Ada berbagai macam faktor dalam menghitung kebutuhan pensiun, dan teknik menghitungnya.

Balik lagi ke nilai uang skandal sapi, asumsikan 25% nilai uang skandal tersebut adalah sebesar kebutuhan kita akan pensiun, sebesar Rp. 10 M. Misalnya saat ini kita berumur 35 tahun dan uang tersebut akan kita butuhkan 20 tahun lagi pada saat kita pensiun, dengan pilihan investasi yang memberikan return 25% per tahun, maka yang perlu kita sisihkan hanya Rp. 1.500.000 setiap bulannya. Dan dengan asumsi perhitungan investasi dan faktor-faktor tersebut di atas uang Rp. 10 M tersebut akan cukup meng cover masa tua kita.

Oleh karena itu, sebagai financial planner, saya menyarankan kepada anda semua untuk mulai memikirkan dana pensiun ini, tidak ada kata terlambat untuk memulai, yang salah kalau tidak mau mulai-mulai.

Kesimpulan: rencanakan pensiun anda sedini mungkin, mintalah bantuan expert nya untuk menghitung dana pensiun anda.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com