Terbebas dari Belitan Utang

Boy Hazuki Rizal ID 5Sept18

Merdeka dari utang

Anda suka berhutang? Sering ditawari supaya berhutang? Kalau anda diberikan fasilitas berupa utang artinya anda dipercaya oleh bank atau institusi keuangan. Kalau sampai bank tidak mau memberikan fasilitas kredit kepada anda, bisa jadi salah satu kriteria pemberian kredit tidak terpenuhi atau penilaian terhadap diri anda kurang bagus. Dalam dunia kredit perbankan, untuk menilai individu atau bisnis layak mendapat kredit atau tidak, dikenal adanya 5C: capacity, capital, collateral, conditions dan character.

Karakter dalam penilaian kredit bisa tercermin dari histori kredit anda, reputasi atau rekam jejak anda dalam membayar utang seperti apakah pernah menunggak bayar kredit atau pernah telat bayar tagihan baik di bank atau perusahaan pembiayaan (multifinance) maupun pegadaian. Semuanya akan terlihat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang mulai awal tahun 2018 ini di kelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelumnya dikenal dengan sebagai BI Checking oleh nasabah dan pelaku industri keuangan.

Keinginan dan gaya hidup, terkadang ‘menghilangkan’ nalar sehat anda untuk menghitung kemampuan anda dalam membayar utang tersebut. Setiap hari anda dibombardir dengan iklan dan tawaran fasilitas berutang, telemarketing yang dengan rayuan manis menelpon anda setiap hari untuk mengambil tunai sisa limit kartu kredit yang belum terpakai, maupun tawaran online dan offline cash advance dari kartu kredit.

Kalau sudah tergiur dan terlanjur untuk mengambil fasilitas kredit tersebut, dan pada waktu mendekati tanggal jatuh tempo, anda bingung darimana uangnya untuk membayar tagihan-tagihan tersebut? Mungkin anda akan berpikir untuk mengambil jalan pintas yaitu ambil utang lagi untuk menutup utang sebelumnya, alias gali lubang tutup lubang. Apalagi jaman now, dengan banyaknya toko online, pemilik kartu kredit bisa melakukan gestun (gesek tunai) di toko online dengan pemotongan sejumlah komisi tertentu. Karena ini berlangsung terus menerus, akhirnya anda menggali begitu banyak lubang dan bingung bagaimana menutup semua lubangnya.

Saat ini, jasa fintech (financial technology) membuat anda mendapatkan fasilitas pinjaman semakin mudah. Dengan hanya sentuhan jari, tanpa harus bertele-tele  memikirkan persyaratan agunan, anda dapat dengan mudah mendapatkan pinjaman. Namun mudahnya pinjaman tanpa agunan ini di kompensasi dengan tingginya bunga pinjaman. Karena risiko tinggi yang harus ditanggung pemberi pinjaman membuat bunga pinjaman yang diberikan juga tinggi. Misalnya, sebagai perbandingan untuk bunga kartu kredit 26.95% per tahun, sementara ada fintech yang memberikan bunga 1% per hari, artinya 30 hari sudah 30%. Jauh lebih dahsyat dari bunga setahun kartu kredit!

Dan sebagai konsekuensinya, jika anda tidak mampu membayar utang, maka pihak kreditur, baik bank maupun institusi keuangan lainnya akan mengejar-ngejar anda. Kalau macet bayar, risikonya nama baik anda akan tercoreng. Bank atau perusahaan pembiayaan akan segan memberikan fasilitas kredit kepada anda. Kalau sudah begini kondisinya, ada beberapa langkah yang dapat anda lakukan agar keluar dari belitan utang:

Pertama, buatlah cash flow yang menggambarkan berapa besar pendapatan dan pengeluaran anda termasuk rincian utang. Hal ini untuk mengetahui berapa besar gaji, komisi dan lainnya serta biaya hidup, utang dan kewajiban lain anda setiap bulannya. Jika ternyata pengeluaran anda lebih besar dari pendapatan, artinya lebih besar pasak dari tiang, atau cash flow anda negatif.

Kedua, jika sudah tahu bahwa cash flow anda negatif, bicara dan jelaskan kondisi keuangan anda pada pihak bank atau institusi keuangan tempat anda mendapat fasilitas, hal ini menunjukkan itikad dan integritas yang baik bahwa anda akan menyelesaikan kewajiban anda. Lakukan permohonan restrukturisasi utang. Apakah nanti restrukturisasi utang berupa pemotongan denda, penurunan bunga, perpanjangan jangka waktu atau tenor cicilan pembayaran. Semua hal tersebut dapat menjadi solusi dari penyelesaian kewajiban anda. Pengajuan permohonan restrukturisasi utang ini tergantung pada kebijakan bank.

Ketiga, refinancing. Sebelum melakukan refinancing, lakukan terlebih dahulu konsolidasi utang yang ada. Jika ingin mengambil utang baru untuk refinancing, pastikan bahwa bunga jauh lebih rendah dari semua utang yang ada atau bila mungkin tanpa bunga, untuk melunasi konsolidasi utang tersebut. Kalau semua utang yang dikonsolidasikan tersebut telah selesai dibayarkan, maka fokus bayar utang anda hanya pada satu utang yaitu utang untuk refinancing tersebut. Refinancing tersebut misalnya pinjaman dari koperasi atau kantor.

Pada waktu mengambil pinjaman refinancing, yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengambil pinjaman dengan mengagunkan aset, seperti properti (rumah tinggal). Karena jika satu dan lainnya, anda tidak mampu membayar cicilannya, maka properti anda akan disita. Sehingga kalau kejadian anda macet dalam bayar utang, properti anda hilang, lantas anda mau tinggal dimana?

Keempat, jual asset. Kalau anda punya emas batangan atau perhiasan, dapat dijual dulu untuk menutup utang-utang tersebut. Begitu juga dengan aset bergerak seperti kendaraan, dapat di jual juga agar sisa dari penjualan aset tersebut dapat menutup utang lainnya. Saat ini untuk menjual barang/aset sudah semakin mudah di toko online, tinggal klik dari gadget anda, tampilkan foto dan spesifikasinya, maka barang yang anda mau jual akan muncul di marketplace.

Kelima, cari tambahan penghasilan. Hal ini sebagai alternatif untuk menutup sisa cash flow negatif. Cari tambahan untuk menambah pendapatan dan menutup kewajiban bulanan yang timbul. Anda dapat membuka toko online yang menjual barang atau jasa yang dibutuhkan.

Terakhir, sebagai penutup, untuk mengantisipasi semua kemungkinan, jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai debitur bank/ nasabah institusi keuangan/ fintech, siapkan asuransi jiwa yang nilai Uang Pertanggungan (UP) nya cukup untuk menutup seluruh utang anda. Ini bukan untuk menakut-nakuti tapi sebagai antisipasi skenario terburuk. Bisa dibayangkan bila tidak ada asuransi untuk ahli waris anda, maka baik itu suami/istri maupun anak-anak anda harus menderita menanggung semua utang anda kalau anda sudah tidak ada.

 

Boy Hazuki Rizal

Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

 

Bisa di baca juga di Investor Daily online: http://id.beritasatu.com/home/terbebas-dari-belitan-utang/180127

Utang Kartu Kredit

republika kk

rizalplanner_Kontan 12Jun17

Peraturan terbaru Bank Indonesia mengenai pemangkasan bunga Kartu Kredit yang keluar 2 Desember 2016 sudah berlaku per Juni 2017, disebutkan bahwa suku bunga Kartu Kredit di Indonesia di turunkan dari 2,95% per bulan atau 35,4% per tahun menjadi 2,25% per bulan atau 26,95% per tahun. Perhitungan bunga tagihan akan turun seiring dengan penurunan suku bunga. Yang perlu diperhatikan oleh pemegang Kartu Kredit adalah bahwa bunga Kartu Kredit dibebankan secara proporsional terhadap setiap transaksi yang terjadi.

Penurunan 70 basis point berdampak pada turunnya beban bunga sebesar 24% bagi pengguna Kartu Kredit yang tidak membayar penuh atau membayar minimum payment, namun bila menunggak sama sekali atau membayar kurang jumlah dari minimum payment maka selain beban bunga dikenakan juga late charges (besarannya Rp. 20000 – Rp. 150000). Yang ujungnya akan menambah beban hutang.

Kartu Kredit merupakan kredit yang tidak ada agunannya. karena tidak adanya agunan itulah menyebabkan bank mempunyai risiko yang lebih besar dalam pemberian kredit. Risiko yang lebih besar tersebut diterjemahkan dalam bunga yang lebih besar, yang harus dibayarkan oleh konsumen. Hasil riset suatu portal keuangan menunjukkan bahwa sekitar 70% dari pengguna Kartu Kredit melakukan pembayaran minimum, dan hanya 30% yang membayar tepat waktu atau sebelum jatuh tempo.

Dengan penurunan suku bunga ini, kita tetap harus bijak dalam menggunakan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank. Setiap kali menggunakan Kartu Kredit, pastikan ada dana tesedia di rekening untuk membayar tagihannya. Secara akumulatif transaksi kartu kredit, hitunglah kira-kira maksimal tagihan 20% dari pendapatan bulanan anda. Angka 20% ini di luar kewajiban anda bayar cicilan KPR.

Menutup Hutang

Bila anda sudah terlibat dalam hutang, misalnya karena satu dan lain hal ada kebutuhan mendesak, anda mengambil fasilitas cash advance dari Kartu Kredit, sementara sebelumnya anda juga sudah belanja dengan menggesek Kartu Kredit dengan hanya melakukan pembayaran minimum, dan itu anda lakukan untuk 8 Kartu Kredit anda, bisa dibayangkan hutang menumpuk menjadi lautan hutang. Bila sudah demikian biasanya orang akan stress dan cenderung mencari jalan pintas untuk melunasinya. Namun ada prinsip yang perlu kita perhatikan bersama, yaitu yang pertama jangan pernah menutup kredit tanpa agunan anda dengan kredit yang beragunkan. Konkritnya, kalau anda punya tagihan Kartu Kredit, jangan pernah menggadaikan rumah anda menjadi fasilitas pinjaman untuk menutup tagihan Kartu Kredit tersebut. Karena apabila dikemudian hari anda tidak mampu membayar cicilan rumah anda atau ada kejadian luar biasa seperti konflik keluarga dan berujung pada ketidakmampuan membayar hutang, maka rumah anda akan disita bank atau harus di jual untuk menutupi tagihan anda. Buntutnya anda kehilangan tempat tinggal.

Yang kedua, jangan pernah menutup hutang lama dengan mengambil hutang baru, ini seperti gali lubang tutup lubang. Kalau anda punya tagihan belanja Kartu Kredit, jangan mengambil Kredit Tanpa Agunan (KTA) ataupun cash advance dari Kartu Kredit lain untuk menutup tagihan Kartu Kredit tersebut.

Yang ketiga, jika sudah mentok atau kepepet tidak mampu bayar, diskusilah dengan pihak bank sebagai penerbit Kartu Kredit. Jelaskan kondisi anda dan diskusikanlah bagaimana cara membayar tagihan anda, bisa melalui cicilan dalam waktu yang panjang atau dengan mengurangi denda.

Asuransi untuk Hutang

Jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai pengguna fasilitas kredit alias yang berhutang, tentu kewajiban tersebut akan diwariskan kepada ahli waris. Kalau anda punya KPR, otomatis sisa tagihan anda akan lunas oleh asuransi yang anda bayarkan pada saat pengambilan kredit. Sehingga ahli waris terbebas dari kewajiban. Sedangkan bila anda punya hutang Kartu Kredit yang tidak ada asuransinya, bila terjadi apa-apa dengan anda, maka ahli waris anda yang akan menanggung kewajiban anda. Bila ada opsi credit shield untuk Kartu Kredit, periksalah terlebih dahulu bahwa credit shield itu meng cover bila terjadi kematian atau cacat tetap, periksa juga apakah santunan itu melunasi seluruh hutang atau cicilan rutin saja? Siapa yang mendapatkan uang santunannya, apakah penerbit kartu atau ahli waris? Dan berapa besarnya premi dibandingkan total tagihan? Tanyakanlah secara jelas sebelum anda membeli credit shield tersebut.

Sebagai senjata pamungkas, untuk menutup semua tagihan Kartu Kredit yang anda ambil, jika terjadi kematian dengan pemegang Kartu Kredit, lebih baik mempunyai asuransi jiwa yang nilai Uang Pertanggungan (UP) nya jauh lebih besar daripada total tagihannya dan UP tersebut diwariskan kepada ahli waris. Sehingga setelah melunasi semua tagihan tersebut, sisanya dapat digunakan untuk menutup tagihan lain-lain di luar hal tersebut.

Sebagai kesimpulan, jika ingin mengambil hutang dengan bertransaksi melalui Kartu Kredit, ukurlah terlebih dahulu kemampuan anda, pastikan anda mempunyai kemampuan untuk membayarnya. Dan sebagai proteksi, jika terjadi apa-apa dengan anda sebagai yang berhutang, pastikan ada asuransi yang menutupnya.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com